
Langit kini mulai senja. Meira tertidur begitu lama. Mata Meira perlahan terbuka dan kepalanya terasa pusing. Ia mengubah posisi tidur, menjadi duduk. Terlihat, Melvin tengah tertidur di sofa dengan nyenyak. Melvin sudah menjaganya sedari pagi, karena lelah, ia pun tertidur.
Meira tersenyum lembut dan turun dari kasur. Ia melangkahkan kaki ke arah Melvin dengan lemas. Jalannya sangat pelan dan tak bertenaga. Perlu empat langkah lagi untuk sampai, namun ia tak kuat dan terjatuh. "Awaww," keluhnya sangat pelan.
Melvin mendengar suara orang terjatuh dan langsung terbangun. Ia terkejut melihat Meira jatuh di lantai. "Meira!" ia pergi menghampiri Meira dan menggendongnya.
"Maaf," ucap Meira lemah dan menunduk.
Melvin membaringkan tubuh Meira secara pelan-pelan ke kasur, dan duduk di sana. "Nggak papa."
Meira melihat ke arah tangan Melvin yang terluka. Ia teringat kejadian itu. Betapa jahatnya dia, udah menggigit tangan orang tanpa alsan. Ia meraih tangan Melvin dengan lemah. "Pasti sakit."
Melvin menoleh dan melihat ke arah tanganya. "Hmm, lumayan."
Meira duduk dan menyender. Ia menarik tangan Melvin untuk mendekat. "Sini!"
Melvin pun mendekat dan bertanya, "Apa?"
Meira meraih laci yang berada di samping kasur dan berusaha mengambil sesuatu dari sana. Melvin yang melihatnya, tidak tega. Ia pun berniat untuk membantu Meira. "Lo mau ngambil apa?"
"Kotak p3k," sahut Meira dan duduk ke posisi semula.
Melvin membuka laci itu dan mencari kotak p3k. Setelah mendapatkannya, ia berikan ke Meira. "Lo tadi terluka?"
Meira yang sedang membuka kotak itu pun menoleh sebentar dan kembali mengambil betadin. "Enggak," sahutnya dan meraih tangan Melvin. Ia teteskan betadin itu ke bekas luka gigitanya dan menutupnya dengan kapas.
"Ehhh, kagak perlu!" Melvin menghentikan Meira, yang hendak menempelkan kapas.
"Tapi," ucap Meira terhenti.
Melvin menggelengkan kepala, "Kagal ada tapi-tapian! Siniin tuh kotak!" Meira hanya diam saja dan Melvin pun mengambil kotak p3k secara paksa. Ia taruh kotak itu ke dalam laci dan melihat ke arah Meira. "Lo pasti laperkan, gue ambil mau makan dulu!"
Melvin hendak berdiri, namun tak jadi. Meira menahan tangannya. "Gue nggak nafsu Vin."
Melvin sudah menebaknya, senyum smrik pun muncul. Ia melipat kedua tangan di depan dada dan memalingkan wajah. "Kalau lo kagak mau makan, ya udah, gue kagak bakalan maksa."
Meira tersenyum, namun sedikit curiga. Ngapa Melvin ngomongnya gitu ya?
Ya Allah, aku mohon, demokan perutku ini, Ya Allah, batin Melvin sambil memejamkan mata. Tak lama, perut Melvin berbunyi. Yesss, doa anak shaleh emang manjur bener dah, makasih Ya Allah.
Meira yang mendengarnya pun, langsung mendekat ke arah Melvin. "Melvin! Kamu belum makan dari kapan?"
"Pagi," sahut Melvin, tanpa melihat ke arah Meira.
Meira terkejut dan memegang tangan Melvin. "Kenapa kamu nggak makan?"
Melvin memiringkan tubuh dan melihat ke arah Meira. Mata mereka saling bertemu dan hidung mereka, hampir bersentuhan. "Karena lo."
Meira tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia menjauhkan tubuhnya dan kembali ke posisi awal. Pasti Melvin sengaja ngelakuin ini, biar aku mau makan. batin Meira, ia pun mengjela napas. "Ya udah, aku makan."
Yesss, rencana gue berhasil! Nggak sia-sia gue puasa setengah hari, batin Melvin senang. "Oke." Melvin pun pergi mengambil makan, dengan wajah datar dan cool.
Meira tersenyum, hatinya terasa begitu bahagia. Ia tidak sangka, Melvin akan mogok makan demi dirinya. Ia mengambil bantal dan menyembunyikan wajahnya yang memerah. Jantungnya terus berdetak dengan kencang dan hatinya kini telah berbunga-bunga. Ya ampunnn, Melvin so sweet banget sih...
Tak lama, Melvin datang bersama Bik Tika. Terlihat di nampan Melvin, ada dua buah gelas berisi Jus dan es teh. Sedangkan Bik Tika, membawa dua piring yang berisi nasi dan lauk pauk. Melvin menaruh dua gelas itu, ke meja sampung kasur dan mengambil alih nampan Bik Tika.
