
Alex pulang ke rumah dengan tergesa-gesa dan panik. Ia memarkirkan mobil di halaman dan pergi masuk ke dalam. Terlihat di ruang tamu Via tengah mondar-mandir. Alex langsung menghampiri Via dengan panik.
"Ven, ada apa? Perutmu sakit atau keram? Mau ke Dokter?" tanya Alex, sambil memegang kedua bahu Via.
Vena meraih kedua tangan Alex dan menurungkannya. Ia pergi duduk ke salah satu sofa. "Duduk dulu Mas!"
Alex duduk di sofa lain dan melihat ke arah Vena. "Ada apa? Tadi Mas tanya, nggak dijawab."
Vena menceritakan soal perjanjiannya dengan Kiara. Ia juga menceritakan obrolan mereka di Cafe. "Waktu kita tersisa sebulan Mas, kalau enggak, Meira bakalan pergi ke keluarga Sinta."
Alex menyenderkan tubuh di sofa, sambil memijat pelipis. Kepalanya terasa sangat pusing, masalah yang menimpa di keluarganya akhir-akhir ini semakin banyak. "Mas yakin, Kiara pasti mau bantu kamu! Yang mang takutin satu, gosip di luar tentang kamu," ucapnya, sambil memejamkan mata.
Vena terkejut, ia lupa dengan posisinya sekarang. Saat ini memang, pernikahan Vena dan Alex telah resmi secara agama serta Negara, tapi, bagaimana dengan Meira? Jika kabar tentang Vena terdengar di telinga para fans. Hidup Meira pasti menderita dan kondisi jiwanya makin memperburuk. Vena belum siap dan khawatir.
Alex kembali duduk dengan tegak dan melihat ke arah Via. "Ven, jangan terlalu kamu pikirin! Mas nggak mau, kehamilan kamu terganggu."
Vena menghela napas pelan, berusaha mengatur emosinya. "Aku usahain Mas, tapi..." ucapnya menggantung, "Gimana kalau fansnya Meira tau?"
Alex pergi mendekat dan menggegam kedua tangan Vena. "Semuanya biar Mas aja yang handel, kamu nggak perlu pikirin hal itu, walaupun sulit." Ia mencium kedua tangan Vena dengan lembut. "Jaga calon baby kita dan... aku titip Meira."
Vena mengusap lembut pipi kiri Alex. "Kamu nggak perlu khawatir, aku sangat menyayangi Meira seperti anakku sendiri, Mas."
Alex tersenyum dan mengecup lembut kening Vena. Tak lama Meira datang dan membuka pintu dengan keras. Alex yang tengah mencium Vena kaget dan spontan menjauh. Meira mengerutkan kening, melihat Alex dan Vena salting.
Astaga, kalau mau ciuman di kamar ngapa batin Meira dan pergi melewati kedua Orang Tuanya, tanpa menyapa.
"Meira!" panggil Alex dan Meira pun menghentikan langkah kakinya. "Ayah diam bukan berarti ngalah! Ucapin salam aja apa nggak bisa? Kamu pikir ini perbuatan yang bagus?!"
Meira menekuk wajahnya dan kesal. "Hei, siapa yang nggak ngucapin salam?! Gue tadi udah bilang, tapi lo pada kagak denger paling," sahutnya, membuat Alex dan Vena terkejut. "Ohh iya, anda tadikan bahas soal perbuatan yang bagus, ya? Hmm, ngaca dulu deh Kek!" Meira sungingkan senyum sinis, sambil membalikkan badan.
"Meira! Apa yang kami lakuin tadi, tidak seperti yang kamu pikirin kok, jangan salah paham ya!" ucap Vena, setelah berdiri dari duduknya.
Meira sedikit memutar tubuh ke belakang. "Jangan salah paham? Kaliankan udah sah secara Negara, nyium Istri sendirikan nggak dilarang kalik. Nikah sirih aja udah melendung, masa cuman ciuman nggak bisa!" Ia terlihat tengah tertawa sinis.
Alex dan Vena tertegun. Alex ingin sekali menampar mulut Meira, namun ia urungkan. "Meira! Ayah hanya mencium kening Mamah Via!"
"Kagak nanya!" ketus Meira sembari pergi menaiki tangga.
Alex sudah lelah dan muak. "Meira!" bentaknya dan hendak menghampiri Meira. Via dengan sigap menahan tangan Alex. "Lepas!"
Vena menggelengkan kepala, sambil menangis. "Jangan Mas, aku mohon! Hiks hiks hiks." tiba-tiba perut Sinta terasa sakit. "Arghh."
Alex langsung memeluk Vena. "Keram?" tanyanya panik dan Vena mengangguk dengan ekspresi kesakitan. Alex langsung menggendong Via dan membawanya ke Rumah Sakit.
