MeiMel

MeiMel
Bersama Mamah ke Mall



Jam pulang Sekolah tiba, Meira kini telah selesai dalam masa hukumannya. Ia meminta Dila duluan pulang, karena ia ingin menemui Tiara. Meira terus mencari keberadaan Tiara. Tak lama, di lorong Kelas XII IPS, ia bertemu dengan Tiara.


"Tiara!" panggil Meira.


Tiara membalikkan badan dan melihat ke arah Meira. "Iya, kenapa?"


"Nggak usah sok polos deh, lo pasti udah ngerencanain ini semuakan!" ucap Meira menahan amarah.


Tiara menghela napas. "Aku benaran nggak tau Mei, serius!"


Meira mengernyitkan kening. "Dasar pembohong!"


Tiara berpura-pura menangis dan menutupi wajah dengan tangan. "Hiks, aku bneran nggak tau apa-apa hiks, aku minta maaf, karena udah bikin kamu dihukum, hiks."


"Dih, air matamu nggak bakal nga---" ucap Meira terpotong.


"Tir! Lo ngapa nangis?" tanya Melvin yang baru saja tiba. Ia hapus air mata Tiara dengan lembut.


"Hikss, Meira bilang, dia dihukum hiks ta-di, karena aku, pada-hal aku nggak tau apa-apa, hiks hiks," Tiara mengadu ke Melvin, sambil menangis. "Aku cuman minta tolong bawain buku ke Perpustakaan, hiks hiks, karena ada perlu mendesak."


Melvin menatap tajam Meira. "Lo apain Tiara, hah?!"


"Gue nggak ngapa-nagapin dia, Vin! Dia itu udah jeb---" ucapan Meira lagi terpotong.


"Kalau lo kagak ikhlas nolong, harusnya lo tolak! Lo dapet hukuman, karena kesalahan lo sendiri!" omel Melvin. "Mangkanya, sebelum berulah, mikir dulu! Otak secetek eee kemayu! Ngaca, biar sadar!"


Meira menatap lekat mata Melvin. Air matanya perlahan jatuh, membasahi pipi. Melvin memalingkan wajah dan mengajak Tiara pergi. Tiara menengok ke belakang dan memberikan senyum ke Meira. Tangan Tiara masuk ke tangan Melvin dan memeluk dari samoing sambil menangis. Sedangkan Melvin, sesekali mengusap lembut rambut Tiara dan menghiburnya. Meira hanya bisa menangis seorang diri, tanpa ditemani satu orang pun.


...🍁...


Meira kini pulang dengan go mobil. Ia telah mencuci muka, sebelum memesan. Ia menyender di dinding mobil sambil melihat ke arah luar. Hatinya selalu bertanya-tanya. Akankah cintanya ini akan terbalaskan? Ia hanya bisa menghela napas dsn berserah diri. Tak lama, mobil berhenti dan Ia pun membayarnya.


Meira masuk ke dalam rumah dan bertemu dengan Sinta. "Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam, akhirnya sampek juga, ganti baju gih!" ucap Sinta, setelah berdiri dari duduknya. Senyum ceria, terlukis begitu indah di wajahnya.


Meira tersenyum kecil. Melihat senyum sempurna Sinta, membuatnya bahagia, namun juga bingung. Kenapa Mamah sebahagia itu?


"Mau kemana Mah?" tanyanya.


"Ke Mall, belanja berdua! Udah lama banget, kita nggak lakuin itu, Mamah kangen!" sahut Sinta, kembali duduk dan menopang kepalanya dengan tangan kanan, sambil manyun.


Meira yang melihat tingkah Sinta, merasa aneh dan bingung. "Kenapa Mamah begini? Ayah kasih uang lebih?"


Sinta melihat ke arah Meira dan tersenyum. "Kalau uang lebih, Ayahmu itu selalu kasih tiap bulanya. Mamah begini karena, lagi pingin aja."


Meira menganggukkan kepala. "Aku siap-siap dulu kalau gitu," ucapnya dan pergi ke arah tangga.


"Cepetan ya sayang!" seru Sinta sambil tersenyu. Meira memberikan jempol ke atas dan pergi ke kamar.


