
Langit mulai gelap dan bulan telah datang bersama bintang-buntang di angkasa. Meira dan Sinta menata makanan dengan begitu cantik. Aroma harum yang muncul, karena masakan mereka, membuat perut keroncongan. Sinta sangat pandai memasak, makanannya pun tak kalah enak dengan restoran mahal. Alex yang baru saja tiba di rumah, mencium aroma yang sedap. Ia pun pergi ke arah ruang makan. Terlihat, beberapa makanan, tertata dengan rapi dan bersih.
Sinta tersenyum lembut dan pergi menghampiri Alex. "Mau makan? Hari ini, aku masakin makanan kesukaanmu," tanyanya, sambil melepas jas Alex.
Alex melihat ke arah Sinta dan tersenyum bingung. "Hari ini, ada apa? Tumben."
Sinta tersenyum dan menyuruh Alex duduk. "Nggak ada apa-apa," ucap Sinta dengan senyum lembutnya. Ia mendekat ke arah telinga Alex. "Aku mohon, kamu nikmatin aja suasana ini dan jangan banyak bicara, aku hanya minta sekali ini aja, tolong turuti aku!" Alex mengangguk, mengiyakan permintaan Sinta.
Sinta pun duduk di bangkunya dan menyiapkan nasi ke piring Alex. Meira yang berada di depan Sinta, merasa bingung dan aneh. Memang suasana rumah beda, namun entah mengapa, rasanya hanya sebentar. Apa yang aku pikirin ini, harusnya aku seneng lihat mereka akrab dan romantisan gini, tapi kenapa aku malah curiga sama Mamah.
Sinta, Meira dan Alex mulai makan malam. Sinta juga meminta para ART makan malam bersama. Para ART pun makan di halaman belakang, karena tidak enak dengan mereka bertiga. Sinta dan Alex, sesekali bercanda di sela makan malam mereka. Meira yang melihatnya, hanya bisa diam saja dan menikmati. Ada sedikit rasa bahagia yang tumbuh di hatinya. Meira sekilas tersenyum dan melahap makanannya.
Tak lama, Sinta, Alex dan Meira selesai makan. "Hari ini hujan!" seru Sinta.
Alex dan Meira bingung. "Iya, terus kenapa?" tanya Alex.
"Ayo kita hujan-hujan, sekali aja, plis..." Sinta memohon dengan mengantupkan kedua tangan di depan wajah.
"Udah malem Sin!" sahut Alex.
"Aku mohon Mas, ijinin ya, plis... Kita udah lama loh nggak hujan-hujanan berdua, sekarang kita buat kenangan bareng Meira." Sinta terus saja memohon ke Alex.
Alex menghela napas pelan dan mengangguk. "Ya udah, iya, tap---"
"Yeayyyyy! Let's go!" Sinta langsung menarik tangan Alex dan Meira secara tiba-tiba. Alex dan Meira hampir saja terjatuh. Mereka berdua pun terpaksa ikut.
Terlihat, di halaman rumah, hujan begitu deras. Rasanya sangat dingin dan basah. Pepohonan menari ke kanan dan ke kiri. Sinta memanggil para ART untuk ikutan hujan-hujan. Salah satu ART mengambil musik, untuk hiburan. Lagu Inggris itu terdengar begitu mengasikkan dan indah. Mereka semua hujan-hujan, sambil menari.
"Meira gimana?" tanya Sinta sambil menari di tengah hujan deras.
Meira tersenyum sambil menahan rasa dingin, karena hujan. "Se-seru Mah."
Sinta tersenyum ceria dan memeluk Meira. Ia mengajak Meira, Alex dan ART menari bersama dan berfoto. Sinta terlihat begitu senang dan super aktif. Tawanya terdengar di seluaruh halaman. Alex dan Meira tersenyum bahagia, melihatnya.
