MeiMel

MeiMel
Dola (Aldo & Dila)



"Dila!" panggil Sila tak percaya, sambil berlari masuk ke dalan kamar. Delon pun menyusul dari belakang.


Darah segar mengalir dari kedua pergelangan tangan Dila. Sila jatuh terduduk sambil menangis. Banyak sekali bekas goresan, di kedua lengang Dila. Delon yang melihatnya pun, langsung pergi ke lemari dan mengambil kain, untuk membalut pergelangan Dila.


"Diii-Dila, hiks hiks." Sila menutup mulutnya dengan salah satu tangan, sambil menangis. Hatinya terasa sesak dan terasa lemas.


Delon membalut kain itu ke pergelangan tangan Dila, dengan perasaan yang khawatir. "Sila, tenangin dirimu!" pinta Delon tegas. "Ambil kunci mobil di kamar, kita bawa Dila ke Rumah Sakit segera!"


Sila terlihat diam dan khawatir. Tubuhnya terasa membeku, tidak bisa bergerak. "Sila!" bentak Delon. Sila kaget dan langsung pergi mengambil kunci. Delon menghela napas pelan dan menggendong Dila.


Bibik yang baru saja lewat di bawah tangga, kaget. Melihat ke dua tangan Dila yang terikat kain dan bebera goresan. "Ya Allah. Non Dila teh kenapa Aden?" Bibik khawatir, panik dan sedih.


"Nanti saya jelaskan Bik! Tolong jaga rumah, dan standby handphonenya! Jika saya telpon, Bibik bisa langsung angkat!" ucap Delon.


"Baik Aden!" sahut Bibik. Tak lama Sila datang, dan mereka pun pergi ke arah parkiran. Mereka masuk ke dalam mobil, Sila dan Dila berada di bangku belakang dan Delon depan. Delon membawa mobil itu begitu cepat ke Rumah Sakit.


...🍁...


Terlihat di sebuah Cafe, Aldo tengah bercanda tawa dengan teman-teman se SMA. Cafe itu sangat ramai dan bernuansa alam. Banyak sekali anak remaja yang berkumpul untuk nongkrong, pacaran dan foto-foto.


Aldo tertawa sumbang. Entah mengapa perasaannya tidak enak. Ia terus menghubungi Melvin, namun tidak bisa. Tapi, yang ia khawatiri bukan hanya Melvin, ada yang lain. Sayang sekali, ia tidak mengerti isi hati dan pikiranya. Kenapa perasaan gue begini? Tak lama, notifikasi masuk.


...Room Chat On....


Melvin :


Aldo, ini Tante.


Melvin masih tidur.


Tante mau kasih tau ini aja, karena kamu terus nelpon.


Aldo :


Iya Tante, makasih.


Melvin :


Sama-sama.


...Room Chat Off....


Aldo mematikan handphone dan memasukkan ke kantong. Ia memakasi jaket jens. "Guys, gue balik dulu ya!" pamitnya ke temen-temen.


"Cepet banget, baru juga setengah jam," komen Pemuda A.


Aldo berjabat tangan dengan Pemuda A. "Udah lama itu," ucapnya dan bersalaman dengan anak lain. "Tagihan gue ada di bawah cangkir!" teriaknya, sebelum pergi dari Cafe.


Pemuda A mengecek. Terlihat beberapa lembar uang merah yang ditinggalkan Aldo. Hmzz, kebiasaan!


Aldo naik ke atas montor dan memakai helm. Setelah itu, ia pun pergi meninggalkan tempat. Kelajuan montornya cukup cepat, ia terus menyalip satu per satu mobil dan montor di jalan. Di area pertigaan, dari arah berlawanan. Sebuah montor dengan kecepatan tinggi menerobos lampu merah dan menabrak montor Aldo. Terlihat, kedua montor itu remuk. Si pelaku meninggal dunia, karena terlempar jauh dan ketabrak trek, sedangkan Aldo hanya terluka kecil. Tangan dan kakinya mengeluarkan darah segar. Ia melepas helm dan menelpon Mamah.


...Calling On....


Mamah Alexa : Hallo sayang, kamu kemana aja? Mmaah khawatir tau...!


Mamah Alexa : Whattt?! Huwaaa, hiks hiks hiks, kamu baik-baik ajakan sayang? Jangan mati dulu hiks! Mamah belum siap, hiks hiks hiks. Kamu masih hidup kan Nak?!


Aldo : .... (Diam, karena sedang menjawab pertanyaan warga.)


Tak lama ambulan datang dan mereka pun segera mengeluarkan tandu. Beberapa Perawat cowok, membantu Aldo naik ke atas tandu dan mereka bawa ke dalam ambulan.


