
Keluarga Alex dan Jino kini tengah melakukan kewajiban mereja sebagai umat muslim, shalat. Selesai shalat, mereka pun kembali ketempat masing-masing dan melakukan tugas yang belum kelar. Alex, Meira, Jino, Via dan Melvin, saat ini berada di ruang makan. Mereka berlima sedang bersiap untuk makan malam. Via keluar dari dapur membawakan masakan dan di susul para Bibik di belakang.
Via menaruh lauk itu dengan keras, membuat mereka semua kaget. "Maaf, kaget ya? Tanganku tadi licin, untung aja nggak tumpah."
Alex dan Jino tau, Via telah berbohong. Namun mereka memilih untuk diam, dari pada buat masalah. Melvin dan Meira terlihat curiga dengan tingkah ketiga orang tua itu. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan.
"Ayo dimakan!" pinta Via sambil duduk di bangku samping Jino.
Meira pun mengambil sesuap sambel terong dengan nasi. Wajahnya berubah, ia terkejut dengan rasa sambel itu. Saking enaknya, ia sampek meneteskan air mata. Mereka berempat bingung, melihat Meira nangis.
"Meira, kenapa? Rasanya asin atau terlalu pedes ya?" tanya Via dengan perasaan khawatir.
Meira menghapus air matanya dan tersenyum. "Enggak Tante, ini enak banget kok.
Via tersenyum lega dan menopang kepala dengan tangan kiri. "Tante pernah denger, katanya ini makanan kesukaanmu, benarkan?"
Meira menanggukkan kepala dan menoel-noel terong itu. "Kok Tante bisa tau resepnya?"
Via tersenyum dengan posisi yang sama. Pertanyaan yang ditunggu-tunggunya tiba. "Resep ini dikasih sama sahabat Mamah kamu dan Tante. Dia jago banget yang namanya masak, apalagi yang berbau sambel."
Meira mengangguk dan mengambil sesuap nasi. "Apa dia cantik?" tanyanya, sambil menutup mulut dengan tangan kanan.
Via tersenyum dan melirik Alex sekilas. "Cantik... sekali! Namun, Mamah kamu tetap yang nomor satu." Meira mulai merasa aneh. "Kepopulerannya dikalangan anak cowok, jangan ditanya. Sinta begitu populer, walupun dia lebih cantik dan sexy," ucap Via terhenti.
"Tante!" Meira menghentikan obrolan Via. "Kenapa Tante benci dia? Kalian kan sahabat?"
Via kaget, ia tersadar dengan ucapannya. Jino dan Alex pun terkejut, mendengar pertanyaan Meira. Melvin yang melihat, mimik wajah kedua pria paruh baya itu, merasa curiga. Namun ia pura-pura tidak tau dan memilih diam.
"Ehhh, bu-bukan gitu, mak---" ucap Via terpotong.
"Dari nada dan topik yang Mamah bawa itu udah kelihatan, kalau Mamah nggak suka orang itu," potong Melvin, membuat Via kikuk.
Meira menghela napas pelas. "Kayaknya nggak enak kalau dilanjutin, Mamah juga udah tenang di surga sana."
Via merasa bersalah dan menundukkan kepala. Jino pun berdeham, "Ehem, Vi, kapan kita pulang ya?"
Via mengangkat pandang dan melihat ke arah Jino. "Kita di sini dulu beberapa hari. nggak papakan Mei?" ia melihat ke arah Meira, yang sedang makan.
Meira melihat ke arah Via dan mengangguk, "Iya Tante, nggak papa."
Alex dan Jino kaget, mendengar obrolan Via dengan Meira. Alex sebenernya, tidak merasa keberatan, namun tidak untuk Jino. Mengingat kondisi rumah Alex yang tengah goyah. Jino khawatir, jika mereka terus di sini.
...π...
Pukul delapan malam, Meira dan Melvin tengah berada di ruang tengah. Meira terlihat sibuk mengerjakan tugas, sedangkan Melvin asik dengan handphonenya. Mereka berdua kini hanya saling diam, tidak ada yang mengajak bicara. Tak lama, handphone Melvin berbunyi.
"Melvinnnn, udah makan belum?" terdengar suara Tiara dari handphone Melvin. Mereka berdua kini tengah vidio callan.
"Udah dong, kamu?" tanya Melvin sambil menyender di sofa. Sesekali, ia merapikan rambutnya.
Meira terlihat kesal. Sialan, lagi-lagi gue jadi obat nyamuk! batinnya. Ia pun merapikan buku dengan lasar dan segera pergi.
Melvin melihat sekilas Meira dengan senyum. Meira yang mengetahuinya pun, langsung memalingkan wajah dan berlari ke arah tangga. Via baru saja tiba dan melihat Meira pergi ke atas dengan terburu-buru. Via penasaran dan memilih untuk menyusul Meira dari belakang.
Via melambaikan tangan, sambil tersenyum. "Tante boleh masuk?"
