MeiMel

MeiMel
bekal untuk Melvin



Bab 5


Malam hari tiba. Meira kini telah berkumpul di ruang makan bersama ke dua Orang Tuanya. Terlihat, suasana ruangan itu sangat canggung dan kikuk. Sinta memberikan nasi ke piring Suami dan anaknya.


"Meira, lihat ini! Mamah sudah masakin makanan kesukaan kamu," ucap Sinta sambil tersenyum ceria.


"Iya," sahut Meira dengan pandangan ke arah piring. Ia tak sanggup melihat wajah Sinta. Bagaimana bisa, Sinta bersikap biasa saja, seakan tidak ada masalah yang telah terjadi? Ia bukan anak kecil yang bisa ditipu. Ia ingin Sinta memberonktak atau membagi keluh kesahnya.


"Meira!" panggil Alex.


Meira sedikirt menekan garpunya ke ayam. "Mau ngapain nih orang?!" batinnya kesal. "Hmm."


"Sama Ayah kok ham hem ham hem, dijawab dong! Iya Ayah, atau ada apa Ayah?!" ucap Alex memberitau.


"Dihh," batin Meira. "Iya?" ucapnya tak ikhlas.


Alex tersenyum sambil menggelengkan kepala. "Meira sekarangkan kelas dua, bentar lagi mau naik kelas tiga. Belajarnya yang bener! Mainnya dikurangi dulu! Banyak-banyakin baca buku pelajaran, bukan buku komik!" ucapnya. "Jaman sekarang anak muda kayak kamu ini! Sukanya main... terus. Luputnya main, pacaran, habis itu hamil." Alex menggelengkan kepala dan melahap nasinya.


"Hufff, lagi-lagi ini," batin Meira lelah. Alex selalu saja mengingatkan hal yang sama berulang kali, hingga membuatnya malas dan kesal.


"Kalau udah hamil, tinggal nangis sama nyesel doang!" lanjut Alex. "Jangan sampek kamu begitu Nak! Ayah sama Mamah selalu doain kamu, supaya dilindungi Allah dari hal-hal negatif kayak gitu."


"Dihhh, doa kok ngomong-ngomong, kebiasaan!" batin Meira.


"Kayaknya Meira nggak peduli?" batin Sinta menebak.


"Kamu har---" ucap Alex terhenti.


Meira berdiri dari duduknya. "Aku mau ke kamar, tugasku banyak!" ucapnya dan pergi begitu saja meninggalkan tempat.


Alex dan Sinta melihati Meira hingga naik ke atas tangga. "Lihat tuh! Nggak Anak, nggak Bini sama aja," ujar Alex.


Sinta hanya diam dan melahap makanannya. Alex kesal dan memasukkan sendok ke mulut dengan kasar. Meira yang berada di sisi lain. Terlihat tengah duduk di kursi depan meja belajarnya, sambil memainkan handphone.


...Vidio Call....


Bima : Ngapa wajahnya kusut gitu?


Meira : Biasa.


Bima : Kena marah?


Meira : Ceramah.


Bima : Ohhh, kamu mau aku ajarin apa?


Meira : Hemm bentar.


Terlihat Meira tengah membuka buku dan membacanya. Sesekali ia membuka mulutnya untuk bertanya, namun tak jadi. Ia mencari kembali pertanyaan yang sangat sulit di mengerti.


Meira : Nah ini, Ekonomi gimana?


Bima : Akukan anak MIPA Mei.


Meira : Ishhh, nyebelin. Ngapa nggak IPS aja sih! (Meira terlihat kesal dan manyun.)


Bima : Akukan maunya jadi Dokter.


Meira : CEO aja keren.


Bima : Hmm, bisa kok.


Meira : Masuk IPS dulu!


Bima : Nggak perlu itu, tinggal minta Ayah bikinin Rumah Sakit udah otomatis jadi CEOnya.


Meira : Huwehhhhh.


(Meira lagi-lagi manyun dan Bima tertawa kecil.)


Bima : Bahasa aja sama MTK.


Meira : Nggak ada yang berkaitan soal IPS kah?


Bima : Sekokah kita bahasa.


Meira : Hufff, padahal temenku anak MIPA tapi ada IPS nya juga loh.


Bima : Aku tadikan udah bilang.


Meira : Iya. Ya udah deh, bahasa aja.


Bima : Bahasa apa?


Meira : Alien.


Bima : Mana ada.


Meira : Bahasa Inggris aku bisa, Korea juga.


Bima : Bukannya bahasa Inggris sama Jerman ya, pelajaran di kelas kamu?


