MeiMel

MeiMel
Sad gril



Happy Reading✨


Mobil yang di pakai Meira dan Chika akhirnya tiba di depan gerbang rumah Meira. Ia pun keluar dari mobil itu dan berpamitan dengan Chika. Setelah mobil Chika hilang di balik dinding, Meira baru masuk ke dalam rumah.


Meira masuk ke dalam rumah. Ia pergi menaiki anak tangga satu per satu. Setibanya, di anak tangga ke tiga. Seseorang dari belakang, memanggil. Ia pun, menghentikan langkah kakiknya.


"Meira!" panggil sang Ayah dengan nada kasar.


Meira pun membalikkan badab dan melihat Alex yang terlihat begitu marah. Sinta yang berada di sebelah Alex, terlihat cemas dan takut. Meira turun dan pergi menghampiri ke dua Orang Tuannya.


Plakkkk.


Meira pergi menyalami tangan Alex. Namun, tangan itu malah melayang ke atas dan menampar keras pipi lembutnya. Sinta menutup mulut dengan tangan kanan. Ia terkejud dan hatinya mulai bedebar. Pipi Meira memerah dan terasa berdenyutan.


"Selama ini kamu mgapain hah!" tanya Alex dengan nada yang tinggi dan penuh emosi.


Meira tersentak, jantungnya berdetak dengan cukup kencang. Ia tidak menjawab pertanyaan Alex. Ia hanya diam dan menunduk.


"Ayah dapet telpon dari wali kelasmu, katanya nilai harianmu anjlok dan sangat jelek! Kalau udah begini, gimana cara kamu masuk ke lima besar?" seru Alex dengan tatapan yang penuh amarah dan penekanan di tiap kalimat.


Meira masih saja diam dan tidak menjawab Alex.


"Meira! Jawab!" bentak Alex dengan suara yang sangat tinggi, membuat Meira dan Sinta terkejut.


Meira yang mendengar langsung menangis, "Hikss, a-aku baa-kalan berusaha, hikss, Yah," sahutnya dengan suara parau sembari sesengguan.


"Berusaha katamu? Kamu kira dengan nilai PAS mu seratus, kamu bisa masuk lima besar! Kamu itu pura-pura bodoh atau emang bodoh hah!" seru Alex marah.


"Ayahhh," ucap Sinta parau, sembari menarik ujung baju Alex. "Udah Yahhh, kasihan, hikss, Meira."


"Udah apanya? Anak kamu ini udah kelewatan. Nilai tugas sama ulangannya, empat puluh kebawah! Mau ditaruh kemana muka kita, hah!" bentak Alex, membuat Sinta dan Meira diam sembari menangis.


"Kalau bulan depan, kamu dapet nilai di bawah delapan puluh... Ayah lempar kamu ke luar Negeri, selamanya!" ancam Alex dan menarik tangan Sinta dengan kasar.


Sinta tersentak dan terpaksa ngikut Alex. Meira menatap kedua Orang Tuanya dengan sendu. Setelah kedua Orang Tuanya pergi dan menghilang di balik dinding. Ia berlari masuk ke dalam kamar.


°°°°°°


Meira kini telah berada di kamar. Ia jatuh terduduk di lantai. Ia melipat ke dua tangan di atas kaki dan menangis. Ruangan yang sejuk, karena AC, membuat lantai dan benda-benda lain menjadi dingin. Tempat yang dingin dan gelap, membuat Meira semakin kalut dalam perasaannya.


Meira terus menangis sesungukan di dalam kamar. Ia merasa kesal dengan Alex. Ingin sekali dirinya, membunuh Alex sekarang juga. Berulang-ulang kali ia berfikir, ingin bunuh diri atau mengakhiri hidup sang Ayah, namun ia urungkan niatnya, karena Sinta.


"Arghhhhhh," teriaknya kesakitan sembari menjabak rambut dengan kuat. Ia sesekali, memukuli kepala dan dadanya.


Langit semakin gelap, waktu mulai berlalu dengan cepat dan tangis pun mulai mereda. Namun, ia masih sesengukan. Meira naik ke atas kasur dan menutupi seluruh tubuh dengan selimut. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam dan tertidur.


...🍁...


Pagi hari telah tiba, cahaya dari matahari perlahan masuk ke dalam kamar, bersamaan dengan udara yang sejuk dari luar. Meira kini tengah berada di teras kamar. Ia terlihat tengah menghirup udara segar dan sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia memejamkan mata dan menghela napas pelan. Ia berusaha melupakan kejadian semalam dan menyemangati dirinya sendiri. Air mata tidak ada lagi, kini hanya terlihat senyum yang indah di wajahnya.


Meira mangambil tas dan turun ke bawah. Ia pergi ke arah meja makan dan mengambil roti bakar. Terlihat, di sana ada Alex dan Sinta. Mereka merasa canggung dan kikuk, tidak ada satu pun di antara mereka yang mengajak ngobrol.


