MeiMel

MeiMel
Kepergok Calon Mertua.



Meira telah tiba di tempat tujuan. Dia keluar dari mobil dan pergi menemui Verel. Terlihat montor sport yang sedang diangkut ke atas mobil truk dan Verel yang sedang berteleponan.


Meira datang menghampiri Verel. "Yahh aku telat."


Verel mengacak-acak rambut Meira dan mematikan telepon. "Masih belum telat, Pir. Yuk anter gue ke tongkrongan!" dia merangkul Meira dengan erat dan membawanya ke arah mobil.


"Ehhhh, maksudnya Pir, itu supir?"


"Hahahaha, ternyata kamu pintar juga," ujar Verel dan Meira pun mengerucutkan bibirnya.


Mereka berdua pun masuk ke dalam mobil. Verel membawa pergi mobil Meira ke arah tongkrongannya. Lima belas menit kemudian, mereka telah sampai di tempat tujuan. Verel dan Meira turun dari mobil.


"Thank you ya, Dek," ucap Verel.


Meira tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya Bang,"


"Langsung pulang, jangan kemana-mana!" pinta Verel sambil berlari pergi.


"Iya!" sahut Meira kencang. Meira hendak mambuka pintu mobil, namun tidak jadi. Manik matanya melihat Bima dan Tiara pergi ke suatu tempat. "Mereka mau kemana ya, ikutin ahhh!"


Meira pergi meninggalkan mobil dan menyusul Bima sama Tiara. Secara pelan-pelan Meira terus mengikuti mereka berdua, tanpa ketahuan. Lokasi itu pun cukup sepi, sehingga Meira bisa bebas dari gerombolan Fans.


"Beberapa orang udah ketahuan dan disekap oleh mereka," ucap seorang Lelaki berpakaian serba hitam dan masker.


"Arghhh, sial!" Bima merasa kesal.


"Bim, kamu beneran yakin kan, kalau kita selamat? Aku nggak mau di penjara," kata Tiara khawatir.


Bima memeluk erat Tiara dan mengusap lembut punggungnya. "Jangan khawatir, Tir. Kamu di sini dulu ya!"


Bima dan Tiara melepas pelukannya. Tiara menganggukkan kepala dan Bima pun pergi bersama orang tersebut. Tiara mengambil handphone dan menelpon seseorang.


"Mbk, aku kayaknya nggak mau jadi Artis deh. Aku mau mundur aja," ucap Tiara ke pada seseorang dalam handphone.


"...."


"Aku nggak enak sama Bima, Mbk. Kemungkinan besar, Bima bisa di penjara karena persoalan ini!"


"...."


"Iya Mbk, aku minta maaf. Ini semua, karena kemauanku yang terlalu egois. Aku akan bantu Bima, dengan cara menjadi Dokter yang hebat aja."


"...."


"Makasih Mbk, udah mau ngertiin kondisi kami. Lain waktu, aku akan traktir makan untuk tanda minta maafku."


"...."


"Nggak papa Mbk, aku udah dulu ya. Aku mau mau samperin Bima dan nyelesain ini semua."


Tiara mematikan telpon dan hendak pergi menyusul Bima lewat jalan lain. Tiara terkejut melihat Meira yang sedang menyender di dinding dengan kedua tangan di lipat di depan dada. Meira memberikan senyum lembut dan melambaikan salah satu tangan.


"Apa elo dengar semuanya?" tanya Tiara.


"Hehehee iya. Santai aja, nggak bakalan gue laporin kok," ucap Meira dan pergi meninggalkan tempat.


"Ehhh, laporin ke siapa maksudnya? Polis?" Tiara mulai khawatir dan berlari menemui Bima.


...🍁...


Meira baru saja tiba di rumah. Dia pergi masuk ke dalam rumah. Terlihat di ruang tengah ada Om Jino dan Melvin. Meira pun menghampiri mereka dan menyalami Jino.


