
Langit mulai sore, para karyawan yang bertugas mulai beres-beres. Meira pun sedang menghapus make up dan berganti baju. Tak lama Melvin datang menghampiri Meira.
"Apa kau capek?" tanya Melvin, yang baru saja duduk di samping kursi Meira. Dia berikan air putih dingin ke Meira.
Meira tersenyum dan menerima. "Makasih," ucapnya dan Melvin pun menganggukkan kepala. "Lumayan sih, tapi nggak papa. Aku malah seneng begini kok."
"Kenapa?"
"Seneng aja bisa ketemu banyak orang, terus... tertawa bersama, ngobrol bareng dan lihat komenan Fans," sahut Meira dan meminum air putih dingin itu.
Melvin tersenyum dan menganggukkan kepala. "Ada sesuatu yang peting di ruang tamu. Kamu bisa ke sana?"
Meira melihat ke arah Melvin, dan mengangguk, mengiyakan. Melvin pun memberikan tangan kanan dan Meira pun meraihnya. Mereka berdua berjalan berdua, ke arah ruang tamu. Terlihat di ruang tamu, ada keluarga mereka berdua, Chika, Bima, Tiara, dua cowok dan satu cewek asing.
"Bima, Tiara? Kenapa kalian di sini?" tanya Meira bingung.
Tiara langsung jatuh terduduk dan menangis sesengukan. "Hiks hiks hiks, maafin Mei, karena aku, kamu jadi begini. Semua ini salahku Mei! Bima nggak salah apa-apa! Aku yang egois dan memaksakan Bima, untuk membuatku jadi Artis kayak kamu! Ini semua salahku," ucapnya parau. Bima mengusap punggu Tiara dan ikut bersedih.
"Hah? Ini kenapa sih? Aku nggak paham sumpah," ucap Meira bingung.
"Mereka lah yang bikin isu soal kamu di medsos. Beberapa komenan negatif, mereka juga yang buat! Aku hampir aja bawa mereka jeruji besi, tapi dihalangi Ayahmu," kata Melvin memberitau.
"Ayah menghalangi Melvin, karena hal ini bisa diperbaiki. Ayah pikir, lebih baik kita memaafkan mereka dengan meminta klarifikasi ke medsos, mengingat kita masih berduka, atas kepergian Sinta," sahut Alex menjelaskan.
Meira mengangguk-anggukan kepala, paham. "Hmm, yang dibilang Ayah, ada benernya juga kok. Lagi pula Bima udah banyak berjasa bagiku, walaupun aku nggak tau, dia tulus atau tidak? Aku juga sempat ketemu Tiara, apa yang dikatakan benar. Tiara pun udah menyesalinya jadi, lebih baik kita maafkan saja."
"Masa gini doang? Nama kamu udah di jelekin mereka loh, Mei!" ujar Melvin tak terima.
"Nggak papalah, Vin. Kamu ini, jahat sekali. Tiara tuh mantan kamu loh, mosok nggak ada rasa simpati sedikit pun," sahut Via.
"Ehhh, mantan? Kapan putusnya?" tanya Meira bingung.
"Tiga hari yang lalu," sahut Melvin.
"Whatttt? Kok bisa sih?" tanya Meira lagi.
"Panjang, biar gue sama dia yang tau!" Melvin melipat kedua tangan di depan dada dan memalingkan wajah.
"Oke deh, masalah kelar ya? Kalian berlima tinggal klarifikasi sejujur-jujurnya ke medsos, setelah itu kita bebaskan," ujar Vena ke Bima, Tiara, dua cowok asing dan satu cewek asing.
"Trimakasih semuanya, makasih juga Mei. Aku janji nggak akan begitu lagi!" ucap Tiara lirih.
"Meira makasih, karena udah maafin kita. Aku bener-bener minta maaf yang sebesar-besarnya, atas perbuatan kejiku ini," ucap Bima merasa bersalah.
"No problem, lebih baik kalian segera pulang! Singa di sampingku ini sedang kelaparan berat, kalian bisa diterkam nanti," goda Meira dengan senyum ceria. Melvin hanya mendengus kesal, dia masih tidak terima dengan pendapat keluarganya.
