
Bab 4
Bima dan Meira pun sampai di Sekolah. Meira turun dari montor dan melepas helm. Ia ingin segera mencari Melvin dan menemuinya. Ia memberikan helm itu ke Bima dan pamit pergi.
"Bim! Gue pergi duluan ya!" teriak Meira sambil berlari masuk ke dalam Sekolah.
"Iya!" sahut Bima. "Ngapa Meira buru-buru gitu?" tanyanya pada diri sendiri. Ia pun pergi ke ruang Guru untuk memberikan fotokopian.
Meira berlari dengan terburu-buru, sembari menengok ke kanan dan ke kiri. Sesampainya di lorong dekat halaman Sekolah. Ia bertemu dengan Dila.
"Dila!" panggil Meira. "Hosh hosh tau Mel-vin nggak?" tanyanya ngos-ngossan, karena lelah berlari.
"Emmm, di lapangan basket Mei," sahut Dila.
"Oke, makasih," ucap Meira dan langsung pergi. Namun terhenti, karena Dila menahan tangannya.
Dila memberitahu Meira, "Mei, Gue bakalan selalu dukung lo! Apapun itu. Inget, setiap tikungan lo harus trobos!"
"Siappp," seru Meira sambil memberikan hormat, seperti anggota pada Komandannya. Ia pun langsung pergi dengan semangat delapan lima.
Tak lama, Meira pun sampai di tempat tujuan. Terlihat, di lapangan basket ada Melvin yang sedang mengajari Tiara main basket. Meira terlihat kesal dan melihat ke kanan dan ke kiri, mencari seseorang. Ia ingin bertanya soal Tiara.
"Hemmm, nih Sekolah atau kuburan sih. Sepi amat dah," gerutu Meira. Tak lama seseorang datang. Ia pun merapikan pakaiannya dan menyapa ke dua Siswa itu, "Haiii."
"Haiii," sahut ke dua Siswa itu.
"Aku boleh nanya nggak?" ucap Meira sambil tersenyum lembut, membuat ke dua hati Siswa itu berdebar.
"Iii-iya," sahut Siswa satu.
"Boo-boleh," sahut Siswa dua bersamaan dengan Siswa satu.
"Emm, kalian tau nggak, itu siapa?" tanya Meira sambil menunjuk ke arah Tiara.
"Melvin?"
"Tiara?"
"Yups, Tiara!" seru Meira. "Aku jarang masuk jadi nggak tau apa-apa. Boleh nggak, kalian kasih tau aku, siapa Tiara?" ke dua Siswa itu mengangguk.
"Tiara itu anak paling pinter se MIPA dan juga, Wakil Ketua Osis, Anak Pramuka sama Ketua PMR," sahut Siswa satu dan diangguki Siswa dua.
"Ohhh, kalau soal mereka berdua?" tanya Meira.
"Mereka berdua deket, tapi kabarnya nggak pacaran," sahut Siswa dua.
"Iya, cuman TTM," sahut Siswa satu. (TTM : Teman Tapi Mesra)
"Oalahhh." Meira menganggukan kepala, paham.
"Meira suka Melvin?" tanya Siswi satu.
"Emmm, kenapa tanya begitu?"
"Nggak papa, cuman nanya aja," sahut Siswa satu.
"Gimana cara aku bales kebaikan kalian ya?" tanya Meira sambil mikir, mengalihkan pembicaraan.
"Nggak usah, kita seneng bisa bantu kamu," ucap Siswa satu sambil tersenyum malu.
"Iii-iya, lihat kamu setiap hari aja di Sekolah kita seneng kok," sahut Siswa dua, kikuk.
"Oke, aku bakalan masuk tiap hari!" ucap Meira tersenyum senang.
"Beneran?" tanya Siswa dua tak percaya.
Meira mengangguk. "Insyaallah, hehheeee," ucapnya sambil terkekeh kecil. Ka dua Siswa itu terpana dan berdebar, melihat tawa kecil Meira yang sangat menggemaskan. "Emmm, kalian nggak masuk kelas?"
"Iii-ini mau masuk!" sahut Siswa satu.
"Ii-iya," jawab Siswa dua.
"Oke, belajar yang bener ya!" ucap Meira sambil memiringkan kepala ke kanan sambil tersenyum. Mereka berdua pun tersenyum dan pergi meninggalkan Meira.
"Astaga, senyumnya," ucap Siswa satu.
"Mimpi apa gue semalem, bisa ngomong sama Meira," ucap Siswa dua. Meira mendengarnya dan tersenyum bahagia. Ia pergi menghampiri Melvin dan Tiara.
"Morning!" teriak Meira begitu keras, hingga membuat Tiara dan Melvin terkejut.
"Sialan, lo pingin gue mati muda hah!" omel Melvin.
"Nggak tuh," sahut Meira dengan santainya. "Kalian lagi apa? Aku boleh gabung nggak?"
"Melvin baru ajarin aku main basket," sahut Tiara.
