MeiMel

MeiMel
Meimel.



Bab 2


Meira kini telah sampai di depan Sekolahnya. Ia terlihat menunggu seseorang dengan melipat ke dua tangan di depan dada. Terdengar suara montor dari arah belakang. Orang yang ditunggu Meira pun akhirnya datang. Ia langsung pergi mencegat Pemuda itu secara tiba-tiba. Ia merentangkan ke dua tangan dengan senyum yang lebar.


Clittttt.


Pemuda itu terkejut dan langsung mengerem mendadak montornya, sembari membelokkan setir. Ia pun membuka helm dengan kasar. "Woi! Lu cari mati hah!" bantaknya.


Meira tertawa kecil, "Heheheee, Melvin! selamat pagi," sapanya sembari tersenyum lembut.


Melvin yang masih berada di atas montor, menaikkan salah satu alisnya. "Lo habis kejedot apaan? Salah orang lo ya!" sarunya.


"Hehehee, nggak kok, nama lo Melvin kan?" tanya Meira.


"Bukan, nama gue Tio!" sahut Melvin berbohong dan memalingkan wajah.


"Hmzz, bohongnya jelek banget," ucap Meira sembari tertawa kecil dan Melvin hanya memutar bola matanya jengah. "Melvin! Melvinnn! Kalau di panggil tuh jawab dong!" Meira menarik ujung baju Melvin.


"Apa?" tanya Melvin kesal, sembari menoleh ke arah Meira.


"I love you," ucap Meira tersipu malu dan pergi meninggalkan Melvin yang tengah menatapnya bingung.


"Wahhh parah, udah goblok, setres pula!" komen Melvin sembari menepuk jidatnya. Ia pun menghidupkan montor dan membawa pergi ke arah parkiran.


°°°°°°


Melvin yang telah sampai di Kelas XI IPS 1 pun langsung duduk di bangku. Ia melihat ke arah meja dan menaikkan salah satu alisnya. "Ngapa ada surat, bunga sama coklat segala dah. Salah naruh apa ya nih orang?" ucapnya, bingung.


Melvin mengambil benda itu, sembari berdiri dari duduknya dan mengangkat ke atas. "Woi! Ini punya siapa?" tariaknya kepada teman sekelas.


"Itu punya lo Vin!" sahut Ketua Kelas.


"Hah? serius punya gue?" tanya Melvin memastikan.


"Iya, itu pun--" ucap si Ketua Kelas terpotong.


"Itu kan ada di atas meja lo. Ya berarti itu punya lo!" sahut Aldo yang baru saha tiba dan duduk di samping Melvin. "Buka aja dulu suratnya, entar juga lo bakalan tau!" Melvin mengangguk paham dan membuka isi durat itu.


...Surat :...


Hallo Melvin, apa kabar? Udah dimakan belum coklatnya? nanti istirahat bareng ya, aku tunggu. Meira sayang Melvin, i love you.


Melvin langsung meremas surat itu dan mengambil bunga serta coklat. Ia pergi ke arah tong sampah dan hendak membuangnya, namun ia hentikan. Ia melihat sepucuk surat menempel di atas tutup tong sampah.


...Surat :...


Kalau dibuang, aku bakalan terus ngasih itu berkali-kali lipat dan mengauplod fotomu di Ig! Melvin berfikirlah dahulu, sebelum bertindak! Oke.


Melvin merasa kesal dan marah. Ia bisa saja mengancam Meira balik dan memberontak, namun ia urungkan niatnya. Ia sedang tidak ingin membuat masalah. Ia pun masuk ke dalam Kelas dan duduk dengan wajah ditekuk. Aldo yang berada di sebelah Melvin, diam-diam tertawa. Aldo mengambil handphone dan menchat seseorang.


...ROOM CHAT ON....


Aldo:


Gue kasih tau caranya, supaya lo bisa deket sama Melvin. [20.31]


Meira:


Apa? [20.31]


Aldo:


Elo harus kejar Melvin gila-gilaan, sampek tuh anak muak.


Setelah itu, lo ancem dia dan buat perjanjian!


Gue yakin dia bakal nurutin apa mau lo! Kalau bisa😒


Tuh anak lagi banyak kerjaan, lagi males bikin onar, katanya pingin hidup tentram. [20.34]


Meira:


Ok, aku paham.


