MeiMel

MeiMel
Langit masih sama, namun terasa beda.



Meira baru saja sampai di rumah. Dia keluar dari mobil dan masuk ke dalam. Alex dan Vena telah menunggu di ruang tamu.


"Telat sejam," ujar Alex, setelah melihat jam tangannya.


Meira terlihat kesal dan duduk di sofa dengan kasar. "Aku nggak main, tadi ada perlu sedikit di Sekolah."


"Hmm, Ayah percaya, kalau kamu bohong, tanggung aja dosanya!" sindir Alex dan mengambil secangkir kopi. Dia menyeruput kopi itu dengan nikmat.


"Dihhh." Meira menatap Alex, jengah. "Yang mau diobrolin apa?"


Vena yang awalnya tertawa kecil, berhenti dan melihat ke arah Meira. "Kami udah selidikin, haters yang buat-buat isu dan jelekin kamu di medsos. Sebagian emang hetres biasa, yang sisanya suruhan."


"Hmmm, terus?" tanya Meira.


"Selesaikan ujianmu, setelah itu kita semua akan buat vidio klarifikasi," ucap Alex, sambil menaruh cangkir itu.


"Hah, gimana-gimana? Kita semua, enggak salah dengerkan gue?" tanya Meira memastikan.


"Iya, nanti Ayah, Chika, Bik Tika sama Bunda juga," sahut Alex memberitau.


"Huwehh! Apa-apaan tuh, rame banget! Enggak, aku nggak mau!" tolak Meira sambil menggelengkan kepala.


Alex dan Vena saling melihat. "Kenapa?" tanya Vena.


"Terlalu berlebihan, aku nggak mau!" ketus Meira.


"Berlibihan gimana? Ini cara terbaik buat nyelesain semuanya! Ayah nggak mau buang-buang waktu." Alex berdiri dari duduknya dan pergi. "Tidak ada penolakan!" tegasnya.


Meira menghentakkan kaki dengan kuat dan menyun. "Ahhhhh, Ayah nyebelin!"


Vena menyenderkan kepala ke tangan kanan, sambil melihat Meira. "Kamu nggak mau, masalah ini cepet kelar? Kita cuman buat satu vidio aja kok."


"Iya, vidionya emang cuman satu, tapi pembuatannya yang panjang!" sahut Meira. "Mending juga live ig, sebentar doang, nggak keluarin tenaga banyak!"


"Kamu ingin memberikan klarifikasi yang sia-sia ya? Kalau itu yang kamu mau, silahkan!" Vena pergi meninggalkan Meira sendiri.


Meira merasa sebal dan pergi ke arah tangga. Dia menaiki tangga, sambil menghentak-hentakkan kaki. Para Pembantu yang melihatnya, hanya tertawa kecil. Sudah sangat lama, melihat tingkah Meira yang seperti itu.


...🍁...


Meira tengah belajar di teras kamar, sambil baca buku prakarya. Besok adalah ujian terakhir. Dia menuntup buku dan menaruhnya ke atas meja. Meira menghidupkan handphone dan membuka kiriman Verel.


"Hmmm, hubungan mereka udah sedeket ini ternyata," gumam Meira melihat foto Tiara dan Bima.


Terlihat beberapa foto Tiara dan Bima berpelukan, keluar dari rumah bersamaan serta potret kemesraan yang lain. Pada layar terakhir ada sebuah vidio dan Meira pun melihatnya.


"Kayaknya aku nggak bisa muncul, di waktu itu deh Bim, yang dibilang Adel sama Nisa bener," ujar Tiara pada vidio itu. Tiara dan Bima tengah duduk berdua di sebuah Cafe.


"Hmmm, kayaknya iya. Kita terlalu terburu-buru memutuskan rencana. Kamu mau bersabar, buat nunggu waktu yang pas?" tanya Bima.


Tiara menganggukkan kepala. "Mau sampek kapan kita diem begini di Sekolah? Aku risi banget, tiap lihat kamu digangguin anak-anak tau!" manjanya.