Tiara, Bima dkk meminta maaf dan bersalaman ke pada mereka semua, kecuali Meira sama Melvin. Keesokan harinya, Tiara, Bima dkk klarifikasi ke medsos. Para Fans Meira terlihat marah dan menghujat mereka berlima. Namaun ada juga, yang suka atas kejujuran mereka. Kehidupan Meira mulai kembali seperti semula dan menjadi lebih baik lagi. Fans Meira pun bertambah semakin banyak, tawaran job sering masuk, hingga Chika pusing.
Meira dan Melvin kini tengah berada dalam satu mobil. Mereka berdua terlihat begitu cantik dan tampan. Mobil sprot warna hitam itu, berhenti di salah satu parkiran, Restoran bernuansa out door. Sebelum masuk kedalam Restoran, Melvin menutupi kedua mata Meira, dengan kedua tangannya. Mereka berdua jalan dengan senyum senang. Setibanya di ambang pintu Restoran, tiba-tiba ada...
Dorrrr
Perlahan-lahan mata Meira melihat kertas kelap-kelip bertaburan. Senyum ceria dari puluhan orang di dalam menyambutnya. Ada begutu banyak balon-balon di dalam ruangan dan tulisan cantik, bertuliskan, "Welcome back Meira Love." Senyum lebar terlukis indah, di wajah cantik Meira. Rasa kebahagian di hatinya, tak bisa dikatakan lewat kata-kata.
"Omoooo, aku lagi nggak mimpikan?" tanya Meira sambil menarik lengan baju Melvin.
Melvin tersenyum dan mencubit pipi lembut Meira. "Sakut nggak?"
"Arghhhh," keluh Meira sambil mengusap lembut pipinya. "Sakit lah!"
"Berarti kagak mimpi," ujar Melvin sambil ketawa cekikikan. Meira manyun dan memajukan bibirnya.
"Udah-udah manyunnya," ujar Adel dan merangkul leher Meira. Dia menarik Meira untuk mendekat ke arah gerombalan dan bergabung. "Kami sengaja buat ini semua, untuk menyambut kamu, atas kembalinya ke dunia hiburan. Nah, mereka ini," ucapnya terpotong.
"Meibest kan?" potong Meira, membuat Meibest senang. Adel tersenyum dan menganggukkan kepala. Meira melihat ke arah Anak-anak Meibest dan berkata, "Aku ucapkan trimakasih yang sebesar-besarnya kepada kalian semua. Atas kejutan yang kalian berikan dan kesetiaan kalian padaku."
"Kami seneng, akhirnya kamu kembali berkecimpung dalam dunia hiburan lagi! Kami ingin, kamu bukan hanya jadi model dan Artis Iklan saja, kalau bisa..." ucap salah satu Fand malu. "Jadi Penyanyi juga."
"Iya Mei, aku setuju! Suara kamu bagus banget, apalagi waktu nyanyi bareng temen-temen sekolah. Kami pingin, kamu nyanyi di atas panggung dan hibur kita dengan suaramu itu," ujar salah satu Fans, dan yang lainnya punya mengiyakan.
Meira tersenyum lebar dan berkata, "Baiklah. kalau itu mau kalian. Aku akan kabulkan!" Para Fans berseru heboh dan merasa bahagia.
Melvin yang sedang mengobrol dengan Aldo, diam-diam tersenyum. Mereka semua pun makan bersama. Selesai makan-makan, mereka berfoto, bukan hanya Meira yang dimintai, namun Aldo, Adel dan Melvin juga. Para Fans juga, meminta Adel untuk nyanyi bersama Meira. Namun Adel menolaknya, karena belum siap.
Tak lama, suasana Restoran kembali berubah, setelah mereka keluar dari Restoran. Melvin berdiri di tengah halaman parkir, di dampingi para Pelayan Restoran yang membawa banyak sekali balon love. Entah mengapa, senyum Meira tak henti-hentinya pudar. Adel mendorong tubuh Meira dari belakang, untuk mendekat ke arah Melvin.
"Jangan kecewakan dia, oke!" bisik Adel dengan senyum senang dan pergi ke arah Aldo. Para Fans Meira menyiapkan handphone dan bersiap merekam.
