MeiMel

MeiMel
Roti kering.



Meira dan Dila kini dalam perjalan. Dila mengantar pulang Meira ke rumah duluan, karena sahabatnya tidak membawa mobil. Mereka berdua ngobrol dan sesekali bercanda tawa.


"Parah, lihat wajah Aldo tadi, kalihatan banget tuh anak jijik sama lo!" kata Meira sambil terkekeh.


Dila mengemudikan mobil dengan perasaan sebal, mengingat sikap Aldo. "Rasanya pingin gue congkel tuh leher!"


"Hahahaaa, ngakak aku Dil!" ucap Meira sambil memegangi perut yang terasa sakit, karena banyak tertawa.


Dila berdecak sebal dan menghentikan mobil, karena lampu merah. "Ohh iya Mei, cowok yang nganter lo tadi Bang Verelkan?"


Yups, Dila memang mengenal Verel. Meira dulu memperkenalkan Verel ke Dila waktu kelas satu SMA. Mereka bertiga pernah beberapa kali pergi untuk makan dan main bersama.


Meira menganggukkan kepala, "Iya, kok kamu tau sih?"


Dila menyenderkan kepala di salah satu tangan. "Biasalah, kalian berduakan menarik perhatian!"


"Hadeh, Bang Varel kebiasaan, gue bingung cara nanganinnya!" Meira menepuk jidat dan hendak mengambil handphone.


Dila menghentikan gerakan Meira. "Meira!" panggilnya, membuat Meita terkejut.


"Apa?!" ucap Meira ngegas, karena kaget.


Dila cengengesan, sambil menjalankan kembali mobilnya, karena lampu sudah berwana hijau. "Mau ngopi nggak ke Cafe? Aku traktir deh!"


"Ck, lo manggil cuman buat nanyain ini?" Meira tak percaya dengan sikap Dila. Bisa-bisanya dia memanggil Meira dengan nada seperti itu. Untung saja jantung Meira kuat. "Gue ogah!"


Dila cengengesan dan menjawab, "Okelah." Meira mendengus kesal dan melihat ke arah jendela, sambil melipat kedua tangan di depan dada. Sorry Mei, gue lakuin ini demi lo, batin Dila.


Tak perlu waktu lama, mobil Dila tiba di depan gerbang rumah Meira. Mereka berdua saling berpelukan dan pamit. Meira keluar dari mobil dan Dila pun pergi meninggalkan tempat. Meira masuk ke dalam rumahnya. Terlihat di ruang tamu ada Alex dan juga Vena.


"Assalammualaikum," ucap Meira, tanpa melihat ke arah Alex dan Vena sedikit pun.


"Meira!" panggil Alex, sambil menutup buku yang ia baca.


Vena pergi ke arah dapaur dan Meira pun melihat ke arah Alex. "Hmm."


"Duduk dulu dong, Ayah mau ngomong, sini!" ajak Alex, sambil menepuk-nepuk sofa empuk yang ada di sebelahnya.


Meira mengerutkan kening dan terpaksa duduk, namun di depan Alex. Jarak di antara sofa Meira dan Alex, sekitar satu setengah menter. Alex berusaha tersenyum, walaupun hatinya menggerutu kesal. Bagaimana tidak kesal, sikap Meira akhir-akhir ini, membuat dia naik darah. Dia terus saja mengelus dada, supaya hal yang lebih buruk lagi tidak terjadi.


"Coba kamu tebak, apa yang udah Ayah lakuin hari ini!" seru Alex dengan wajah senang.


Meira menatap datar Alex, dengan tangan menyangga kepala. Ia memutar bola mata jengah dan hanya diam saja. Seketika, ruangan menjadi hening dan Alex merasa pegal, karena terus tersenyum.


"Oke, kamu pasti nggak tau kan?" ujar Alex sambil terkekeh. "Ayah... kirim Chika ke kampungnya dan kamu pun pensiun dari dunia hiburan! Gimana, ide Ayah baguskan?"


Meira melongo, ia tidak percaya dengan apa yang telah didengar. "Whatttt?!" teriaknya. "Lo bisa kagak sih bikin hidup gue tenang sedikit! Seneng banget bikin orang menderita!"


