
Siang ini, Aldo di ijinkan untuk pulang ke rumah. Aldo dan Alexa pun bersiap-siap. Mereka pergi dari kamar inapnya dan berjalan di lorong. Sementara Aldo menggunakan kursi roda, karena kakinya terluka.
"Entar kamu masuk mobilnya gimana ya? Mamahkan nggak bisa gendong kamu," tanya Alexa, sambil dorong kursi roda.
"Aku masih bisa jalan Mah, nggak lumpuh!" sahut Aldo.
"Hmm, bener juga," ucap Alexa.
Alexa mendorong kursi roda itu, tanpa melihat ke arah jalan. Terlihat, di depan ada tanjakan lantai kecil. Ban kursi dorong itu menabrak lantai dan Aldo pun terhuyung ke depan. Untung saja, seseorang dari depan sigap membantu.
"Aldo!" pangggil Alexa, kaget. Ia berlari ke arah Aldo dan memeluknya dengan erat. "Maafin Mamah, hiks hiks."
Aldo mengusap lembut punggu Alexa. "Nggak papa Mah," sahutnya, "Mamahkan juga nggak lihat."
Alexa melepas pelukannya dan menghapus air mata. "Makasih sayangku." Ia cubit pipi Aldo dengan gemas. Alexa membalikkan badan dan melihat ke arah Pria tersebut. "Trimakasih Pak, udah bantu Anak saya. Seandainya anda tidak ada, entah bagaimana nasib anak saya nanti."
Orang yang menolong Aldo adalah Delon. Ia tersenyum dan mengangguk kecil. "Sama-sama Bu," ucapnya. "Emm, anda Istrinnya Pak Ali bukan?"
Alexa menganggukkan kepala. "Iya, anda?"
"Nama saya Delon, dari perusahaan RFC. Kita pernah bertemu di acara seminar bulan lalu," ucap Delon memberitau.
Alexa berpikir untuk mengingat kembali seminar bulan lalu. "Ohhh saya ingat, Istri anda Sila kan? Seinget saya, kalian udah punya anak."
Delon tersenyum dan mengangguk kecil. "Iya, anak saya bentar lagi umur tujuh belas."
"Wahh, sama dong," sahut Alexa. "Bulan besok, anak saya juga udah tujuh belas."
Delon mengangguk. "Maaf, saya nggak bisa lama-lama, ada perlu soalnya."
"Ohhh tidak apa-apa, silahkan!" ucap Alexa dan Delon pun pergi. Alexa mendorong kursi roda itu sambil ngobrol, "Kata Ayah, anaknya itu satu sekolah sama kamu, lohh."
Aldo menaikkan salah satu alisnya. "Siapa Mah?"
Alexa berusaha mengingat namanya. "Hmm, Adira, Adelia, Delia atau siapa ya?"
"Di sekolah ada yang namanya Adira sama Adel, tapi... apa mereka Mah?" tanya Aldo memastikan.
"Emmm, mungkin, Mamah rada lupa," sahut Alexa sambil senyum mringis dan Aldo hanya bisa menggelengkan kepala. "Btw, Pak Delon ganteng juga, kayaknya masih tiga puluhan deh."
"Mamah suka Om Delon?" tanya Aldo.
"Hmm gimana ya, orangnya sukses, ganteng, lebih muda juga dari Ayahmu," ucap Alexa sambil berpikir. Ia tak sadar jika Aldo merekam obrolannya.
Aldo tertawa dalam hati dan diam-diam mengirim rekaman itu ke Ayah Ali. Alexa dan Aldo telah sampai di parkiran. Aldo turun dari kursi roda dan masuk ke dalam mobil, setelah itu, di susul oleh Alexa. Alexa pun mengemudikan mobilnya ke arah rumah.
...🍁...
"Meira, Tante mau pulang duluan, jaga kesehatan ya! Jangan mudah emosi, sering-seringin minum obatnya!" ucap Via menyerongkan badan ke kiri, melihat Meira yang ada di sebelahnya.
Meira menganggukkan kepala dan diam. Mereka khawatir dengan kondisi Meira, yang terus saja diam dan menolak untuk diperiksa Psikiater. Keluarga Jino terpaksa pulang, karena perintah Pak Rt. Melvin dan Meira seumuran, takutnya jika terjadi sesuatu yang tidak-tidak. Jino dan Via paham, mereka pun menurutinya.
