
Meira kini telah sampai di rumah bersama Melvin. Mereka berdua keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Via yang berada di ruang tengah, melihat kedatangan mereka. Via pun menyapanya, namun Meira tak menjawab dan langsung naik ke atas. Via bingung dan melihat ke arah Melvin, ia meminta penjelasan.
Melvin menghela napas pelan dan bercerita. Via pun paham dan mengangguk. "Ohh gitu,"
Melvin mengerutkan kening dan betanya, "Cuman gitu doang?" Via berpikir dan mengangguk. "Mamah nggak mau hibur dia atau gimana gutu?"
Via tersenyum dan pergi. Melvin terlihat bingung dan memilih untuk naik ke atas, masuk ke kamar. Di lain sisi, Meira tengah tidur mengkurup sambil memiringkan kepala, melihat foto Sinta. Ia mengusap lembut foto itu, sambil menangis.
"Hikss, Mamah.. maafin aku," ucap Meira parau. "Harusnya aku di rumah dan doain Mamah, bukannya main ke Mall, maafin Meira Mah." Ia menangis, sambil menutup foto Sinta.
Meira menarik selimut, hingga menutupi seluruh tubuh. Ia menangis di dalam selamut, sendirian. Seperti biasa, lampu kamar Meira mati dan Acnya terus menyala, membuat suhu ruangan itu sangat dingin. Tak lama, Via datang sembari membakan cemilan.
"Meira..." ucap Via dengan lembut, sambil menarik selimut.
Meira yang mengetahui keberadaan Via pun, segera menghapus air matanya. Perlahan-lahan ia buka selimut itu dan melihat ke arah Via. Wajah yang sendu dan sedikit pucat, terlihat jelas di mata Via.
"Nih buat kamu, Tante buatin curos yang rasanya pasti, bikin kamu ketagihan!" seru Via sambil tersenyum ceria dan memberikan mangkuk penuh curos. Meira terus melihati curos itu, tanpa mengambilnya. "Ayo ambil! Kok dilihatin doang?" pinta Via.
Meira langusng mengambil curos itu dan memakannya. Rasanya sangat enak sekali, di dalam lumer akan coklat dan di luar gurih, karena sayur. Sungguh menagihkan dan membuat candu. Supaya Meira tak malu makan sendirian, Via pun ikut makan bersama. Terlihat, Meira terus menambah hingga habis.
"Gimana?" tanya Via sambil menaruh mangkuk bekas curos ke meja samping.
Meira tersenyum dan mengangguk senang. "Enak banget Tante."
Via tersenyum bahagia. "Alhamdulillah, mau coba buat nggak?"
"Mau Tante!" sahut Meira langsung, dengan wajah ceria. Via pun menggegam tangan kanan Meira dan mengajaknya pergi ke dapur. Mereka berdua keluar dari kamar dan bersiap untuk masak bersama.
Via dan Meira kini telah berada di dapur. Mereka berdua tengah memakai celemek dan mengambil bahan. Setelah bahannya siap, Meira dan Via pun memulai masak. Terlihat banyak sekali bahan -bahan yang berada di atas meja, seperti tepung, gula, mentega, coklat batangan dan beberapa sayuran.
"Meira, tolong potongin wortel, seledri, brokoli sama bayamnya kecil-kecil dan tipis ya!" pinta Via, sambil menuangkan tepung ke mangkuk besar.
Meira mengangguk dan mengambil bahan yang diminta Via. "Iya Tan." ia cuci sayuran itu dan mulai memotong. Sesekali, ia tunjukkan hasil potongannya. Via pun mengecek dan memberitau. Meira paham, ia kembali memotong sesuai permintaan.
Tak perlu waktu lama, Curos pun jadi. Meira terlihat begitu senang, ia diminta untuk mencoba oleh Via. "Wahhh, enak banget!"
Via tersenyum dan membawanya ke kulkas. "Alhamdulillah." ia masukkan curos itu ke dalam dan menghampiri Meira.
