MeiMel

MeiMel
Nggak tau, judulnya apa



Meira, Melvin, Dila dan Aldo pergi ke sebuah Cafe. Tempat itu bernuansa alam dan cukup terbuka. Mereka berempat kini, tengah duduk di paling ujung dan meminum serta menyantap pesanan.


"Enak kagak jadi Artis?" tanya Aldo, sambil memakan cake kecil.


"Emmm lumayan sih. Semua pekerjaan-kan pasti ada enak dan enggaknya," sahut Meira, setelah minum.


Aldo menganggukkan kepala, mengiyakan. Melvin tengah bermain handphone dan bertanya, "Lo kagak mau tingkatin pangkat di dunia hiburan? Suara lo kan bagus,"


"Maksudnya ningkatin itu, jadi Penyanyi?" tanya Meira memastikan dan Melvin pun mengangguk. "Emm, bisa aja sih, selepas lulus kalik ya?"


"Jangan, entar capek Mei! Kalau kamu sakit gimana?" ucap Dila, sambil mengaduk minumannya.


"Emmm, iya deh," sahut Meira menurut.


"Good." Dila memberikan jempol, sambil senyum. "Btw, besok kalian mau pergi nggak? Boring nih!"


Meira menyeruput minuman lewat sedotan dan berpikir. "Kurang tau sih, kayaknya nggak bisa."


"Kalau besok, gue sama Melvin ada perlu," ucap Aldo memberitau. Melvin yang berada di sampingnya mengangguk, sambil bermain handphone.


Dila merucutkan bibirnya ke depan dan mendesah. "Huh, ya udah lah, gue liburan sama Oppa aja."


Aldo tersenyum dan mengobrol dengan Dila, yang terlihat kesal. Meira menyenderkan kepala kedua tangannya dan menatap Melvin, yang sedang bermain handphone. Sedari tadi, Melvin terus melihat ke arah layar persegi panjang itu.


"Lagi ngapain sih? Chat-chatan sama Tiara pasti?" goda Meira dengan posisi yang masih sama.


Melvin melihat ke arah Meira dan tersenyum kecil. "Kalau iya kenapa? Cemburu?"


Meira kembali duduk dengan posisi awal. "Idih, enggak ya! Sorry gue udah move on." dia melipat kedua tangan dan memalingkan wajah.


Melvin tersenyum smrik dan kembali menatap ke layar handphone. Meira cemberut, karena tidak mendapatkan respond dari Melvin. Dia melihat ke arah Aldo dan Dila, yang terlihat cangung. Ehh mereka berdua kenapa? Perasaan kita semeja, tapi gue nggak tau apa-apa?


Kayaknya Aldo agak jaga jarak dari gue. Apa dia masih marah ya, sama gue? batin Dila gelisah, sambil memainkan minumannya.


Satu jam kemudian, Pelayan datang membawakan bil. Melvin membayarkan pesanan mereka berempat dan pergi keluar bersamaan. Melvin dan Meira pergi pulang duluan, dengan mobil masing-masing. Aldo hendak masuk ke dalam mobil, namun dicegah oleh Dila.


Dila menahan pintu mobil Aldo dengan wajah sedih. "Aku minta maaf, soal yang waktu itu."


Aldo melihat ke arah Dila dan berdiri dari duduknya. "Gue udah maafin, Dil. Gue juga yang salah, ngomong nggak lihat keadaan dulu. Sorry, udah bikin lo malu."


Dila mengangkat pandang dan melihat ke Aldo. "Do, gue nggak bisa pacaran, kalau mau... Lo nunggu gue, hingga waktu itu tiba."


Aldo melihat ke arah Dila dan mengegam atas pintu mobil. "Kapan?"


"Setelah kita semua berkeja dan berumur dua puluhan lebih," sahut Dila.


Aldo tersenyum dan menganggukkan kepala kecil. "Baiklah, gue akan tunggu, hingga waktu itu tiba. Sekarang gue harus pergi, boleh?"


Dila sedikit murung dan menundukan kepala. Dia lepas tanganya dari pintu mobil Aldo. "Sorry, karena aku udah ganggu waktumu."


Aldo menghela napas pelan dan mengusap puncak kepala Dila. "Lo jangan salah paham, gue emang ada perlu penting. Cepatlah pulang, Tante pasti nungguin lo."