Thanks atas infonya.


Kalau berhasil, aku kasih hadiah. [20.36]


Aldo:


Sip, gue tunggu kadonya 😉 [20.36]


Oi. [07.15]


Rencana lo berasil, Melvin nyerah. [07.15]


Meira:


Yes 😇😁 [07.15]


...ROOM CHAT OFF....


Aldo mematikan handphonnya dan memasukan ke kantong celana. Tak lama, bel pun berbunyi dan pelajaran di mulai. Meira yang berada di Kelas lain, terlihat tersenyum bahagia dan tengah memikirkan rencana selanjutnya. Dila yang berada di sebelah Meira terlihat bingung.


...🍁...


Bel istirahat berbunyi. Melvin yang mendengarnya langsung berlari pergi dari Kelas. Padahal di Kelas masih ada Guru yang masih berbicara. Guru itu memanggil Melvin, Namun tidak di peduliakan tidak pedulikan.


"Hallo Melvin," sapa Meira yang berada di samping Melvin.


Melvin kaget dan spontan mundur ke belakang, "Sialan, lo ngapain di sini?" ucapnya kesal.


"Lohhh, bukannya udah aku kasih tau lewat surat ya, belum dibaca?" tanya Meira. Melvin menatap tajam Meira, namun yang di tatap malah cengengesan.


"Yuk, ke kantin bareng!" ajak Meira.


"Ogahhh!" tolak Melvin.


Meira pun menarik paksa tangan Melvin dan membawanya pergi ke kantin. Melvin berusaha melepas tangan Meira, namun tidak bisa. Dila dan Aldo tertawa, melihat wajah Melvin yang tersiksa. Mereka berdua berjalan di belakang Melvin dan Meira.


Meira, Melvin, Dila dan Aldo akhirnya sampai. Meira mendorong Melvin dengan kuat, hingga membuatnya jatuh terduduk di kursi. Aldo dan Dila, hanya bisa tertawa dalam hati.


Melvin menatap tajam Meira. "Lu gila hah!"


"Iya, gila cinta," sahut Meira sembari tersenyum lebar.


"Setres!" seru Melvin dan Meira pun tertawa kecil.


"Mau gue pesenin apa?" tawar Dila.


Meira melihat ke arah Dila dengan wajah yang ceria. "Yeee, Dila emang paling pengertian deh. Pesenin dua bakso ya!"


"Dua?" tanya Dila memastikan, sambil menunjuk dua jari.


Meira mengangguk. "Iya, buat aku sama Melvin."


"Ck, sejak kapan gue minta bakso hah!" seru Melvin kesal.


"Nggak tau," sahut Meira, membuat Melvin pasrah sembari mendengus kesal.


Dila menggelengkan kepala, melihat Meira dan Melvin. "Kalau lo?" tanyanya ke Aldo.


Aldo berdiri dan berbisik, "Gue ngikut lo, ketimbang jadi obat nyamuk!"


"Hmm," sahut Dila mengiyakan.


Mereka berdua pun pergi memesan makanan, sedangkan Meira terlihat asik mengoda Melvin. Tak lama, Dila dan Aldo datang dengan membawa pesanan mereka. Meira mengambilkan sendok dan garpu untuk Melvin, namun ditolak. Melvin memilih untuk mengambil sendok dan garpu yang baru.


"Ishhh, hidupmu tuh ribet banget sih. Udah diambilin malah disingkirin!" omel Meira.


"Hus, nggak boleh ngomong yang jelek!" omel Meira. "Nih, mulutnya dijaga. Jangan dibiasain ngomong yang kotor-kotor!" tambahnya sembari memukulkan sendok ke bibir Melvin dengan pelan.


"Ck, lo siapa gue?" ucap Melvin sambil menyingkirkan sendok itu dari mulutnya.


"Calon Istri dan Ibu dari anak-anak kita!" sahut Meira dengan pedenya dan diakhiri tawa kecil.


"Mimpi! Otak cuman sebiji salak, ngarep jadi cewek gue!" ketus Melvin.


"Ishhh, aku kira Melvin tuh pinter loh, ternyata bodoh!" ucap Meira dan mendapatkan tatapan tajam dari Melvin. "Udah tau besarnya otak segini, ehhh dia bilang segini." Ia menunjukan tangannya yang membentuk lingkaran besar, setelah itu kecil.


