
Meira membersihkan gantungan itu dan berdiri tegak. Mata mereka saling bertemu. "Dila!"
"Meira!" panggil Dila barsamaan dengan Meira. "Kenapa kamu pakai make up begini! Ini juga, bajunya kok keluar!"
Meira mengehentikan tangan Dila. "Kamu juga dandan!"
Dila mengerutkan kening. "Apa kamu baik-baik aja Mei?"
Meira merasa sebal, karena Dila tidak mengubrisnya. "Aku jawab sejujur-jujurnya! Tapi, kamu juga!" Dila mengangguk, mengiyakan permintaan Meira. "Sebenernya..."
Meira menceritakan soal Vena ke Dila dengan pelan, supaya anak-anak tidak dengar. Dila terkejut, ia merasa sedih mendengarnya. "Karena itu, aku mau bales! Sekarang Mamah udah pergi, ini kesempatanku! Nggak ada yang bisa ngehalangi aku, kalau mereka menghalangiku," ucap Meira menggantung. "Aku akan buat Tante Vena keguguran!"
Dila tak percaya dengan apa yang ia dengar. Dila memegang kedua bahu Meira dan menariknya mendekat. "Apa kau gila?! Kamu bisa di penjara Mei!"
Meira tersenyum dan melepas kedua tangan Dila. "Jika aku masuk ke penjara, Ayah pasti menderita dan malu! Tidak rugi juga kan?"
Dila ingin marah, namun ia sendiri juga begitu. Dila menundukkan kepala, sambil meremas rok. Aku nggak bisa nasehatin Meira, dia pasti nggak mau denger dan pergi menjauh. Aku nggak bisa biarin itu terjadi!
Meira memiringkan wajah ke bawah. "Dila!' panggilnya. "Kalau kamu... kenapa tiba-tiba dandan dan beberapa minggu ini nggak bisa dihubungi juga?"
Dila mengangkat pandang dan melihat ke arah Meira. "Aku mau dapetin cowok dan pacaran secepatnya!" ucapnya dengan serius.
Meira mengerutkan kening dan memalingkan wajah. "Kayaknya gue salah denger, bentar aku tes telingaku dulu!" Ia mengepalkan tangan dan meniup, setelah itu ditaruh ke telinga.
Dila menarik lengan Meira dengan kuat, hingga ia melihat kearahnya. "Aku serius Mei! Selama ini aku di rumah sakit dan berobat dengan Psikiater. Handphoneku mati dan aku juga stress, mangkanya kamu nggak bisa hubungi!"
"Oke... aku nggak akan tanya soal stressmu itu! Pertanyaanku saat ini satu, kenapa kamu tiba-tiba mau pacaran? Tante Sila kan ngelarang!" tanya Meira.
Dila menghela napas pelan. "Ngobrol sambil jalan yuk!" ia tersenyum, sambil memiringkan kepala dan Meira mengangguk. Mereka berdua berjalan menuju Kelas. "Ayah sama Keluarga hanya tau, jika aku yang stress. Mereka enggak sadar oleh psikologis Mamah."
Meira mengernyitkan kening. "Tante Sila stress?"
"Hmm gimana ya," ucap Dila bingung. "Menurutku, Mamah itu trauma sama perjodohan. Ahhh nggak tau lah, aku bingung!"
Meira merasa kesal dan manyun. "Kan udah janji, ihhhh!"
Dila memalingkan wajah sambil tersenyum. "Bingung aku, mau ngasih taunya gimana."
"Huh, nyebelin!" Meira kesal. "Intinya kamu mau nunjukin ke Tante Sila, kalau yang ditakutin selama ini salahkan?"
Dila menoleh dan merangkul Meira dengan senang. "Elo emang sahabat gue, Mir!"
"Hemm." Mereka berdua pun pergi masuk ke dalam Kelas.
"Gue semalem ngimpi, Tante Via, Om Jino sama Bokapnya Meira ngehabisin lo!" ucap Aldo sambil menulis jawaban.
"Halah mimpi doang, kagak beneran!" sahut Melvin yang masih fokus nyalin tugas.
Aldo menghentikan aktivitasnya dan menyender di kursi. "Mimpi gue bisa aja kejadian, kalau lo masih begini! Siapa yang nggak marah, kalau anaknya menderita gara-gara cowok brengsek kayak lo!"
Melvin menghentikan tangannya dan mrlihat ke arah Aldo dengan kesal. "Lo ngajak gelud, hah!"