"Ohhh," sahut Meira malas. "Gue juga mau, Vin!"
"Ogah," tolak Melvin.
"Ayolahhhh, aku mohonnn!" ucap Meira memohon sambil memegangi tangan Melvin.
"Lepas kagak!" Melvin berusaha melepaskan tangannya dari Meira, namun sangat sulit.
Tiara datang dan membantu Melvin untuk melepaskan tanganya dari Meira. "Lepas Mei! Kasihan Melvin," pintanya.
Meira pun melepas tanyanya dari tangan Melvin. "Oke, aku lepas."
"Thanks, karena lo, nih kutu bisa pergi," ucap Melvin ke Tiara.
"Sama-sama," sahut Tiara. Melvin dan Tiara saling lempar senyuman serta tatap-tatapan. Meira yang berada di sana merasa kesal.
"Hmmm, gue harus ngapain ya?" batin Meira berfikir. "Ohh iya, Bima tadi nyariin kamu, katanya ada perlu soal apaa... gitu, aku lupa," ucapnya berbohong.
Tiara tak percaya. "Kamu beneran Mei?"
"Bener, kalau nggak percaya tanyain aja ke Bima," sahut Meira.
"Emm, ya udah deh. Vin, gue duluan ya," pamit Tiara dan Melvin pun mengangguk. Tiara pergi menemui Bima dan meninggalkan mereka berdua.
"Lo kagak nipu dia kan?" tanya Melvin memastikan dan Meira hanya memberikan senyum. Ia pun mengusap wajahnya dengan kasar. "Lo lupa sama persyaratannya? Jangan ganggu gue, kalau lagi sama cewek lain!"
"Ishhh, salah! Kamu tuh bilangnya, jangan larang gue deket sama cewek lain!" ucap Meira membenarkan. "Larang bukan ganggu!" tambahnya, untuk memepertegas.
Melvin merasa kesal dan pergi meninggalkan Meira sendirian. "Sialan nih anak, kagak salah gue. Otak dia emang pinter, cuman konslet aja," batinnya.
"Melvin, mau kemana? Kok aku ditinggal sih!" tanya Meira dengan suara yang keras.
"Hongkong!" teriak Melvin, tanpa membalikkan badan, sambil membawa bola basket di salah satu tangan.
"Ishhh, bohong banget sih! Nanti, hidungnya makin panjang loh!"
"Bodo amat!"
"Meira sayang Melvin!"
...🍁...
Tringgggg Tringgggg Tringggg
Bel pulang telah berbunyi. Para Murid dan Guru, berhamburan keluar dari Kelas. Meira dan Dila juga, telah keluar dari Kelas. Mereka berdua berlari ke arah parkiran. Dila sebenarnya tidak ingin ikut-ikutan lari, namun tanganya di tarik oleh Meira.
Meira dan Dila sampai di parkiran Sekolah. Terlihat Melvin, Aldo dan Tiara cs berada di sana. Meira dan Dila menghentikan aktivitasnya dan mengatur napas. Mereka berdua ngos-ngossan dan lelah.
"Lo berdua habis maraton?" tanya Aldo.
"Habis ngaji, goblok!" sahut Dila kesal, ke Aldo dan mengeplak Meira.
"Awww, sakit Dila!" keluh Meira kesakitan, sambil mengusap pelan punggungnya.
"Ngaji kok, sampek ngos-ngossan gitu," seru Aldo.
"Ngajinya sambil teriak-teriak kali Do!" sahut Melvin.
"Ohhh, pantes ngos-ngossan," ucap Aldo. Tak lama, sebuah sepatu melayang tepat di wajah mulus Aldo.
Plak.
Dila melempar sepatunya ke arah Aldo. "Diem lu!"
"Anj*r, perih juga kampret!" keluh Aldo sambil mengusap pelan pipinya yang kena timpuk.
Dila mengambil sepatu itu kembali dan menatap tajam Aldo. "Matalo masih baguskan?"
"Iyalahhh," sahut Aldo.
Dila tersenyum smrik. "Kalau gitu... ngapain lo tadi nanya, goblok!" serunya tepat di muka Aldo.
Aldo sedikit menjauh dari Dila. "Selow dong... gitu aja ngegas, lagi pms lo ya?" tanyanya, namun tak mendapat jawaban. Dila melongos dan pergi menjauh.
"Melvin!" panggil Meira.
"Apa?" tanya Melvin malas.
"Anter gue ke Mall dong, ada perlu nih!"
"Kagak bisa, gue udah janji duluan sama Tiara," tolak Melvin dan memberikan helm ke Tiara.
"Maaf ya, Meira," ucap Tiara dan menerima helm itu. Terlukis senyum mengejek di wajah Tiara. Namun, hanya Meira yang tau. "Kita duluan ya."
Montor Aldo, Melvin dan mobil yang dipakai Adel serta Dea, pergi meninggalkan tempat. Meira menatap kepergian mereka dengan tatapan yang datar. "Kayaknya Tiara balas dendam ke aku," ucapnya pada diri sendiri.
