
Uhhh, Aldo resek banget, bisa-bisanya tuh anak godain gue! batin Dila sambil menaiki tangga. Ia kini telah sampai di rumah. Sesampainya di lantai dua, Dila tak sengaja mendengar suara keributan dari dalam kamar Orang tuanya. Ia berhenti dan menguping.
"Arisan lagi? Dila udah kelas dua, kamu harusnya di rumah, ngajarin dia!" ucap Ayah Delon dengan nada marah.
"Aku cuman arisan sebentar! Aku nggak pergi satu hari full!" sahut Mamah Sila, kesal.
"Tinggalin! Nggak ada gunanya kamu ikut itu!" bentak Delon.
"Tinggalin kamu bilang?! Dari umurku enam belas tahun, aku udah ninggalin semuanya di masa mudaku! Aku ngampus sambil ngandung Dila. Lulus SMA aja aku udah hamil! Kalau enggak, karena perjodohan bisnis ini! Aku masih bisa main sama temen-temen, nikmatin hidupku jadi anak remaja! Tapi... hiks hiks hiks." Mamah Dila mulai menangis. Tangis itu terdengar dari luar kamar, membuat Dila sesak.
"Lagi-lagi kamu bilang itu?" ucap Ayah Delon penuh penekanan. "Umurku juga masih tujuh belas! Aku ngampus sambil ngurus kamu dan kan---"
"Kamu nggak bakal ngerti, Mas," sahut Mamah Sila lemah dan parau.
Ruangan itu menjadi hening dan hanya terdengar suara tangis. Terlihat tiga orang Bibik tengah berdiri di belakang Dila. Mereka sudah meminta Dila untuk pergi, namun ditolak. Dila menangis, sambil meremas dadanya yang terasa sesak.
Orang tua Dila menikah di umur yang masih muda, karena suatu perjodohan. Sila selalu saja menghindar dan tidak memperdulikan Dila sewaktu kecil, sedangkan Delon sibuk kerja. Kepedulian Sila dan Delon mulai tumbuh, di saat Dila menginjak Kelas 8 SMP. Mereka mulai peduli, karena Bibik. Melihat sikap Dila seperti orang dewasa, di umurnya yang masih tergolong anak-anak, membuat Bibik prihatin.
Tak lama, Sila keluar dari kamar sambil menangis dan disusul Delon dari belakang. Dila kaget, ia pun langsung menghapus air matanya dengan kasar. Sila dan Delon terkejut melihat Dila.
"Dila?" Sila menghapus air matanya dan berusaha tersenyum. "Kamu udah pulang ya, Mamah siapin ma--"
"Tidak perlu, saya sudah makan tadi sama Meira." potong Dila, berbohong. "Permisi." ia membungkukkan badan, melewati ke dua orang tuanya.
Delon menahan tangan Dila. "Kamu dengar?"
Dila hanya diam dan melepas genggaman tangan Delon. "Maaf Ayah, hari ini kegiatanku banyak. Saya capek, mau tidur sebentar."
Delon menghela napas pelan. "Ya udah, jangan lupa shalat dulu!" pesannya. Dila mengangguk dan pergi ke kamar.
Sila jatuh terduduk dan menangis. Delon mengusap lembut punggung sang Istri. "Hiks, Dila pasti denger semuanya, hiks hiks hiks."
Delon memeluk Sila dan menenangkannya. "Stststt, kita bujuk dia nanti ya. Jangan nangis begini, nanti Dila makin sedih."
Sila melapas pelukannya dan berdiri tegak. "Aku mau masak dulu." ia pergi meninggalkan Delon sendiri. Ketiga Bibik itu pun menundukkan kepala ke Delon dan menyusul Sila dari belakang.
Delon menghela napas pelan dan masuk ke dalam kamar. Terlihat di sisi lain, Dila tengah menangis. Ia duduk dilantai dan melipat kedua tangan di atas kasur. Dila menangis di dalam lipatan tangan itu. Ia teringat akan sesuatu.
...Flesback On....
Pada empat tahun yang lalu. Dila duduk di Kelas 8 SMP, di tahun inilah kedua Orang Tuanya mulai bersikap peduli dan baik. Terlihat, Dila turun dari montor yang mahal dan berbicara sebentar dengan seorang cowok. Cowok itu melambaik tangan dan pergi. Dila masuk ke dalam rumah. Ia melihat Sila tengah berdiri di depan rumah dengan perasaan kesal.
"Assalammualaikum Mah," salam Dila dan menundukkan kepala.