Andai saja, waktu bisa berhenti sebentar, aku harap, keluargaku bisa seperti ini selamanya. Impianku untuk bermain dan tertawa bersama, kini telah tercapai. Senyum dan tawa yang tak pernah ku lihat, kini terlihat dengan jelas. Ya Allah, berikanlah Mamah kehidupan yang damai dan bahagia. Aku ingin, Mamah hidup bahagia dan tenang ya Allah, batin Meira, sembari melihat Sinta yang sedang loncat-loncat dan berputar.
Alex mengambil foto Sinta. Sin, teruslah tersenyum seperti itu, aku sangat mencintaimu. Maaf, jika selama ini aku menyakitimu, sikapku yang selama ini protektiv, karena aku mencintaimu dan Meira, aku harap kamu mengerti Sin, hiduplah dengan bahagia, batin Alex.
Sinta mengahampiri Alex dan Meira. Sinta mengumpulkan mereka semua di tengah halaman dan berfoto bersama. Mereka tersenyum dengan bahagia, walupun badan mulai bergetar. Selesai berfoto, mereka kembali ke dalam rumah dan bersih-bersih.
...🍁...
Meira ke luar dari kamar mandi dan mengeringkan rambut dengan handuk. Ia telah memakai baju tidur dan duduk di depan meja rias. Meira mengambil hair dryer dan mengringkan rambutnya. Tak lama, seseorang dan menghampiri Meira.
"Sini, Biar Mamah bantu!" Sinta merentangkan tangan kanan ke Meira, meminta hair dryer.
"Emm, ini." Meira berikan hair dryer itu ke Sinta.
Sinta menghidupkan hair dryer dan dan mulai mengeringkan rambut Meira. Jari jemari Sinta, dengan lembut merapikan rambut Meira. Mata Meira, perlahan mulai mengantuk, karena usapan Sinta yang terasa nyaman dan hangat.
"Sudah, mau tidur bareng?" Sinta membungkukkan badan ke arah Meira, sambil tersenyum.
Meira melihat ke arah Sinta dengan ekspresi melongo. "Apa? Mamah mau tidur bareng sama aku? Ayah gimana?"
"Ayah?" Sinta berdiri tegak dan berpikir. "Ayah nggak kenapa-kenapa kok, dia juga udah ijinin Mamah. Jadi gimana?"
Meira menunduk dan mengangguk. Ia tersenyum malu hatinya sangat senang sekali. Sinta pun meraih tangan Meira dan membawanya ke kasur. Mereka berdua naik ke atas kasur dan membaringkan tubuh. Meira dan Sinta saling melihat.
Sinta menekuk salah satu tangan dan menidurkan kepala di atasnya. "Terakhir kali kita tidur bareng, kayaknya sepuluh tahun yang lalu, iya nggak?"
Meira berpikir dan mengangguk, "Iya Mah, Aku kangen..." ucapnya manja.
Sinta tertawa kecil melihat Meira. Manja Meira inilah,yang ia tunggu-tunggu. Ia pun merentangkan kedua tangan. "Utututuuuu, sini-sini dupeluk dulu, anak kesayangan Mamah!"
Meira dengan senang hati, masuk ke dalam pelukan Sinta. Mereka berdua saling berpelukan sambil berbaring di kasur. "Anak Mamah yang paling cantik ini, udah punya pacara belum ya?" ucapnya sambil mengusap lembut rambut Meira.
"Nggak ada Nyonya, anak anda murni jomblo!" sahut Meira, sembari melepas pelukannya dan menyedeekan kepala di dada Sinta.
Sinta tertawa mendengar ucapan Meira. "Cinta tidak selalu membuat kita bahagia. Cinta juga bisa membuat kita terluka. Ujian di dunia ini sangatlah berat. Namun... akan terasa mudah, jika kamu percaya dengan Allah dan selalu berada di jalanya!" pesan Sinta, sambil merapikan rambut Meira, dengan tangannya.
Meira yang mendengar ucapan Sinta, merasa sedikit sedih. Ia menganggukkan kepala dan mengangkat pandangnya ke Sinta. "Mah, kenapa Mamah nggak pisah sama Ayah?"
