
Pagi hari kemudian, Meira yang baru saja selesai mandi, pergi ke teras kamar. Udara yang terasa begitu segar, terhirup oleh hidung mancungnya. Terlihat di halaman rumah, ada mobil pick up yang membawa perlengkapan studio.
"Hmmm, Ayah nyewain rumah buat syuting ya?" pikir Meira. Bik Tika dari bawah, melambaikan tangan ke Meira dan memintanya untuk turun ke bawah. Meira menganggukkan kepala dan turun ke bawah.
Meira baru saja sampai di lantai satu, namun seseorang datang menutup kedua matanya. Siapa nih, kok kayak tangan cowok, ya? Meira pun meraba tangan itu. "Siapa sih ini? Lepas kagak!"
Melvin melepas kedua tangannya dari mata Meira. "Judes amat Mbk, pagi-pagi."
Meira membalikkan badan dan melihat ke arah Melvin. "Lo nginep di rumah gue?"
"Kagak," sahut Melvin singkat.
"Gue kirain nginep," kata Meira dan pergi ke arah luar rumah. Melvin pun menyusulnya. "Btw, acara mana yang mau syuting?"
"Acara you tube," sahut Melvin.
"Hah?" Meira kagak paham.
Melvin dan Meira telah tiba di halaman rumah. Terlihat banyak sekali orang-orang yang lewat di depan mereka. "Persiapan buat vidio klarifikasi kamu."
"Whatttt?!" teriak Meira begitu kencanh. "Kenapa seribet dan serame ini sih! Nggak, aku nggak mau! Suruh sebagian orang-orang itu balik deh!"
Melvin merangkul Meira dan menunjukkan ke arah sekumpulan orang, yang sedang mempersiapkan kamera serta laptop. "Di sana lo cuman buat vidio klarifikasi. Tuh Mbk-Mbk yang nyiapin Make up dan baju lo, buat pemotretan dan vidio."
"Ehhhh, pemotretan apa?" tanya Meira bingung.
"Lo kan masih ada perjanjian kontrak sama beberapa klien! Jangan bilang lo lupa?" Melvin menatap Meira.
Meira tersenyum kikuk dan memalingkan wajah. "Bentar, mereka nggak mutusin kontraknya?"
"Beberapa iya, sisanya kagak. Lo cuman bikin vidio beberapa kali untuk stok hari berikutnya ples foto juga," ucap Melvin memberitau.
"Hmmm, capek banget dong hari ini." Meira mengerucutkan bibirnya dan murung.
Melvin mengacak-acak puncak kepala Meira. "Ganbatte!"
Meira mengangkat pandang dan melihat ke arah wajah tampan Melvin. "Widihhh, belajar bahasa baru ya?"
"Keingetan waktu lo ngomong Nany. Gue jadi pelajarin sedikit tuh bahasa Jepang," sahut Melvin. "Kalik aja gue dapet klien orang Jepang, kan lumayan."
"Hmm bener juga." Meira mengangguk-anggukan kepala, kecil dan pergi menghampiri keluarganya dan Melvin.
Via, Vena, Alex dan Jino tengah duduk-duduk di bawah pepohonan, sambil menikmati secangkir kopi serta teh. Tak lama, Meira dan Melvin pun bergabung.
"Kalian kenapa dandan juga?" tanya Meira ke Vena dan Alex.
"Ikut klarifikasi, kan aku juga jadi perbincangan," sahut Vena.
"Nggak, aku menolaknya! Kalau kalian nekat ikut, aku nggak mau klarifikasi!" tegas Meira, membuat mereka semua terkejut.
"Iya sayang, mau nggak mau, kalian bertiga harus klarifikasi," kata Via membantu Melvin, membujuk Meira.
"Jika hal ini ditanggung bersama-sama, pasti akan terasa ringan, Nak," ujar Jino.
"Aku mengerti maksud kalian, tapi... lebih baik aku sendirian aja. Aku udah terbiasa akan hal ini, kalau kalian mau klarifikasi, lewat story instagram aja, ya," ucap Meira.
"Hufff, baiklah," sahut Vena menurut.
"Kalau itu mau kamu, Ayah ngikut," kata Alex, mengiyakan. Meira tersenyum lembut.