"Saya ijin keluar ya Non, Aden!" pamit Bik Tika, sambil menundukkan kepala dan Melvin menganggukkan kepala.
Meira tersenyum lembut. "Iya Bik."
Bik Tika tersenyu dan pergi. Ia tutup pintu kamar Meira. Melvin pun duduk di pinggiran kasur dan memberikan salah satu piring ke Meira. "Nih, pastiin tuh piring bersih tanpa nasi sebiji pun!"
Meira menerima dan tertawa kecil. "Iya, makasih." ia tersenyum sambil memiringkan sedikit kepala.
Melvin yang melihatnya pun ikut tersenyum. Mereka berdua makan bersama dengan tenang. Sesekali Melvin menghentikan makannya, untuk membantu Meira, mengambilkan minum dan juga tisu. Meira tersenyum dan berterimakasih. Melvin menganggukkan kepala dan kembali makan.
...🍁...
Via, Jino dan Alex tengah berkumpul di ruang keluarga. Terlihat Alex masih saja diam dan sedikit syok dengan perlakuan Meira tadi pagi. Alex tidak menyangka, apa yang selama ini ia lakukan, telah membuat anaknya depresi.
"Gue udah berulang kali ingetin lo! Lihat apa yang yang udah terjadi?! Sinta sekarang udah nggak ada, dan Meira sakit! Mau gimana lo!" omel Via.
Jino mengusap lembut punggung Via. "Sabar yank."
Via menghempas tangan Jino dengan kasar. "Sabar-sabar! Temen lo nih, kagak bisa dibilangin! Harusnya dari dulu, gue minta Sinta cerai sama lo!" ia mulai meneteskan air mata.
Alex menundukkan kepala dan diam. Apa yang dikatakan Via memang benar. Ia tidak bisa menyangkalnya. Via mulai menangis dan Jino pun menenangkannya.
"Hiks, harusnya dari dulu gue paksa dia buat cerai sama lo! Hiks hiks, kalau hal itu bisa terjadi, Sinta pasti masih hidup dan Meira nggak mungkin sakit! Hiks hiks hiks." Via menangis dan pergi dari ruangan. Ia tidak tahan berlama-lama dengan Alex.
"Gue kejar bini gue dulu!" ucap jino dan Alex pun mengangguk. Jino berlari mengejar Via, meninggalkan Alex sendirian.
Alex membuka handphone dan melihat foto Sinta dengannya. Air mata itu jatuh ke layar handphone. Ia usap lembut layar itu, tepat di wajah Sinta yang tersenyum. Maaf Sin, aku minta maaf...
Malam telah tiba, adzan Isya pun berkumandang. Para Art dan Keluarga, bersiap-siap untuk shalat. Terlihat, beberapa orang tengah berwudhu dan bersiap di posisi. Jino saat ini ada di barisan paling depan dan menjadi Imam. Melvin menyerukan iqomah dengan begitu merdu dan indah. Selesai iqomah, Jino pun meminta para makmum untuk merapikan barisannya dan memulai shalat.
Tak lama, shalat pun selesai dan mereka saling berjabat tangan. Jino memimpin doa dan diaminin para makmum. Selesai Jino memimpin doa, mereka hendak pergi. Namun terhenti, karena mendengar suara Meira.
Mereka yang mendengarnya ikut menangis dan kembali duduk, berdoa untuk Sinta. Via memeluk Meira yang berada di sebalah. Rukuh Meira telah basah, karena air mata. Via ikut menangis dan berusaha menguatkan Meira.
°°°°°
Semua orang kini telah kembali ke tempat masing-masing. Arah jarum jam, menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Meira duduk di teras kamar, sambil menikmati suasana malam yang dingin. Tak lama, seseorang datang memberikan selimut ke tubuhnya dari belakang.
Meira terkejut dan menengok ke belakang. "Tante?"
Via tersenyum dan duduk di kursi lainnya. "Tante boleh gabungkan?"
Meira tersenyum dan menganggukkan kepala, "Boleh kok Tante."
"Yes, makasih," ucap Via tersenyum, sambil menopang dagu dengan kedua tangan di meja. Meira membalas Via dengan senyum yang lembut. Via teringat, akan ucapan Psikiater tadi pagi.
"Jangan tinggalkan Meira sendirian di kondisinya saat ini! Meira bisa saja melakukan hal di luar nalar!" pinta Psikiater.
"Jika kalian meninggalkan Meira sendirian," ucap Psikiater menggantung. "Meira akan tenggelam di dalam keterpurukkannya dan menjadi stress."
Aku nggak akan biarin Meira menggila kayak tadi pagi, kamu pasti bisa sembuh, batin Via. Ia melihat ke arah Meira dengan posisi yang sama. "Kamu tau nggak, dulu... Mamah kamu itu bintang di Sekolah, banyak cowok-cowok yang deketin, tapi ditolak semua."
"Kenapa ditolak?" tanya Meira.
