
Pagi hari telah tiba, kini Meira dan Melvin tengah di dalam mobil, perjalan ke Sekolah. Tak butuh waktu lama, mereka berdua akhirnya sampai di tempat tujuan. Mereka berdua keluar dan mendapat sambutan dari para Murid. Ucapan semangat dan bela sungkawa, mereka berikan untuk Meira. Sepanjang perjalanan ke Kelas XI IPS 4, Meira terus mendapatkan support.
Melvin melihat ke arah Meira, terkukis kebahagian di wajah cantiknya. Melvin tersenyum. Akhirnya, lo bisa nunjukin tuh ekspresi juga Mei.
Tak lama, Dila datang dan memeluk erat Meiram. "Huwaaaaa, gue kangen banget sama elu Mei, hiks hiks, maaf... gue kemarin nggak ke rumah, nemenin lo."
Meira tersenyum dan mengusap lembut punggung Dila. "Nggak papa kok Dil."
Dila menangis dan melepas pelukannya. Ia pegang kedua pipi Meira. "Inget, lo nggak sendiri! Masih ada gue dan Fans setia lo, yang bakal nemenin hingga titik akhir!"
Meira tersenyum dan mencubit pipi Dila. "Iya..."
Dila tersenyum dan melepas tanganya dari wajah Meira. Senyum yang dulu bersinar dengan terang, kini telah redup. Dila hanya bisa bersabar dan menghibur sahabatnya.
"Hai Mei, Dil!" sapa Aldo, yang baru saja sampai di Sekolah dan Dila pun mengangguk, sambil tersenyum.
"Hai, apa kabar Do?" tanya Meira, dengan senyum ceria yang dipaksakan.
Aldo merasa sedih dan memegang pundak Meira. "Jangan senyum, kalau itu sulit, ekspresiin aja sebisamu!"
Dila tersenyum bahagia mendengar ucapan Aldo. "Bijak sekali anda."
Aldo merapikan poninya dan tersenyum. "Baru tau anda?"
"Dihhh, dasar narsis!" Dila memutar bola matanya jengah dan memalingkan wajah.
Meira tertawa, melihat Dila dan Aldo. "Kalian lucu banget sih!"
Dila, Aldo dan Melvin tersenyum, melihat Meira tertawa. Dila merangkul Meira dan membawanya pergi. "Kelas yuk, jangan kelamaan di sini, entar makin narsis tuh orang!" ucap Dila dan Meira pun tertawa.
Aldo menyenggol lengan Melvin, yang terus melihati Meira tanpa henti. "Cieeee, mulai suka lo ya?"
Melvin kaget dan menoleh ke Aldo. "Ck, kagak lah, gue cuman kasihan aja!"
"Hmmm, mosok?" Aldo tak percaya dan Melvin pun pergi. "Wehhh, ditinggal nih gue?" Melvin melambaikan tangan, tanpa membalikkan badan. Aldo pun menuyusulnya dari belakang.
...🍁...
Bel istirahat berbunyi, Ibu Guru pun menyudahi pembelajaran dan pergi dari kelas. Dila mengajak Meira untuk keluar, namun ditolak. Meira hanya titip jajanan saja dan Dila, mengiyakan. Dila pergi ke kanti bersama anak yang lain, meninggalkan Meira sendirian. Tak lama, Bima datang memberikan susu.
Bima duduk di bangku depan Meira dan menyodorkan kotak susu. "Nih minum dulu! Udah lama kan lo, nggak minum ini?"
Meira mengangguk dan menerima susu itu. "Makasih Bim, tumben baru nongol?"
Bima duduk ala anak cowok. "Hemm, kangen ya..." ia tersenyum dan dan mengoda Meira.
Meira memasukkan sedotan ke kotak susu dan mengerutkan kening. "Ishhh, apaan sih, enggak ada ya, kata kangen untuk Bima Fernando di kamusku!"
"Hahaha, baiklah." Bima menghentikan tawanya dan menopang dagu dengan tangan kanan. "Perlu obat?"
