
Malam hari telah tiba. Terlihat di sebuah Cafe AFA, ada seorang Gadis yang duduk di salah satu bangku kosong, sambil main handphone. Gadis itu memakai baju warna putih dan celana kulot panjang, hitam. Tak lama Aldo datang dengan jaket hitam, celana jens dan kaos oblong putih. Dia duduk di bangku depan Gadis itu.
"Apa kabar Dil?" sapa Aldo dengan senyum hangat.
Yups, Gadis itu adalah Dila. Riasan yang tipis dan cekip yang menghiasi rambut, membuat kecantikannya bertambah. "Baik dong, pesen dulu gih!"
Aldo tersenyum dan memanggil Pelayan. Tak lama, Pelayan itu datang dan siap menulis pesanan Aldo. "Ice blend cofe, satu."
Pelayan itu mengangguk. "Baik, ditunggu sebentar ya Kak, permisi!" Dia membungkukkan badan dan pergi.
Aldo tersenyum dan melihat ke arah Dila, yang sedang menyeruput kopi late. Terlihat di sekitaran ujung bibir, ada bekas kopi late. Aldo tersenyum, menahan tawa dan mengambilkan tisu. "Dil, lap tuh bibir! Minum aja blepotan."
Dila mengerutkan kening dan mengambil tisu. Dia membersihkan mulutnya dan bertanya, "Udah belum?" Aldo menganggukkan kepala, sebagai jawaban. Dila pun pergi membuang tisu dan kembali duduk.
Tak lama Pelayan datang memberikan pesanan Aldo dan pergi. Aldo meminum ice blend cofe dan berbicara dengan Dila. "Lo ngajak gue ke mari buat apa?"
"Gue mau ngasih tau lo, soal Tiara," ucap Dila memberitau dan Aldo pun menaikkan salah satu alis. "Setelah pulang sekolah tadi, gue nggak sengaja ketemu Tiara cs, di Cafe." Dila mulai bercerita dan Aldo pun menyimak.
...Flesback On....
Dila keluar dari mobil dan masuk ke dalam Cafe. Dia pergi ke tempat pemesanan dan memesan makanan. Dia menunggu duduk di salah satu bangku dan bermain handphone. Terdengar suara yang tak asing di telinganya.
"Ya ampun... Aku nggak sabar, lihat kamu di tv nanti!" seru seorang Wanita, yang tak lain adalah Adel.
Dila mencari sember suara itu dan melihat ke arah meja lain. Terlihat di tempat itu ada tiga Wanita cantik, yang masih memakai seragam sekolah. Ketiga Wanita itu adalah Tiara, Nisa dan Adel. Dila pun memutuskan untuk nguping dan memunggungi mereka.
"Tapi Tir, apa yang kalian berdua lakuin itu, udah dipikiran bener-bener? Aku ngerasa sedikit janggal," ujar Nisa ragu-ragu.
Tiara tersenyum dan meminum jus itu dengan sedotan. "Kamu nggak perlu khawatir Nis, semuanya sudah berjalan dengan lancar. Aku hanya perlu menginjak satu anak tangga lagi, untuk berada di atas."
Adel terlihat berpikir dan berkata, "Emmm, Tiara! Maaf ya, aku cuman mau ngasih pendapat sedikit." Tiara menoleh ke Adel dan menunggunya. "Kalau kamu muncul, di detik-detik Meira jatuh, apakah masuk akal? Lebih baik kamu muncul, di saat masalah ini semua selesai."
"Aku setuju sama Adel! Ada banyak stasiun tv yang lebih tertarik untuk meliput berita Meira, dari pada soal pendatang baru. Penonton di luar sana, sangat menantikan klarifikasi dan kisah Meira, kalau kamu dateng di waktu itu juga, bakalan sia-sia, Tir!" ucap Nisa, membuat Tiara terdiam.
"Nahhh, bener itu! Coba kalian berdua pikirin dulu deh. Talenta kamu buat jadi bintang ada kok, buktinya fansmu banyak? Kamu hanya perlu bersabar saja, Tir," kata Adel, sambil menepuk tangan Tiara.
"Hmm, baiklah, aku akan coba bicarakan ini dengan Bima." Tiara tersenyum dan mereka bertiga pun berpelukan.