Sinta terkejut, mendengar pertanyaan Meira. Ia memjamkan mata sebentar dan mengusap lembut pipi Meira. "Untuk apa berpisah, jika Mamah masih bisa bertahan? Ayahmu tidak meminta Mamah pindah agama kok. Seburuk-buruknya Ayahmu itu, ia tetaplah Ayah kamu! Ia hanya bersikap protektif dan egois saja, ambil positifnya, oke!"
"Positifnya?"
"Ayah selalu memberi kita bimbingan dan bekal agama. Lihatlah, di usia kamu yang semuda ini! Kamu sudah menjadi orang yang terkenal dan dilimpahkan rezekinya! Tapi kamu tidak bersikap sombong dan angkuh. uang yang kamu dapat, kamu sisihkan dan berikan ke orang yang nggak mampu, sama panti asuhan!" ucap Sinta memberitau. "Coba deh kamu pikir, kalau kamu nggak pernah dinasehati Ayah, apa yang terjadi?" tambahnya.
Meira merenung dan mengingat kembali, masa-masa dimana Alex berceramah, hingga membuatnya mengantuk. Ia sadar, apa yang dikatakan Sinta memang benar. Nasehat Alex yang membosankan itu, telah tertanam di tubuhnya. Semua kegiatan amal dan baik, ia lakukan karena Allah dan pesan-pesan dari Alex. Tanpa Alex, mungkin uang itu udah Meira pakai untuk berfoya-foya.
"Berjanjilah dengan Mamah, untuk terus tersenyum dan bahagia. Jadilah anak yang baik dan shalekhah! Mamah dan Ayah selalu menyayangimu!" ucap Sinta dengan lembut. Meira mengangguk. Mereka berdua pun mulai memejamkan mata dan tertidur.
...🍁...
Pagi hari tiba, Meira yang telah siap dengan seragamnya pun turun kebawah. Sesampainya di lantai bawah, Sinta dan Alex datang. Sinta memberikan bekal ke Meira, yang berisikan rotu bakar.
Meira menrima bekal itu dan bertanya, "Kenapa disiapin?"
Sinta tersenyum dan menjawab, "Biar kamu nggak telat, berangkat gih, bereng Ayah!"
Meira terkejut mendengar ucapan Sinta. What, bareng Ayah?
Sinta memberikan tas ke Alex. "Nih Mas!"
Alex tersenyum dan menerimanya. "Mei, ayo!" Meira mengangguk dan menyalami Sinta. Mereka berdua berpamitan dan pergi masuk ke dalam mobil.
°°°°°
Alex dan Meira akhirnya sampai di Sekolah. Meira hanya mengucapkan salam dan nyelonong pergi, keluar dari mobil. Alex hanya bisa menghela napas dan menjawab salam Meira. Mobil Alex pergi meninggalkan tempat. Meira pun pergi masuk ke dalam dan Dila datang dari belakang, mengejutkannya.
"Kyaaa!" teriak Meira terkejut dan memukuk pelan lengan Dila. "Dila, ih... nyebelin deh!"
Dila tertawa sambil memegangi perutnya. "Maaf-maaf," ucapnya, setelah menghentikan tawa.
"Huh, kali ini aku maafin." Meira melipat kedua tangan di depan dada dan manyun.
Dila tertawa kecil, melihat wajah Meira yang terlihat menggemaskan. "Ulululuuuu, bibirnya... pake dimonyong-monyongin segala." ia menoel bibir lembut Meira yang maju. "Ohh iya, semalem, cerita kamu belum lanjut loh!"
Meira semalam menghubungi Dila. Ia bercerita soal Orang tuanya, namun belum selesai cerita. Ia dipaksa mandi. "Ohhh itu, semalam kita semua hujan-hujan di luar, main, joget sama foto bareng."
"Om Alex kagak marah?" tanya Dila dan Meira menggelengkan kepala. "Mungkin aja... Allah udah kabulin doa kamu Mei!"
