MeiMel

MeiMel
Awal Bertemu Denganya



Bab 1


Pagi hari telah tiba. SMA Bintang Angkasa kini sangat ramai, karena ada pertandingan basket dengan sekolah lain. Suasana di lapangan basket begitu ramai akan sorak-sorak yang mereka lontarkan untuk menyemangati anak basket. Tak lama, seorang wanita cantik, berkulit putih, memiliki rambut yang panjang berwana hitam dan memakai masker, tengah berjalan di lorong dekat lapangan. Dia adalah...


"Meira!" panggil seorang Wanita dengan suara yang keras, sembari melambaikan tanganya ke atas.


Yups, dia adalah Meira. Ia bukan hanya seorang Murid, namun juga Model dan Artis iklan. Sedangkan wanita yang memanggilnya tadi adalah Dila, sahabat Meira. Ia memiliki wajah yang cantik, berkulit putih, berambut panjang kecoklatan dan cukup tinggi. Dila pintar dan selalu mendapatkan juara di kelas, beda dengan Meira, yang selalu mendapatkan rangking dua dari belakang. Mereka duduk di bangku kelas XI IPS 4


Meira pergi menghampiri Dila dan duduk di sampingnya. Mereka berdua kini tengah menonton pertandingan basket di pojok lapangan. Terlihat, pertandingan telah di mulai, anak-anak basket sedang bersaing merebut kemenangan.


"Berapa skor tim kita?" tanya Meira.


"Belum ada, baru aja mulai kok," sahut Dila dan Meira pun mengangguk paham. Tak lama, bola basket itu mengarah ke Meira dan mengenai kepalanya. Meira hampir saja terjungkal ke belakang. Untung saja, Dila dengan cepat menahan tubuh Meira, supaya tidak jatuh.


"Meira!" panggil Dila. "Lo nggak papakan?" tanyanya khawatir.


"Makasih, gue nggak papa kok," sahut Meira. "Cuman sakit sedikit." ia mengusap bagian kepalanya yang terkena bola dengan wajah yang meringis kesakitan.


"Hufff, alhamdulillah," ucap Dila lega. "Nanti, kalau pusing bilang! Biar gue anter ke UKS!"


"Iya," sahut Meira sembari tersenyum lembut.


Tak lama, seorang Pemuda tampan yang tinggi, gagah dan berkulit putih datang mengahampiri Meira serta Dila. Ia mengambil bola basket itu dan bertanya, "Sorry, lo nggak papakan?"


Meira terdiam sejenak. Ia melihat ketampanan Pemuda tersebut dengan hati yang mulai berdegup dengan kencang. "Iya nggak papa," ucapnya sembari menatap kagum Pemuda itu, tanpa berkedip.


"Kalau kenapa-kenapa langsung ke UKS aja!" pinta Pemuda itu dan pergi meninggalkan Meira yang terus saja menatap dirinya.


Dila melihat ke arah Meira, yang tidak berhenti menatap Pemuda itu. Ia pun melambaikan tangan di depan wajah Meira, hingga tersadar. "Lo kesambet arwahnya Mbk Kunti?" tanyanya heran.


"Ishh, ya enggak lah Dil. Masa' siang-siang bolong begini dimasukin arwahnya Mbk Kunti!" gerutu Meira.


"Lahhh, lo tadi ngapain melongo lihat Melvin? Sampek nggak kedip pula!" seru Dila.


"Hehehee, nggak papa kok," sahut Meira cengengesan. "Eh, dia Melvin? Kok gue baru tau ya," ucapnya, sambil melihat ke arah Melvin yang tengah asik bermain basket.


"Lo kan jarang masuk sekolah, karena kesibukan dunia maya lo!" omel Dila.


"Heheheee iya-iya, nanti aku kurangin kerjaanku kok!" sahut Meira.


"Bagus, awas aja kalau ijin lagi. Gue bakalan cari temen lain!" ancam Dila.


"Jangan donggg, nanti gue sendirian!" ucap Meira, sambil mengoyangkan lengan Dila. "Gue janji kok, nggak bakalan ijin lagi!"


"Hmm, awas aja kalau ngelanggar!" ujar Dila.


"Nggak akan," sahut Meira sembari memeluk Dila dari samping. "Elo sahabat gue satu-satunya! Jangan pergi ya, Dil!"


Dila membalas pelukan Meira. "Iya, gue cuman nggak mau aja, nilai lo jelek, karena keseringan ijin," ucapnya.


"Iya Dil, gue ngerti kok. Makasih juga, udah perhatian sama gue!" sahut Meira dan di angguki Dila. Mereka pun melepas pelukannya dan beralih menonton pertandingan basket.


•••••


Tak perlu waktu lama, pertandingan basket pun berakhir. Tim basket Melvin pun menang dengan total skor 20 : 25. Terlihat, para anggota tim basket saling berjabat tangan di tengah lapangan. Para murid SMA Bintang Angkasa merasa senang dan bersorak heboh atas kemenangan mereka.


"Waww, gilak! Mainnya Melvin keren banget," ucap Meira kagum.