Tak perlu waktu lama, Meira pun turun ke bawah. Ia kini memakai baju dres dengan lengan pendek dan panjang selutut kaki. Bajunya yang berwana coklat ditambah aksesoris kalung dan jam tangan, high hless putih serta jepit rambut berwarna abu-abu mengkilap. Sinta yang melihatnya terpukau dan langsung mrmfoto. Meira tersenyum malu dan hendak menutupi wajahnya.


"Jangan...!" teriak Sinta dan kembali mefoto Meira.


"Kalau Mamah nggak berhenti, aku nggak mau ikut!" Meira membalikkan badan dan hendak naik ke atas kembali.


Sinta langsung menghampiri Meira dan menahan salah satu tanyanya. "Jangan dong, ya udah yuk, berangkat!" Ia tersenyum, sambil sedikit memiringkan kepala ke kanan. Meira mengangguk dan mereka berdua pun pergi ke arah mobil.


Tiga puluh menit kemudian, Meira dan Sinta akhirnya sampai di Mall. Mereka berdua keluar dari mobil dan pergi masuk ke dalam. Sesampainya di dalam Mall, mereka melihat ke kanan dan ke kiri, sambil berjalan. Mereka berdua masih bingung, mau kemana. Tak lama, Seorang wanita paruh baya, seumuran Sinta datang.


"Sinta!" panggil Wanita itu sambil berlari ke arah Sinta dan Meira.


Sinta dan Meira melihat ke arah Wanita itu. Sinta tersenyum lebar dan berlari ke arah Wanita itu sambil merengkan kedua tangan. "Via...!"


Yups, nama dia adalah Via. Ia sahabatnya Sinta, sejak SMA. Sinta, Via dan masih ada satu lagi. Mereka bertiga dulu adalah Primadona di Sekolah. Mereka bertiga sempat terkenal, karena suara yang mereka miliki begitu indah dan merdu. Bakat itulah yang menurun ke Meira. Jiwa sang bintang.


Cantik banget, padahal udah tua, batin Meira, sembari melihat ke arah Via dan Sinta yang tengah berbincang berdua.


Sinta mengayunkan tangan ke Meira, bermaksud untuk memintanya mendekat. Meira mengangguk dan pergi menghampiri Via serta Sinta. Meira menyalami Via.


Via mengusap lembut puncak kepala Meira dengan sayang. "Cantik banget, ya ampun..." pujinya, sambil mencubit pipi Meira dengan gemas. "Tante sering banget lihat kamu di tv, sampek ngefolow Instagrammu juga loh, sakin ngefansnya."


Meira tersenyum lembut dan mengucapkan terimakasih, sambil menundukkan kepala, "Makasih Tante, nanti aku folback."


Via tertawa kecil, "Hahaha, aku nggak minta lo ya, kamu sendiri yang mau!"


Sinta tertawa kecil, "Hahaha, bisa aja lo, belanja yuk!"


Via mengangguk dan mereka pun pergi ke arah ruko yang penuh dengan baju dan perlengkappan wanita yang mahal. "Pasti sulit ya, jadi orang terkenal, mau keluar aja pakai masker sama kaca mata."


Meira hanya tersenyum kikuk, di balik maskernya. Sinta pun menjawab, "Sebenernya nggak pakai pun nggak papa, tapi dia lagi capek aja, jaga-jaga kalau diserbu." Via mengangguk paham dan merek bertiga, mulai memilih satu per satu baju.


Via dan Sinta mengambil beberapa dres, baju dan celana. Mereka berdua berikan ke Meira, untuk dicoba. Meira memakai satu per satu dan keluar dari kamar ganti. Aktivitas itu mereka lakukan hinggal dua jam. Selesai belanja, Mereka bertiga pergi ke kasir. Wajah Via dan Sinta terkihat begitu ceria, sedangkan Meira muram, karena lelah.


Astaga... capek banget! Untung aja udah kelar, batin Meira, sembari jongkok. Ia berada di belakang Via dan Meira.


"Meira!" panggil Sinta, sambil memebawa beberapa paper bag.


Meira berdiri dan menghampiri Sinta. "Iya Mah, kenapa?"


"Yuk ke Restoran, Mamah sama Tante udah laper nih!" ajak Sinta dan di angguki Meira.