Meira : Iya kah?


Bima : (Menepuk jidat.) Jerman aja gimana?


Meira : Bolehlah...


Bima pun mengajarkan soal bahasa Jerman ke Meira dari tahap yang dasar. Terlihat Meira sesekali menulis dan bertanya. Tiga puluh menit kemudian, akhirnya selesai.


Meira : Hmm, gampang ya.


Bima : Bisa dong, dapet nilai sembilan puluh.


Meira : Bisa aja, kalau nggak lupa. (Tertawa.)


Bima : (menggelengkan kepala sambil tersenyum.)


Meira : Makasih ya, udah ngajarin aku. (Tersenyum lembut)


Bima : Iya, selamat malam.


Meira : (Tersenyum)


Vidio Call Off.


Meira mematikan handphone dan merapikan meja belajar. Ia mengambil laptop dan menonton drakor di atas kasur. Menit demi menit telah berlalu, mata Meira mulai menutup. Ia memejamkan mata dan tertidur.


...🍁...


Pagi hari telah tiba, matahari terbit dari timur ke barat. Terlihat seorang gadis cantik yang telah rapi dengan seragamnya. Ia menuruni tangga, dengan wajah ceria dan pergi ke arah dapur.


"Ehhh, Non Meira mau ngapain?" tanya Bik Tika.


"Mau bunuh Bik Tika, karena kepo!" seru Meira dan di akhiri tawa.


"Ihhh, Bik Tika kepedean," seru Meira dan Bik Tika tertawa. "Bik, aku mau bikin bekal, tapi yang gampang dan makannya nggak pake sendok."


"Hmmm, bentar." Bik Tika berfikir. "Nasi goreng dibuntel pake kertas minyak putih gimana? Tangan Non nanti nggak bakalan kotor, walaupun nggak pake sendok."


"Boleh juga tuh Bik, sekalian temen-temennya," seru Meira.


"Sosis, cumi, telur, sama... ayam gimana?" tanya Bik Tika.


"Boleh juga Bik, makasih atas idenya," ucap Meira.


"Ehhh?" Bik Tika bingung. "Jangan bilang, Non mau masak sendiri?"


"Iya," sahut Meira.


"Jangannn! Bibik aja ya Non."


"Bik Tika nonton aja, oke." Meira tersenyum dan mulai menghidupkan kompor. Bik Tika terlihat khawatir dan terus mengetuk-ngetuk meja dengan jari telunjuknya.


Terlihat Meira mulai menggoreng Sosis dan memotong-motong bumbu untuk nasi gorengnya. Sesekali ia mengangkat sosisnya dan memasukkan cumi-cumi yang sudah di bumbui. Dua puluh menit kemudian bekal telah siap. Meira pun pamit dan pergi ke Sekolah.


"Sejak kapan Non Meira bisa masak ya?" Bik Tika bingung.


"Enak nggak?" tanya Sinta yang baru saja muncul dari belakang.


Tika terkejut dan langsung membalikkan badan. "Ee-enak kok Bu."


"Ada sisa nggak ya? Aku pingin nyobain."


"Habis Bu," sahut Tika sambil tersenyum kikuk dan Sinta pun manyun.


...🍁...


Meira pergi ke Kelas XI IPS 1 untuk menemui Melvin. Ia berdiri di ambang pintu sambil menengok ke dalam. Terlihat di dalam kelas itu masih sepi dan hanya ada beberapa anak saja. Ia mengehela napas dan hendak pergi. Namun, seseorang memegang bahunya dan membuat dirinya berhenti.


"Lo mau ngapain Mei?" tanya Aldo dan melepas tangannya dari bahu Meira.


Meira membalikkan badan dan melihat ke arah Aldo. "Mau ngasih ini." menunjukkan paper bag coklat ke Aldo.


"Ohhh." Aldo paham. "Titipin ke gue aja! nanti gue kasih ke dia."


"Oke deh," sahut Meira dan memberikan paper bag itu. "Lain kali kalau perlu bantuan kasih tau gue aja ya, biar bisa balas budi," ucapnya di akhiri tawa kecil.


"Okelahhh, itu mah urusan gampang."


"Hehehe, makasih," ucap Meira dan pergi meninggalkan tempat dengan ceria. Aldo tersenyum dan masuk ke dalam kelas.


Tak lama Melvin pun datang. Wajahnya terlihat cool dengan rambut yang setengah basah. Ia duduk di samping Aldo dan merapikan rambutnya dengan tangan.


"Perasaan kagak hujan?" seru Aldo.