Tak lama Bibik datang. "Nyonya, Tuan, semua barangnya sudah siap semua."
Jino menoleh ke arah Bibik. "Makasih Bik."
Bibik mengangguk sambil tersenyum. Ia membungkukkan badan dan pergi. Keluarga jino dan Alex keluar dari rumah. Mereka bertiga berkumpul di halaman dan berpamitan.
Melvin melihat ke arah Meira,yangtepat berada di depannya. "Heh, gue mau balik, lo masih nekat nggak mau ngomong?" ucapnya pelan dan Meira pun memutar bola matanya jengah. Anjir, gue dikacangi! batin Melvin
Via melihat ke arah Alex. "Lo ingetkan, waktu Meira mukul lo pake kayu, sampek begitu!" ia melihat ke arah kening Alex yang di perban. "Meira cuman lewat, tanpa ngelirik sedikit pun! Dia nggak nanya gimana kondisi lo atau merasa bersalah! Saat ini juga, lo harus rubah sikap atau... lo akan kehilangan dia kayak Sinta!"
Jino menganggukkan kepala. "Yang dibilang Via bener Lex, Lo harus berubah! Gue tadi sempet lihat, Meira tersenyum waktu lo diobati! Firasat gue kagak enak, soal ini!"
Alex dan Vena tertegun mendengar ucapan Jino. "Bik Tika bilang, udah dari dulu Meira pingin elo sama Sinta cerai, kalau perlu..." ucap Via menggantung. "Meira yang bekal turun tangan, tapi niatannya selalu gagal, gara-gara Sinta terus nunjukin rasa sayangnya ke lo!"
"Bik Tika tau ini? Ngapa dia enggak ngomong sama gue!" kesal Alex.
"Ck, hal begini, mana bisa dia ngomong langsung ke lo! Bisa-bisa dia mati, gara-gara lo kagak percaya!" sahut Via.
"Vi-Via, kalau gi-tu Meira sekarang..." ucap Vena ragu dan takut.
Via paham dan menghelan napas pelan. "Dinding yang mencegahnya sudah hilang, sudah pasti dia akan melakukannya!" Vena menundukkan kepala, khawatir. "Kebenciannya ke Alex, sudah tertanam dari kecil, tidak ada seseorang yang bisa menyembuhkan atau menghilangkan! Dendam itu makin membesar dan sekarang telah pecah."
Alex dan Vena merasa risau. Di lain sisi, Meira datang menghampiri mereka berempat bersama Melvin. "Hati-hati!" pesan Meira dan pergi masuk ke dalam rumah.
Melvin melihat ke arah punggung Meira yang terus mengecil dan hilang. Ia merasa kesepian dan hampa. Melvin mencium tangan Alex sama Vena, setelah itu masuk ke dalam mobil.
Alex merasa kesal, karena Meira telah berlaku tidak sopan. "Sorry, Mei---" ucapnya terpotong.
"Mas! Jangan marah, Meira begini juga gara-gara kamu!" potong Vena. "Kamu tuh ngerti nggak sih! Baru aja loh Via sama Jino bilang, rubah sikapmu!" Vena menangis.
Alex hanya diam saja. Vena sangat mengenal Alex, dari sifatnya yang egois, selalu menyalahkan dan tidak mendengarkan pendapat orang. Memang sulit, untuk mrminta orang seperti Alex berubah. Via dan Jino saling melihat.
"Kita balik duluan," pamit Jino.
Via melihat ke arah Vena. "Gue harap, lo bisa rubah dia! Allah ngirim lo ke sini pasti ada hikmahnya! Gue bakalan anggep lo sahabat lagi, kalau... lo bisa ambil hati Meira!" bisiknya.
Vena melihat ke arah Via. "Tanpa kamu minta pun, aku pasti dapetin hati Meira. Aku akan menjadi Ibu yang baik untuknya!"
Via pergi masuk ke dalam mobil. Dua buah mobil mewah pun pergi meninggalkan halaman. Vena dan Alex masuk ke dalam rumah.