MeiMel

MeiMel
Melvin dan Bima tauran.



Meira mengangkat pandang dan melihat kearah Pemuda itu. Ia terkejut dan tersenyum. "Bima, lo kok di sini?"


"Lihat cewek cantik lagi nangkring di tengah jalan, jadi belok ke sini deh, kalik aja nemplok," goda Bima sambil tertawa kecil.


Meira mencubit pelan lengan kanan Bima dengan gemas. "Ihhhh, nyebelin banget sih!"


Bima tertawa sambil meringis kesakitan. "Hahaha, sorry-sorry." ia mengatupkan kedua tangan di depan dada, untuk meminta maaf.


Meira melepas cubitanya dan melipat kedua tangan di depan dada. "Huhhh." ia memalingkan wajah sambil ngambek.


Bima tersenyum dan mencondongkan tubuh ke arah Meira. "Mau bareng nggak nih? Bentar lagi masuk loh, kalau nggak ma--" ucapnya terhenti.


Meira membukam mulut Bima. "Oke, gue mau, ini karena lo yang maksa ya?!" ia melepas bungkamannya dan meminta helm.


Bime tertawa sambil menggelengkan kepala. Ia turun dari montor dan mengambil helm untuk Meira. Ia berikan helm itu ke Meira dan naik ke montor. Meira memakai helm dan naik ke atas montor. "Ayo! Entar telat, elo yang harus nangung!" ucap Meira sambil memegang ke dua bahu Bima.


"Siap, Tuan Putri! Kagak mau pegang pinggang gue nih? Entar jatuh lo," tanya Bima.


Meira menampol belakang helm Bima dengan keras. "Dasar kang modus! Ayo jalan!" Meira kembali memegang ke dua bahu Bima, yang tengah tertawa.


Melvin memutar balik mobil ke arah Meira. Wajahnya mulai berubah menjadi kesal. Ia mengeratkan genggaman tangan ke setir mobil dengan kuat dan memukulnya. Terlihat Bima dan Meira bergoncengan dengan mesra. Sialan Meira, lagi-lagi tuh anak nipu gue. Dia bilang suka gue, ternyata... arghh!


...🍁...


Bima dan Meira kini telah sampai di parkiran. Meira turun dari montor Bima dan mereka berdua pun melepas helm. Meira merapikan rambutnya ke spion, sedangkan Bima tengah memasukkan helm ke bagasi montor.


Meira menjitak kepala Bima dari samping. "Sialan lo Bim! Bawa montor kengceng banget."


Bima mengusap-usap kepalanya yang kena jitak. "Sakit tau Mei, punya montor begini tuh harus di manfaatin!"


Meira berdecak sebal. "Ohh iya, inikan montor balap yang ada di tv, bener nggak?" tanyanya dan Bima pun mengangguk. "Ck, lo pasti mau mikat cewek pake montor ini kan?"


Bima tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau iya, ken---" ucapnya terhenti. Seseorang dari belakang memukul Bima dengan tas.


"Mei, yuk masuk!" ajak Dila tiba-tiba, sambil membenarkan tas. Ia lah pelaku yang memukul Bima. Meira yang awalnya kaget, menjadi tersenyum kikuk. Dila merangkul Meira dengan riang. "Mas, thanks udah anter sahabat gue, lain kali biar gue aja!" teriaknya, sambil membawa Meira masuk ke dalam Sekolah.


Meira pun hanyak melambaikan tangan dan mengantupkan kedua tangan sebentar. Bima tersenyum, sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan pusing. Meira tidak tau, kenapa Dila selalu saja tidak suka dengan Bima. Padahal Bima baik dan peduli.


"Kok lo bareng Bima, Mei?" tanya Dila, sambil berjalan ke arah Kelas. Mereka berdua kini berada di lorong Kelas XI.


Meira menoleh sebentar dan melihat kembali ke depan. "Panjang ceritanya, lain kali aku cerita deh."


Dila mengerutkan kening. "Hmm, okelah, janji ya!" Meira mengangguk dan mereka berdua pun mengaitkan kelingking.


...🍁...


Bel istirahat berbunyi dengan nyaring. Guru di Kelas XI IPS 4, mengakhiri pelajaran. Para Murid terlihat senang dan berhamburan keluar dari Kelas. Meira dan Dila saat ini tengah merapikan buku-bukunya. Tak lama, seorang Siswi datang menemui mereka berdua dengan panik.


"Meira! Hos hos hos, Bi-bima sama Melvin ta-uran di halaman belakang, lo cepetan kesa-na gih!" ucap Siswi itu sambil memegangi kedua lutut kakinya dan mengambil napas, karena lelah berlarian.