Dila menganggukan kepala dan Aldo pun masuk ke dalam mobil. Aldo menutup pintu dan membuka kaca mobil. Dia pun melambaikan tangan ke Dila, sembari menjalankan mobil. Dila hanya tersenyum sendu dan membalas lambaian itu.


Kenapa kamu pakai lo-gue? Semoga aja perasaanmu nggak berubah, Do. Dila masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan lokasi.


...🍁...


Meira telah tiba di rumah. Terlihat di ruang tamu ada Chika, Vena, Alex dan Bik Tika. Meira merasa begitu ceria dan memeluk erat Chika.


Chika pun terlihat bahagia dan memeluk erat Meira. "Mbk juga, Mei. Apa kabar?"


Meira dan Chika melepas pelukannya. "Baik kok, Mbk," sahut Meira. Tak lama handphonenya berdering. "Aku angkat telpon dulu ya, Mbk."


"Iya," ucap Chika sambil menganggukkan kepala. Meira pun pergi ke halaman belakang rumah.


"Apa kita nggak dianggep?" tanya Vena, melihat kepergian Meira.


Alex tertawa kecil, sambil menaruh secangkir kopi. "Sudah menjadi kebiasaanku, tidak dianggap sebagai manusia."


Bik Tika tersenyum dan berkata, "Dulu, Almarhum lah yang mulai duluan, seperti membuka obrolan, menyalurkan tangan untuk bersaliman dan berpelukan."


"Ohhh begitu ya, tapi... Aku udah berulang kali senyum duluan, nggak dibales tuh? Apa dia sebenci itu sama aku ya?" ucap Vena.


"Emmm, Meira selalu membalasnya kok. Mau dia musuh atau orang yang dibencinya," sahut Chika.


"Lahhh," desah Vena bingung.


Bik Tika tersenyum lembut. "Nona sebenarnya membalas senyum itu, namun Nyonya tidak tau. Non Meira perlu waktu untuk menerima anda."


Chika menganggukkan kepala, setuju, "Iya, itu benar."


"Hmmm, baiklah," sahut Vena dan tersenyum lembut. Alex yang ada di sana pun ikut tersenyum.


Terlihat di halaman belakang, Meira tengah berdiri di pinggir kolam renang sambil berteleponan. Kini cuacanya cukup cerah, hembusan angis datang menggoyangkan pakaian dan rambut Meira.


Meira menyingkirkan rambut ke belakang telinga. "Bang Verel sekarang ada di mana?"


"Di daerah Hotel FVOOR, kamu beneran mau jemput?" tanya Bang Verel dari balik telpon.


"Iya, Abang jangan kemana-mana, sepuluh menit lagi aku ke sana!" ucap Meira, sembari berjalan ke arah dalam rumah.


"Jangan ngebut ya Dek!"


"Oke, Bang," tutup Meira dan segera pergi.


"Mau kemana?" tanya Vena, melihat Meira yang sedang buru-buru pergi.


"Mau main bentar, assalammualaikum!" Meira menutup pintu dan pergi meninggalkan tempat.


"Waalaikumsalam," sahut para keluarga.


Alex memegangi kening dan melihat ke arah Chika. "Kau pergilah ke kamar tamu, besok ada banyak sekali kegiatan yang harus kita lukakan. Istirahat yang benar!"


"Iya," sahut Chika.


Alex mengusap lembut puncak kepala Vena dan pergi meninggalkan tempat. Bik Tika mengambil cangkir bekas kopi Alex. "Saya ke dapur dulu ya, Nyonya."


Vena menganggukan kepala, mengijinkan. Bik Tika pun membungkukan badan dan pergi meninggalkan tempat. Vena meminum susunya dan bermain handphone.


Chika melihat ke arah Vena. "Pak Alex ada masalah? Apakah Meira masih...?" bingung dan ragu.


Vena melihat ke arah Chika. "Alex harus selesain semua urusan Kantor sekarang, karena besokan kita buat vidio."


"Ohh gitu," sahut Chika menundukkan kepala.


Vena melihat ke arah Chika dan kembali ke layar handphone. Kayaknya Mas Alex mikirin soal klarifikasi besok.