Alex tersenyum senang dan menyenderkan tubuh ke sofa, sambil menyilangkan kaki. "Lohhh, mangkanya Ayah lakuin ini, dengan begini kamu bisa belajar dan main sepuasnya, tanpa mikirin kerjaan!"


"Terserah elu!" ketus Meira, hendak berdiri dari duduknya.


Meira mendorong nampan itu menjauh, dengan pelan. "Nggak!"


Meira hendak pergi, namun dihentikan Bik Tika. "Non beneran nggak mau coba? Ini kesukaan Non loh."


"Jaim dia Bik, padahal dalam hatinya juga mau," sindir Alex, setelah itu menyeruput kopi.


Meira menatap kesal Alex. Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat. "Hmmm, ditolak nih rotinya? Bu Vena, buang aja deh! Biarin aja, kalau Almarhum sedih di surga sana, mau gimana lagi, anaknya sulit dikasih tau!" ujar seorang Wanita, Kiara.


Meira melihat ke arah Kiara dengan ekspresi terkejut. "Ehhh, Mbk Kiara kan?" tanyanya.


"Ya iyalah, siapa lagi kalau bukan Kiara!" ketus Kiara.


Meira terkekeh dan berlari, memeluk Kiara dengan erat. "Hehehe, apa kabar Kak?"


"Baik, bocil nakal!" Kiara membalas pelukan itu dan mengacak rambut Meira dengan gemas.


Mereka berdua melepas pelukannya. Meira bertanya, "Mbk Kiara kok di sini? Oma sama Oppa ikut nggak?"


Kiara tersenyum dan memberikan kotak kecil yang panjang ke Meira. "Nih, dari Oma sama Oppa!"


Meira menerima kotak itu dan membukanya. "Wahhh, cantiknya!" kagum Meira. Terlihat kalung itu berwana putih dan kupu-kupu kecil, dengan huruf M di samping kanan kiri. "Bilangin ke mereka ya Kak, kalau aku suka kalungnya!"


Kiara menganggukkan kepala. "Oke, lain kali ke rumah dong."


Meira melirik ke arah Alex. "Males ahhh, ke sana cuman dengerin gerutuan orang-orang tentang si itu!"


Vena melihat ke arah Alex yang terlihat murung. "Emmm, biar Mamah yang urus Ayah, kamu ke sana aja, nggak papa!"


Meira menatap jengah Vena. "Wujud dia emang nggak ada, tapi luka yang dibuat masih membekas dan ninggalin jejak!" ujarnya membuat Vena, Alex dan Bik Tika diam. "Sini! Jangan batin!" Meira mengambil roti kering dari nampan Sinta dan pergi ke kamar.


Kiara menghela napas pelan dan melihat ke arah Alex. "Pak Alex, anda sudah lihat bukan, hukum karma itu ada! Berhati-hatilah dan segera perbaiki diri!" pesannya. "Saya pamit dulu, assalammualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Alex, Vena dan Bik Tika. Kiara pun keluar dari rumah.


Vena menghela napas pelan dan duduk di sofa, karena merasa sedikit stres. Bik Tika mengambil nampan dari Vena, dan menaruhnya ke atas meja. Alex menghampiri Vena dan menenangkannya.


"Nyonya, permasalahan ini jangan terlalu dipikirkan! Anda harus mengontrol emosi, supaya Dedek Bayinya baik-baik saja," ucap Bik Tika lembut.


Alex mengusap lembut tangan kanan Vena. "Ven, inget kata Dokter kemarin! Kamu nggak boleh terlalu stres!" katanya khawatir.


Vena melihat ke arah Bik Tika. "Bibik lanjutin kerja aja, saya nggak papa kok, ada Mas Alex juga di sini."


Bik Tika menganggukkan kepala, paham. "Baik Nyonya, permisi!" Bik Tika pergi meninggalkan tempat.


Vena melihat ke arah Alex dan memegang lembut salah satu pipinya. "Aku nggak papa, Mas. Aku mau istirahat di kamar!"


Alex tersenyum dan memegang lembut tangan Vena yang ada di wajahnya. Alex mencium tangan itu. "Mau, Mas anter?"


Vena berpura-pura berpikir. "Hmm, boleh deh, kakiku pegel juga." Vena tersenyum dan Alex pun menggendongnya. Alex membawa Vena pergi ke kamar.