MeiMel

MeiMel
Ketahuan.



Meira berbaring di kasur sambil membuka laptop. Ia berniat untuk menghubungi Mbk Chika. Tak lama, di saat dirinya hendak mengetik, handphonenya berdering. Terlihat di layar tersebut ada nama Dila, dan Meira pun segera mengangkat telpon itu.


"Hallo Dil, ada apa?" ucap Meira sambil ngetik di laptop.


Dila yang berada di kamar, terlihat sedih dan panik. "Hikss, gimana nih Mei, obat gue hilang! Gue takut, hiks hiks, kalau anak-anak tau."


"Apa?!" sahut Meira dan menghentikan aktivitasnya. Ia pun menutup laptop itu. "Lo inget-inget dulu deh Dil, dimana naruhnya."


Dila mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalam tas. "Gue taruh di tas, Mei!"


Meira turun dari kasur dan bersiap-siap. "Kita ketemu di Sekokah, kalau gitu!"


"Oke," sahut Dila dan mematikan telpon.


Meira mengambil rompi dan tas kecil. Ia pergi dari kamar dengan tergesa-gesa. Terlihat di lain sisi, sebuah gerbang terbuka. Dila hendak masuk ke mobil, namun terhenti. Mobil sport warna putih masuk ke halaman. Seorang pemuda tampan keluar dari mobil itu dan pergi menghampiri Dila.


Dila terkejut dan bingung. "Aldo! Lo ngapain di sini?"


Aldo mendekat dan memberika obat Dila yang hilang. "Ini punya lo?"


Dila kaget dan salah tingkah. "Iii-itu, mana mungkin, lo ngarang aja!" ucapnya sambil tertawa aneh.


Aldo tidak percaya dan tersenyum smrik. "Hmm, kayanya gue salah orang, lo kan normal!"


Dila melihat ke arah Aldo. "Maksud lo?"


Aldo menunjukkan obat itu. "Obat penenang, lo nggak mungkin minum ini!"


Aldo tau? Dila tertegun dan berusaha mengatur mimik wajahnya. "I-iyalah, masa gue minum begituan. Emang gue orang stres, hahahaha," tertawa getir.


Aldo menaruh obat itu ke bawah. "Oke," ucapnya, dan hendak menginjak obat.


Dila terkejut dan langsung mengambilnya. Aldo melihat ke arah Dila, yang terlihat tengah memegang erat obat itu. "Hiksss, ini punya gue, ngapa?! Lo mau hina gue, silahkan! Dengan senang hati gue terima," ucap Dila keras, dengan suara yang sedikit parau.


Aldo merasa bersalah dan memeluk Dila dengan erat. "Sorry Dil, gue cuman mau mastiin aja."


Dila menangis dalam pelukan Aldo, sambil memegang erat obat itu. "Hiks hiks hiks, lo jahat Do!"


"Sorry Dil," kata Aldo lemah. Dila terus menangis, menahan malu. Tak lama, Aldo melepas pelukannya dan menghapus air mata Dila. "Lo nggak perlu nangis atau pun malu, gue akan bantu lo apa aja! Asalkan, lo mau maafin gue."


Dila menghentikan tangisannya dan hendak menjawab. Baru saja buka mulut, Sila datang menarik tangan Dila dengan kuat. Tak lama, Delon pun menyusul dan menatap tajam Aldo.


Delon menarik kerah Aldo dengan kuat. "Kamu apain Anak saya, hah!" bentaknya.


Aldo sedikit ketakutan dan berusaha mengatur detakan jatung. "Saya tad---"


"Ayah!" Dila melepas tangan Delon dari kerah Aldo. Ia memeluk Aldo dan berkata, "Dia ini pacarku! Jangan sakitin dia!"


Delon dan Sila terkejut. Sila menarik tangan Dila dengan keras, hingga lepas dari pelukannya. "Udah berapa kali Mamah bilang!, jangan pacaran! Masa muda kamu akan sia-sia! Dia nggak akan bisa nyukupin kamu!"


"Untuk apa dia nyukupin aku! Kita nggak nikah, cuman pacaran aja!" Dila berusaha melepas eratan tangan Sila. "Sakit Mah, lepas!"


Sila terlihat kesal dan marah. Ia menguatkan gengaman tangan, hingga Dila meringis kesakitan. "Beraninya kamu ngelanggar aturan Mamah! Kamu mau jadi Ibu di usia muda, hah! Masa depanmu nggak akan cerah, Dil! Nggak akan, hiks hiks, kamu mau kal---"


"Arghhhh!" teriak Dila kesakitan. Tangan Dila berdarah, karena kuku Sila.


Sila terkejut dan langsung melepas genggamannya. "Maa-maaf Dil--" ucapnya terhenti. Sila hendak menyentuh tangan Dila yang berdarah.