"Udah pulang ternyata, dari mana?" tanya Jino setelah Meira menyalami tangan kanannya.


"Dari rumah temen, Om," sahut Meira, namun Melvin tak percaya. "Saya ke kamar dulu ya, Om!"


"Ohh, iya-iya," sahut Jino dan Meira pun pergi ke atas.


Tuh anak pasti bohong, batin Melvin dengan yakin.


Lima belas menit kemudian, Meira tengah mengikat rambut dengan handuk, karena habis mandi. Dia juga telah pakai baju tidurnya. Tak lama seseorang datang mengetuk pintu kamar Meira.


"Sebentar!" ucap Meira, sambil berjalan menuju pintu. Dia membukakan pintu dan menampakkan wujud tegap Melvin. "Elo?"


"Disuruh Mamah ke bawah, makan bareng!" ujar Melvin memberitau.


"Hmmm." Meira memutar bola matanya, malas dan hendak menutup pintu.


Meira terkejut dan sedikit ketakutan, karena tatapan Melvin benar-benar menusuk. Haisss, ngapa nih anak jadi begini sih?!


Meira pun menutup pintu dan turun ke bawah, sedangkan Melvin menyusul dari belakang. Terlihat di ruang makan, Vena dan Via tengah menaruh lauk-pauk, sedang para Suami bermain handphone. Meira dan Melvin duduk di salah satu bangku yang saling berhadapan.


Sialan nih anak, ngapa wajahnya nakutin gini sih? Meira menundukkan kepala dan mengetuk-ngetukkan jari ke meja.


Via yang menyadarinya pun tersenyum. "Maaf ya Meira, kalau Melvin sedikit aneh. Hari ini mood dia lagi jelek, karena kecapakan dan banyak pekerjaan yang belum diselesain."


Oalah, begitu toh, batin Meira dan menganggukkan kepala kecil. "Iya Tante, nggak papa kok."


Via tersenyum lembut dan mereka pun makan bersama. Mereka makan dengan tenang dan hanya berisi obrolan kecil. Selesai makan, Meira pergi ke halaman belakang rumah dan duduk di ayunan yang terbuat dari kayu. Meira tengah menonton you tube sambil menggoyangkan ayunan dengan kaki. Tiba-tiba Melvin datang dan duduk di sebelah Meira.


Meira menoleh ke arah Melvin. "Capek banget ya?" tanyanya dan Melvin pun mengangguk. Apa gue kasih tau aja ya, soal vidio itu?


Melvin melihat ke arah Meira. "Lo kenapa?"


"Emm, enggak kenapa-kenapa tuh," sahut Meira, ragu. "Aku punya vidio soal Bima sama Tiara, lo mau lihat?"


Melvin terkejut dan mendekat. "Apa isi vidio itu?!"


Meira menjauh dan memalingkan wajah. "Emmm, isinya ya begitu, kalau mau..." Meira mengambil handphone dan menunjukkan ke Melvin. "Nih, lihat aja sendiri! Aku mau ke dapur ambil minum."


Melvin pun menerima handphone Meira. Meira berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan tempat. Melvin memutar vidio itu dan menontonnya. Vidio itu belum sempat Meira tonton sampek selesai, karena merasa geli dengan interaksi Bima dan Tiara.


"Kayaknya aku nggak bisa muncul, di waktu itu deh Bim, yang dibilang Adel sama Nisa bener," ujar Tiara pada vidio itu. Tiara dan Bima tengah duduk berdua di sebuah Cafe.


"Hmmm, kayaknya iya. Kita terlalu terburu-buru memutuskan rencana. Kamu mau bersabar, buat nunggu waktu yang pas?" tanya Bima.


Tiara menganggukkan kepala. "Ohh iya, mau sampek kapan kita diem begini di Sekolah? Aku risi banget, tiap lihat kamu digangguin anak-anak tau!" manjanya.


