
Meira telah tiba di rumah. Dia masuk ke dalam dengan perasaan bersalah. Vena mendekatinya dan memberikan air minum. Mereka berdua duduk di sofa ruang tamu dan mengobrol berdua.
"Sepertinya ada yang lagi happy nih, bener nggak?" kedua tangan Vena menopang dagunya, di atas pupu kaki.
Meira menyenderkan tubuh ke sofa. "Enggak, biasa aja," sahutnya tanpa melihat Vena.
Vena tersenyum lembut dan melihat ke arah Meira. "Kamu tau nggak, ada keluaran handphone terbaru, kerennnn banget! Mau bel---" ucap Vena terhenti.
Meira mengeluarkan handphone tersebut ke meja. "Maaf, saya sudah punya."
Vena melongo dan mendekat ke arah meja. "Kok bisa, katanya kamu ke rumah Oma?"
"Emang, itu hadiah dari Om Derel," sahut Meira. Dia melihat ke arah Vena yang terlihat fokus merhatiin kotak handphone itu. Apa dia ngidam handphone ya?
Ya ampunnn, cantik banget nih handphone. Vena terus memerhatikan handphone tersebut dari ujung meja.
Meira mendorong kotak itu ke arah Vena. "Emm, aku nggak tau cara ngaktifin handphone baru, biasanya Mbk Chika atau Ayah yang gituin." Meira malu dan melihat ke arah lain.
Vena tersenyum dan mendekati Meira. "Mau Bunda bantu?"
Meira terkejut dan hendak menjauh. Vena merangkulnya dengan kuat, supaya tidak kabur. "Iii-iya Tan-te," ucap Meira kaku.
Tante ya? Vena tersenyum getir, mendengar ucapan Meira. "Oke, kamu ambil dulu handphonenya!"
Meira mengangguk dan mengambil handphone tersebut. Vena mengarahkan Meira dengan pelan-pelan dan pasti. Perlahan-lahan handphone tersebut terisi dengan aplikasi yang baru dan terus terdengar notifikasi. Senyum bahagaia terlukis indah di wajah mereka berdua. Alex yang baru saja turun dari tangga, pergi menghampiri mereka.
"Kamu beli handphone, Mei?" tanya Alex setibanya di ruang tamu.
Meira menggelengkan kepala. "Dari Om Derel."
Alex duduk dan menopang kepala dengan tangan kanan. "Hmmm, padahal Ayah juga udah pesen."
Vena dan Meira melihat ke arah Alex. "Terus gimana?" tanya Vena.
"Buat Tante aja, aku mau tidur dulu!" Meira mengambil handphone dan kotaknya. Dia pergi menundukkan kepala dan pergi ke atas tangga.
Alex dan Vena melihat kepergian Meira. Alex menghela napas pelan dan melihat ke arah Vena. "Padahal aku belinya dua."
Vena melihat ke arah Alex. "Buat Mas, aja satunya."
Alex menggelengkan kepala. "Cuman unggul di kamera, aku nggak butuh."
Vena menyun dan mendekati Alex. "Aku mau makan nasi padang!" Vena memasang wajah memelas.
Alex tersenyum lembut dan menoel hidung Vena. "Apa sih yang enggak buat kamu." Vena tersenyum bahagia dan Alex menunjuk pipinya sendiri. "Syarat!"
Vena mencondongkan tubuh ke Alex dan hendak mencium, namun terhenti. Meira tiba-tiba muncul dan mengambil tasnya yang tertinggal. Vena dan Alex salah tingkah.
Meira membungkukkan badan dan menutupi wajah dengan satu tangan. "Permisi, maaf sudah menggagu waktunya, silahkan dilanjut!" Meira berlari, setibanya di anak tangga.
Vena merasa malu dan melihat ke arah Alex. "Masih mau pake syarat?" tanyanya dengan wajah menekuk.
Alex melambaikan salah satu tangan ke Vena dan berdiri tegak. "Lebih baik aku beliin kamu nasi pedang sekarang!" Alex pergi ke luar sambil menggelengkan kepala kecil. "Meira pasti salah paham."
Vena menengok ke atas, mencari Meira. Setelah itu, Vena pergi ke dapur dengan perasaan malu. Terlihat di lain sisi, Meira tengah membaringkan tubuh di atas kasur. Dia menaik-turunkan kaki dengan perasaan bersalah.
"Arghhhh, ngapa gue harus muncul sih! Kalau tau gini, mending gue ambil tuh tas besok pagi!" gerutu Meira kesal.
...🍁...
Hari senin tiba dan langit pun telah cerah. Meira keluar dari mobil sport dan pergi masuk ke dalam Kelas. Perjalan menyelusuri lorong, Meira bertemu dengan Dila dan mereka berdua pergi bersama. Suasana Kelas itu, tiba-tiba hening setelah Meira dan Dila masuk.
"Entahlah, kita cari bangku dulu!" ajak Meira dan mereka berdua pun pergi mencari tempat duduk.