"Jijik gue sama tuh anak!" seru Dila yang tiba-tiba datang.
Meira terkejut dan mengusap pelan dadanya. "Namanya doang yang mutiara, tapi hatinya kagak!"
"Bener, mangkanya, lo sering-sering masuk, biar bisa pepet Melvin!" pesan Dila.
"Iya, aku juga udah mulai ngurangin kok," sahut Meira.
"Bagus!" ucap Dila sambil memberikan jempol ke Meira.
"Tiara tuh bukan apa-apa bagiku! Artis papan atas aja gue tendang, apalagi dia," ucap Meira sombong dan di akhiri tawa kecil.
"Hahahaa, emang sahabat gue yang paling the best lah!" seru Dila sambil merangkul Meira. "Yok lah pulang, gue anterin!"
"Makasih Dila, kamu memang sabahatku yang terbaik!" ucap Meira senang. Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Dila mengemudikan mobilmya dan pergi meninggalkan tempat.
...🍁...
Meira kini, telah sampai di rumah. Ia pergi masuk ke dalam rumah. Terlihat, para ART tengah melakukan tugas dengan wajah yang sedih. Ia pun menyapa para ART dan naik ke atas. Di saat Meira melewati kamar Orang Tuanya, terdengar suara keributan dari dalam.
"Aku udah bilang berapa kali hah! Jangan bikin malu!"
"Hiks, bikin malu gimana sih Mas? Kamu yang minta aku, begitu!"
"Kamu nyalahin aku?!"
"Hiks hiks."
"Aku nggak tau lagi Sin, harus ngasih tau kamu pake cara apalagi, capek aku!"
"Hikss hiks hiks."
"Dikasih tau berulang kali, masih... aja nggak ngeh! Didik anak nggak bener! Jadi Istri nggak pernah becus!"
"Hiks hiks hiks."
"Mangkanya... kalau aku ngomong tuh di dengerin Sin! jangan di cuekin!" ucap Alex marah dan kesal. "Jadi orang kagak usah sok-sokan pinter Mbak Yuuu! Goblok eee kemayu!"
"Hiksss hiks hiks."
"Ngomong donggg, kok nangis? Gue butuh lo ngomong, bisu ya?" Sunyi tak ada suara. Tiba-tiba...
"Shinta!"
Pyarrr
Terdengar suara pecahan suatu benda dari dalam kamar. Jantung Meira berdetak dengan kencang, hatinya hancur dan air matanya terus jatuh membasahai wajah. Alex selalu saja marah, setiap kali Sinta melakukan kesalahan. Entah kesalahan apa yang diperbuat Shinta, hingga Alex semarah itu. Meira tidak tahan, untuk mendengar kelanjutannya. Ia pun pergi ke kamar.
Meira mengunci kamarnya dan menyender di pintu. Ia menangis sesenggukan sambil meremas dada. Ia melempar jauh tas sekolah dan jatuh terduduk. Hatinya merasa kesakitan mendengar perlakuan Alex tadi.
"Hiksss, dasar bajing*n!" maki Meira penuh kebencian.
"Ngapain Mamah diem aja, hiks, dasar bodoh!" Meira menangis sambil meremas rok. Ia merasa kesal, karena sang Mamah selalu saja diam dan menerima perlakuan kasar Ayahnya.
"Dasar Orang Tua bangka, ngapa lo kagak mati aja sih!"
"Nyebut lo Ayah aja, gue kagak sud!"
"Ngapa lo yang jadi Bokap gue?! Kepana lo hidup di dunia! Buat apa Allah pertahanin elo!"
"Hiks hiks hiks," Meira menangis sesenggukan. Ia merasa sangat kesal dan benci kepada sang Ayah, Alex. Ia mengambil handphone dan melihat foto Alex.
"Kapan lo sadar hah? Lo punya hati kagak sih, hiks. Hati lo dimana anji*g! Ngapa lo kagak mati aja!" ucap Meira sambil menunjuk-nunjuk foto Alex dengan kasar.
Pyarrr.
Meira membanting handphonnya, hingga hancur. Ia bener-bener telah muak dengan Alex. Hatinya telah mati untuk Alex. Melihat wajah Alex, terasa ingin muntah dan ingin membunuhnya.
...^,^...
~Terkadang para Orang Tua tidak sadar. Apa yang telah mereka lakukan merusak jiwa sang Anak. Setresnya sang Anak, hanyalah dia sendiri dan Tuhan yang tau.~
°°° Berusahalah, untuk saling menyangi dan mengerti. Anak adalah bukti cinta sepasang kekasih. Buktikan cinta itu di depan Anak kalian! Tunjukan, kalau kalian bahagia! Jangan sampek, anak kalian seperti Meira! °°°
...Kita lihat bersama yuk, kisah Meira selanjutnya! Jangan lupa like, komen, fav❤️ dan 🎁. Dukung alu terus ya, makasih....
... See you....