
Pagi hari telah tiba, kini Meira tengah berolahraga kecil di teras kamar. Semalam, Keluarga Jino dan Alex makan bersama. Jino dan sekeluarga kembali pulang ke rumah, pukul sepuluh. Tak lama handphone Meira berbunyi.
Meira mengambil handphone dan mengangkatnya. "Hallo Dil, ada apa?"
"Keluar yuk! Mamah mau diperiksa Psikiater lagi, tapi malu karena ada aku," sahut Dila dari balik telpon.
Meira minum jus, sambil duduk. "Ehhh, gimana kondisi Tante?"
"Alhamdulillah, mulai membaik kok, Ayah udah berhasil naklukin hati Mamah, hehehe," ucap Dila senang.
"Asekkk, tinggalin berdua aja terus, biar makin akrab, hahaha," Meira terkekeh dan kembali menyeruput jusnya.
"Hahahhaa, auto punya adik dong gue."
Meira berdiri dari duduknya dan pergi masuk ke dalam kamar. "Nggak papa lah, biar kita samaan."
Dila terkejut mendengar ucapan Meira, "Kamu udah nerima itu Tante?"
Meira memilih baju. "Hmm, mau gimana lagi. Dosa gue udah banyak banget, semalam ada petunjuk yang bikin gue sadar."
"Petunjuk?"
"Iya, nanti aja gue kasih taunya. Kita pergi ke mana nih?" tanya Meira, sambil mengambil baju.
"Entar gue sharelok," sahut Dila.
"Oke." Meira pun mematikan handphone, karena Dila memutus telponnya.
Tak lama Dila mengirim lokasi dan Meira pun bersiap-siap ganti baju. Lima belas menit kemudian Meira telah siap dan pergi ke lantai bawah. Sesampainya di lantai bawah, Vena memanggil untuk sarapan bersama. Meira pun pergi menghampiri Vena dan Alex.
Vena terkejut, karena Meira mau mendengarkan panggilanya. "Emm, Meira mau makan di si--"
"Sini aja!" potong Meira dan duduk di salah satu kursi.
Vena tersenyum dan mengambilkan nasi goreng untuk Meira. "Kalau ada yang kurang, bilang aja ya." Vena memberikan nasi itu ke Meira.
Meira menerima nasi itu dan mengangguk. "Makasih," ucapnya dan langsung makan.
Vena terkejut mendengar ucapan Meira. Vena tersenyum lebar dan melihat ke arah Alex, yang dilihat pun ikut tersenyum. Alhamdulillah, doaku didengar Allah.
Mereka bertiga pun makan bersama dengan tenang dan hanya terdengar suara sendok serta piring. Tak lama, Meira pun selesai makan dan berdiri dari duduknya. "Yah, aku mau ijin main sama Dila," ucapnya kaku.
Alex tersedak nasi, "Uhuk uhuk uhuk."
Vena memberikan air putih dan mengusap lembut punggung Alex. "Pelan-pelan aja Mas."
Alex meminum air itu dan melihat ke arah Meira. "Bo-boleh, butuh u-uang ja-jan?" Alex merasa canggung.
Meira memalingkan wajah. "Enggak, assalammualaikum." Meira pergi meninggalkan tempat.
"Waalaikumsalam," sahut Alex dan Vena bersamaan. Melihat perubahan Meira, membuat mereka senang.
Meira yang sudah berada di dalam mobil, terlihat tengah menyenderkan kepala di setiran. Hati Meira berdetak dengan kencang dan wajahnya merona. Haduhhh, begini aja rasanya malu bingits, apalagi minta maaf. Nggak-nggak mungkin, gue belum siap! batinnya. Meira pun mulai mengemudikan mobil ke luar dari halaman rumah.
...🍁...
Meira dan Dili kini telah tiba di tempat tujuan. Mereka berdua ingin pergi ke toko aksesoris perempuan, untuk menghibur diri. Tempat itu memang surganya anak perempuan. Dila dam Meira terkagun-kagum dan bingung, karena semuanya terlihat cantik. Toko ini terletak di luar kota, sangat jauh dari rumah.