"Ck, iya sih mainnya bagus, tapi sifat dia tuh yang bikin pusing tujuh keliling!" seru Dila.


"Dila, jangan bilang kayak gitu! Dia kan yang bikin sekolah kita terkenal dan menjuarai beragam perlombaan," ucap Meira menasehati.


Yups, Melvin telah memenangkan beragam perlombaan dari berbagai bidang olahraga, maupun pendidikan materi. Ia seorang bad boy biasa, anak XI IPS 1 dan Murid kebanggaan sekolah. Banyak sekali Wanita yang menganggumi dan menyukainya. Ia bagaikan bintang di mata para Wanita.


"Hmm, iya," sahut Dila malas. "Masker lo kagak di lepas?" tanyanya.


"Ini mau gue lepas!" sahut Meira, sembari membuka masker.


Beberapa anak dari basket sekolah lain, melihat ke arah Meira dengan perasaan terkejud dan terpukau. Mereka langsung pergi menghampiri Meira dan minta foto bersama. Meira terlihat kewalahan, karena dorongan para Murid.


Melvin menaikkan salah satu alis, sembari melihat ke arah gerombolan itu dari kejauhan. Ia bertanya kepada Pemuda yang ada di sebelahnya, "Pada ngapain tuh, lagi ada pembagian sembako emangnya?"


"Geblek, mana ada pembagian sembako di sekolah! Mereka begitu, karena minta foto bareng sama Meira, tuh anakan lagi terkena!," sahut Pemuda itu, Aldo. Ia sahabat Melvin dan juga anak XI IPS 1. Ketampanannya tidak beda jauh dengan Melvin. Ia juga pandai dalam bidang olahraga maupun materi.


"Ck, gue kira apaan njir!" komen Melvin berdecak sebal.


"Tapi Meira emang cantik. Buktinya aja, sekali main iklan langsung dapet banyak tawaran, sampek jarang banget tuh anak masuk sekolah, gara-gara kerjaan yang padet!" ucap Aldo.


"Cantik emang, tapi gobloknya kagak main!" ketus Melvin. "Mending juga Tiara, udah cantik, pinter, baik, kalem, kagak jaim lagi. Beda jauh sama tuh anak!" tambahnya.


"Yaelah, semua murid di sini juga tau kalau soal itu mamang!"" sahut Aldo.


"Lahh, gue bener kan?" tanya Melvin.


"Bener," sahut Aldo malas.


Tak lama, seorang Wanita cantik, body sexy, datang dan memberikan air putih dingin ke pipi kiri Melvin. "Tiara!" ucap Melvin terkejut.


Wanita itu adalah Tiara, anak XI MIPA 2. Orang yang di sukai oleh Melvin dan juga idola di sekolah, selain Meira. Ia murid kebanggaan sekolah ini dan Wakil Ketua Osis. Ia telah memenangkan beberapa medali dari kegiatan PMR dan Pramuka.


"Nih, lo pasti haus kan!" ucap Tiara sembari memberikan air putih dingin.


"Thank you," sahut Melvin, sambil menerima air putih itu dan meminumnya.


"Kayaknya gue harus pergi, sebelum jadi obat nyamuk!" sindir Aldo. Ia hendak pergi, namun terhenti.


"Nggak perlu! Gue cuman sebentar kok," ucap Tiara memberitau. "Gue balik ke ruang Osis dulu ya!" pamitnya dan diangguki Melvin serta Aldo. Ia pun melambaikan tangan dan pergi.


"Lo kagak ngikut?" tanya Aldo, setelah Tiara pergi.


"Ngapain ngikut?" tanya balik Melvin.


"Lo kan suka sama dia, kejar dong sekali-kali!" ucap Aldo.


"Itu Wajib?" tanya Melvin.


"Yaaa, kagak lah," sahut Aldo bingung, karena Melvin bertanya seperti itu.


"Gue nggak bakalan lakuin itu seumur hidup! Karena gue paling kagak suka sama orang yang ngejar-ngejar, apalagi ngemis soal cinta!" sahut Melvin.


Aldo ingin menjawab, namun Melvin telah pergi meninggalkan tempat. "Njir, gue di tinggal," ucapnya dan menyusul Melvin.


Meira yang berada di sisi lain, terlihat masih sibuk melayani para Murid yang minta berfoto dengannya. Tak lama, seorang Pemuda tampan yang tinggi, datang dan membubarkan kerumunan. Para murid merasa kesal dan menyoraki Pemuda itu.


"Hufff, thanks Bim," ucap Meira ke pada Pemuda itu.


Ia adalah Bima, si Ketua Osis dan juga salah satu murid paling favorit di sekolah, selain Melvin. Ia pintar dan good boy, anak Kelas XI IPA 1.


"Iya, lain kali pakai masker! biar nggak di kerubungi kayak tadi," pesan Bima


"Tadi juga, Meira udah pakai, tapi di lepas!" seru Dila.


"Ngapain dilepas?" tanya Bima ke Meira.


Bima diam, ia hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal. Meira tertawa kecil. "Oh iya Bim, kamu kesini ngapain?" tanya Meira, setelah menghentikan tawanya.