Terlihat di lain sisi, Meira melihat kepergian Alex dengan Vena. Ia mengepalkan tangan dan memukul jendela. "Sialan, nggak akan gue biarin lo berdua bahagia!" ucapnya dengan kesal.
...🍁...
"Tante buat curos lagi loh, rasa stroberi, Meira mau?" tawar Via sambil tersenyum dan memberikan kotak berisi curos.
Meira melihat ke arah Via dan beralih ke kotak itu. Ia pun mengambil curos. "Makasih Tante."
Via tersenyum lembut dan sedikit memiringkan kepala. "Sama-sama sayang."
Jino melirik Alex. Mereka berdua berbicara lewat mata. "Ehem," Jino berdeham. "Meira, bagaimana kalau kamu pensiun dari dunia hiburan?"
Meira memakan curos dan menoleh ke arah Jino. "Nggak, aku cuman mau istirahat sebentar aja!" sahutnya, setelah menelan curos.
Jino melihat ke arah Alex. "Chika kembali ke kampungnya, dia nggak bisa jadi manager kamu," ucap Alex memberitau.
Meira menggebrak meja dengan tatapan penuh amarah. "Apa?! Lo pasti yang nyuruhkan!" Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca.
Mereka berempat kaget, dengan sikap Meira. "Meira, sama Orang Tua enggak boleh lo gue!" ucap Via lembut.
Meira tak memperdulikan ucapan Via dan masih menatap tajam Alex. Melvin merasa kesal dengan sikap Meira, baginya ini sudah keterlaluan. "Mau sampek kapan lo begini! Luputnya lo ngamuk, jadi brandalan! Lo kagak mikir, peras---"
Meira menunjuk Melvin dengan jari terlunjuk. "Diem! Lo sama brengseknya, kayak dia! Laki-laki yang tidak tau diri, hanya mengandalkan kekuasaan dan nafsu!" ucapnya tegas dan sedikit lirih. "Lo nggak perlu nasehatin orang! Telan aja tuh nasehat, supaya sadar diri! Kaca lihat lo aja pecah, apalagi gue!"
Meira pun membalikkan badan dan hendak pergi. Melvin menarik tangan Meira dengan kuat dan menatapnya dengan tajam. "Lo mau gue sadar dirikan? Kalau gitu, lampiaskan semua kemarahan lo ke gue!
Meira tersenyum smrik dan tertawa sinis. " Lo bilang apa? Lampiasin kemarahan gue ke lo? Come on Bro!" Meira menepuk-nepuk pipi kanan Melvin. "Kalau gue lampiasin semuanya, kasihan dong cewek lo yang manja dan... emm jangan marah ya, ren-da-han itu! Entar kalau mewek gimana? Lihat cowoknya mati, aduhhh ribet, Bro! "
Melvin semakin kesal dan terus menatap tajam Meira, yang tengah tersenyum sinis. "Lo benar-benar berubah! Apa yang lo lakuin ini salah! Lo bisa kehilang---"
"Gue udah kehilangan semuanya, ngapa?" potong Meira dengan suara yang sedikit lirih. Mata Meira dan Melvin saling bertemu. "Jadi, lo lebih baik jauh-jauh deh, dari gue! Jangan pernah lo muncul dihadapan gue lagi!" Meira pergi meninggalkan tempat.
Hati Melvin terasa begitu sakit dan membeku. Ia merasa, seluruh hidupnya telah hancur. Via pergi menyusul Meira dan Vena pun mendekati Melvin. Vena mengusap punggung Melvin. "Apa kalian ada masalah? Kayaknya, Meira begitu marah sama kamu?" tanya Vena.
Melvin melihat ke arah Vena dan tersenyum getir. "Tante jangan khawatir, saya akan berusaha kembalikan Meira seperti dulu lagi!" ucapnya spontan dari lubuk hati paling dalam.
Vena tersenyum dan mengusap puncak kepala Melvin. "Tante yakin, cintamu pasti bisa bikin Meira luluh, kalau perlu bantuan kabari aja!" Melvin mengangguk, mengiyakan ucapan Vena.
Jino menyenggol Alex. "Ststt, otw besana nih!" godanya ke Alex.
Alex menatap Jino datar. "Samperin Via sono!"
"Ck," Jino berdecak sebal. "Perasaan lo berdua yang jadi Orang Tua Meira, ngapa gue sama Via yang maju." Jino kesal dan pergi.
"Tukeran posisi bentar," sahut Alex, "Pastiin Meira nggak lecet sedikit pun!"
Jino menunjukkan tangannya yang buka tutup, seakan-akan mulut yang berbicara, tanpa membalikkan badan. Jino pergi menemui Via dan membantunya menghibur Meira. Alex menghampiri Vena dan bicara dengan Melvin.