Persiapan mulai siap, Meira segera memakai make up dan berganti pakaian. Dres putih selutut dan tali pita di pinggang, warna emas. Meira duduk di kursi kayu, dengan bakgraund pepohonan. Setelah semuanya siap, live pun di mulai.
"Assalammualaikum, guys," sapa Meira dengan senyum yang cantik, sambil melambaikan tangan. "Hari ini aku mau klarifikasi, soal kehebohan yang telah terjadi akhir-akhir ini. Emmm, seperti yang kalian tau, aku memang sedang sakit dan orang yang keluar masuk rumahku adalah Psikiater. Aku tidak menyangkal fakta itu. Inilah kenyataanya guys, aku terlalu capek, karena pekerjaan yang menumpuk, di tambah tugas Sekolah dan permasalahan keluarga."
Meira tersenyum getir dan menyeka air matanya yang hampir jatuh. "Tubuhku yang udah mulai lelah, di tambah ujian atas kepergian Almarhum Mamah dan dan datangnya seseorang, yang udah kalian semua ketahui. Rasanya bener-bener, gimana ya? Aku bingung ngomongnya," ucapnya dan tertawa getir. "Yahhh, seperti yang kalian lihat di vidio. Aku kelepasan dan... mengamuk seperti itu."
Melvin melipat ke dua tangan di depan dada dan memberikan senyum ke Meira. Kedua mata mereka saling bertemu. Melvin menyemangati Meira lewat senyumnya dan mata.
"Kini hubungan keluargaku baik-baik saja. Kami saling terbuka dan mulai hidup, pada umumnya keluarga. Aku ucapkan terimakasih kepada Meibest dan para penggemar yang lain, atas kesetian serta dukungan kalian. Aku pun minta maaf yang sebesar-besarnya, ke pada seluruh penonton, atas keributan dan kehebohan yang terjadi. Semoga kalian semua sehat selalu ya, guys," ucap Meira dengan senyum lembut dan melambaikan tangan. "Bay-bay!"
"Oke, good!" ujar si Perekam dan memberikan jempol.
Meira tersenyum lebar, dengan kepala yang sedikit miring. Chika menghampiri Meira dan memeluknya. "Ya ampunnnn, aku seneng banget, bisa lihat kamu kayak begini lagi."
"Hahahaha, seneng lihat aku syuting lagi atau kangen uangnya?" goda Meira dan mereka berdua pun melepas pelukan.
Chika mengerutkan kening dan manyun. "Seneng lihat kamu lah! Tapi..," dia mendekat ke arah Meira dan berbisik. "Kangen duitnya juga." Mereka berdua pun tertawa kecil.
Tak lama Vena, Via, Melvin, Alex dan Jino datang. Mereka mengobrol sebentar dan masuk ke dalam rumah. Meira berganti baju dan make up untuk photoshoot. Dari ujung kaki hingga rambut, Meira terlihat begitu cantik dan menawan. Mereka semua yang melihatnya terpukau.
"Wawwww, aku kira pakai baju yang buat main loh," ucap Vena tak percaya.
"Kamu sangat cantik sayang, gaunnya terlihat mewah namun sederhana. Di tubuh juga nyatu dan kelihatan nyaman," komen Via.
"Bener-bener, gaunnya tidak terlalu terbuka. Warnanya juga pas dan menawan," kata Vena setuju, dengan pendapat Via. Jino dan Alex menganggukkan kepala, sependapat.
Melvin tersenyum, kagum dan menuntup mulutnya dengan tangan kanan. Dia menundukkan kepala, memainkan handphone. Meira tersenyum malu dan memalingkan wajah.
"Ngapa nih ruangan rasanya berubah ya?" ujar Vena, menyindir.
Via menghirup udara dan memejamkan mata. "Aku mencium aroma taman bunga," ucapnya dengan senyum nakal.
Jino menyenggol tangan Alex dan berbisik, "Jadi nih kita!" Alex hanya diam, sambil menyeruput kopi.
Meira pergi dan melakukan photoshot. Berulang-ulang kali ia ganti pakaian dan membuat vidio pendek, untuk iklan promosi di medsos. Setelah semuanya selesai, Keluarga Meira dan Melvin berfoto bersama. Foto yang terakhir para karyawan dan juga Chika. Kebahagian telah tiba dan senyum indah Meira pun sudah kembali.