MeiMel

MeiMel
Pulang pagi.



Meira dan Verel tiba di Sekolah. Beberapa Murid yang ada di tempat itu, terlihat heboh dan mengeluarkan handphone. Meira turun dari montor dan melepas helm. Verel juga melepas helm dan melihat-lihat sekitarannya, sesekali ia melambaikan tangan ke Murid lain.


Meira memberikan helm ke Verel. "Makasih ya Bang, udah anterin aku."


"Ist okay," sahut Verel, sembari menerima helm. Verel menyimpan helm itu dan melihat ke arah Meira. "Hmm, Mei sini!" pintanya dan Meira pun mendekat. Verel merapikan rambut Meira yang terlihat berantakan.


Para Murid berseru heboh dan ada juga yang mengabadikannya lewat vidio. Tak lama mobil sport Melvin datang, membuat suasana semakin dihujani manik-manik yang mengkilap. Melvin keluar dari mobilnya dan pergi menemui Meira.


"Makasih," ucap Meira, sambil manyun, "Bentar lagi pasti heb---"


"Sekolah buat belajar, bukan pacaran!" Melvin menarik paksa Meira, secara tiba-tiba.


Meira tersentak kaget dan berusaha melepas tangannya dari Melvin. "Lepasinnn! Sakit goblok!"


Melvin mengeratkan genggaman tangannya dan menarik Meira ke Kelas XI IPS 4. Meira terus memberontak, namun Melvin tidak memperdulikannya. Mereka berdua pun tiba di Kelas. Melvin mendorong Meira ke kursi, membuat Dila dan anak-anak yang lain kaget.


"Sekarang lo nggak bakalan bisa jauh-jauh dari gue! Om Alex udah nyerahin lo ke gue!" ucap Melvin dengan senyum smrik.


Meira melotot, ia tidak percaya dengan apa yang didengar. "Whattt!" teriaknya begitu keras.


"Kagak perlu makasih, gue dengan ikhlas membantu, tanpa pamrih sedikit pun," sahut Melvin sambil tersenyum dan melipat kedua tangan di depan dada.


"Cuih, makasih?!" Meira berdecak sebal. "Lo tuh udah punya pacar! Jadi, jauh-jauh deh lo dari gue! Kagak usah ngurusin, urusan gue!"


Melvin pergi di saat Meira tengah bicara. Ia melambaikan tangan. "Informasi ditolak!" ucapnya di ambang pintu dan pergi ke Kelas XI IPS 1.


"Arghhhh, sialan!" Meira teriak dan melempar tempat pensil Dila ke arah papan tulis.


Bu Ratih baru saja datang dan dikejutkan dengan sebuah tempat pensil yang melayang tepat di depannya. Meira dan teman-teman mulai panik. Bu Ratih adalah Wali Kelas IPS 4, ia terlihat begitu marah dan menatap tajam para Murid.


Mampus! batin Meira merutuki kebodohannya.


Bu Ratih mengambil tempat pensil itu dan mengangkatnya ke atas. "Punya siapa ini!"


Dila mengacungkan tangan ke atas. "Saya Bu, tapi..."


"Tapi apa!" teriak Bu Ratih.


"Itu yang ngelempar Meira, Bu," ngadu Dila, membuat Meira manyun. "Tapi saya yang bikin dia begitu. Biasalah, debat pagi hehehe," sambungnya sambil cengengesan.


Meira melihat ke arah Dila, dan bertanya lewat kode mata. Dila menjawab dengan senyum dan Bu Ratih pun menghela napas pelan. "Hufff, baiklah, Ibu maafin, sekarang kalian semua keluarkan buku tugas!"


"Apa ada PR Bu?" tanya Ketua Kelas. Setau mereka, minggu kemarin Bu Ratih tidak memberikan tugas. Para Murid terlihat bingung dan saling bertanya.


Bu Ratih pergi ke arah meja Guru dan mengambil spidol. "Tidak, Ibu cuman mau ngasih tugas aja!" Bu Ratih pergi ke arah papan tulis dan mulis soal.


Anak-anak pun mengeluarkan buku dan bersiap mengerjakan. Meira menaruh buku dan menoleh ke Dila. "Thanks, untuk yang tadi," ucapnya pelan.


Dila mengangguk dan berbisik, "Gue harap kita dihukum, biar bisa main!"


Meira mengerutkan kening. "Seirus? Kalau mau bolos mah gampang," katanya dengan suara pelan.