Via pun berjalan duluan ke depan. "Let's go!" Meira dan Sinta tersenyum dan menyusul.


Via, Sinta dan Meira akhirnya sampai di Restoran yang ada di dalam Mall. Restoran itu terlihat mewah dan juga ramai. Harga untuk satu cake kecilnya saja, bisa dipakai buat beli nasi padang lima. Mereka bertiga duduk di salah satu tempat dan memesan makanan.


"Enak ya, punya anak cewek, bisa diajak belanja, masak, main bareng," ucap Via sambil menopang kepala dengan tangan kanan dan memutar-mutar jarinya kemeja. "Hufff, coba aja, kalau aku bisa punya anak lagi, pasti enak."


Sinta terkejut dan menyenggol Meira. "Stststtt!"


Via tersenyum lembut dan mengubah posisinya, menjadi duduk seperti biasa. "Nggak papa Sin. Tante itu sulit punya anak, Mei, buat dapetin Melvin aja perlu waktu lima tahun."


Meira terkejut, "Ehhh, Melvin? Lima tahun?"


"Ohh iya, kalian satu sekolah ya," ucap Sinta, yang baru saja teringat.


Via mengangguk sambil tersenyum. "Aduh gue juga lupa, parah!" ia menepuk jidat dan menggelengkan kepala.


Jadi... Tante Via ini, Mamahnya Melvin? Pantes aja dia ganteng, batin Meira.


"Itu anak seneng banget, bikin gue pusing tujuh keliling," ucap Via sambil memijat pelipisnya.


Tak lama Pelayan datang, sembari membawa pesanan. Pelayan itu menaruh minum dan makanan ke meja. "Makasih," ucap Sinta dan Pelayan itu pun pergi. "Kamu bilang, Melvin udah nggak berulah, Vi?"


Via menghela napas. "Iya sih, dulunya itu loh, sebelum dia ikut kerja."


Sinta mengangguk paham dan mulai mengambil sendok. "Apa nggak capek dia?"


Via yang sedang memotong ayam, sambip menjawab, "Capek, mangkanya dia males banget berulah. Semenjak dia kerja, surat panggilan dari Sekolah, akhir-akhir ini menurun, biasanya seminggu dua kali, hadehhh."


Meira mendengarkan pembicaraan Via dan Sinta, sambil makan. Ohh, jadi ini yang bikin dia selama ini nggak berulah, batinnya, mengunyah makanan.


Via dan Sinta terus mengobrol di sela makan. Lima belas menit kemudian, Pelayan datang. Via dan Sinta berebutan, untuk membayar bilnya. Mereka berdua pun suit dan Sinta kalah. Via mengeluarkan dompet dan membayar makanan mereka. Via, Sinta dan Meira pergi ke luar, sambil memebawa beberapa belanjaan mereka. Sesampainya di parkiran, mereka masuk ke mobil masing-masing dan pulang ke rumah.


...🍁...


Via kini sampai di rumah. Ia pergi ke masuk dalam, sambip berlari dengan tangan yang penuh belanjaan. Terlihat, di ruang tamu ada Melvin dan Jino, Ayah Melvin. Via pun duduk di samping Jino dan menaruh belanjaan ke meja.


"Tau nggak? Mamah tadi ketemu sama Meira di Mall, anaknya cantik... banget!" seru Via dengan ceria dan heboh.


Jino menaruh handphone ke samping sofanya dan berpikir, "Emm, Meira si Artis itu? Anaknya Alex sama Sintakan?"


Melvin tengah minum es sirup sambil main handphone. Ia terkejut dan menyemprot wajah tampan Jino dengan minuman di mulutnya. "Ma-maaf Yah! Kagak sengaja suer!"


Jino memendam amarah dan menghela napas. "Ngapa nyemprot Ayah?" tanyanya dengan tatapan mengitimidasi.


Melvin tersenyum kikuk dan memalingkan wajah, sambil menggaruk belakang kepalanya. "Hehehe, kagak papa, cuman kaget aja."


"Hmmm." Jino curiga.


"Ohh iya, Meirakan satu sekolah sama kamu, iya kan?" tanya Via.


Melvin mengangguk. "Kalian kenal?"


"Ayahnya, sahabat Ayah, kalau Mamahnya, sahabat Mamah!" sahut Jino memberitau dan Melvin mengangguk paham.