"Tahan sebentar ya, Tir, cuman kurang satu tahun lagi aja. Kita bakalan satu Kampus dan berpacaran pada umumnya." sahut Bima, sambil mengusap lembut telapak tangan Tiara.


"Huh, oke lahhh," ucap Tiara. "Tapiii, awas aja kalau kamu beneran jatuh hati sama Meira!" Tiara menatap tajam Bima, sambil memutar-mutar sedotan di gelas.


"Hahaha, kamu nggak perlu cemburu sama orang stress kayak gitu. Mana mungkin aku tertarik sama cewek kayak dia? Udah setres, bodoh, cuman bermodalan status Bintang dan wajah cantik," Bima memasang senyum mengejek dan menyeruput kopinya.


"Hahaha, bener juga ya," sahut Tiara dan tertawa kecil.


Dua buah gelas jatuh dan pecah. Melvin terkejut dan melihat ke arah Meira. Air mata Meira jatuh membasahi wajahnya. Melvin menaruh handphone itu ke ayunan dan menghampiri Meira.


Melvin hendak menghapuskan air mata Meira, namun sudah keduluan. Meira memalingkan wajah dan menghapus tangisnya. "Minggir Vin, ada beling!"


Melvin menyingkir dari pecahan gelas dan mendekati Meira dengan jalan lain. "Lo kagak perlu khawatir, biar besok gue sobek tuh bibir."


"Kenapa?" tanya Meira, namun Mrlvin tak paham. "Kenapa lo mau sobek bibir Bima?"


Melvin terlihat bingung. "Karena... udah bikin lo begini."


"Lo kan dulu juga gitu," ucap Meira, sambil menundukkan kepala. Melvin tersentak dan merasa bersalah. "Malahan lo lebih parah, ketimbang Bima."


Melvin menggaruk belakang kepala dan tersenyum kikuk. "Itu kan dulu, sekarang gue enggak bakalan begitu."


"Emangnya kenapa?" tanya Meira, sembari menatap mata Melvin.


Melvin melihat kedua bola mata Meira dengan lekat. "Karena gue suka elo," ucapnya dengan serius. Meira tidak berkutip sedikit pun, ia mencari celah di mata Melvin. Melvin terlihat jujur, membuat Meira bimbang.


Terdengar suara jepretan kamera dari jauh, membuat Meira dan Melvin kaget. Mereka berdua mencari ke arah sumber suara dan menemukan kedua Orang Tuanya yang tersenyum. Meira merasa malu dan kabur, sedangkan Melvin hanya diam dengan perasaan kesal.


"Wah wah, Anak kita ternyata udah besar, Mah," ujar Jino.


Via menutupi tawanya dengan tangan kanan. "Ya ampunnn, Mamah terharu lo Kak."


"Hmmm, calon mantu kita cukup berani juga ya, Mas. Malem-malem godain Anak perempuan kita, di rumah ini pula. Padahal dia tau loh, ada kita di sini," puji Vena sambil tersenyum-senyum.


"Kagak pernah ngerasain tinjuan gue, kalik ya," sindir Alex sambil bergaya, seakan-akan ingin menonjok orang.


Melvin berjalan ke arah mereka berempat dengan tegap dan datar. "Udah malem waktunya pulang! Kita lanjut obrolan ini besok pagi," ucapnya dengan penuh wibawa dan nyelonong pergi, melewati mereka.


"Melvin! Nggak boleh gitu!" tegur Via, namun tidak direspon oleh Melvin.


"Kagak dapet restu, kapok kamu! Ayah sama Mamah nggak bakalan bantu!" ucap Jino.


Melvin memberikan jempol ke atas. "Aku tunggu di mobil!"


Vena menepuk jidatnya dan menggelengkan kepala. Jino bertolak pinggang, dia sudah lelah menghadapi Melvin. Vena tertawa kecil melihat Keluarga Via, sedangkan Alex diam-diam tersenyum senang.