Meira yang sedang minum, tiba-tiba tersedak. "Uhuk uhuk, Bima!" ia marah dan memberikan tetapan tajam.
Bima kembali ke posisi awal dan merogoh sakunya. Ia mengeluarkan benda berbentuk tabung kecil. "Mau minum atau..." ucapnya terhenti.
Meira langsung merampas obat itu dan mengantonginya. Bima mengerutkan kening dan melihat ke arah Meira. Meira memalingkan pandanganya ke arah lain dan manyun. "Aku udah minum tau!"
Bima terlihat bingung dan mendekat. "Maksud lo udah minum apa?"
Meira melihat ke arah Bima dan menunduk. "Kemarin... ahhh lo pasti tau Bim, dan semuanya pun tau. Keluarga Melvin juga."
Bima berusaha mencerna omongan Meira dan berpikir. "Kamu begitu lagi?" tanyanya mematikan dan Meira mengangguk. Bima tau, suatu saat nanti, kondisi Meira pasti terungkap.
Bima sudah tau kondisi Meira yang sebenarnya. Ia pernah membujuk Meira untuk pergi ke Psikolog dan Psikiater. Waktu itu, Bima pernah mempergoki Meira, hendak terjun dari gedung. Mengetahui Meira tengah stres, karena kondisi keluarga. Bima pun berpikir untuk mengobatinya. Sudah hampir setahun, kondisi Meira mulai membaik. Niatan untuk bunuh diri, melukai diri sendiri dan mengamuk, tak lagi ada. Mendengar Meira kembali mengamuk, membuat Bima menghela napas pelan.
Bima berjongkok di samping bangku Meira dan meraih kedua tanganya. Meira menunduk sambil menangis, badannya mulai bergetar. Bima pun memeluknya dan mengusap lembut rambut Meira. "Stststtt, nggak papa."
"Hiks hiks hiks," Meira menagis di dada bidang Bima.
Meira dan Bima tidak tau, jika Dila telah melihat semuanya dari awal. Dila sebenarnya ingin balik ke Kelas, untuk menanyai Meira. Namun tidak jadi, ia memilih untuk bersembunyi. Terdengar sekilas, jika Bima menyuruh Meira meminum sesuatu, seperti obat. Ia merasa bingung dan penasaran. Obat apaan tuh? Emang Meira sakit? Nanti aja deh gue tanyain. Dila pergi meninggalkan tempat dan berlari menuju kantin.
Tak lama Melvin datang. Ia menghentikan langkah kakinya, setelah melihat Bima berduaan dengan Meira. Melvin memilih untuk pergi dan mengepalkan tangan. Entah mengapa, ia merasa tidak suka melihat Bima dekat dengan Meira. Sialan tuh anak, bisa-bisanya dia deketin Meira, pake pegang-pegang segala!
...🍁...
Pelajaran sebentar lagi selesai. Meira terus saja berdiam diri dan murung. Dila merasa sedih dan kasihan. Ia pun memutar otak, untuk mencari ide. Tak lama, akhirnya ide itu muncul. Dila mengambil handphone dan diam-diam menghubungi seseorang.
...Room Chat On....
Dila :
Do!
Aldo :
Apa?
Dila :
Bantu gue!
Ayo, ajakin Meira main tima zone, bareng Melvin juga.
Gue kepingin hibur dia.
Aldo :
...Room Chat Off....
Dila pun mematikan handphone dan memasukkan ke laci. Di lain sisi, Aldo tengah mengambil kesempatan untuk mengobrol dengan Melvin. Ibu Guru sedari tadi, melihat ke arahnya dan Melvin.
Sialan nih Guru, dari tadi ngeliatin mulu! batin Aldo. Ia melirik ke arah Melvin, wajahnya mulai berubah menjadi masam. Pantes dilirik terus, nih anak dari tadi mainan kertas!