"Tapi Mamah kasihan, sama Meira dan Sinta, gimana cara mereka bertahan ya?" ucap Via sambil menyenderkan tubuhnya di sofa, sambil melihat ke langit-langit, atap ruang tamu.


Jino merangkul Via dan menariknya mendekat. Ia senderkan kepalanya di puncak kepala Via. "Jangan dipikirin, itu bukan urusan kita!"


"Tapi..."


"Ststst..., ada Melvin!" bisik Jino dan Via pun hanya menghela napas. Jino mencium kening sang Istri dengan lembut dan Via, membalasnya dengan mencium salah satu pipi sang Suami.


Melvin yang berada di sofa lain, terlihat tidak suka dan memalingkan wajah. Ck, kagak sadar apa ya, ada anaknya! Ngenes bener hidup gue, udah jomblo, tiap hari tontonannya begini!


Terlihat di tempat lain, Meira dan Sinta telah sampai di rumah. Mereka masuk ke dalam sembari mengucapkan salam. Mereka bersantai di ruang tamu dan menaruh barang belanjaan ke meja.


"Hufff, melelahkan sekali!" ucap Meira yang terbaring lemah di sofa.


"Masak yuk! Udah lama banget loh, kita berdua nggak masak berdua," ucap Sinta, sambil memberikan tangan kanannya ke arah Meira.


Meira menekuk keningnya dan Sinta memberikan senyum bahagia. Meira pun menggegam tangan Sinta dan berdiri. Sinta menarik tangan Meira dengan lembut dan membawa pergi ke dapur.


Meira menatap tanyanya yang digenggam erat oleh Sinta. Kapan terakhir kali aku pegangan sama Mamah? Aku rindu, batinya sambil meneteskan air mata. Ia langsung menghapus air mata itu dengan tangan kiri dan tersenyum.


Sinta dan Meira sampai di dapur. Sinta pergi mengambil celemek dan memeberikan ke Meira. Mereka berdua pun memakainya dan menyiapkan bahan-bahan. Celemek itu bermotif kelinci, punya Meira berwarna hitam dan Sinta berna abu-abu.


"Mau masak apa Mah?" tanya Meira sambil mencuci sayuran.


Sinta melihat ke arah Meira dan pergi menghampiri. "Makanan kesukaanmu sama Ayah." ia mengikat rambut Meira yang tergerai dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Lain kali, kalau mau masak di kucir dulu! kalau rambutmu masuk ke makanan gimana? Masa' kita makan sambil narik rambut dari dalam mulut, nggak enak dong!"


Meira tersenyum kikuk. "Iya juga ya."


Sinta mencubit lembut pipi Meira. "Kalau beginikan cantik." ucapnya, setelah itu pergi memotong ayam, sambil tersenyum.


Wajah Meira memerah, ia menundukkan kepala sambil tersenyum malu. Pujian Sinta membuat Meira senang. Sinta sebenarnya, sering sekali muji Meira. Namun, untuk yang hari ini, entah mengapa rasanya berbeda. Meira memberikan sayuran yang telah ia bersihkan ke Sinta. Mereka berdua memotong bahan bersama-sama.


"Aww," keluh Meira, karena tanganya terluka, akibat pisau. Ia hendak memotong daun bawang, namun meleset ke jarinya.


Sinta yang mengetahuinya pun, langsung menarik jari Meira ke westafel, untuk membersihkan lukanya. "Pelan-pelan ya sayang."


Meira mengangguk. "Iya Mah, makasih," ucapnya sambil memegangi jari. Sinta mengangguk, sambil tersenyum. Meira pun menggoreng udang dan Sinta memasak nasi goreng.


...^,^...


...Ciptakan kondisi rumahmu dengan penuh warna dan kehangatan. Buatlah kenangan dengan keluarga yang indah dan sulit dilupakan. Kita tidak tau, kapan akan pergi dari dunia ini. Gunakan waktu kalian dengan bijak! Tidak perlu mewah dan meriah, namun, haruslah berkesan! ...


...Perayaan ulang tahun, terkadang bisa kalah dengan kita memasak bersama di dapur!πŸ˜‰...


...See you all😘❀️...