
Langit mulai cerah, matahari terbit dengan begitu indah. Seorang gadis cantik tengah berdiri di teras sendirian, menikmati hembusan angin yang segar. Rambutnya yang tergerai, bergoyang ke kanan dan ke kiri. Ia terlihat murung dan tidak memiliki semangat.
"Semuanya udah pergi, untuk apa aku di sini," ucap Meira lirih. Ia genggam erat pagar besi itu, sambil menangis. Dadanya terasa sakit dan sesak.
Meira jatuh terduduk. Ia menyenderkan kepala ke pembatas besi itu, sambil menangis. Meira tak menyangka, jika Alex berselingkuh. Rasa benci Meira semakin membesar. Ia benar-benar kesal, marah dan kecewa. Ingin sekali dirinya mencekik Alex, hingga meninggal.
Tak lama, Meira tersenyum dan menghapus air mata. Kalau itu mau dia, baiklah... akan aku balas kebaikannya.
Meira berdiri tegak dan pergi ke arah almari kecil dan tinggal. Ia mengambil kain dan menaruhnya di bawah lemari. Ia dorong benda itu secara pelan-pelan, ke arah pintu. Setelah itu, ia bawa beberapa barang yang berat ke pintu.
Pintu itu terlihat penuh dengan beberapa barang. Perlu dua jam, untuk Meira menatanya. Meira mengambil kursi belajar dan memukul ke dinding, hingga patah. Ia ambil kaki kursi itu, untuk merusak semua benda yang ada di dalam kamar. Ia pecahkan pintu kaca yang menjadi penghubung kamar dengan teras. Pecahan kaca yang besar, ia ambil dan pergi ke arah kasur.
"Mari bersenang-senang!" Meira tersenyum smrik dan merobek kasur busa dengan pecahan kaca. Busa-busa itu ia ambil dan lempar ke atas.
Kamar itu sangat berantakan, busa dan pecahan barang bersebaran di mana-mana. Terdengar dari arah luar kamar Meira, ada sura teriakan dan dobrakan. Seseorang berusaha mendobrak pintu itu berulang-ulang kali. Meira tak memperdulikannya dan terus tertawa, sembari memainkan busa.
"Meira! Buka pintunya Nak!" teriak seorang Wanita dari luar.
"Nonnn! Ini Bibik, tolong buka pintunya, Non!" teriak Bibik Tika.
"Meiraaa! Buka pintunya!" teriak Alex.
Melvin, Jino dan Alex mendobrak bersama-sama. Barang-barang yang menahan pintu itu jatuh. Meira kaget dan langsung pergi memonjok dengan ketakutan. Mereka yang ada di luar pun, pergi masuk ke dalam. Wajah mereka semua kaget, melihat kondisi Meira dan kamar.
"Vena, kamu keluar!" pinta Alex.
"Tapi..." Vena, tidak ingin pergi.
"Keluar!" tegas Alex, membuat Vena kaget. "Di sini bahaya, lebih baik kamu nggak ikutan!" Vena mengangguk dan pergi.
Via ingin menghampiri Meira, namun dicegah oleh Alex dan Jino. "Lepas, aku mau samperin Meira!" pintanya lirih.
"Jangan Vi, Meira bisa lukain kamu!" ucap Jino, yang masih menggegam tangan Via.
"Yang dibilang Jino bener," ujar Alex. "Ini bukan tugas lo Vi, biar gue aja!" Alex pergi menghampiri Meira dengan pelan-pelan.
Meira menodongkan kayu ke arah Alex. Via, Jino, Melvin dan Bik Tika hanya bisa berdoa. "Meira, Apa yang udah Ayah perbuat memang salah. Ayah tau, kamu kecewa dan marah. Tapi Ayah mohon, kamu tenang dan kembali seperti biasanya," ucap Alex dengan lembut. "Kamu boleh benci dan hukum Ayah, tapi, jadilah Meira yang biasanya. Mamah pasti sedih di surga sana, kalau lihat kamu begini. Kamu mau, Mamah men---"
Bugh.
"Alex!"
"Tuan!"
Via, Jino, Bik Tika berteriak kaget. Meira melempar kayu itu ke arah Alex, hingga kepala sang Ayah berdarah. Alex memegangi kepalanya yang berdarah dan Melvin tiba-tiba sudah berada di dekat Meira.