Meira terkejut dan langsung pergi ke halaman belakang. "Makasih infonya," ucap Meira, di saat dirinya berada di samping Siswi itu. Dila dari belakang menyusul Meira.


"Bisa-bisanya lo ninggalin Meira sendirian di tengah jalan, lo punya hati kagak, hah!" Bima meremas kerah Melvin dengan kedua tangannya dan memberikan tatapan yang penuh amarah.


Melvin tersenyum smrik. "Ohhh, jadi lo beneran enggak sengaja ada di sana? Gue kira Meira ngibul," ucapnya, sambil menatap Bima dengan remeh. "Hmmm, itu artinya... Lo nggak akan bisa dapetin hati Meira!"


Bima merasa kesal dan hendak menonjok Melvin. Namun tonjokkannya malah mengenai Aldo, yang berada di belakang Melvin. Melvin tak terima, ia pun membalas Bima. Namun Bima mengelak dan mengenai wajah David, sahabat Bima. Tak lama, Meira, Dila dan Tiara cs pun datang.


Tiara langsung pergi menghampiri Melvin. "Vin, stop!" ia berusaha menahan tangan Melvin, yang hendak memukul wajah Bima.


"Berhenti Bim! Plissss!" ucap Meira memohon, sambil memegangi lengan Bima.


"Melvin! Gue bilang stop!" tegas Tiara dan Melvin pun menghentikan tangannya, bersamaan dengan Bima. Tiara membawa Melvin ke UKS, sedangkan Meira dan Bima pergi ke Kelas Mipa 1. Dila, Adel, Aldo, Dea dan David pun membubarkan masa.


Bima dan Meira kini telah duduk di bangku tengah. Bangku itu milik Bima dan David. Meira terlihat kesal dan diam saja, membuat Bima kebingungan. "Mei, lo marah?" tanya Bima memastikan.


"Enggak, gue lagi seneng!" ketus Meira, tanpa melihat ke arah Bima.


"Sorry ya." Bima melihat ke arah Meira.


Meira melihat ke arah Bima. "Kalian berantem karena apa sih?! Kamu tuh Ketua Osis, Bim! Bikin contoh yang baik dong!"


"Iya, maaf," ucap Bima dengan lembut.


Meira menghela napas pelan dan diam. Tak lama, seorang Siswi yang dimintai tolong oleh Meira datang. Siswi itu memberikan kotak p3k dan pergi duduk di bangkunya. Meira membuka kotak itu dan mulai mengobati Bima.


"Aww," keluh Bima, di saat kapas itu menempel pada lukanya. Meira terlihat begitu berhati-hati dan telaten dalam mengobati. Bima terpukau dengan Meira. "I love you."


Meira terkejut dan menghentikan tangannya. Bima dan Meira saling melihat. "Apa?"


Bima meraih tangan kedua tangan Meira dan berkata, "Mei, aku suka kamu, mau nggak jadi pacarku?"


Meira terkejut. Ia pun sepontan menarik tangannya dari genggaman Bima. "Maa-maaf Bim, aku.."


"Nggak perlu dijawab sekarang, aku pasti nunggu kamu!" Bima tersenyum.


Meira hanya diam dan berdiri dari duduknya. "Aku balik ke Kelas dulu Bim, udah mau bel," pamitnya dan langsung pergi. Bima hanya tersenyum dan menghela napas pelan. Astaga, yang gue takutin beneran terjadi. Bodoh banget lo sih Bim! Bikin gue terbebani aja! batinnya sambil berlari.


...🍁...


Via dan Bik Tika kini tengah berada di ruang tamu. Mereka berdua terlihat, tengah membuat daftar belanjaan untuk keperluan rumah. Sedangkan para ART lain sedang bersih-bersih.


"Belut udah belum Bik? Saya nanti mau masak belut goreng," tanya Via.


Bik Tatik menulis di kertas dan menjawab, "Ini sudah saya tulis Nyonya."


"Sipp, kalau ket---" ucap Via terhenti, karena bel rumah berbunyi. Bik Tika hendak berdiri dan membukakan pintu, namun terhenti. Via menahan Bik Tika dan berkata,"Biar saya saja Bik." Bik Tika mengangguk dan Via pun pergi, membukakan pintu rumah. Terlihat seorang Wanita seumuran Via, tengah berdiri dengan perut yang buncit.


Via menatap ke Wanita itu dengan senyum. "Akhirnya, lo dateng juga," ucapnya membuat Wanita itu tersenyum kikuk dan merasa sedikit tidak enak.