Meira menganggukkan kepala dan Via pun masuk ke dalam. Mereka berdua pergi ke arah sofa panjang dan duduk di sana. "Ada apa Tante?" tanya Meira.
"Nggak papa," sahut Via sambil tersenyum. "Emmm, soal yang tadi, Tante minta maaf ya."
"Iya Tante, nggak papa kok." Meira sedikit memiringkan wajah dan tersenyum.
"Emm." Via ingin mengajak ngobrol Meira, namun bingung. "Apa kamu suka sama Melvin?"
Meira kaget mendengar pertanyaan Via. "Eee eng-enggak kok Tan," ucapnya, sambil melambaikan ke dua tangan di depan dada.
Via tersenyum dan menggegam tangan Meira. "Sinta dulu pernah bilang ke Tante, untuk apa kamu mengejar cinta yang sudah jelas bukan untukmu? Tuhan yang selalu ada untuk kita saja, tidak kamu kejar? Jangan habiskan waktumu untuk galau dan mengeluh karena cinta! Gunakanlah waktu itu untuk beribadah! Hatimu tenang, kehidupan damai dan Tuhan pun menyayangimu."
Meira tertegun mendengar ucapan Via. Ia benar-benar merasa bersalah. "Makasih Tante, aku akan ingat selalu pesan ini!" ia tersenyum.
Via tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Meira, setelah berdiri dari duduknya. "Udah malem, tidur sana!" pintanya dan Meira pun mengangguk. Meira membaringkan tubuh, sedangkan Via pergi keluar dari kamar. Meira mulai tertidur dan Via pun menutup pintu.
...π...
Keluarga Alex dan Jino kini tengah sarapan pagi di ruang makan. Menu sarapan hari ini adalah nasi goreng. Mereka terlihat menikmati sarapannya dengan tenang dan damai. Meira dan Melvin akhirnya selesai makan. Mereka pergi berpamitan dan masuk ke dalam mobil.
Melvin mengemudikan mobil dan pergi meninggalkan tempat. Meira yang berada di sebelahnya, terlihat tengah main handphone. Meira ingin memfoto jalan, untuk diposting di medsos. Namun ia merasa aneh, karena jalan ini bukan ke arah Sekolah. "Vin, kita mau kemana? Kok jalannya beda?"
"Kerumah Tiara," sahut Melvin, tanpa melihat ke arah Meira.
Meira terkejut mendengar jawaban Melvin. "Hah? Nggak salah dengerkan aku?"
Melvin menaikkan salah satu alis. "Ngapa lo? Kagak suka, gue ngajak Tiara?"
Meira merasa kesal. "Vin!" bentaknya. "Gue tuh suka sama lo! Dan elo tau hal itu! Lo pikir dengan lakuin ini semua, Nggak bikin gue sakit hati?!"
Melvin terlihat kesal, karena Meira membentaknya. "Elo siapa? Ngapain gue harus mikirin lo sakit hati apa kagak?! Lo kagak berhak urusin hidup gue!" omelnya panjang lebar.
"Gue nggak ngatur hidup lo, Vin! Gue cuman nanyain hatilo! Elo tau perasaan gue gimana?! Tapi bisa-bisanya elo berduaan sama Tiara di depan gue! Gue tanya ini, sebagai sesama manusia, bukan lawan jenis!" ucap Meira dengan nada tinggi dan parau. Ia menangis sambil meremas roknya.
Melvin hanya diam saja dan tidak melihat ke arah Meira sedikit pun. Suasana hening dan hanya terisi suara tangis. Tak lama, Meira pun menghentikan tangisannya dan menghapus air mata. "Melvin berhenti!" pintanya dengan suara parau, tanpa melihat ke arah Melvin.
Melvin pun menghentikan mobilnya. Meira tak percaya dengan apa yang dilakukan Melvin. Ia pun mengambil tas dan pergi keluar. Mobil Melvin langsung pergi meninggalkan Meira sendiri di tengah jalan. Meira menangis, hatinya benar-benar hancur. Tega sekali Melvin, meninggalkankannya sendiri di jalan yang ramai.
Sebenci inikah elo sama gue Vin?! Teganya elo ninggalin gue di sini! Gue nyesel banget suka sama lo, Vin! batin Meira. Ia menghapus air matanya dan segera mengambil handphone, untuk memesan ojek online.
Tak lama montor yang besar dan mahal, berhenti di depan Meira. Pemuda itu membuka helmnya dan menaruh di samping. "Hai cewek, sendirian aja, mau bareng nggak?" tawar Pemuda itu sambil tersenyum.
Meira mengangkat pandang dan melihat kearah Pemuda itu. Ia terkejut dan tersenyum...
...Meiraπ...
Aku tidak mempertanyakan cintamu. Aku bertanya pada perasaan di hatimu sebagai sesama manusia, bukan lawan jenis! Setega itukah dirimu, menunjukkan kekasihmu dihadapanku? Padahal kamu tau perasaanku!