Dila dan Aldo tertawa kecil. Mereka memilih diam dan mengobrol berdua saja.


"Wawww, orang goblok nasehatin orang pinter!" seru Melvin sembari bertepuk tangan.


"Kalau salah harus dinasehatin! Udah ah ngomongnya, aku laper mau makan," ucapnya dan mulai makan.


Mereka pun makan bersama. Terlihat, sesekali Meira mencolek tangan dan pipi Melvin, hingga membuatnya kesal. Ia juga sesekali mengelap mulut Melvin yang belepotan. Selesai makan, mereka kembali ke Kelas masing-masing.


°°°°°


Melvin dan Aldo kini telah berada di Kelas. Melvin merasa kesal, mengingat perlakuan Meira tadi. Ingin sekali rasanya, mematahkan tangan dan merobek mulut Meira. "Parah banget. Gue habis buat dosa besar apaan, bisa ketemu tuh anak sebleng!" keluh Melvin.


"Saran gue, lo akhirin ini semua. Tanya ke Meira, apa yang dia mau!" saran Aldo.


"Lo kagak lihat hah? Tuh anak suka sama gue, kalau ditanya begituan, yang ada malah minta jadi cowoknya!" kesal Melvin.


"Yang penting kan, lo nggak selamanya dikejar-kejar tuh anak. Turutin maunya seminggu atau sebulan, setelah itu selesai. Lo nggak bakal di gangu Meira lagi!" sahut Aldo memberitahu.


"Hmm, bener juga," batin Melvin menyetujui ucapan Aldo. "Hmm, oke," sahutnya mengiyakan.


Aldo diam-diam tersenyum. Ia telah berhasil membuat Melvin masuk ke rencana Meira, "Semoga lo berhasil Mei!" batinya.


...🍁...


Bel pulang berbunyi, para Murid berhamburan keluar dari Kelasnya. Melvin yang berada di ambang pintu, melihat ke kanan dan ke kiri. Adakah Meira di sekitaran Kelasnya? Setelah merasa aman, ia pun menarik Aldo dan berlari keluar menuju parkiran. Aldo terkejut dan hampir saja terjatuh.


Tak lama Melvin dan Aldo sampai di parkiran. Melvin terkejut, melihat Meira yang telah berada di atas montornya dengan senyum yang ceria. Ia mengusap wajah dengan kasar.


Aldo menepuk punggung Melvin. "Gue tunggu di tempat biasa!" ucapnya memberitau dan pergi meninggalkan tempat.


"Pujaan hati loh dah dateng, kalau gitu gue duluan ya," pamit Dila.


"Iya, makasihhh," sahut Meira dengan senyum ceria dan diangguki Dila.


Dila pergi meninggalkan tempat dan Melvin pun menghampiri Meira. "Turun lo dari montor gue!" pintanya.


"Mintanya yang baik dong, biar aku mau turun!" sahut Meira.


"Hufff, sabarrrrr," batin Melvin, sembari menghela napas pelan. "Meira, turun ya!" pintanya dengan lembut.


"Nahh, gitu dong," ucap Meira dan turun dari montor.


Melvin melihat ke arah Meira. "Lo mau apa dari gue?" tanyanya, to the poin.


Meira tersenyum bahagia. "Aku mau kamu jadi pacarku!" sahutnya.


"Oke, gue turutin, tapi ada syaratnya! Satu, lo kagak poleh post foto gue ke medsos! Kedua, kagak ada panggilan sayang! Ketiga, lo kagak boleh ngelarang gue deket sama cewek manapun!" ucap Melvin memberitahu.


"Siappp!" sahut Meira senang, sembari memberi hormat.


"Permintaan lo cuman berlaku seminggu!" ucap Melvin memberitau.


"Gue juga ada peraturan, kalau seandainya dalam seminggu, aku bisa bikin kamu suka sama aku. Kamu harus jadi pacarku selamanya dan beliin aku hadiah!" pinta Meira.


"Haahahaaa, coba aja kalau bisa!" sahut Melvin sembari tertawa. "Kalau gagal, lo harus jauhin gue selamanya dan jangan pernah muncul di hadapan gu!," tambahnya.


"Oke, aku terima!" sahut Meira setuju.


"Ck, lo kira bisa bikin gue suka. Mimpi lo ketinggian!" batin Melvin.