Mamah Alexa : Aldoooo! Kamu nggak matikan?! Hiks hiks hiks, jahata bener kamu, ninggalin Mamah, huweee!


Aldo : Aldo masih hidup Mah, ia udah di ambulan!


Mamah Alexa : Alhamdulillah hiks hiks, Share lokasi Rumah Sakitnya! Mamah otw ke sana, hiks hiks hiks.


Aldo : Iya, Assalammualaikum.


Mamah Alexa : Waalaikumsalam, hati-hati. inget! Jangan mati dulu ya, hiks hiks.


...Calling Off....


Mamah Alexa mematikan telpon dan Aldo pun tersenyum. Sakit yang Aldo rasain terasa pudar, mendengar suara Alexa. Mamahnya memang sangat lucu. Ia tau, jika Alexa tidak bercanda dan memang itulah dia. Orang yang tidak mengenal Alexa, pasti akan mengira, ia tengah bercanda. Aldo menyimpan handphone ke kantong celana dan memajamkan mata.


...🍁...


Sila dan Delon tengah menunggu di depan suatu ruangan. Sila terus saja khawatir dan menangis. Delon menenangkan Sila dan memeluknya dari samping. Tak lama, Dokter pun keluar. Delon dan Sila langsung berdiri tegak.


"Bagaimana kondisi Dila, Dok?" tanya Delon.


"Pasien memerlukan donor darah. Dia mengeluarkan begitu banyak darah dan denyut nadinya pun melemah, jika kalian telat sedikit saja," ucap Dokter menggantung. "Nyawa anak kalian pasti tidak terselamatkan."


Sila lemas dan langsung di tahan oleh Delon. "Darah saya sama dengan Dila, Dok!" ucapnya, sambil merangkul sang Istri.


"Baiklah," sahut Dokter itu. "Sus!" Suster mengangguk dan Dokter pun krmbali masuk ke ruangan, karena kondisi Dila yang buruk.


Delon membawa Sila untuk duduk dan memegang ke dua tangan sang Istri, sambil berjongkok. "Percayalah, Dila pasti selamat! Banyak-banyak saja berdoa, Allah pasti mendengarnya dan membantu kita!" Sila mengangguk lemah. Delon menghapus air mata Sila dan mengecup keningnya.


"Mari Pak!" ajak Suster dan Delon pun mengangguk. Mereka berdua pergi, meninggalkan Sila sendiri.


Sila terus berdoa dalam hati, Ya Allah, aku mohon padamu! Beri kami berdua kesempatan, untuk memperbaiki ini semua. Jangan ambil nyawa anakku, Ya Allah... hiks hiks hiks, Aku mohon!


Tak lama Delon pun kembali. Adzan Isya berkumandang, Mereka berdua pergi shalat dan berdoa untuk Dila. Di lain sisi, Alexa tengah berlari di lorong Rumah Sakit, menuju kamar Aldo. Ia membuka pintu kamar inap Aldo dengan kasar.


"Aldooo!" teriak Alexa. Ia menghampiri Aldo dan langsung memeluknya. "Huwaaa, Mamah khawatir banget tau! Jantung Mamah mau copot denger kamu kecelakaan! Kalau kamu mati gimana, hiks hiks, entar Ayahmu entar ngamuk ke Mamah, hiks hiks!"


Aldo merasa sesak, karena Alexa memeluknya dengan begitu kuat. "Uhh, se-sak Mah?" Alexa tersadar dan langsung melepas pelukannya. "Hufff, jadi Mamah khawatir, kalau Ayah ngamuk?"


Alexa manyun dan duduk di bangku samping ranjang Aldo. "Ishhh, nggak gitu! Ayahkan lagi keluar Negeri, kalau kamu mati, siapa yang mau nemenin Mamah?"


Aldo tertawa kecil. "Cuman itu?"


"Heh, ngandung kamu tuh nggak mudah tau! Dulu kamu aktif banget, sampek Mamah nggak bisa tidur! Ngeluarin kamu juga sulit, nih tulang-tulang berasa mau copot semua!" omel Alexa. "Masa' udah ngelalui perjuangan yang berat itu. kamu mau ninggalin Mamah duluan!"


Aldo menggelengkan kepala sambil tertawa. "Hahaha, pada akhirnya juga setiap orang pasti mati, Mah."


Alexa melipat kedua tangan dan memalingkan wajah. Ia merasa kesal, karena Aldo menertawakannya. "Nggak sopan!" ujarnya dan Aldo semakin tertawa keras. Mamah tau, suatu saat kita semua pasti pergi meninggalkan dunia ini. Tapi... Mamah berharap, supaya Allah merebut nyawaku dahulu, sebelum kamu. Mamah nggak mau, kamu pergi duluan!