Dila menyentak kasar tangan Sila dan memegang tangannya yang terluka. "Yang seharusnya ke Psikiater itu bukan aku, tapi Mamah!" Dila menatap dingin Sila.


Sila menatap sendu Dila. Aldo mendekat ke arah Dila. "Dil, lo nggak ***--"


Delon melihat ke arah Sila. Kondisi Sila emang buruk, lebih baik Dila nenangin diri di luar. Delon mengkode Aldo, untuk menerima permintaan Dila. Aldo yang mengetahuinya, mengiyakan kemauan Dila. Aldo dan Dila masuk ke dalam mobil dan pergi.


"Dilaaa! Dasar cowok kurang ajar! Awas aja kamu!" teriak Sila histeris. Delon meminta Satpam untuk menutu pagar.


Pak satpam pun, langsung berlari menutup pagar. Delon tertegun melihat tingkah sang Istri, yang berteriak-teriak menganggil Dila, sambil memukul gerbang. Sila jatuh terduduk dan menangis. Delon menghampiri dan menggendongnya. Delon meminta salah satu Pembantu, untuk memanggil Psikiater, sembari membawa Sila ke kamar.


...🍁...


Meira mandapat kabar dari Dila, jika obatnya sudah ketemu. Meira pun memutar balik mobil dan kembali pulang. Sesampainya di rumah, terlihat mobil Melvin terpakir di halaman. Meira memiliki firasat buruk dan benar saja. Melvin tengah menyender di dinding, sambil melipat kedua tangan.


"Hai cantik!" sapa Melvin, sambil tersenyum dan mengedipkan mata.


Meira berdecak sebal dan pergi masuk ke dalam rumah. Melvin mencegah Meira, untuk membuka pintu. "Mau lo apa sih?!" tanya Meira kesal.


"Maunya disayang," goda Melvin.


Meira melotot dan mendorong jauh Melvin. "Minggir!" Melvin pun jatuh ke samping. Meira memeletkan lidah dan masuk ke dalam rumah.


"Arghhh, kuat bener tuh Anak!" keluh Melvin, sambil mengusap-usap tanganya yang tersandung pegangan kursi.


Meira hendak naik ke atas tangga, namun seseorang memanggilnya dari belakang. Meira membalikkan badan. Terlihat, Via tengah tersenyum sambil membawa handphone. Meira mendekat dan menyalami Via.


"Apa kabar sayang?" Via mengusap lembut rambut Meira.


"Alhamdulillah, baik, kalau Tante?" tanya balik Meira dengan sopan.


Via tersenyum sambil memiringkan kepala. "Baik dong."


Meira tersenyum dan mengangguk. Melvin masuk ke dalam rumah, menghampiri Mereka berdua. Via terkejut melihat tangan Melvin yang terluka.


"Itu kenapa?" tanya Via khawatir. "Baru ditinggal sebentar aja udah begini! Gimana kalau ditinggal mati!"


"Hus, Mamah kalau ngomong dijaga!" ujar Melvin.


"Kenapa? Mamahkan nggak mungkin bisa, selalu nemenin kamu seumur hidup! Itu kenyataanya!" ucap Via.


"Mungkin aja, kalau Melvin yang pergj dulan!" sahut Melvin, membuat Via kesal.


Via menjewer telinga Melvin. "Ohhh, jadi kamu mau, Mamah menderita dan kesepian, iya?!"


Melvin memegangi tangan Via, yang menjewer telinganya. "Arghhh, sakit Mah! Mamah juga tega bilang gitu, ngapa aku nggak boleh!"


Via menguatkan jewerannya. "Jawab aja terus! Mamahmu ini sudah tua. Sudah sepantasnya, kalau Mamha yang pergi duluan!"


Melvin meringis kesakitan. "Mati nggak lihat umur Mah," sahutnya, membuat Via geram. Meira diam-diam tertawa, melihat tingkah mereka berdua.


"Melvin...!" teriak Via dengan begitu keras. Meira dan Melvin spontan menutuo telinga.


Vena yang baru saja datang dengan nampan yang berisi susu ditangannya, terlihat bingung. "Ada apa nih?"


Via melihat ke arah Vena dan mengambil nampan itu. "Pegang nih susu!" pintanya ke Vena. Via bersiap memukul Melvin dengan nampan, namun sang Anak sudah duluan kabur. Via pun menger sambil berteriak, "Melvinnnn, sini kamu!"


Vena melihat ke arah Meira, yang sedang menahan tawa. "Lepaskan saja, Via tidak akan tau!" Meira pun tertawa, sambil melihat Via dan Melvin. Vena tersenyum dan ikut menonton.


"Berhenti nggak kamu!" teriak Via, sambil mengejar Melvin.


"Buang dulu nampannya!" sahut Melvin sambil berlari. Melvin dan Via pun terus kejar-kejaran.