Meira geli dan memilih untuk mematikan vidio itu. "Hihhh, ngapa merinding begini sih gue." dia memeluk tubuhnya sendiri dan mengusap kedua lengan. Tak lama notifikasi masuk ke handphone Meira.


Bima : Apa kabar Mei? Udah lama banget kita nggak ngobrol.


Bima : Ada apa?


Bima : Tumben, jawabnya singkat gitu.


Meira : Ngantuk Bim, males ngetik.


Bima : Ohh gitu, maaf ya udah ganggu waktu kamu.


Bima : Good night, Meira.


Meira : Night.


Meira segera mematikan handphone dan pergi mendekati pagar besi. Dia melipat kedua tangan di atas pagar dan memejamkan mata. Menikmati suasana malam dengan tenang. Terasa angin malam datang mencium kulitnya dan membuat rambut yang tergerai menari, hingga menutupi wajah.


Terdengar nada dering handphone Meira berbunyi. Pada layar tersebut, tertulis nama Dila. Meira pun mengambil handphone dan mengangkat telpon.


"Tumben, malem-malem nelpon? Ada apakah gerangan?" tanya Meira, sambil melihat pemandangan malam hari.


Dila berjalan ke arah dinding kaca. Terlihat bulan yang sedang sendirian di langit yang cukup gelap. "Malem ini entah kenapa rasanya beda, padahal bulan masih sendiri. Para bintang-bintang aja tidak menemaninya."


Meira melihat ke arah langit. "Hmm, kok bisa sama ya. Kayaknya langit masih sama aja, tapi... nggak tau kenapa, parasaanku terasa begitu tenang dan nyaman."


Dila menyender ke dinding kaca itu dan memejamkan mata. "Aku marasa, bulan menyampaikan pesan baik ke kita. Mataku terasa begitu ngantuk dan ingin segera tidur. Namun, entah apa yang terjadi, hatiku ingin membagi malam ini sama kamu Mei."


Meira tersenyum lembut dan mengambil buku. Dia pergi masuk ke dalam kamar dan menutup pintu teras. "Setelah denger ucapanmu, nggak tau kenapa, rasanya kita lesbian."


"Ngarang kamu, Mei! Aku tuh serius loh ngomongnya," ucap Dila dengan posisi yang sama, namun mata terbuka.


"Hahaha, iya-iya, aku bercanda kok," sahut Meira, setelah merebahkan tubuh di atas kasur.


"Huh, candaanmu jelek! Mataku jadi melek lagi deh."


Meira tertawa cekikikan dan melihat ke langit-langit atap. "Dil, gimana hubungan keluargamu?"


Dila pergi duduk di kasur dan menaruh bantal di atas pupu kakinya. "Semakin membaik, Mei. Oma minta salah satu Ustad buat ke rumah dan ngasih pencerahan. Ayah sama Mamah berubah drastis, mereka berdua langsung meluk aku dan nangis. Sumpah Mei, rasanya aku malu banget waktu itu!"


Meira tersenyum lembut. "Bukankah itu yang kamu mau, Dil?"


"Iya sih, tapikan... aku udah gede Mei, rasanya agak gimanaaa gitu. Setiap kali aku inget itu, rasanya kayak mau menyelam ke dasar laut, buat nyrmbunyiin nih wajahku," kata Dila.


Meira tertawa kecil. "Ya ampun, aku jadi pensaran sama wajahmu Dil!"


"Uhhhh, nyebelin!" Dila terlihat kesal dengan wajah yang merona. "Ohh iya, kalau hubunganmu gimana?" tanyanya.


"Emmm, masih kayak biasanya sih, tapi... aku udah mulai buka hati secara pelan-pelan. Apa yang udah aku lakuin selama ini ternyata salah besar. Aku nggak mau terus begitu hingga tua," sahut Meira.


"Bagus-bagus, aku setuju! Bte udah mau jam sembilan aja nih, aku tutup ya, Mei. Good night," ucap Dila.


"Night too," sahut Meira dan mereka berdua pun menutup telpon.


...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...