"Tadi mau ke ruang Kepala Sekolah, tapi nggak jadi, lihat kamu di gerombolin anak-anak!" sahut Bima memberitau.


"Ohh gitu," ucap Meira paham.


"Terus, lo ngapain masih di sini? Pergi sonno gih!" usir Dila.


"Ini juga mau pergi!" sahut Bima. "Jadi cewek jangan galak-galak, entar cepet tua!" tambahnya dan langsung pergi meninggalkan Dila serta Meira.


"Ck," Dila berdecak sebal.


"Tuhh, dengerin! Entar kalau udah keriputan, kagak ada yang suka baru tau rasa kamu!" ejek Meira sembari tertawa kecil.


"Hmzzz, nggak punya laki, kagap papa, yang penting uang ngalir, harta pun cuman milik gue seorang!" sahut Dila dan pergi meninggalkan Meira.


"Dihh, sahabat gue ternyata suka harta," ucap Meira menyusul Dila.


"Lo nggak bakalan bisa hidup tanpa uang, inget itu!" seru Dila.


"Kita nggak bakallan bisa hidup, kalau nggak ada Tuhan!" sahut Meira bijak.


"Kalau itu gue juga tau," ucap Dila.


"Heheheee," Meira tertawa kecil dan Dila hanya diam saja. Bel berbunyi, Mereka berdua pun pergi masuk ke dalam Kelas dan mulai belajar hingga jam pulang tiba.


...🍁...


Hari mulai sore, Meira kini telah sampai di rumah dan sedang membuka pintu. Terlihat, dalam rumah itu begitu luas, mewah, benuansa sederhana dan elegan. ia masuk ke dalam dan melihat seorang wanita dan lelaki paruh baya turun dari tangga. Ia adalah Ayah Alex dan Mamah Sinta.


"Assalammualaikum," ucap Meira.


"Waalaikumsalam," sahut Alex dan Sinta.


"Ayah berangkat ke Kantor dulu ya," pamit Alex sembari mengusap lembut puncak kepala Meira. "Assalammualaikum," salamnya dan keluar dari rumah.


"Waalaikumsalam," sahut Meira dan Sinta.


"Ganti baju dulu sana!" pinta Sinta lembut dan diangguki Meira.


Meira pun hendak pergi ke kamar, namun terhenti. Terdengar suara pintu terbuka dan langkah kaki yang semakin mendekat. Sinta membalikkan badan dan melihat ke arah orang itu.


"Assalammualaikum Tante, Meira," ucap Chika setelah masuk ke dalam rumah. Ia adalah menejer Meira dan juga pemilik dari Cafe Atara.


Meira kembali turun dan mengahampiri Sinta serta Chika. "Waalaikumsalam," sahutnya bersamaan dengan Sinta.


"Eh, ada jadwal ya hari ini? aku kira kosong," tanya Meira sembari duduk di sofa, menyusul Chika serta Sinta, yang telah duduk duluan.


"Kosong kok Mei, aku kesini di suruh Om Alex!" sahut Chika memberitahu.


"Ayah?" tanya Meira bingung.


"Ayah, minta Chika ke sini untuk ngurangin kerjaan kamu, karena bentar lagi PAS!" sahut Sinta memberitau dan Meira pun menganggukan kepalanya, paham.


"Jadi gimana, bisa nggak?" tanya Sinta ke Chika.


"Bisa kok Tan, nanti aku urus!" sahut Chika dan Sinta pun membalasnya dengan senyum yang lembut.


"Kayaknya Mbk Cika perlunya sama Mamah, kalau gitu aku ke kamar aja ya," pamit Meira.


"Hehheee, oke," sahut Chika. Meira pun pergi ke kamar untuk berganti baju, sedangkan Sinta dan Chika masih mengobrol di ruang tamu.


...🍁...


Malam hari telah tiba, terlihat Meira tengah melipat rukuh dan sajadah. Ia pergi menaruhnya dan mengambil handphone yang ada di atas meja. Ia membuka chat dan terlihat beberapa notifikasi masuk.


...[ ROOM CHAT ON. ]...


Meira:


Aldo?


Aku Meira, save back ya. [17.23]


Aldo:


Okok. [19.18]


Meira:


Gue boleh nanya nggak?


Melvin udah punya pacar belum ya? [19.25]


Aldo:


Jangan bilang lo suka sama Melvin😌.


Melvin masih mulus, belum kebuka segelnya. [19.27]


Meira:


Hehheee tanya doang kok😁.


Info diterima. [19.28]


Aldo:


Jujur aja, entar gue bantu. [19.28]


Meira:


Hehehee, iya gue suka Melvin😁. [19 30]


Aldo:


Gue kasih tau caranya, supaya lo bisa deket sama Melvin. [19.31]


Meira:


Apa? [19.31]


Aldo:


Elo harus...


...[ ROOM CHAT OFF. ]...


Meira menutup handphonenya dan tersenyum lebar. Ia pun mulai menyusun rencana, untuk besok. Ia terlihat sangat bergembira dan mulai membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia menarik selimut dan mulai tidur.