Melvin saat ini, tengah menyobek kertas menjadi kecil-kecil. Guru itu terlihat kesal dan hendak marah. Namun, bel pulang sebentar lagi berbunyi. Jika ia menegur Melvin, waktunya akan terbuang sia-sia, karena terus berdebat. Ibu Guru memilih diam dan terus memperhatikannya. Tak lama, bel pulang berbunyi.
"Yes!" ucap Melvin sambil berteriak. Ia merapikan barang-barangnya dan duduk diam.
Ibu guru merapikan buku dan duduk. "Denger bel aja seneng!"
Melvin tersenyum dan menaruh jari telunjuk ke bibir. "Stststtt, Ketua Kelas doa!"
"Ehem, Gurunya siapa ya?" sindir Bu Guru, mengajak debat Melvin.
"Kalau mau ajak debat dari tadi Bu, jangan sekarang! Yok, Ketua Kelas, tunjukkan suara indahmu!" seru Melvin, membuat Guru itu menggelengkan kepala dan para Murid, tertawa.
Ketua Kelas pun bersiap-siap dan berucap, "Berdoa dimulai!" para murid dan Guru langsung menunduk, berdoa. "Selesai!"
"Pulang-pulang," seru Melvin sambil pergi ke arah Ibu Guru. "Assalammualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!" Ia mencium punggung tangan Ibu Guru dan keluar dari Kelas. Setelah itu, disusul Aldo dan para Murid yang lain.
Aldo berlari mengejar Melvin dan menghentikannya. "Vin, hos hos, Dila ngajak Mei-ra main time zone di Mall Dell, buat hibur dia!"
Melvin menekuk keningnya. "Kagak bisa! Kalau mau, gue harus ikut!"
Aldo ngerutkan kening. "Lahhh, elo kan emang ikut,"
"Ohh, okelah." Melvin pun pergi ke arah parkiran dan disusul Aldo. Terlihat, di sana sudah ada Dila dan Meira yang tengah berbincang. "Mau semobil atau gimana?" tanya Melvin.
"Dua, pake mobil lo sama Aldo!" ucap Dila dan diangguki Melvin.
Dila dan Aldo pun masuk ke dalam mobil mewah berwana hitam. Sedangkan Meira masuk ke mobil abu-abu kehitaman, bersama Melvin. Mobil itu pun pergi meninggalkan tempat. Dua puluh menit kemudian, Mereka pun sampai di Mall Dell. Sebelum masuk ke dalam, mereka berempat memakai jaket dan kaca mata.
"Les't go!" seru Dila dan menarik tangan Meira. Mereka berdua berjalan di depan dan para anak cowok menyusul di belakang.
Dila, Melvin, Meira dan Aldo telah tiba di time zone. Terlihat, ada banyak sekali permainan dan game seru. Anak-anak dan beberapa pasangan pun tengah memainkannya. Mereka berempat masih bingung, ingin memainkan yang mana.
"Emmm, kita main apa ya?" Dila melihat ke kanan dan ke kiri. Meira hanya diam sambil senyum. Aldo dan Melvin pun celingak-celinguk, mencari game yang seru.
"Nahhh, itu!" Aldo menunjuk ke arah layar yang sangat besar dan dua buah pistol panjang, selengan. Game yang dituju Aldo adalah permainan menembak zombie.
Meira melihat ke arah Melvin, dan yang dilihati pun memberikan senyum. "Ayolah, gaskeun!" ajak Melvin.
Aldo dan Melvin menggesek kartu gamenya bersamaan. Setelah itu, mereka semua pun mengambil pistol masing-masing. Terlihat, di kedua layar itu telah muncul zombie dan game pun di mulai. Dila setim dengan Aldo, sedangkan Meira bersama Melvin. Mereka terus menembak satu per satu zombie dengan semangat.
...| Winner |...
"Yeayyyyy!" teriak Dila dan melihat ke arah Melvin. Wajahnya berubah menjadi masam. Terlihat, skor yang muncul di layar Meimel sangatlah tinggi, dan tiket yang keluar dari mesin itu begitu panjang.
Aldo tertawa kecil. "Lo pasti kaget, tuh anak sering kemari! Dan game inilah, yang selalu dia mainin."