Melvin menampar Meira, membuat mereka semua kaget. Melvin menatap Meira dengan mata yang berkaca-kaca dan memerah. Meira memegangi pipinya sambil menangis. "Mau sampek kapan lo begini, hah?! Lo hidup nggak sendiri! Banyak orang yang sayang dan nunggu lo! Lihat apa yang udah lo perbuat!" ucap Melvin marah.
Meira melihat ke arah Bik Tika dan Via yang sedang menangis. Ia memamlingkan wajah dan meneteskan air mata. Suasana di ruangan itu seketika hening. Melvin mendekat ke arah Meira dan memberikan satu buah obat. Meira ingin menolak, tapi Melvin menatapnya tajam. Meira mengambilnya dan meminum obat itu.
"Nih!" Melvin memberikan aqua kecil. Via yang melihatnya di buat bingung. Sejak kapan Melvin membawa obat dan minum.
Meira meminum air putih dan memberikan ke Melvin. "Makasih," ucapnya lemah, sambil menunduk.
Melvin mendekat dan menggegam tangan Meira. Meira terkejut dan menghempaskan tangan Melvin. Meira langsung pergi keluar. Via pun menyusul dari belakang bersama Bik Tika. Melvin menundukkan kepala dan melihat ke arah tanganya. Ngapa rasanya sakit?
Jino membantu Alex untuk berdiri. "Melvin, ayo keluar! Biar kamarnya bisa langsung dibersihin!" Melvin mengangguk dan membantu Jino, membawa Alex pergi.
...🍁...
Sila dan Delon tidak dapat tidur semalaman, memikirkan Dila. Tak lama, mata Dila terbuka. Sila dan Delon terlihat senang. Mereka langsung mendekati Dila.
Sila menggegam salah satu tangan dan mengusap lembut rambut Dila. "Dila.. hiks akhirnya, kamu sadar juga."
"Aku panggil Dokter dulu," ucap Delon memberitau dan Sila pun mengangguk. Delon pun pergi sebentar dari kamar.
Dila merasa lemas dan tidak ingin bicara. Ia memalingkan wajah, melihat ke arah yang lain. Hatinya masih belum siap, bertemu dengan Sila dan Delon. Sila sadar, ia pun melepas genggaman tangan dan mimilih untuk diam. Sila menunduk dan menghapus air matanya.
Tak lama Delon dan Dokter datang. Dokter pun memeriksa kondisi Dila. "Pasien masih lemah, Jangan buat dia stres atau berpikir yang berat-berat! Pasien masih perlu istirahat."
"Baik Dok," sahut Sila sambil tersenyum paksa. Dokter itu mengkode Delon, untuk pergi keluar. Delon paham, dan mereka berdua pun pergi.
Delon menutup pintu dan bertanya, "Ada apa Dok?"
Dokter melihat ke arah Delon. "Saya lihat, umur kalian masih muda, apa itu benar?"
Delon bingung dan mengangguk, "Iya, umur kami masih tiga puluh empat, tiga puluh lima. Apa ada masalah Dok?"
Dokter itu tersenyum, dugaanya tidak salah. "Bawa pasien ke Psikiater, dengan begitu dia akan pulih. Kalian juga bisa meminta saran pada Psikiater, tata cara menjadi Orang Tua," sarannya. "Anak kalian sudah menginjak remaja, bisa bahaya jika tidak ditangani secara langsung!"
Delon memejamkan mata dan menghela napas pelan. "Saya dulu sudah memikirkan ini, tapi... Saya takut jika Dila membenci dan marah pada kami."
"Anda tidak perlu khawatir, ada Psikiater dan Tuhan yang akan membantu kalian berdua. Dunia sudah kacau balau, jika kita sebagai Orang Tua tidak pandai-pandai menjaga anak, mau jadi apa Negara ini!" ujar Dokter.
Delon mengangguk paham, apa yang dikatakan Dokter memang benar. "Trimakasih Dok, saya akan berusaha membujuknya."
Dokter itu tersenyum. "Tapi, jangan terlalu dipaks! Kondisi pasien masih belum setabil," pesannya dan Delon pun mengangguk. "Permisi!"
Dokter itu pergi meninggalkan tempat. Delon masuk ke dalam kamar inap. Terlihat, Dila hanya berbaring di ranjang dengan diam dan Sila yang berusaha mengajak ngobrol. Delon mengambil napas dan membuangnya. Ia pergi menghampiri Dila dan Sila.