MeiMel

MeiMel
Hukaman



Melvin dan Bima berdiri, berdampingan dan melihat ke arah Wanita paruh baya itu. Wanita itu adalah Guru Bk, Mirna Melvin dan Bima terlihat pasrah dan menghela napas. Bu Mirna menghampiri mereka berdua dan menjewer telinga. Bima dan Melvin, hanya menahan rasa sakit itu dan diam.


"Melvin, Melvin! Baru... aja dua bulan sehat, udah kumat lagi! Mau mu tuh apa, hah!" kesal Bu Mirna, mengecangkan jewerannya.


"Arghhh, sa-skait Bu!" Melvin kesakitan, ia pegangi tangan Bu Mirna, yang menjewer telinganya.


Bima tertawa dan Melvin pun memberikan tatapan tajam. Melvin menginjak kaki Bima dengan keras dan tertawa. Bima kesakitan dan hendak membalas Melvin, namun terhenti.


Bu Mirna menekan jewerannya, ke telinga Bima. "Bima! Bisa-bisanya kamu ketawa, waktu Ibu ngomong, hah!" bentaknya, membuat Bima diam dan mengaduh kesakitan. "Jadi Ketua Osis, bukannya ngasih contoh yang baik malah tauran! Muka pada bonyok begini! Mau, saya laporin ke Orang tua kalian!"


"Jangan...!" teriak Melvin dan Bima bersamaan.


Bu Mirna tersenyum senang. "Ehem, kalau gitu..." ia mengambil lipstik di kantongnya dan mencoret wajah Melvin serta Bima. "Nah... makin ganteng nih kalian!"


Melvin dan Bima memasang ekspresi muram. Bibir mereka berdua, terlihat sangat merah dan wajahnya, penuh coretan dari lipstik. Bu Mirna tertawa geli, melihat wajah tampan anak muridnya, yang hancur. Beberapa murid yang melihatnya pun ikut tertawa, tapi mereka tahan. Mereka bersembunyi, supaya tidak ketahuan Bu Mirna.


"Kalian berdua hormat di depan bendera sampai jam istirahat! Jangan lupa kata-katanya!" Bu Mirna memberikan teks ucapan, untuk Melvin dan Bima. Bu Mirna pergi meninggalkan mereka berdua, sambil tertawa.


Melvin dan Bima hanya bisa menghela napas. Mereka berdua menghapal teks itu dan berdiri di depan tiang bendera. Mereka memeberikan hormat dan berucap, "Saya berjanji, akan berlaku baik dan tidak tauran lagi! Jika kami berdua melanggar, kami akan meminta maaf dan berpelukan! Kami akan menerima hukuman untuk membersihkan halaman Sekolah dan kamar mandi dengan senang hati!" Bima dan Melvin merasa kesal. Mereka terus mengulanginya hingga bel istirahat.


Para murid yang melihat dari balik jendela, tertawa cekikikan, melihat dua idola Sekolahan kena hukaman. Tak lama, bel pun berbunyi. Mereka berdua langsung pergi ke bawah pohon yang besar, untuk berteduh. Rambut dan Baju mereka mulai basah, karena keringat. Wajah mereka pun mulai gosong.


"Akhirnya... selesai juga," ucap Bima, dengan nada lelah, sambil duduk dan meluruskan kaki.


Melvin membaringkan tubuhnya di bawah pohon dan merentankan ke dua tangan. "Sialan, panas bener hari ini!" keluhnya. "Gile tuh Guru, ngasih hukuman, kagak ngira-ngura apa ya?! Kulit sampek gosong begini."


Bima menghela napas dan memejamkan mata, menikmati suasana di bawah pohon. "Yang penting, kita bisa terbebas sekarang!" ucapnya dengan santai dan Melvin mengangguk.


Tiara datang menghampiri Melvin dan memberikan air dingin ke pipinya. Melvin terkejut dan bangun. "Tiara! Lo ngapain?"


Tiara tersenyum dan memberikan air putih dingin ke Melvin. "Nih! Lo pasti hauskan!"


Melvin tersenyum dan menerima air itu. "Makasih." ia minum air itu dan menghela napas lega. "Wahhh, kenikmatan air dingin yang tiada taranya, rasanya langsung mak nyes..."


Tiara tertawa mendengar ucapan Melvin. Bima yang berada di sana, hanya diam saja dan pura-pura tidak tau. Tanpa mereka bertiga ketahui, Meira yang berada tidak jauh dari tempat itu, terlihat murung. Ia ingin memberikan es jeruk ke Melvin, namun telah keduluan.


Meira pun pergi menghampiri Bima dan memberika es itu. "Bim, nih! Lo pasti hauskan."


Bima membuka matanya dan melihat ke arah Meira. "Tumben?"