Via kembali duduk dan menyender di kursi. "Mamah kamu itu nggak suka pacaran, katanya begini, ehem," Via berdeham, untuk merubah suara. "Pacaran itu cuman buang-buang waktu aja! Kebahagianya nggak seberapa, sakitnya luar biasa!"
Meira tertawa getir. "Nikah cuman bikin beban, dapet kebahagiaan nggak seberapa, sakitnya luar biasa. Mending juga pacaran, sekalinya bilang putus, masalah pun kelar."
Via tertegun mendengar jawaban Meira. Ia tidak menduganya. Aduh... nih anak, pinter banget balik omongan orang.
"Tante, aku minta maaf, karena udah gigit Melvim sampek berdarah." Meira menunduk sambil mengusap ujung gelas.
Via melihat ke arah Meira dan tersenyum. "Nggak papa sayang, Tante paham kok," ucapnya dan Meira pun tersenyum. "Apa kamu... membenci Ayahmu?"
Meira melihat ke arah Via dan beralih ke depan. "Aku nggak tau Tante."
Via melihat ke arah langit dan menyilangkan kaki. "Tante tau, Alex memang egois dan propektif, tapi... Tante teringat sesuatu."
Meira terlihat bingung da penasaran. Ia melihat ke arah Via. "Inget apa?"
Via tersenyum dan bercerita, "Hari itu..."
...Flesback On...
Siang hari tiba, seorang Wanita dengan perut yang buncit datang dan memeluk Sinta dengan erat. Wanita berperut buncit itu adalah Via. Ia kini tengah hamil lima bulan. Mereka berdua berkumpul di Cafe AFA. Tempat itu terlihat elegan dan cantik. Banyak sekali pengunjung yang datang.
Via menarik kursi dan duduk di depan Sinta. "Akhirnya kita ketemu juga Sin, Aku udah kangen banget sama kamu, tauuu!"
Sinta tertawa kecil. "Aku juga kangen sama kamu Vi, apa kabar?"
"Baik dong," sahut Via dan melihat buku menu. Ia memanggil pelayan dan mulai memesan. Pelayan itu pun pergi dan Ia menutup kembali buku menu. "Ohh iya, katanya ada yang mau kamu omongin?"
Sinta menyeruput kopi itu dan menaruhnya ke meja. Ia tersenyum dan berucap, "Aku hamil."
Via terkejut dan mencondongkan tubuhnya ke depan. "Serius, demi apa?"
Sinta manyu, "Demi Nenek moyang lu!"
Via tertawa dan meraih kedua tangan Sinta. "Selamat... gue seneng banget, denger kabar ini!"
Sinta tersenyum dan mengusap lembut tangan Via. Tak lama, Alex datang menghampiri mereka berdua. Terlihat, Alex membawa beberapa paper bag di kedua tangannya. "Sinta, lihat nih!"
Sinta dan Via melihat ke arah paper bag yang di bawa oleh Alex. Via mengerutkan kening, "Banyak bener Lex, apaan tuh?"
"Iya Mas, itu apa? Tumben belanja banyak," ucap Sinta.
Alex mengeluarkan semua belanjaan dari paper bag dengan ekspresi bahagia. Terlihat banyak sekali mainan anak cowok dan perempuan. Via yang melihatnya pun terkejut dan melongo. "Gimana? Aku juga udah pesen gelang, kalung sama anting sepaket, buat anak kita!"
"Busettt, perut bini lo aja belum bulet, Lex! Gue aja yang udah buncit segini, Jino kagak begitu!" komen Via.
Alex tak memperdulikannya dan melihat ke arah Sinta dengan wajah ceria. Ia menunggu jawaban. Sinta tersenyum kikuk dan menjawab, "Mas, kan kita belum tau, anak kita cowok apa cewek, jadi..." ia bingung.
Alex paham dan duduk di samping Sinta. "Kalau cowok, mainan yang cewek tinggal kasih aja ke Bibik! Kalau cewek, mainan yang cowok kasih ke Via!"
Sinta mengangguk dan Via pun ceria. "Alhamdulillah... rezeki anak shaleh emang nggak kemana." seru Via sambil mengusap lembut perutnya. Alex dan Sinta pun tersenyum.
...Flesback Off....
"Kamu pahamkan maksud Tante?" tanya Via.
Meira menganggukkan kepala. "Mamah udah berulang kali bilang kok Tan. Aku juga tau, seberapa besar kasih sayang Ayah, tapi hatiku nggak bisa menerimanya."
Via paham dan berdiri dari tidurnya. "Baiklah, udah malem nih, kita lanjut besok ya. Besok pagi kamu harus Sekolah!"
Meira mengangguk, dan ia pun berdiri dari duduknya. Via merangkul Meira dan pergi masuk ke dalam. Meira membaringkan tubuh ke kasur, dan Via menyelimuti tubuhnya. Via pergi dari kamar. Meira mulai memejamkan mata dan tertidur.