Aldo menoleh dan tersenyum. "Santai dong, lo pikirin deh! Bokap mana yang tega, lihat Anak sendiri menderita, karena cowoknya udah punya cewek lain? Apalagi tuh cowok tau jelas, perasaan si cewek!" ujarnya dengan melihat ke arah Melvin. "Dan dengan sengaja, tuh cowok berduaan di depan anaknya!"
Melvin tertegun dan memalingkan wajah. Ia memilih untuk diam dan lanjut menulis. Perasaannya jadi tidak enak dan risau. Apa yang dikatakan Aldo memang benar. Selama ini ia sengaja bermesraan dengan Tiara di depan Meira. Melvin merasa kesal, karena Meira terus berduaan dengan Bima.
Aldo menutup buku dan memasukkannya ke laci. "Vin, gue sebagai sahabat lo, cuman mau ngasih tau ini! Supaya lo kagak nyesel, pada akhirnya!" ucapnya dan Melvin pun menoleh. "Gue yakin sembilan puluh sembilan persen, lo suka sama Meira! Lo hanya perlu menyadarinya aja, sebelum sesuatu yang buruk datang!" Aldo mengambil handphone dan memasang earphone.
Melvin melihat ke arah buku dan merenungkan ucapan Aldo. Selama dua minggu ini, Aldo telah menasehatinya untuk melepas Tiara dan mengejar Meira. Melvin bingung dan bimbang. Bagaimana bisa, Aldo bilang jika hatinya 99℅ untuk Meira, bukan Tiara? Padahal ia juga mennyukai Tiara. Kepala Melvin terasa mau pecah, cinta memang rumit dan sulit di mengerti.
...🍁...
Bel telah berbunyi dengan nyaring. Para Murid berhamburan masuk ke dalam Kelas. Terlihat, di Kelas XI IPS 4 kini sepi, karena Guru tengah menerangkan materi matematika. Mereka semua begitu serius memerhatikan papan tulis dan Ibu Guru, Jesika.
Meira tidak mendengarkan Bu Jesika dan memilih untuk menggambar di meja. Selama dua minggu ini, Meira diam-diam belajar dengan giat di dalam kamar. Ia kejar semua materi kelas sepuluh dan sebelas. Meira akan menjadi bad gril yang jenius, supaya Alex dibuatnya meledak-ledak, karena kaget.
Dila pun sama, dia memilih untuk dandan dan mempercantik diri. Sikap Dila saat ini, sangat berbanding terbalik dengan sifatnya yang dulu, cuek, judes, no make up dan menolak cinta. Ia juga telah belajar soal dandan dan penampilan anak remaja yang cantik serta anggun.
Bu Jesika melihat mereka berdua dengan bertolak pinggang. "Ehem." Meira dan Dila tidak beduli. "Ehem!" dehaman Bu Jesika makin keras, namun tidak diperdulikan. "Meira! Dila!"
Meira dan Dila kaget, karena suara Bu Jesika yang menggelegar. Meira mengerutkan kening, melihat Bu Jesika. "Bisa pelanin dikit nggak Bu volumenya? Suara ibu tuh kayak kaleng romben yang udah berkarat, nggak enak banget di telinga!"
Bu Jesika terkejut. Ia tidak menyangka, jika Meira akan bicara seperti itu. "Apa kamu bilang? Begini caramu bicara sama Guru? Kamu mau, saya usir dari kelas!"
Meira tersenyum smrik. "Dengan senang hati."
Bu Jesika dan Para Murid tertegun. Meira benar-benar berubah, sifatnya yang ceria, polos, murah hati dan sopan, telah tiada. "Sepertinya kamu senang, jika saya usir?" ucap Bu Jesika menatap mata Meira.
Meira tersenyum dan mengangguk sombong. Dila berdiri dan melihat ke arah Bu Jesika. "Saya juga mau keluar Bu! Bosen di Kelas," pinta Dila.
"Apa? Ohhh, jadi kalian ngeremehin pelajaran saya?" ucap Bu Jesika, sambil melipat ke dua tangan di depan dada. "Saya akan ijinin kalian ke luar, asalkan... kalian berdua bisa menjawab soal dengan benar dan, jelasin rumusnya ke temen-temen, bagaimana?"
Dila dan Meira saling melihat. Mereka berdua saling melempar senyum dan menerima tantangan itu.