"Pantes." Dila terlihat kesal dan memilih untuk mengambil tiket.
Terlihat di lain sisi, Meira tengahmenunggu tiketnya berhenti keluar. Entah mesin yang eror atau memang begini. Tiket itu terus keluar dan memanjang. Ekspresi bahagia muncul di wajah cantik Meira. Melvin, Dila dan Aldo yang mrlihatnya ikut bahagia.
"Ihhh, curang tuh! Mesinnya pasti eror!" seru Dila tak terima.
Aldo yang melihat tiket itu terus keluar pun, merasa curiga. "Kayaknya tuh mesin emang eror."
Melvin yang tengah berjongkok bersama Meira, menoleh ke Aldo. "Ststst, diem lu!" Melvin sudah tau dari awal, jika mesin itu eror. Kesempatan yang sangat bagus ini, tidak bisa ia biarkan saja.
"Nggak papa nih?" tanya Meira.
"Nggak papa, yang salah mereka, bukan kita." ucap Melvin pelan. "Anggep aja ini bonus!"
Meira mengangguk dan melihat ke arah tiket yang telah berhenti keluar. Ia pun memotong tiket itu dari mesin dan melipatnya, biar rapi dan mudah dibawa. Setelah itu, mereka berempat melanjutkan permainan lain. Mereka terlihat begitutu asik bermain dan saling bergantian. Game yang terakhir mereka mainkan adalah capit boneka. Dila dan Meira menyemangati Melvin serta Aldo. Berulang-ulang kali mereka gagal.
"Do, Semangattttt! Inget yang Doraemon itu," seru Dila, sambil menunjuk ke arah boneka paling besar di dalam mesin itu. Aldo hanya menganggukinya dan berusaha fokus. Sesekali, ia memukul mesin itu karena kesal.
Meira dan Melvin terlihat begitu serius menatap mesin itu dengan diam. Wajah mereka berdua akan berubah, setiap Melvin gagal memasukkan boneka. "Pelan-pelan aja Vin," pesan Meira dan Melvin mengangguk.
Tak butuh waktu lama, Melvin akhirnya mendapatkan boneka dan disusul Aldo. Wajah mereka berempat begitu bahagia dan gembira. Karena uang di kartu sudah habis, dan hari mulai sore. Mereka pun memutuskan untuk pulang. Di tengah-tengah Mall, Meira tak sengaja kepleset dan jatuh.
"Meira!" teriak Dila begitu keras, membuat orang-orang melihat ke arah mereka berempat. Dila kaget dan spontan menutup mulut. Aldo menegurnya dan ia pun meminta maaf.
Melvin membantu Meira berdiri dan bertanya, "Ada yang sakit enggak?" Meira menggelengkan kepala, sambil menunduk. Kaca mata Meira pecah dan semua orang pun tau. Terdengar suara para Hatres, yang berkomentar tentang Meira.
"Ya ampun... baru aja Mamahnya meninggal, udah kelayapan di Mall bareng pacar."
"Aduhhh, kelihatannya aja anak baik, aslinya teh begini toh?"
"Tega ya, Mamahnya baru pergi, dia malah seneng-seneng di sini!"
"Punya hati nggak sih, Mamahnya baru meninggal, bukannya diem di rumah malah main berdua sama pacar di luar!"
"Jaga popularitas dong Neng, jangan jatuhin harga diri!"
Meira menangis dan menutup wajah dengan kedua tangan. Dila yang berada di sebelahnya pun berusaha menenangkan. Melvin terlihat begitu kesal dan marah. "Diem! Lo pada bubar atau gue tuntut lo semua ke pengadilan!" ancam Melvin, dengan suara keras.
Mereka semua pun bubar dan pergi ke tempat tujuan masing-masing. Melvin, Dila, Aldo dan Meira, pergi ke parkiran. Mereka berempat masuk ke mobil dan pulang. Aldo harus mengantar Dila ke rumah dahulu, baru dirinya sendiri.