Meira yang telah selesai makan pun langsung berdiri dari duduknya dan mengucapkan salam, tanpa mencium tangan Sinta maupun Alex. "Assalammualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Sinta dan Alex bersamaan.


Hubungan Meira dan Alex memang tidak begitu dekat. Ia sangat jarang sekali mencium ataupun memegang tangan Alex. Setiap ia dekat dengan Alex, perasaannya selalu ingin menjauh, risi dan canggung. Sayangnya Alex dan Sinta tidak mengetahui hal itu.


"Lihat anakmu itu! Nggak ada sopan santunya sama sekali, entah bagaimana masa depanya nanti! Kalau dia masih saja dapet nilai yang jelek. Ia tidak akan dapat warisan dariku sedikitpun!" ucap Alex dan Sinta hanya diam menyantap rotinya.


...🍁...


Dua puluh menit kemudian, Meira telah tiba di Sekolah. Ia pergi masuk ke dalam dan melihat Melvin tengah berjalan seorang diri di lorong. Pikiran jailnya pun mulai muncul. Ia langsung berlari menghampiri Melvin.


"Assalammualaikum Melvin," ucap Meira dengan senyum lembut.


"Waalaikumsalam," sahut Melvin tanpa melihat Meira.


Meira tersenyum smrik dan langsung menarik tangan Melvin dengan kuat ke lorong yang sepi. Melvin yang merasa tertarik tanganya terkejud dan terpaksa mengikutinya. Meira mendorong Melvin ke tembok dan menguncinya. Senyum jahatnya muncul di wajah cantiknya.


Melvin mulai merasa merinding. Ia menyikirkan tangan Meira dan hendak kabur, namun Meira langsung menyubitnya dengan kuat. Melvin meringis kesakitan.


"Kalau kabur, aku cubit sampek merah!" ancam Meira.


Melvin terlihat tengah mengusap-usap tanganya yang kena cubit. "Lo kira gue takut?" sahutnya.


"Melvinnnn, dengarkan aku oke," ucap Meira. "Ini tuh bukan cubitan biasa, ada latar belakangnya," tambahnya.


Melvin tidak paham, apa maksud dari omongan Meira. Ia menaikkan salah satu alisnya. "Maksud lo," tanyanya.


"Hadehhh, katanya pinter, kok nggak ngerti sih," ejek Meira dan Melvin hanya memutar bola matanya jengah. Ia mendekat ke arah Melvin dan berbisik di telinganya, "Kalau Melvin nekat kabur. Aku cubitin sampek merah dan teriak, kalau kamu udah melecehkan aku. Cubitanya nanti akanku jadikan alasan sebagai pemberontakanku," bisiknya dan mundur selangkah menjauh dari Melvin.


"Lo bilang cubi---" ucap Melvin terhenti, karena Meira membukam mulutnya.


"Ststtsttt, inget Melvin aku tuh cewek dan juga Artis. Bukti cubitan itu saja sudah cukup untuk memanas-manasi fansku. Ditambah akukan cewek lemah, modalku cuman nyubit orang. Mereka pasti percaya," ucap Meira.


Melvn yang mendengarnya merasa sedikit takut. "Sialan, nih anak licik bener. Gue salah besar dia bukan kelewat goblok, tapi kelewat pinter. Gue harus berhati-hati," batinya was-was. Meira melepas bungkamanya dan memberikan senyuman lembut, sedangkan Melvin hanya membuang mukanya.


"Mulai hari ini kan kita pacaran, itu artinya aku bisa minta kamu antar jemput aku dong," ucap Meira sembari nyengir.


"Lo kira gue ojek," ketus Melvin.


"Ishhh, yang bilang Melvin ojek siapa? Tugasnya pacar kan emang gitu," sahut Meira.


"Ihhhh, terserah deh, nanti aku tunggu di parkiran," ucap Meira.


"Serah lo," sahut Melvin, "Lo ngajak gue ke sini ngapain?" tanyanya.


"Mau jailin kamu, tapi nggak jadi. Aku udah lupa," sahut Meira.


"Hmzz, gue mau balik ke Kelas." ucap Melvin.


"Oke, jangan lupa, entar ke kantinya bareng. Awas aja, kalau nanti lo makan duluan! Aku bakalan kasih kejutan yang bikin kamu nyesel dan minta maaf," ancam Meira.


"Hmzz, sehappy lo aja," sahut Melvin langsung pergi sembari melambaikan tangan ke atas tanpa membalikkan badannya.


Meira tersenyum senang. Ia merasa Melvin mulai ada hati dengannya. "Hmzz, kayaknya Melvin mulai nurut sama aku. Bagus deh, makin cepet sukanya makin bagus," batinya senang. Ia pergi ke arah kelasnya dan masuk ke dalam.


...🍁...