Meira manyun dan menarik lagi tangannya. "Kalau nggak mau ya udah!"


Bima langsung mengambil es jeruk itu dan meminumnya. "Kalau udah ngasih orang, jangan diminta lagi!"


"Cih." Meira memutar bola matanya malas dan melirik Melvin sebentar. Terlihat, Melvin dan Tiara tengah berbincang dengan asik. Meira pun menghela napas dan duduk di samping Bima. "Ohh iya Bim, makasih ya, lo udah ajarin gue dulu, soal pelajaran Jerman!"


Bima mengangguk sambil tersenyum. Terlihat di sisi lain, Tiara tengah mengobati Melvin dengan mesra. Meira hanya diam dan tak mau tau. Tiara terusan saja memanas-manasi Meira. Namun Meira, masih bisa merendam amarahnya.


"Ehhh." Meira mendekat ke arah Bima. "Hidung lo...?"


Bima salting, karena jarak di wajahnya dengan Meira sangatlah dekat. "Emmm, ng-gak pa-pa." Ia memalingkan wajah dan Meira pun duduk di posisi awal.


"Ke UKS yuk!" ajak Meira, sambil menarik tangan Bima.


Bima melihat ke arah tangannya yang digenggam Meira. Ia tersenyum dan menarik tangan Meira, hingga terjatuh di pelukannya. "Nggak perlu ke UKS, dengan lo disini aja, luka gue langsung sembuh."


Meira manyun dan menjauh dari Bima. "Gombal!" ia pergi meninggalkan tempat, tanpa pamitan.


"Nggak jadi obatin woi?" teriak Bima.


"Enggak!" sahut Meira, tanpa membalikkan badan. Bima tersenyum dan pergi ke UKS sendiri dengan es jeruk di tangan kanan. Ia harus mengobati lukanya dan kembali melaksanakan tugas yang terbengkalai. Tiara dan Melvin, terlihat kesal.


Sialan Meira, bisa-bisanya dia romantisan gitu di depan gue, awas aja lo! batin Tiara.


...🍁...


Jam istirahat telah selesai, beberapa jam yang lalu. Kini pelajaran ke tujuh telah dimulai. Terlihat di Kelas XI IPS 1, para Murid tengah sibuk mengerjakan tugas dari Guru.


Melvin menggegam bolpennya dengan kuat. Sialan tuh anak, bilangnya suka sama gue, tapi bisa-bisanya, romantisan sama cowok lain di depan gue! batinnya kesal. Tanpa sadar bolpen itu pecah, membuat Aldo kaget.


"Busetttt, lu ngapa Bro? Ada masalah apaan? Sampek bolpen jadi korban begitu!" tanya Aldo.


Melvin melihat ke arah tangan kanannya. Terlihat, bolpen itu remuk. "Weh, kok pecah begini?" ia bingung dan terkejut.


Aldo yang melihat tingkah Melvin, dibuat bingung. "Ck, lo mikirin apaan? Sampek bolpen pecah aja, lo kagak tau!"


"Mikirin, cara ayam supaya bisa terbang kayak burung!" sahut Melvin, tanpa melihat Aldo. Ia bersihkan pecahan bolpen itu dan menaruhnya ke laci.


Aldo berdecak sebal dan melanjutkan nulisnya. Ia merasa kesal, karena Melvin tidak mau memberitaunya. Melvin mengambil bolpen satunya dan kembali nulis. Tak lama, notifikasi masuk ke dalam handphone Melvin. Ia pun diam-diam membukanya.


...Room Chat On....


Via :


Anter dia ke rumahnya. [13.25]


Melvin :


Iya Mah. [13.25]


Via :


Good👍 [13.26]


...Room Chat Off....


Melvin mematikan handphone dan memasukkannya ke kantong celana. Ia kembali menulis dan berpikir, Ngapa Mamah minta gue pulang bareng Meira ya? batinnya.


°°°°°


Terlihat di tempat lain, Kelas XI IPS 4. Tempat itu sangat ramai, karena jamkos. Para murid ada yang mengobrol, kejar-kejaran, main game dan juga tidur. Meira dan Dila kini juga tengah mengobrol berdua.


"Serius lu?!" tanya Dila, tak percaya.


Meira menganggukkan kepala. "Kelihatan jelas di mata Tiara, Dil. Kayaknya, dia balas dendam sama aku!"


"Wahhh parah," ucap Dila sambil menggelengkan kepala. "Balas dendam tuh boleh, tapi jangan gini amat dong! Masa' sahabat gue yang paling cantik ini, tiba-tiba jadi tukang kebun, karena udah nipu dia!"


"Kok nadanya nggak enak ya?" tanya Meira sambil melihat ke arah Dila.


Dila tertawa dan menepuk punggung Meira. "Maaf-maaf, gimana kalau kita kerjain balik?" tanyanya, sambil menaik turunkan alis.