"Yesss, sesuai rencana," batin Meira senang. "Ya udah, gue mau pulang dulu! Jangan kangen ya, nanti aku chat!" ucap Meira. "I love you!" teriaknya, sembari pergi meninggalkan tempat dan melambaikan tangan.


Melvin yang telah berada di atas montor, berakting muntah, karena mendengar ucapan Meira, "Huekkkk, kagen sama lo!"


...🍁...


Meira yang telah berada di lokasi syuting bersama Chika, terlihat tengah menunggu seseorang. "Wihh, kayaknya ada yang lagi happy nih," goda Chika.


"Hehehe, iya Mbk," sahut Meira malu-malu.


"Kalau boleh Mbk tau, apa tuhh yang bikin Artis Mbk ini seneng?" tanya Chika.


"Rahasia!" sahut Meira sembari tersenyum lebar.


"Huhh, pelit!" kesal Chika dan mencubit pipi kanan Meira dengan gemas.


Tak lama seorang lelaki tampan seumuran Chika, datang dan membuat Chika serta Meira menghentikan aktivitas mereka. "Maaf, saya terlambat," ucap lelaki itu, bernama Vio. Ia adalah Asisten dari Perusahaan JMN. Perusahaan itu yang mengontrak Meira dan menjadikannya Brain Ambasador produk mereka.


"Ohh, tidak kok Pak. Kami juga baru saja sampai," sahut Chika dan Vio pun membalas dengan senyum.


"Kalau begitu, mari kita mulai saja!" ajak Vio dan mereka berdua pun ikut.


Meira masuk ke ruang rias dan bersiap-siap untuk syuting iklan. Sedangkan Chika, mengobrol dengan Vio dan Pak Sutradara. Tak butuh waktu lama, Meira pun datang. Mereka yang ada di lokasi terpana melihat ke cantikannya. Chika berlari menghampiri Meira.


"Oh maigatttttt, kamu cantik banget sihhhh!" kagum Chika.


"Mbk Chika! Ststtsttt, pelan-pelan Mbk ngomongnya, aku malu!" ucap Meira pelan.


"Malu kenapa? Kamu cantik begini kok," tanya Chika dan Meira pun manyun, karena suara Chika yang keras dan membuat orang di sekitarannya mendengar.


"Meira, ayo kita mulai sekarang!" ajak Pak Sutradara dengan ramah. Ia pun pergi dan bersiap di tempat.


Syuting pun di mulai. Meira melakukannya dengan sempurna. Semua orang yang melihat, bertepuk tangan dan memberikan pujian. Meira tersenyum bahagia dan berterimakasih. Ia dan Chika bersiap-siap pulang. Mereka kini telah berada di parkiran dan Meira telah berganti pakaian.


"Meira! Chika!" panggil Vio dari jauh sembari berlari menghampiri mereka berdua.


"Iya Pak, ada apa?" tanya Chika.


Vio berhenti dan memberikan amplop. "Ini hadiah dari CEO, karena Meira mempromosikan produknya dengan sangat baik dan bagus!" ucapnya ngos-ngosan.


"Ehhh, maksudnya ini tuh bonus?" tanya Chika memastikan.


"Iya, tolong diterima!" pinta Vio dan Chika pun menerimanya.


"Makasih Pak," ucap Meira dan Chika bersamaan.


"Iya, saya pamit dulu, Assalammualaikum," pamit Vio dan pergi meninggalkan tempat.


"Waalaikumsalam," sahut Meira dan Chika. Mereka berdua pergi masuk ke dalam mobil.


"Mbk Chika!" panggil Meira.


"Iya, kenapa Mei?" tanya Chika.


"Pak Vio ganteng juga, kayaknya dia lebih tua beberapa bulan dari Mbk deh!" ucap Meira.


"Iya, terus kenapa?" tanya Chika tak paham.


"Pepet dong Mbk, Pak Vio kelihatanya orang shaleh dan baik!" goda Meira.


"Halah, palingan juga udah punya cewek!" sahut Chika.


"Kalau belum, Mbk mau!" tanya Meira.


"Ya maulahh, masa enggak," sahut Chika sembari tertawa kecil.


"Cieee, yang lagi suka sama Pak Vio nih," goda Meira dan Chika pun tersenyum malu.