"Nggak sia-sia kita pergi jauh buat lihat ini semua," seru Meira, sambil melihat gelang tali.
"Sama, kayaknya dua puluh empat jam di sini, nggak cukup deh," ujar Meira, sembari mencoba gelang.
Dila pergi menghampiri Meira dan melihat gelang-gelang. "Ohh iya, petunjuk yang lo maksud di telpon tadi apa?"
Meira menoleh ke arah Dila dan kembali, melihat gelang. Meira pun menceritakan kejadian semalam ke Dila. "Jadi gitu deh, tapi gue belum bisa buat losss, kayak anak-anak pada umurnya."
Dila mengangguk paham. "Ohh jadi gitu, untuk orang kayak kita emang agak sulit sih. Buat ngomong berdua aja, cangungnya kagak main, ngalahin kita dilamar kekasih, hahhaha!"
Meira melihat ke arah Dila, dengan mengerutkan kening. "Emang lo pernah dilamar? Cowok aja nggak punya!"
Dila tertawa dan melihat ke arah Meira. "Lah, coba lo nalar deh, kalau kita ketemu gebetan, pasti deg-degan dan cangung. Sama, kita juga gitu, kalau lagi ngomong atau bareng sama Orang Tua, jadi yang gue bilang nggak salah kan?"
"Hmm iyain aja lah," sahut Meira malas dan Dila pun terkekeh.
Terdengar suara dari balik rak, yang ada di belakang Meira dan Dila. Suara itu terasa tidak asing di telinga mereka. Meira dan Dila pun memutuskan untuk mendekat.
"Belinya yanh cepet, jangan lama-lama!" ucap sang Pria.
"Sabar atuh Yang, baru juga sampek," ucap si Cewek.
"Cuman ngigetin Beb, kalik aja lupa," ujar cowok itu.
"Suaranya nggak asing nih, tapi kok bahasanya geli gini ya," ucap Meira dengan suara pelan, dari balik rak.
Dila menaruh jari telunjuknya ke bibir. "Ststtstt, lo diem dan dengerin! Jangan sampek lo kehilangan kesempatan ini!" peringatan dari Dila dan kembali nguping.
Meira mengerutkan kening. Apa Dila udah tau ya?
"Besok ujian loh, gimana kalau kita belajar bareng anak-anak?" tawar si Cewek.
"Boleh aja, nanti aku hubungi mereka," sahut si Cowok.
"Kita harus ngalahin Melvin! Aku nggak mau, kamu kena amuk lagi," ujat si Cewek.
Meira terkejut mendengar ucapan Wanita itu, sedangkan Dila hanya diam saja. Ngalahin Melvin? Anak IPS dong?
"Jangan khawatir sayang, aku pasti bisa jadi nomor satu!" ucap si Cowok dengan pedenya.
"Iya, kalau ada kesulitan, bilang aja ya! Aku pasti bantu, kok," sahut si Cewek.
"Maksih sayangku, kamu memang yang terbaik!" kata si Cowok.
Tak lama, sepasang Kekasih itu pergi ke kasir dan membayar barang yang diambil. Meora dan Dila hendak melihat, namun wajah mereka tertutup tubuh orang lain. Setelah membayar barang beliannya, sepasang Kekasih itu pun pergi ke parkiran. Meira dan Dila pergi mengikuti mereka. Mereka berdua mengintip lewat kaca yang besar.
"Ehhhh, gue nggak salah lihat kan?" tanya Meira terkejut, melihat sepasang Kekasih itu.
Wajah si Cewek dan Cowok tadi, terlihat dengan jelas oleh kedua mata Meira. Dila tersenyum smrik dan melihat ke arah Meira. "Gimana?"
"Gue nggak percaya sama mereka. Gue pasti salah lihat!" seru Meira tidak terima dan merasa sedikit kesal.
"Kenyataan memang pahit, jadi kamu harus terima," ucap Dila, sambil menepuk bahu Meira.
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mendekat ke arah Meira dan Dila. "Yang kalian lihat itu emang bener," ucap Pemuda itu.
Meira dan Dila kaget. "Lo?!" seru mereka berdua bersamaan dengan keras. Pemuda itu tersenyum.