Dila belum sempat menjawab ucapan Meira, sudah keduluan Bu Ratih. "Ehem!" dehaman Bu Ratih sambil melihat ke arah Dila dan Meira. "Bisa minta waktunya sebentar, gadis-gadis!"


Meira dan Dila tersenyum kikuk. "Silahkan Bu...!" ucap Dila mempersilahkan.


Para Murid mengaminin doa Bu Ratih. "Apa?!" Meira dan Dila kaget serta bingung.


"Kok cepet banget Bu?" tanya Meira.


"Cepet gimana? Kamunya aja yang nggak pernah masuk!" ujar Bu Ratih.


Dila mengingat-ngingat. "Ujian kenaikkan Kelas?" tanyanya dan Bu Ratih pun mengangguk. "Hufff, untung aja gue udah belajar."


"Ini khusus untuk Meira! Kalau kamu bisa masuk sepuluh besar di Kelas, Ibu kasih hadiah yang menggiurkan, bagaimana?" tantang Bu Ratih. Ia ingin, supaya Meira bisa lulus, karena para Guru tengah membicarakannya, jika ia akan tinggal Kelas. "Untuk kalian juga ada. Ibu akan traktir kalian semua, jika nilai Kelas ini yang tertinggi!


Para Murid berseru heboh dan Meira terlihat tersenyum kecil. "Janji ya Bu!" ucap Meira.


Bu Ratih tersenyum dan menjawab, "Ibu janji!"


"Yeayyyyy!" seru para Murid XI IPS 4.


...🍁...


Bel berbunyi dan para Murid pun pergi membersihkan Kelas. Waktu pun terus berputar dan pengumuman untuk pulang diumumkan. Para Murid berseru heboh. Mereka semua keluar dari Kelas dan pergi melihat-lihat letak ruangan mereka.


Dila dan Meira kini telah tiba di Kelas XI MIPA 1. "Ck, kok kita barengan anak IPS satu?"


Dila membaca daftar nama yang ada ditempel di pintu. "Nomor terakhir sebelas IPS satu sama IPS empat digabungin, untuk teman sebangku kita, ada anak kelas dua belas MIPA dua."


"Arghhhh, sialan! Siapa yang ngatur sih!" seru Meira kesal.


Dila melihat ke arah Meira. "Tahun kemarin juga gini kok, Mei."


Meira hendak menjawab Dila, namun terhenti. Melvin dan Aldo keluar dari Kelas itu. "Gue nggak nyangka, bisa seruangan gini!" ujar Aldo di ambang pintu.


Dila berakting ala anak cewek pada umumnya. "Haiii, mohon kerja samanya ya!" ucap Dila lembut sambil tersenyum.


Aldo tersenyum getir dan melihat ke arah lain. Ia merasa geli dengan sikap Dila, sedangkan Melvin tengah menatap Meira dengan senyum nakal. Meira terlihat kesal dan memalingkan wajah.


"Mumpung pulang cepet, gimana kalau kita ngopi-ngopi bentar?" tawar Melvin.


"Boleh-boleh!" sahut Dila setuju.


Aldo menganggukkan kepala, setuju. "Si Tuan Putri gimana nih?"


"Ogah!" tolak Meira ketus dan menyeret Dila untuk pergi.


Dila tersentak kaget dan melambaikan tangan ke Aldo sama Melvin. "Ehhh, kita duluan ya guys! Next stime!" teriaknya.


Aldo menatap Dila dengan ekspresi tidak suka. "Suer, gue geli lihat Dila!"


Melvin memasukkan salah satu tangan ke kanton celana dan pergi. "Gue balik duluan! Soal, entar malem gue susul!"


Aldo menekuk wajahnya, kesal. "Awas lo, kalau kagak dateng!" ujarnya dan Melvin pun hanya melambaikan tangan.


Aldo hendak pergi ke Ruang Guru, kerena dimintai tolong Wali Kelasnya. Kakinya menginjak sesuatu dan ia pun mengambil benda itu. "Obat apaan nih?" ucap Aldo, sambil memutar-mutar tabung kecil itu. "Jangan-jangan punya Dila? Apa gue tanyain ke dia, tapi...ini kan obat penenang!" Ia terlihat berpikir.


Aldo pun memilih untuk menyimpanya ke dalam tas dan pergi, karena sudah ditunggu Guru. Sayang sekali, di saat Meira menarik Dila dengan kuat. Tas Dila yang sedikit membuka, membuat obat itu terjatuh.