"Siapa dia?" tanya Sila dengan nada yang dingin.
Dila ketakutan dan merasa kikuk. "Iii-itu Alif, temen se-kelas."
"Mamah udah berulang kali bilangkan! Jangan pacaran! Jangan deket sama anak cowok kayak mereka!" Sila mulai marah.
Dila menangis sambil memainkan jarinya. "Tapi... aku jan--"
Dila menangis dan mendekat. "Maaf Mah, saya akan ingat selalu hal ini! Saya akan berusaha untuk menjauh dan menghindari anak cowok!"
"Mamah pegang omonganmu!" Sila membalikkan badan dan pergi masuk ke dalam.
Lima bulan setelah hari itu. Dila dan Bibik sedang masak bersama di dapur. Dila ingin belajar memasak, karena teman-temanya sudah bisa semua. Sila yang tak sengaja melihat pun, pergi menghampiri mereka berdua.
"Dila, ngapain kamu di dapur?" tanya Sila dari ambang pintu.
Dila kaget dan menghentikan aktivitas memotong sayurnya. Ia membalikkan badan dan melihat Sila ketakutan. "Be-belajar masak Mah."
Sila menaikkan salah satu alis. "Apa? Belajar masak? Kamu mau nikah muda! Jangan-jangan kamu mulai suka sama cowok lain, iya kan. Jujur sama Mamah!"
Dila kaget dan menggelengkan kepala. "Hiks, eng-enggak Mah, saya la-kuin ini karena ingin saja, tidak ada niatan yang lain."
Sila mengerutkan kening. "Untuk saat ini Mamah percaya, jangan pernah kamu masuk ke area dapur lagi! Mamah akan ajarin kamu masak, setelah umur dua puluh. Sekarang tugasmu belajar, untuk sekolah dan main sama teman! Tidak ada kegiatan Ibu rumah tangga yang harus kamu pelajari!"
Dila mengangguk sambil menangis. "Bik, Dila minta maaf ya, karena udah ganggu waktunya. Permisi!" ia pergi ke kamar dan belajar.
"Nyonya, apakah Nona benar-benar tidak boleh tau, soal kegiatan Ibu Rumah tangga?" tanya Bibik memastikan.
Sila mengangguk pelan. "Saya tidak mau Dila mempelajari hal itu, Bik. Jika Kakeknya melihat, bisa saja dia dijodohkan seperti saya dulu." sahutnya lemah. "Saya nggak mau Dila menderita."
...Flesback Off....
"Maaf... karena aku, Mamah nggak bisa main sama temen-temen lagi." Dila menangis dan merepas kasurnya.
...🍁...
Meira dan Melvin kini telah tiba di rumah. Mereka berdua turun dari mobil. Terlihat di halaman rumah itu, ada dua mobil milik Jino dan Alex. Melvin yang melihatnya pun, merasa aneh. Meira menghentikan langkah kaki dan melihat ke Melvin.
"Masih jam segini, tumben udah balik," ucap Melvin, setelah melihat jam tangan.
Meira pergi menghampiri Melvin. Tiba-tiba kucing lewat di depan Meira, membuatnya kaget dan hampir saja jatuh. Untung Melvin langsung sigap menangkap tubuh Meira. Astaughfirullah, jantung gue, batin Meira, sambil melihat wajah Melvin.
Melvin tersenyum smrik. "Kagak mau lepas nih? Entar, tuh jantung copot, gue kagak mau tanggung jawab ya."
Meira tersadar dan langsung berdiri tegak. "Mana bisa jantung copot! Ngaco lo!" ia membalikkan badan pergi.
"Detak jantung lo kedengeran kalik! Kagak usah ngeles lu!" goda Melvin dengan suara yang sedikit keras, membuat Meira malu.
Nggak mungkin Melvin bisa denger, tapi... diakan nggak suka bercanda. Arghhhh, sialan! Bikin malu aja lo Tung! batin Meira kesal. Ia berlari masuk, ke dalam rumah. Melvin diam-diam tertawa dan menyusul Meira dari belakang.
"Assalammualaikum," salam Meira dan Melvin, setelah tiba di dalam rumah.
"Waalaikumsalam," sahut Vena, Via, Jino dan Alex.
Meira mengerutkan kening, melihat Vena yang terlihat ketakutan dan habis menangis. "Tante siapa?" tanyanya sepontan. Vena dan Alex mulai risau. Alex belum siap, jika Meira kembali mengamuk seperti dulu.