"Jangan-jangan Bima sama Tiara adalah orang yang ada di balik permasalahan Meira ini? Sialan!" ujar Dila kesal, dengan suara pelan.
"Pesanan nomor tujuh belas!" panggil seorang Pelayan dan Dila pun pergi mengambil pesanannya itu. Setelah itu, dia kembali pulang ke rumah.
...Flessback Off....
Aldo melipat kedua tangan di depan dada dan berpikir. "Hmmm, untung tuh anak punya temen yang baik!"
Dila mengerutkan kening dan terlihat kesal. "Gue cerita begini, bukan untuk dengerin pujian itu! Lo merhatiin gue ngomong kagak sih?!"
Dila mengusap wajah dengan kasar dan menggebrak meja pelan. "Yang lo bilang emang nggak salah, tapi bukan itu maksud gue! Pertanyaan dari nih cerita, apa ya--"
"Yang udah dilakuin Tiara sama Bima ke Meira?" lanjut Aldo.
"Nahhh itu, lelet bener lu!" ketus Dila, kesal.
"Bukannya lelet, gue lagi males aja bahas itu," sahut Aldo dengan satainya dan Dila pun menjadi marah. Aldo pun mengetik sesuatu di handphone dan mengirimnya ke Dila.
Aldo; Banyak orang lagi nguping.
Aldo; Info lo, udah gue terima. Entar gue kasih tau Melvin.
Dila membuka handphone dan membaca pesan Aldo. Dila pun menghela napas kasar dan menyeruput lagi kopi late. Aldo memberikan senyum lembut, sambil meminum kopi miliknya. Dila tak sadar, sedari tadi ada orang yang sedang mendengar pembincangan mereka.
"Harusnya gue minum tuh kopi! Dilihat orang lain, kelihatan aneh tau. Masa' yang cewek minum late dan cowoknya ice cofe," komen Dila, sambil memegang cangkir kecil itu.
"Buat apa mikirin pendapat orang lain? Selera orangkan beda-beda," sahut Aldo dan Dila pun tersenyum.
"Ada benernya juga," sahut Dila dan kembali menyeruput kopi itu.
Aldo mengaduk minumannya dan tersenyum malu. "Jujur, jantung gue deg deg deegan, tiap lihat lo," ucapnya tanpa melihatke arah Dila.
Dila yang sedang minum, terkejut dan menyemprot wajah Aldo. Dila segara mengambil tisu dan membersihkan mulutnya. "Lo kalau ngomong dipikir dulu dong! Bisa-bisanya lo ngomong hal menjijikan, kayak gitu?!"
Aldo tengah membersihkan wajahnya dengan tisu dan melihat ke arah Dila. "Lo yang harusnya mikir! Menjijikannya dari mana coba? Gue cuman ngungkapin hati aja!"
Dila berdecak sebal. "Ck, kata-kata lo yang deg deg degan, di telinga enggak enak! Harusnya lo pake ungkapan yang lain! Kalimat yang enak di denger di telinga!"
Aldo melihat ke arah Dila dengan serius. "Gue suka elo, Dil."
Dila terkejut dan menimpuk wajah Aldo, dengan buku menu. Wajah Dila memerah dan jantungnya berdetak dengan kencang. "Gue enggak suka elo, sorry!" teriaknya, sambil kabur.
Para pengunjung Cafe melihat ke arah Aldo, yang sedang tersenyum kikuk. Aldo memanggil Pelayan dan membayar kopinya dan Dila. Dia pun pergi, sambil menundukkan kepala dengan senyum yang sama.
"Yang sabar ya, Mas."
"Masih muda, waktunya panjang."
"Banyak cewek di luar yang mau sama Mas kok, semangat!"
"Kalau pun jodoh, pasti ketemu lagi."
Para pengunjung yang di lewati Aldo, memberikan suport, pesan dan nasehat. Aldo hanya bisa berterimakasih dan tersenyum kikuk. Bayangkan saja jika kita berada di posisi Aldo. Bagaimana malunya kita, jika ditolak seperti itu? Haduh, nggak kebayang deh. Udah disemprot pake kopi, ditolak pula, menyedihkan sekali.