
Bel pulang berbunyi dengan nyaring dan indah. Semua murid berhamburan keluar dari Kelas. Meira dan Dila pergi ke arah parkiran. Dila berniat untuk mengantar Meira pulang, namun gagal. Ibu Guru meminta tolong Meira untuk mengambil buku di Lab IPA. Dila pun terpaksa pulang sendiri, karena ada urusan mendesak. Meira menuruti perihtah Guru itu. Sesampainya di Lab IPA, terdengar suara seseorang yang tak asing.
"Aku sangat menyukaimu Vin," ucap seorang Wanita dengan manja.
"Aku juga," sahut seorang Lelaki.
Kayak suaranya... Meira mengintip ke dalam. Matanya mentolo dan langsung bersembunyi. Ia terkejut, melihat Tiara dan Melvin yang tengah berduaan. Terlihat, Tiara tengah menyenderkan kepala di bahu Melvin. Dan Melvin pun mengusap lembut puncak kepala Tiara. Jantung Meira berdegup dengan kencang, ia melangkah mundur ke belakang dan...
Bruk.
Meira tak sengaja menubruk tong sampah. Ia pun memasukkan sampah ke dalam tong dan hendak pergi. Namun Tiara dan Melvin sudah terlajur melihatnya. Meira berdiri tegak dan melihat ke arah mereka berdua.
"Lo ngapain di sini?!" tanya Melvin.
Meira terlihat kikuk dan bingung, "Aaa-aku mau ambil bu-ku di dalam, ta-pi nggak jadi."
"Bener?" Tiara yak percaya dengan Meira.
Melvin menaikkan salah satu alis dan mendekat. "Lo jujurkan?"
Meira menganggukkan kepala dan langsung masuk ke dalam lab, karena jatungnya terus berdegup kencang. Tiara dan Melvin mengobrol berdua di luar. Tak lama, Meira keluar dari lab sambil membawa buku yang diminta Guru.
"Selesai ngasih tuh buku, langsung balik! Gue tunggu di mobil!" ucap Melvin, sambil bergandengan tangan dengan Tiara. Mereka berdua pun pergi, tanpa mendengar jawaban Meira.
Meira menghela napas pelan dan membalikkan badan. Ia pergi ke arah ruang Guru, dengan hati yang remuk. Air matanya keluar, tanpa dimita. Aku tau Melvin suka sama Tiara, tapi kenapa rasanya sakit banget! Dia bukan milikku, aku nggak berhak cemburu!
Meira kini telah sampai di ruang Guru. Ia pun menghapus air matanya dan masuk ke dalam. Setelah memberikan buku itu ke Guru, ia segera pergi ke parkiran. Ia mengetuk kaca mobil, sambil ngos-ngosan.
Kaca mobil itu terbuka dan menampakkan wajah Melvin serta Tiara. "Masuk!"
Meira kaget dan langsung menggelengkan kepala. "Enggak, aku mau pes---"
"Masuk!" pinta Melvin dengan tegas. Meira dengan terpaksa, masuk ke dalam mobil dan duduk di belakang. Melvin pun mengemudikan mobilnya keluar dari area Sekolah.
Terlihat di dalam mobil, Tiara tengah melingkarkan tangan di salah satu lengan Melvin dan menyenderkan kepala di bahunya. Meira sangat tau, jika Tiara sengaja melakukannya. Melvin juga diam dan tak menolak.
"Melvin, nanti malam main yuk!" ajak Tiara.
Melvin menoleh ke arah Tiara dan mengecup kening. "Lihat nanti ya! Sementara ini, aku tinggal di rumah Meira soalnya," ucapnya dengan lembut dan beralih ke depan.
"Baiklah," sahut Tiara dan salah satu tangan Melvin, mengusap lembut pipi cabinya. Mereka berdua mengobrol dengan asik, seakan dunia milik berdua.
Meira yang berada di belakang, terlihat tengah memainkan handphone. Ia memilih untuk bermain medsos dan menjawab komenan Fans. Duduk di belakang saja terasa pengap, apalagi harus melihat ke depan. Fans memang obat terbaik, untuk hatiku.
Tak lama mobil pun berhenti di depan rumah yang mewah dan besar. Melvin keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Tiara. Terlihat, mereka berdua tengah berbincang sedikit di depan gerbang, setelah itu Tiara mencium pipi Melvin dan masuk ke dalam. Melvin tersenyum dan pergi ke mobil.
Melvin memiringkan badan ke belakang dan melihat Meira tengah main handphone. "Woi, pindah lo!"
Meira mengangkat pandang ke Melvin. "Kemana?"
Meira mengerutkan kening. "Sabar!" ia mengambil tas dan keluar dari mobil, untuk pindah tempat duduk. Ia pun telah duduk di samping Melvin dan memasang sabuknya.
Melvin mulai menghidupkan mesin mobil dan mengemudikannya ke arah rumah. "Lelet bener lu!" ucap Melvin, namun tak dipedulikan oleh Meira. Melvin terlihat kesal, tapi ia tutupi dengan wajah cool.
...🍁...