Meira dan Dila berjalan ke arah Kelas, sambil mengobrol. "Kayaknya iya, tapi... aku ngerasa janggal, nggak tau itu apa?" sahut Meira.
Dila merangkul sahabatnya itu dan tersenyum ceria. "Doa lo udah dikabulin, harusnya bahagia dong, mana nih Meira yang gue kenal!"
Meira tersenyum dan merangkul balik Dila. "Iya deh, aku bahagia nih!" Meira tersenyum, hingga menampakkan giginya yang tertata rapi dan putih.
"Sialan, lu mau pamer gigi, hah!" Dila pun menunjukkan giginya ke Meira begitu dekat. Meira mendorong jauh muka Dila dan pergi berlari.
"Bau banget Dil, mulut lo!" teriak Meira, sambil berlari. Dila tak terima dan mengejarnya. Dila menangkap Meira dan memberikan nafas mulufnya ke wajah Meira. Meira menutup hidunya dan kabur. Mereka berlarian hingga, sampai di Kelas.
...🍁...
Terlihat di tengah lapangan, terjadi pertengkaran begitu hebat. Para Murid berkumpul, mereka menonton dan ada juga yang menyooraki. Tempat itu sangat ramai dan heboh. Melvin dan salah satu Kakak Kelas saling memukul, hingga terluka. Bima yang ada di sana, berusahan meminsahkan. Namun...
Bugh.
Bima jatuh terduduk, karena kena tonjok Melvin. Anggota Osis yang ada di tempat itu, segara menolong Bima. Pertengkaran Melvin dan Kakak Kelas pun berhenti.
"Bwahahaaaa, mampus lu!" Melvin tertawa berbahak-bahak, melihat hidung mancung Bima, menguluarkan darah segar.
Bima tak terima. Ia menyeka hidupnya yang berdarah dan memberikan pukulan ke hidung mancung Melvin. "Rasain! Enak kagak tuh?" Bima tersenyum smrik.
Melvin mengusap hidungnya dan melihat darah, di jari telunjuknya. Tangan Melvin mengepal dan emosinya mulai memanas. Ia pun membalikkan badan, sambil menendang wajah Bima. "Makan tuh!" Ia berdiri tegak dan tersenyum smrik.
Bima memegang pipinya yang terasa sangat perih. Ia pun membalas Melvin dengan menaikkan kakinya hingga, mengenai dagu Melvin, dari bawah. Para Murid yang melihatnya, terpukau. Pertarungan di antara Bima dan Melvin sangatlah menarik dan keren. Perkelahian mereka, bukanlah tontonan biasa. Pukulan dan tendangan yang ditunjukkin, terlihat sempurna, tidak abal-abalan.
"Bajin*an!" seru Melvin dan melayangkan pukulan ke wajah Bima.Namun, dengan lihai, Bima menangkis pukulan Melvin dan membuatnya jatuh. "Lo sukakan sama Meira? Tapi sayang Bro, cinta lo bertepuk sebelah tangan! Lo kagak bakalan bisa dapetin Meira!" Melvin berdiri dan melihat Bima.
Bima mulai emosi dan melayangkan pukulan ke wajah Melvin. Namun, Melvin menangkap tangan itu dan membanting tubuh Bima. Melvin sengaja berucap seperti itu, untuk memancing Bima. Pancingan itu pun berhasil, ia tersenyum bahagia melihat Bima kesakitan. Para murid hendak membantu, namun terhenti. Mereka semua kabur, kecual Melvin dan Bima.
"Melvinnnn! Bimaaa!" terdengar teriakan melengkin dari arah timur. Melvin dan Bima melihat ke arah orang itu. Wajah mereka pucat masam.
Ahhhh, sialan! Ngapa harus dia! batin Melvin kesal.
Mampus gue, batin Bima, dan berdiri tegak.
...^ ^...
...0...
...Gunakanlah waktu sebijak mungkin! Ciptakan kenangan indah dengan orang di sekitaran kita, sebelum pergi meninggalkan dunia ini, untuk selamanya!...
...See you all...