Meira dan Dila akhirnya menemukan tempat duduk. Di saat Meira hendak duduk, Murid sebangkunya menjauh, ketakutan. Meira merasa bingung dan duduk dengan tenang. Dila merasakan hawa yang mencekam di ryangan ini. Para Murid mulai berbisik dan merumpi.
"Apa dia udah lihat ya, folowersnya turun drastis?" tanya seorang Siswi pada temannya.
"Enggak nyangka ihhh, masa kita ngidolain orang gila!" ujar salah satu Siswi.
"Stststt, kalau dia ngamuk gimana? Bokapnya aja hampir dibunuh loh, apalagi kita!" ucap Siswa lain.
"Setelah gue lihat tuh vidio, langsung unfolow ig dia! Ya kalik, gue suka sama cewek sebleng!" ujar seorang Siswa.
"Cantik-cantik atine bengis!" kata Siswa lain.
"Artis harusnya ngasih contoh yang baik! Sadar diri, lo berdiri di posisi mana! Banyak orang menghormati dan menjadikan mu panutan mereka! Mau jadi apa nih Negara, kalau Artisnya aja begini!" sindir salah satu Siswa, sambil melirik sinis Meira.
Meira memalingkan wajah ke arah dinding. Air matanya jatuh dan hati dia terasa begitu sakit. Tangis itu tak dapat dia tahan lagi. Dia menangis sesengukan, dengan suara yang pelan. Dila merasa kesal dan ikut sedih. Dila hendak menggebrak meja, namun terhenti.
Melvin memukul pintu dengan sangat kuat, membuat para Murid di Kelas kaget. Pintu itu pun berlubang, saking kuatnya. Melvin menatap tajam para Murid dan Aldo juga. Mereka berdua masuk ke dalam dan merubah ekspresi menjadi kalem.
"Wahhh parah, tuh pintu lemah bener!" ujar Melvin sambil berjalan ke bangkunya.
Aldo memasukkan salah satu tangan ke kantong. "Hahaha, maklum lah pintu murahan!" ucapnya dan pergi menghampiri salah satu Siswa. "Saking kencenge lo nonjok, mereka langsung mingkem!"
"Hahaha, sorry gaes! Entar gue kasih hadiah, yang bikin lo pada seneng," ucap Melvin, membuat para Murid diam dan hanya bisa menelan salivanya.
"Apa kabar Bro?" Aldo merangkul Siswa itu dan menepuk-neouk bahunya. "Selepas pulang nanti, mampir ketempat biasa. Anak-anak sini lo ajak semua, kalau lo pada kagak dateng. Tau kan akibatnya!" bisik Aldo membuat Siswa itu ketakutan.
Melvin duduk di salah bangku dengan aura dingin. Aldo pun menyusul, duduk di bangkunya sendiri. Para Murid kini benar-benar ketakutan dan suasana Kelas itu menjadi hening. Tak lama Petugas datang.
"Assalammualaikum, udah pada siap ujian kan?" tanya sang Petugas, sambil berjalan ke arah mejanya.
"Sudah Pak," ucap para Murid lemah, ketakutan.
"Sudah dong Pak! Gue tunggu-tunggu tuh soal!" ujar Melvin kuat dan penuh semangat.
"Nah, kayak Melvin gini loh, semangat! Kok pada loyo semua ini kenapa?" tanya sang Petugas, sembari mengambil kumoulan soal dari map coklat.
"Belum sarapan kalik, Pak!" sahut Aldo.
"Tegang Pak, biasa... Meratapi nasib, karena tak mampu menjawab soal ujian!" komen Melvin.
"Bwahahaha," Aldo dengan sengaja tertawa kencang dan para Murid terlihat murung.
Petugas itu menggelengkan kepala dan menghampiri deret meja paling pojok. "Harusnya sebelum ujian gini, kamu ajak temen-temen belajar bareng! Pinter tuh harus dibagi, jangan disimpen sendiri! Saya yakin kok, kamu tetep yang nomor satu di Sekolah."
Melvin merapikan poninya ke belakang dan tersenyum sombong. "Ohhh, itu sudah pasti, tidak ada satu orang pun yang dapat mengalahkan kepandaian saya!"
Sang Petugas tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. Aldo pun berucap, "Sans aja, Pak. Selepas ujian hari ini selesai, Melvin bakalan ngasih pelajaran sedikit ke mereka, supaya bahagia."
"Saya jamin Pak, besok mereka bakalan happy!" kata Melvin dengan penuh kepercayaan diri, membuat para Murid merinding.
Sang Petugas tengah membagikan lembaran soal dan menjawab, "Wahhh, bagus-bagus! Saya akan menantikannya. Besok saya akan ke sini sebentar, buat lihat kalian semua!"
Melvin memberikan jempol ke Petugas. "Sipp!"
"Baiklah, kita ujian dulu! Ngobrolnya kita lanjut lain waktu." Petugas itu membagikan soal-soal. Tak lama bel berbunyi dan ujian pun di mulai. Meira sebenarnya tidak mengetahui, kelakuan Melvin dan Aldo saat masuk Kelas. Dia benar-benar terluka dan tak memperdulikan sekitarnya. Meira menghapus air mata dan kembali fokus ujian.