Jino dan Alex kini berada di rumah, karena disuruh Via pulang. Mereka bertiga berkumpul di ruang keluarga yang tertutup. Via terlihat begitu dingin dan penuh emosi, sedangkan Jino sama Alex tengah diam saja. Bibik datang memberikan minum dan langsung pergi, setelah menaruh ke meja.
Via menyodorkan kotak yang penuh dengan foto dan beberapa barang kecil. Jino dan Alex hendak mengambil, namun dilarang. "Lex, baca nih surat! Setekah itu, jelasin ke gue semuanya!" Via memberikan surat ke Alex dengan tatapan yang dingin. Alex pun menerimanya dan mulai membaca.
Surat :
Alex, ini aku Sinta. Aku berharap surat ini kamu yang nerima. Jika kamu tau soal penyakitku sebelum baca surat ini, aku minta maaf. Mau aku operasi atau tidak, jika memang takdirnya pergi. Aku pun harus pergi.
Aku berharap kamu bisa menjadi Ayah yang lebih baik lagi. Aku tau soal Vena yang sedang hamil. Sebelum pergi, aku mengirim seseorang untuk meminta Vena datang ke rumah. Kamu harus bertanggung jawab Mas. Jika kamu khawatir tentang Meira, berubahlah.
Vena akan datang beberapa hari, setelah kamu nerima surat ini. Jangan cari tau, siapa pengirim surat ini! Bahagiakan Meira, ia telah rapuh dan lembut. Berikanlah anakku kehangatan. Untuk terakhir kalinya, aku mohon. Jangan bentak, marah atau ngamuk lagi Mas, sayangi Meira dengan penuh kelembutan.
Alex melipat surat itu dan menaruh ke meja. Jino yang merasa kepo pun, mengambilnya langsung dan mulai membaca. Alex pun mulai bercerita, "Tiga bulan yang lalu, gue hamilin Vena, karena capek dengan sikap Sinta, yang selalu ceroboh dan bo--" cerita Alex terpotong.
"Bodoh? Istri lo baru aja pergi, bisakan pake kata-kata yang lebih baik lagi!" Via tak terima, jika Sinta dikatain bodoh.
Alex merasa bersalah dan melanjutkan omongannya. "Beberapa minggu kemudian, Vena hubungi gue, dan bilang hamil. Sejak Vena ngabari hal itu, sikap gue berubah dan Sinta... kayaknya dia sadar. Sinta sering keluar nemuin seseorang, gue nggak tau dia siapa. Yang pasti, Sinta tau soal kehamilan Vena dari dia."
Via terlihat begitu kesal dan marah. "Lo taukan siapa Vena?! Dia sahabat kita berdua, Lex! Gimana perasaan Sinta, waktu tau lo berdua berhubungan di belakangnya, hah!" ia mulai menagis. "Suami sama sahabatnya main di belakang, tanpa dia ketahui! Sakit Lex! Gue yang nggak berada di posisi Sinta aja nyesek! Apalagi Sinta!" Via menangis, sambil merepas baju. Jino yang melihatnya pun tak tega dan berpindah tempat ke sofa Via. Ia merangkul Via dengan sayang dan berusaha menenangkan.
Alex tau, Sinta pasti akan hancur dan terluka, setelah mengetahui hal ini. Terlihat dari sikap Sinta dulu yang mencueki dan sedikit menjaga jarak dengannya. Melihat perubahan sikap Sinta itulah, yang membuat Alex curiga dan berpikir, jika dia telah tau soal Vena. Sekarang, kecurigaan itu telah terjawab. Alex tidak bisa bebuat apa-apa dan bersiap menghadapi ujian kedepannya.
"Yang dibilang Meira bener Lex! Lo nggak pantes hidup bahagia!" ucap Via dengan mata yang memerah dan suara parau. "Kita lihat saja nanti, bagaimana reaksi Meira, setelah mengetahui semua ini!"
Alex terkejut dengan ucapan Via. "Jangan Vi!" Via tak mendengarnya dan pergi bergitu saja dari ruangan. Jino pun menyusul Via dari belakang. Alex mulai emosi dan menendang meja.
Terlihat di sisi lain, Meira dan Melvin telah pulang ke rumah. Mereka berdua kini telah berada di ruabg tengah. Via dan Jino yang mengetahui ke pulangan sang anak pun. langsung mengubah ekspresi.
"Meira! Melvin!" panggil Via dengan senyum lebar. Meira dan Melvin menghampiri Via serta Jino.
"Mandi sana! Udah bau kecut kalian!" ujar Jino sambil menutup hidung.
Melvin mencium seragamnya. "Kagak tuh."
"Udah sana mandi, terus shalat!" desak Jino, mendorong Melvin ke arah tangga.
Meira merasa aneh dengan sikap Via dan Jino. Ada apa ya? Mata Tante Via juga, kayak orang habis nangis.
"Meira!" panggil Via, sambil memegang bahu Meira. "Mandi ya, habis itu shalat!" Meira mengangguk.
Meira dan Melvin pun naik ke atas. Mereka pergi ke kamar masing-masing dan segara mandi. Via dan Jino pun menghela napas. Via memilih untuk ke dapur sendiri tanpa ditemani Jino. Via ingin segera masak untuk keluarga, karena jam makan malam bentar lagi tiba. Jino menurut dan pergi ke kamar, untuk mandi.