MeiMel

MeiMel
Bunga-bunga.



Via menatap ke Wanita itu dengan senyum. "Akhirnya, lo dateng juga," ucapnya membuat Wanita itu tersenyum kikuk dan merasa sedikit tidak enak. "Silahkan masuk Nyonya New!"


Wanita itu terlihat ingin menangis dan murung. Ia membawa koper yang sangat besar dan tas kecil. Ia adalah Vena, sahabat Sinta dan juga Via. "Vi, hiks hiks, gue min--"


"Stststtsttt, lo nangisnya entaran aja Ven. Nggak ada gunanya lo nangis ke geu! Kata maaf lo juga nggak penting! Gue bukan Sinta atau pun anaknya, maaf lo diterima atau tidak itu tergantung mereka!" potong Via dengan ekspresi datar. Vena menangis sambil memegangi perut. "Masuk gih!" ajak Via. Mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.


Via meminta Bibik untuk menyiapkan minum. Vena duduk di salah satu sofa sabil menangis, Via yang ia kenal telah berubah. Via duduk di salah satu sofa yang jauh dari Vena, dan menelpon Alex serta Jino, untuk pulang. Via mencueki Vena. Suasana di ruangan itu menjadi hening dan terasa kikuk.


...🍁...


Bel masuk sudah berbunyi dari tadi. Anak-anak XI IPS 4 terlihat begitu anteng dan senyap. Bu Guru sedang menerangkan materi sejarah di depan Kelas dengan begitu santai, tanpa memperdulikan Muridnya yang molor dan melamun. Dila dan Meira juga diam, tak menyimak. Mereka berdua tengah kalut dalam pikirannya masing-masing.


Dila menutupi mulutnya dengan kedua tangan sambil melihat ke depan. Ia teringat akan sesuatu...


...Flesback On....


Dila, Dea, Adel, Aldo dan David tengah membubarkan masa. Anak-anak terlihat kesal dan menyoraki mereka. Selesai membubarkan masa, Dila membawa pergi Aldo ke UKS dengan paksa. Sesampainya di UKS, Aldo duduk di salah satu ranjang dan Dila langsung mengambil kotak p3k.


Dila menghampiri Aldo dan mulai mengobatinya. "Tahan dikit!"


Aldo mengangguk dan Dila mulai mengobati luka itu. "Awww," keluh Aldo. Dila pun memperpelan gerakannya dan meniup luka itu sesekali.


Dila terlihat sesekali menggerakan kepala, untuk menyingkirkan poninya. Ia mulai lelah dan memilih untuk membiarkan saja. Aldo tersenyum dan meraih poni Dila dengan lembut. "Elo mau ngapain?" tanya Dila salting, karena perlakuan Aldo.


"Ststtstt, gue mau bantu rapiin poni lo!" sahut Aldo dan ia pun merapikan poni Dila ke samping. "Nahhh, kalau beginikan cantik," ucapnya dan di akhiri kedipan genit.


Wajah Dila mulai merona dan menampol wajah Aldo dengan bantal. "Dasar, cap buaya darat!"


Aldo tertawa, sambil menyingkirkan bantai itu. "Jangan dicap buaya darat. Di cap, di hati dong!" godanya sambil menaik turunkan alis.


Dila merasa kesal. Ia pun memberikan kotak p3k itu ke Aldo dengan kasar. "Sorry, gue bukan cewek gampangan!" Dila pergi meninggalkan Aldo sendirian.


"Gue suka gaya lo, Dil," ucap Aldo pelan sambil tersenyum senang. Melihat ekspresi kesal Dila, membuatnya happy. Dila berlari ke arah Kelas dengan wajah memerah. Jantung Dila terus berdetak kencang. Ia terus tersenyum malu, di sepanjang perjalanan.


...Flesback Off....


Arghhh, apa-apaan sih gue! batin Dila dan sepontan memukul kepala ke meja. Meira dan para penghuni di Kelas kaget.


Meira memiringkan kepala kebawa, menengok Dila yang terlihat aneh. "Dil! Lo nggak papakan?" tanyanya sambil menggoyangkan tubuh Dila.


Dila baru tersadar, jika dirinya masih ada di Kelas. Ia pun mengangkat pandang ke depan, sambil tersenyum kikuk. "Ehhh Ibu, maaf ganggu ceritanya, silahkan dilanjut!" ia menundukkan kepala sebentar.


Ibu Guru bingung dengan sikap Dila, tidak biasamya dia bersikap aneh seperti itu. "Baru ngelatih taekwondo?"


"Hah?" Dila bingung. Beberapa detik kemudian, ia paham dan menganggukkan kepala. "Hehehe iya Bu," ucapnya sambil tertawa. "Besok ujian itu, saking semangatnya jadi kebawa deh, maaf."


Ibu Guru percaya dan menganggukkan kepala. "Jangan diulangi lagi, semoga ujianmu lulus."


Dila tersenyum kikuk dan menganggukkan kepala. "Amin, Trimakasih Bu." Ibu Guru tersenyum dan melanjutkan materi.