"Habis wudhu," sahut Melvin.


"Dhuha?"


"Subuh."


"Njir, mana ada jam segini shalat subuh!"


"Serah gue lah, sing penting niat!" seru Melvin dan Aldo pun menggelengkan kepala.


"Nih, Meira kasih buat lo!" Aldo memberikan paper bag itu ke Melvin.


Melvin menerimanya dan melihat ke dalam paper bag. Terlihat tempat bekal berwarna hitam putih. Ia pun membukanya dan menutup kembali. "Nih buat lo aja!" Ia berikan bekal itu ke teman sampingnya yang berbeda meja.


"Ehhh, beneran buat gue nih Vin?" tanya Siswa itu memastikan.


"Mau kagak? Kalau kagak gue buang nih!"


"Mau-mau." Siswa itu pun menerimanya dan berterimakasih ke Melvin, "Makasih Vin."


"Hemm." Melvin mengangguk. Ia melipat ke dua tanyanya dan menidurkan kepalanya dia atasnya.


"Gila lo ya! Kalau Meira tau gimana njir?" komen Aldo.


"Biarin, paling juga ngambek," sahut Melvin. "Biar tuh anak sadar diri!"


"Parah, shalat lo kagak guna njir."


"Kagak usah bawa-bawa shalat! Gue bawa Malaikat tau rasa lo!"


"Silahkan, kalau bisa," ucap Aldo mempersilahkan.


"Bisalah, tinggal nebas leher lo, Malaikat pasti pada ngumpul nanyain dosa lo!"


"Mon maaf dosa gue dikit."


"Wahhh, ciri-ciri orang masuk neraka, menganggap dirinya tak berdosa dan suci." Melvin menggelengkan kepala. "Semoga lo masuk neraka sebentar doang Bro, buat hapus dosa-dosa lo," ucap Melvin sambil menepuk punggung Aldo.


"Sialan tuh mulut!" Aldo mendekati Melvin, hendak merobek bibirnya. Namun, Melvin telah lebih dahulu menampar mulut Aldo dengan keras.


Plakk


"Anjir." Aldo memegangi mulutnya dengan tangan kanan. Bibirnya terasa nyut-nyuttan dan perih. Melvin kabur dari kelas dengan wajah yang bahagia. Aldo hendak mengejarnya, namun mulutnya benar-benar terasa sakit. Ia mengipasi mulutnya dengan buku sambil meringis


...🍁...


Kelas XI IPS 4 terlihat sangat ramai. Ada banyak murid yang berlarian ke sana ke sini. Beberapa juga membentuk kelompok untuk ngerumpi dan ngegame. Meira dan Dila memilih untuk ngbrol berdua saja.


"Kondisi rumah lo gimana?" tanya Dila sambil melipat kertas.


"Biasalah Dil, Bokap gue kagak sadar diri lagi," sahut Meira.


"Jangan di bawa ke hati Mei! Kasihan hatilo."


"Mau gimana lagi? Orang dianya sendiri yang bikin gue begini."


"Hufff," Dila menghela napas pelan. "Gue nggak mau lo jadi Psikopat atau setres.


Meira melihat ke arah Dila dan menundukkan kepala. "Kenapa kesannya gue yang salah?"


"Gue nggak nyalahin Mei. Gue cuman nggak mau lo jadi anak yang begitu!" ucap Dila sambil melihat ke arah Meira. Ia meraih tangan Meira dan mengusapnya dengan lembut. "Jangan sakitin diri lo, Mei! Apa untungnya kita memendam perasaan ini? Buat apa lo masukin ke hati? Biarin aja ini berlalu, oke."


Meira melepas tangan Dila. "Dil, aku nggak tau perasaan kamu, sama halnya dengan kamu. Masalah kita beda," ucapnya sedikit parau. "Nggak usah dibahas ya, pliss! Aku nggak kuat Dil."


Dila meneteskan air matanya dan segera menghapusnya. Ia memeluk Meira dengan erat dan mengusap lembut punggung sahabatnya. "Kita harus kuat Mei. Maaf, kalau aku bikin kamu sedih."


"Nggak papa, aku paham kok," sahut Meira. "Thanks Dil, karena lo udah mau jadi sahabat gue."


"Thanks juga, lo udah sabar ngadepin gue selama ini," ucap Dila. Mereka berdua pun melepas pelukannya dan saling melempar senyum.


...~Bukan salah anak jika kalian tidak dihargai. Itu adalah benih yang tumbuh tanpa kalian sadari. Jika kalian tidak bisa menghargai, jangan berharap dihargai!~...