"Tante mau ngapain lagi?" tanya Meira, melihat Via mengambil bahan-bahan baru.
"Masak, buat makan malam." Via mencuci sayuran dan memanaskan minyak. Sebelumnya ia telah melumuri ayam dengan bumbu, dan tinggal menggoreng saja.
Meira mendekat dan melihat. "Ada yang bisa aku bantu Tan?"
Via melihat ke arah teflon. "Goreng ayam ya!" pintanya dan Meira mengangguk. Tak lama Bibik datang dan memberitau Via, jika ada tamu. Via pun pergi, meninggalkan Meira sendirian.
Meira memasukkan ayam itu ke teflon dan menggorengnya. Percikan-percikan minyak itu, membuat Meira sedikit takut dan mundur. Melvin yang melihat dari kejauhan, memutuskan untuk menghampiri Meira, karena penasaran. Terlihat minyak itu akan meletus. Melvin yang mengetahuinya pun, langsung berlari dan memeluk Meira.
Meira terkejut dan spontan melepas spatula. "Ehhh, a-ada apa?"
Melvin melepas pelukannya dan melihat kearah penggorengan. "Tadi, tuh minyak meletus, lihat nih!" Melvin membalikkan badan dan melihatkan ke arah Meira.
Terlihat lingkaran yang cukup besar, akibat percikan minyak. Jika saja Melvin tidak datang, kulitnya pasti akan terbakar. "Makasih."
Melvin mengangguk dan mengambil spatula. "Gue ambil alih, ini!" ia menunjukkan spatula ke Meira dan mulai membalikkan ayam.
Meira mengerutkan kening. "Emang bisa?"
"Bisalah," sahut Melvin. "Kayaknya."
Meira menggelengkan kepala dan memilih untuk memotong sayur. Tak lama, Melvin pun membalikkan ayam dan hendak menaruhnya ke piring. Namun, tanpa sengaja Melvin menyenggol pegangan teflon dan jatuh ke bawah. Melvin pun menarik Meira, untuk menjauh.
Via yang mendengar suara benda jatuh pun, langsung berlari ke arah dapur dengan panik. Terlihat di dapur sangat berantakan, minyak bertumpahan, ayam dan teflon di lantai. Melvin dan Meira berada di pojok dapur, dengan ekspresi syok.
"Ini kanapa dapur kayak kapal pecah begini sih! Baru aja ditinggal sebentar loh!" Via marah. Ia memanggil Bibik untuk membersikan dapur.
"Maaf Tante, tad--" ucap Meira terpotong.
"Melvin yang salah Mah, tadi nggak sengaja nyenggol teflonnya sampek jatuh begitu," potong Melvin.
Melvin dan Meira mengangguk. Mereka berdua meminta maaf dan pergi dari dapur. Bibik datang membersihkan dapur, sedangkan Via bersiap untuk memasak, karena bentar lagi mau maghrib. Meira hendak naik ke atas, namun terhenti.
"Lo mau tidur lagi? Udah mau maghrib, goblok!" seru Melvin di bawah tangga.
Meira membalikkan badan dan melihat ke arah Melvin. "Bisa nggak sih, tuh otak dibersihin dulu! Gue ini mau mandi!" sahutnya ketus dan pergi ke kamar.
Melvin terkejut, mendengar jawaban Meira. "Wahhh, parah! Udah lupa dia, siapa gue!" ia berdecak sebal dan pergi ke ruang tv.
...🍁...
Malam hari tiba, Alex dan Jino pun pulang ke rumah. Via menyuruh mereka untuk segera mandi, setelah itu berkumpul di ruang makan. Jino dan Alex pun menurut. Via pergi ke ruang makan, menemui Meira dan Melvin, yang sudah lebih dulu datang.
"Setelah makan, kerjakan tugas kalian!" ucap Via dan duduk di salah satu bangku. Meira dan Melvin mengangguk.