"Ststtstt, sesekali apa salahnya sih." sahut Dila dengan suara pelan dan Meira pun hanya menggelengkan kepala kecil. Mereka kembali fokus ke materi dan mengerjakan tugas yang diberikan Guru.


...🍁...


Bel pulang berbunyi dan para Murid pun berhamburan keluar dari Kelas. Meira dan Dila juga telah berada di luar, tingkah mereka berdua terlihat aneh. Tak senagaja, Meira melihat Bima yang berjalan ke arahnya. Meira pun menarik Dila dengan kuat untuk menjauh. Di saat keduanya tengah berlari, mereka menubruk tubuh Melvin dan Aldo. Melvin jatuh ke belakang dan Meira berada di atasnya. Sedangkan di lain sisi, Aldo menangkap Dila yang hampir terjatuh dan mata mereka kini saling bertemu.


Melvin melihat ke arah Meira. "Hemm, enak ya?"


Meira tersadar dan langsung berdiri tegak. "Maa-maaf."


Melvin pun berdiri tegak dan membersihkan pakaiannya. "Hemm."


Dila berdiri tegak dan Aldo pun melepas rekatan tanganya. "Thanks," ucap Dila, sambil menunduk


Aldo tersenyum melihat sifat Dila yang malu-malu. Dila yang biasanya judeh dan dingin, kini terlihat comel dan polos. "Sama-sama cantik."


Wajah Dila memerah dan langsung pergi. Meira terkejut dan hendak mengejar Dila, namun terhenti. Melvin memegang tangan Meira, untuk menahannya. "Lo mau kemana? Lo balik sama gue!"


Meira melihat Melvin dengan kesal. "Lo mau bikin gue jadi obat nyamuk lagi?!"


Melvin paham dan menghela napas pelan. "Enggak, Tiara dah balik duluan, lo kagak usah khawatir."


Meira melepas tanganya dari tangan Melvin. Ia membalikkan badan sambil menghempaskan rambut. "Oke."


Melvin mengerutkan kening, sedangkan Aldo tengah menahan tawa. "Gue duluan Do!" pamit Melvin dan Aldo pun mengangguk. Meira pergi duluan ke arah mobil, setelah itu di susul oleh Melvin dari belakang.


Meira dan Melvin telah sampai di parkiran. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil dan Melvin pun mengemudikannya. Mobil itu keluar dari area Sekolah dan melaju dengan kecepatan sedang di jalan. Sepanjang perjalanan, mereka berdua diam. Melvin fokus mengemudi dan Meira melihat ke arah jendela samping.


Meira menyenderkan dagu di tangan kiri, sambil menonton pemandangan di luar. Raut wajahnya mulai berbubah, di saat dirinya melihat Bima tengah menggonceng Wanita lain. Ehhh, itu siapa ya? Kok, kayaknya nggak asing?


Melvin yang juga melihat Bima tengah bergoncengan dengan Wanita lain pun, menaikkan salah satu alis. Hemm, yang digonceng Bima siapa? Ngapa gue ngrasa nggak asing sama tuh cewek? batinnya bertanya-tanya. Ngapa gue mikirin urusan tuh anak?! Paling juga anak Osis.


Meira melihat ke arah depan. Ia terkejut dan langsung melihat ke Melvin dengan panik. "Melvin! Berhenti!" teriaknya, membuat Melvin kaget. Terlihat seorang Ibu hamil dengan anak kecil di sampingnya tengah menyebrang dan hampir ditabrak oleh Melvin. Meira menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan Melvin membalikkan setir, sambil ngerem.


Mobil telah berhenti dan Melvin pun langsung keluar, menemui Ibu itu. Meira membuka tangannya pelan-pelan dan bernapas lega. Ia melihat ke arah Melvin lewat jendela. Terlihat, Melvin membungkukkan badan sekejap dan menerima omelan dari para warga. Senyum lembut mengembang di wajah cantik Meira. Tak lama, Melvin kembali masuk dan mengemudikan mobilnya ke arah rumah.


"Ada korban nggak?" tanya Meira.


Melvin menghela napan pelan dan menaruh salah satu tanganya di atas kening. "Enggak ada."


Meira tersenyum dan merasa lega. "Alhamdulillah," ucapnya dan Melvin pun mengangguk. "Enak enggak diomelin warga?"


"Kagaklah, tapi mau gimana lagi, gue juga yang salah," sahut Melvin dan menurunkan salah tau tangannya kebawah. "Makasih, lo udah kasih tau gue tadi! Kalau kagak lo kasih tau, entah gimana nasib tuh Ibu-ibu sama anaknya."


Meira tersenyum dan mengangguk, "Iya, sama-sama." ia melihat ke arah jendela samping dan menyenderkan kepala di dinding mobil. Untuk memalingkan muka dan melupakanmu ternyata sulit Vin. Hatiku sangat mudah memafkan dan menerimamu kembali. Walaupun tadi pagi kau telah melukainya. Air mata Meira jatuh dan langsung ia hapus.