Meira tersenyum malu dan merasa cangung. Dia memainkan jari dan menundukan kepala, tak sanggu melihat wajah Melvin. Melvin tersenyum senang, mekihat Meira yang malu-malu kucing.
"Meira, aku nggak akan panjang lebar," ucap Melvin, sambil memberikan sekumpulan tali balon love ke Meira. Meira menerimanya dan melihat ke arah Melvin. "Terbangkan balon ini, jika kamu menerimaku untuk menjadi Kekasihmu, tapi... letuskan balon itu dengan harus, kalau kamu menolak," tambannya dan memberikan jarum besar dengan tali warna-warni di ujung.
Meira menatap manik mata Melvin dan menggegam erat tali balon itu. "Bagaimana kalau kita berakhir menjadi mantan? Aku bukan orang yang mudah melupakan."
"Keluarga kita udah saling kenal. Aku akan berjanji, untuk selalu setia dan membahagiakanmu. Aldo, Adel dan mereka semua, adalah saksi atas janjiku ini!" ucap Melvin serius.
Meira tersenyum kecil dan menerima jarum itu. "Maaf, tapi aku nggak bisa," ucapnya dan hendak meletuskan balon. Para Fans terlihat heboh. Melvin hanya diam dengan wajah datar, sambil menatap mata Meira.
"Jangan Meira!"
"Huweeee, kasihan banget si ganteng."
"Awww, gue nggak tega lihatnya."
"Aaaa, jangan Meiraaaa! Gue lagi live loh, banyak yang lihat nih!"
"Terbangin tuh balon Mei! Seluruh dunia bakalan lihat nih vidio loh! Kasihan Babang Tampan, entar malu."
"Terbangin Mei!"
"Ayolah Mei! Aku tau, kamu pasti terbangin tuh balon!'
Dorrr
Meira meletuskan salah satu balon. Melvin masih di posisi yang sama. Para Fans terlihat sedih dan ada juga yang nangis. Adel menutup mulutnya dengan tangan kiri dan menggegam erat tangan Aldo.
Meira tiba-tiba tersenyum nakal dan mendekat. "Ihhhb nyebelin, kok wajahnya datar gitu sih!" ucapnya kesal, namun masih senyum.
"Wajahku emang gini? Mau gimana lagi?" tanya Melvin. "Kenapa lo nggak lanjutin?"
Meira cemberut dan menerbangkan balon itu. Para Fans, Adel dan Aldo terlihat begitu senang. Melvin pun melihat ke pergian balon itu, dengan perasaan bingung. Meira langsung memeluk Melvin dengan erat, di saat dia melihat ke arah langit.
"Jangan langar janjinya! Makasih juga, karena sudah membalas perasaanku," ucap Meira.
Melvin membalas pelukan itu dan tersenyum senang. "Iya, aku yang harusnya makasih, karena udah menaruhku kr dalam hatimu. Aku nggak akan memperlakukanmu seperti dulu. Apa pun mau mu, akan aku kabulkan."
"Permintaanku hanya satu, hiduplah dengan bahagia bersamaku," sahut Meira. Mereka berdua pun melepas pelukannya dan saling melempar senyum.
Melvin mengeluarkan sesuatu dari kantong celana. Terlihat kotak persegi yang begitu mewah, menampakkan gelang cantik. "Apa boleh, aku pasangin? Ini hadiah, karena kamu sudah menenangkan hatiku."
"Iya," sahut Meira, mengangguk senang dan Melvin pun memasangkan gelang itu. Tak lama, Meira mencium pipi Melvin dengan penuh kasih sayang. "Makasih."
"Sama-sama," ucapnya dan mengusap puncak kepala Meira. Dia kecup kening Meira dengan lembut dan berpelukan kembali. Para Fans terharu dan juga merasa iri. Adel dan Aldo pun tersenyum dari jauh dan memotret mereka berdua.
"Sebuah perjuangan, pasti akan ada hasilnya. Di balik ujian yang kita terima, ada kebahagian setelahnya."
Tamat...
Terimakasih semuanya. Aku ucapkan selamat tinggal dan semoga kita bisa berjumpa kembali. Maafkan aku, jika ada salah dalam kepenulisan. Good bay guys👋👋👋💞