"Hmmm." Meira berpikir. "Pingin sih, tapikan aku duluan yang mulai."


"Sekali-kali, lo kan bukan pemeran protagonis, yang selalu baik dan kalem, hahaha!" ucap Dila, di akhiri tawa.


Meira manyun. "Dih, sejak kapan juga, gue jadi pemeran protagonis, jadi tokoh figuran aja kagak kesampaian, hahaha."


"Hahaha, jadi gimana nih?" tanya Dila, sambil menghentikan tawa.


Meira menganggukkan kepala. "Ayolah!" ia dan Dila pun merancang misi untuk Tiara. Mereka terlihat, sesekali tertawa dan tersenyum jahat. Bel pun berbunyi dan jam pelajaran berganti. Para murid kembali ke posisi semula dan diam.


...🍁...


Bel pulang berbunyi dan para murid pun berhamburan keluar dari Kelas. Tiara, Adel dan Dea, baru saja keluar dari Kelasnya. Tak lama Bu Harni datang, sambil membawa kotak yang penuh dengan gelas. Gelas itu, biasanya di pakai untuk kegiatan MIPA di lab.


"Tiara!" panggil Bu Harni dan memberikan kotak itu ke Tiara. "Tolong taruh kotak ini ke lab ya, Ibu ada perlu mendesak!"


Tiara menerima kotak itu dan mengangguk, "Baik Bu." Bu Harni berterimakasih dan pergi. "Kalian duluan aja, entar gue susul di Cafe!" ucap Tiara dan pergi.


"Oke, ati-ati, Tir!" pesan Adel. "Denger-denger, lab MIPA angker loh... banyak-banyakin doa!"


"Iya Tir, sebelum masuk baca Ayat Kursi, kalau nggak bisa, Al Fatihah juga nggak papa!" ujar Dea.


"Bodo amat, gue kagak denger!" sahut Tiara. Adel dan Dea berusaha menakut-nakuti Tiara, namun gagal. Mereka berdua, hanya tertawa melihat Tiara dan pergi meninggalkan tempat.


Tiga menit kemudian, Tiara sampai di lab MIPA. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam. Sesampainya di depan meja, ia langsung menaruh kotak itu dan membalikkan badan.


"Huh, mana ada hantu di siang bolong begini!" ucap Tiara, setelah melihat ke dalam rungan itu. Ia hendak pergi dari lab, namun terhenti. "Kyaaaa!" teriaknya dengan sangat keras. Tiba-tiba saja, sebuah ular mainan mengenai wajahnya. Ia pun terkejut dan jatuh.


Tiara merasa kesal dan berdiri tegak. Ia pergi mencari orang yang telah mengerjainnya. "Woi, keluar lu! Beraninya cuman di belakang doang!" di tengah ruangan, ia terpeleset dan lagi-lagi terjatuh. Kali ini, ia terjatuh karena sabun cair.


Tiara terlihat begitu marah dan kesal. Ia pun berdiri dan mengepalkan ke dua tangannya. "Keluar lo! Dasar pengecut! Beraninya di belakang dong!" ucapnya penuh emosi, sambil berjalan ke arah lemari yang terletak di belakang. Langkah kakinya seketika terhenti. Wajahnya pun mulai berubah, menjadi takut. "Kyaaaaa!"


Puluhan tikus, tiba-tiba muncul dan berjalan bebas mengelilingi ruangan. Tiara terkejut dan pergi dari ruangan. Meira dan Dila pun keluar dari persembunyiannya. Mereka berdua tertawa, melihat reaksi Tiara.


"Hahaha, mampus!" ucap Dila, sambil memegangi perutnya.


Meira pun ikut tertawa. "Lihat nggak, tadi wajahnya?" tanyanya dan meniru Tiara. "Kyaaaa!"


Dila yang melihat Meira, meniru gaya Tiara, semakin ngakak. Perutnya terasa sakit, karena kebanyakan tertawa. "Udah ahh, perut gue jadi sakit njir!"


Meira tertawa kecil, "Balik yuk, geli nih gue!" ajaknya sambil melihat ke arah tikus-tikus itu.


Dila berhenti tertawa dan tubuhnya menjadi merinding. "Hiiii! Gilanik, ayolah!" Dila dan Meira pun kabur dari ruangan. Meninggalkan kekacauan di lab. Sebelumnya, mereka sudah meminta tolong Pak Bon Sekolah, untuk membersihkan ruangan itu dan membayarnya. Sesuai permintaan, Pak Bon pun datang dan membersihkan ruangan.


...🍁...


...Apa kabar guys? Semoga kalian semua sehat selalu. Beri aku dukuangan lewat, like, komen, hadiah, favorit dan vote ya. ...


...See you all....