Bel istirahat telah berbunyi, kini Melvin dan Aldo tengah berjalan menuju kantin. Terlihat tiga wanita cantik dateng menghampiri mereka. berdua.


"Melvin, mau ke kantin?" tanya Tiara yang baru saja tiba bersama Dea dan Adel.


"Iya," sahut Melvin ramah.


"Bareng ya," ucap Tiara dan diangguki Melvin.


Mereka berlima pun pergi ke kantin bersamaan. Setelah sampai di sana, mereka duduk di bagian pojok kanan. "Mau pesen apa? Biar gue sama Adel yang pesenin," tawar Dea.


"Emm, gue jus jambu sama roti aja, kamu apa Vin?" tanya Tiara.


"Gue roti aja, minumannya air putih," sahut Melvin.


"Kalau Aldo?" tanya Adel.


"Sama kayak Melvin," sahut Aldo.


"Oke," sahut Adel dan mereka pun pergi memesan makanan.


"Nihh, anak kemana? Ya kalik gue nunggu dia sampek bel," batin Melvin bertanya-tanya soal Meira.


"Melvin, kamu lagi mikirin apa?" tanya Tiara.


"Ehh, bukan apa-apa," sahut Melvin.


"Hmmm, Melvin lagi mikirin apaan sih, semoga aja bukan cewek," batin Tiara. "Melvin, nanti sehabis pulang anter aku ke mall ya! Aku perlu aksesoris buat anak-anak chers, mau kan?" tanyanya.


"Pasti mau lah," sahut Melvin membuat Tiara senang dan memeluknya dari samping.


"Ehemm," Aldo berdeham dengan pandangan yang masih ke handphonnya.


Tiara pun melepas pelukanya dan tertawa kikuk, sedangkan Melvin hanya tersenyum kikuk. Melvin mulai merasa ilfil dengan Tiara. Tak lama Dila datang bersama teman sekelasnya yang lain dan duduk di meja depan Melvin, tepat di belakang Aldo pas.


"Dil, Dila!" panggil Melvin dan Dila pun membalikkan badannya.


"Apa?" tanya Dila.


Melvin terlihat bingung. Iaa ingin menanyakan soal Meira, namun di sampinya ada Tiara. Aldo yang paham pun membantu temannya. Ia membalikkan badannya dan berbisik, "Meira kemana?"


Dila terkejut, karena Aldo tiba-tiba mendekat dan jarak wajah mereka sangatlah dekat. Ia pun menatap tajam Aldo, namun yang di tatap malah diam saja. "Sama Bima ke fotokopian," sahutnya malas.


Aldo berbisik kembali. "Oke, lain kali jangan natap gue begitu! Kalau suka tau rasa kau!" bisiknya sembari tertawa kecil. Dila langsung membalikkan badannya dan mendengus kesal.


Aldo memberitahu Melvin dengan cara berbisik. Melvin terlihat kesal. "Sialan tuh anak minta gue jadi pacarnya, tapi sononya sendiri punya cowok," batinya kesal.


Meira yang berada di sisi lain terlihat tengah duduk di salah satu kursi panjang bersama Bima sembari meminum jusnya.


"Melvin marah nggak ya. Hmmm, tapi kayaknya sih enggak. Dia kan nggak suka sama aku, mungkin aja dia malah seneng, karena nggak bakalan ada yang ganggu dia," batin Meira.


"Kenapa Mei?" tanya Bima.


"Nggak papa kok," sahut Meira sambil tersenyum. "Oh iya Bim, kamu udah ikutan ngurusin perusahaan Ayah kamu belum?" tanya Meira.


"Belum, rencananya setelah lulus SMA," sahut Bima.


"Ohh gitu, aku kira kamu udah ikut campur," ucap Meira.


"Hehehe belum, mau fokus ke pelajaran dulu, kalau kamu gimana?" tanya Bima.


"Maksudnya?" tanya Meira tak paham.


"Kamu udah ikut ngurusin perusahaan Ayahmu?" tanya Bima.


"Belum, masih sibuk syuting sama pemotrettan," sahut Meira.


"Mei, kurangin kerjaannya dulu, kalau bisa off dulu dari dunia hiburan. Bentar lagi kan PAS terus UTS, kalau nilai mu jelek dan jarang masuk. Kamu bisa-bisa nggak naik kelas," saran Bima.


Meira menundukkan kepala. "Bim, menurutmu aku masih ada kesempatan buat masuk lima besar nggak ya?"


"Masih bisa Mei, nanti aku bantu kamu kejar pelajaran yang tertinggal ya," sahut Bima.


Meira mengangkat pandangnya dan memeluk Bima. "Makasihhhh, kamu memang yang terbaik Bim," ucapnya dan Bima pun membalas pelukannya dengan senang.


Tak lama mereka pun melepas pelukannya dan mengambil fotokopian. Mereka pergi dari tempat fotokopian dan naik ke atas montor. Bima mengidupkan montornya dan pergi kembali ke Sekolah.