Tak lama, Jino datang bersama Alex. Mereka berdua duduk di bangku kosong dan mengambil makanan. Terlihat, Jino tengah mengambil udang bersamaan dengan Alex. Mereka berdua berebut dan saling memberikan tatapan tajam. Meira dan Melvin, hanya bisa menonton saja.
Via menghela napas dan memukul capit Alex serta Jino. Ia mengambilkan udang untuk ke dua pria paruh baya itu. "Makan dengan tenang dan jangan sampek ada suara ribut sedikit pun!" pesannya, penuh penekanan di tiap kata.
Jino dan Alex langsung makan dengan diam. Meira tertawa di dalam hati bersama Melvin. Mereka berlima pun makan bersama dengan tenang. Selsai makan, Meira dan Melvin pergi ke salah satu ruangan. Terlihat di tempat itu ada dua buah bangku sofa untuk satu orang, meja di tengah dan kaca yang begitu besar, menampakkan pemandangan malam hari. Ruangan itu ada di lantai dua.
Melvin membaca buku sejarah, sambil menaruh kaki kanan di atas kaki kiri. Sedangkan Meira, ia tengah mengerjakan tugas MTKnya. Mereka terlihat serius dan tidak ada yang mengajak bicara. Meira memegang pelipisnya dan membalikkan buku.
Melvin yang melihat Meira tengah kebingungan, memutuskan untuk bertanya, "Lo ngapa? Kalau nggak ngerti tanya!"
Meira melihat ke arah Melvin dan langsung menunjukkan buku prnya. "Nih!" Terlihat di buku itu ada soal, seperti ini;
Soal:
Tentukan rumus suku ke N, dari barisan bilangan 9, 11, 13, 25, ...
Melvin menghela napas pelan dan menaruh buku itu ke meja. "Begini aja lo nggak bisa?" ia mengelengkan kepala. Meira hany tersenyum kikuk dan Melvin pun mulai mengajarinya.
a. 9
b. U2 - U1 \= 11 - 9 \= 2
Un \= a \+ (N - 1) b
\= 9 \+ (N - 1) 2
\= 9 \+ 2n - 2
\= 2n \+ 7
Meira mengangguk paham dan mulai mengejarkannya. Melvin pun kembali membaca paket sejarah. Tak lama Via datang, sambil membawakan curos dan susu coklat. "Nih, Mamah bawain temen belajar kalian!"
Meira dan Melvin melihat ke arah susu serta curos yang ada di meja. Mereka berdua tersenyum senang. "Makasih Mah," ucap Melvin.
"Makasih Tante," ucap Meira bersamaan dengan Melvin.
Via menganggukkan kepala, sambil tersenyum. "Sama-sama, belajar yang bener ya! Mamah mau ke bawah dulu." Meira dan Melvin mengangguk, ia pun pergi meninggalkan mereka berdua.
Melvin mengambil curos dan memakannya. "Hmm, rasanya agak beda?"
"Mungkin itu adonan yang pertama, Tante tadi lupa masukin beberapa bahan soalnya, tapi enakkan?" tanya Meira dan melahap curos itu.
Melvin mengunyah curos dan menelannya. "Iya, enak." Meira tersenyum. Mereka berdua pun kembali belajar, sambil ngemil. Sesekali, Meira bertanya ke Melvin dan ia pun mengajarinya.
Jarum jam terus berputar, Meira dan Melvin pun mulai mengantuk. Melvin menutup buku dan menghabiskan susu. Sedangkan Meira, telah merapikan bukunya dan berolahraga sedikit, karena pegal. Mereka memutuskan untuk tidur dan pergi ke kamar. Sesampainya di kamar, mereka berdiri di ambang pintu.
"Good night Melvin!" ucap Meira sambil tersenyum.
"Night..." sahut Melvin dengan wajah malas. Mereka berdua pun masuk ke dalam kamar masing-masing dan tertidur.