
Meira kini berada di Kelas sendirian. Dila belum datang, karena Meira berangkat terlalu awal. Tak lama, Bima datang dan duduk di bangku depan Meira. Bima menarut sebuah kotak kecil ke meja dan mendorongnya ke arah Meira.
Meira melihat ke arah kotak itu dan beralih ke Bima. "Apa ini?"
Bima menopang kepala dengan tangan kanan, sambil melihat ke arah Meira. "Buka aja dulu!"
Meira mamujakan bibirnya dan membuka. Terlihat, di dalam kotak itu ada jam tangan yang sangat cantik dan mahal. Jam tangan itu berwana putih kecoklatan, dengan aksesoris berlian kecil di sekeliling lingkarannya dan motif kupu-kupu mengkilap di tengah. Meira sangat menyukainya dan merasa bahagia. "Ya ampunnn, bagus banget! Ini buat aku?"
"Bukan, itu buat Bi Tika!" ucap Bima, sambil tersenyum.
Meira melihat ke arah Bima dan mengerutkan kening. "Masa" Bi Tika dikasih beginian? Nggak cocok dong!"
Bima tertawa dan kembali dengan posisi duduk. "Enggak, itu buat kamu Mei!"
"Sudah kuduga, makasih." Meira tersenyum dan memakai gelang itu. Ia terus melihati gelang itu dengan perasaan senang dan mengusapnya, sesekali. Bima tersenyum kecil dan mengambil handphone.
Melvin yang baru saja sampai di Sekolah, tak sengaja melihat Meira dan Bima berduaan. Senyum jail, muncul di wajah Melvin. Ia pergi masuk ke dalam Kelas dan merebut handphone Bima, yang sedang memfoto Meira. Meira dan Bima kaget. Mereka berdua menoleh ke arah Melvin.
Melvin tersenyum smrik. Terlihat jelas, di handphone Bima, ada beberapa foto Meira, yang baru saja diambil. Bima berdiri dan mengambil paksa handphonenya. Mereka berdua saling melihat. Melvin melihat dengan wajah jail, namun cool dan Bima memasang ekspresi kesal.
"Sans aja Bro, kagak usah takut, gua pasti kasih tau dia!" ucap Melvin sambil menaikkan kedua alis.
Bima meraih kerah Melvin dan Melvin pun membalasnya. Mereka saling melihat dengan tatapan benci dan marah. Meira yang melihat keduanya hendak tauran pun, memutuskan untuk melerai. "Kalau mau tauran di lapangan. jangan di sini!" ucap Meira, setelah memisahkan Melvin dan Bima.
"Enggak Mei!" sahut Bima.
"Temen lo duluan noh! Yang narik kerah gue!" ngadu Melvin, membuat Bima kesal.
"Siap---" ucap Bima terpotong.
"Diemmm! Gue nggak mau tau hal itu!" ujar Meira dan kembali duduk.
"Lo balik gih!" suruh Melvin ke Bima.
Bima melihat ke arah Melvin. "Lo aja sana!"
"Lahhh, lo yang dipanggil Pak Dono, ngapa gue yang pergi! Aneh!" ucap Melvin berbohong dan menyilangkan kaki sambil menyender di meja.
Bima teringat sesuatu. "Ohh iya, Pak Dono pasti nungguin gue dari tadi, Mei, gue duluan ya!" ia pergi berlari ke arah luar Kelas dengan terburu-buru.
Meira dan Melvin terlihat bingung. "Perasaan gue tadi ngarang, ternyata bener," ucap Melvin.
Meira melihat ke arah Melvin dengan wajah tak suka. "Mau lo apa sih?!"
Melvin menoleh ke arah Meira. "Kagak ada, gue cuman mau bales perbuatan lo kemarin!"
"Ck," meira berdesal sebal dan menaruh kotak jam itu ke dalam tas.
Melvin melihat ke arah jam tangan Meira. Ia tau, itu pasti dari Bima. Entah mengapa, ia merasa tidak suka dan kesal. "Lo tau, Bima tadi ngefoto?"
Meira melihat ke arah Melvin dan mengangguk. "Ngapa emangnya?"
"Enggak papa." Melvin memalingkan wajah. "Emm, kayaknya tuh anak suka sama lo."
Meira melihat ke arah Melvin, sambil tersenyum. "Kalau iya kenapa?"
"Lo pingin jadi cewek guekan? Baru colon aja lo dah selingkuh begini! Gimana, kalau udah jadian?!" ucap Melvin sambil membalikkan badan dan melihat ke arah Meira yang tengah tersenyum senang. Anj*r, gue ngapa ngomong begini dah!
"Hahahaaa, cemburu ya...!" seru Meira sambil memutar-mutar jari telunjuk ke arah Melvin. "Hayooo, ngaku lo!"
"Ck, kagak usah kegeeran lo! Gue cuman..." Melvin kebingungan.
"Cuman apa hayooo? Cieeee, yang udah mulai suka sama aku nih, khihihihiii," foda Meira sambil tertawa bahagia.
Melvin merasa kesal dan marah. "Kesempatan lo berkuran sehari!" ia pergi meninggalkan tempat.
"Apa? Curang ihhh!" ucap Meira tak terima. "Melvinnnn!"
"Bodo amat!" ucap Melvin berteriak dari ambang pintu, tanpa membalikkan badan. Meira melipat kedua tangan di depan dada sambil manyun. Walaupun kesal, namun hatinya berbunga-bunga. Bibir yang awalnya maju lima senti, kini menjadi melebar, tersenyum. Ia membuka buku dan menutupi wajahnya yang merona. Tanpa keduanya sadari, Tiara sedari tadi melihat dari balik jendela. Ia pun pergi meninggalkan tempat.
...🍁...
"Aduhhh, gimana nih!" Dila panik dan khawatir. Montor itu terlihat, telah bonyok dan spionnya pun terlepas.
"Anj*r montor gue!" ucap Aldo terkejut, milihat kondisi montornya.
Dila membalikkan badan melihat ke arah Aldo. "Sorry Do, gue nggak sengaja."
Aldo melihat ke arah Dila. "Matalo dimana, hah! Montor segede ini, kagak kelihatan emang?!" ucapnya dengan penuh amarah, sambil menunjuk ke arah montor.
"Sorry... Gue ganti deh," kata Dila.
"Ganti-ganti, lo kira gue kagak mampu apa!" ketus Aldo.
Dila merasa kesal dan marah. "Terus, mau lo gimana?!"
"Jadi cewek gue!" sahut Aldo tiba-tiba.
Dila terkejut dan melongo. "Sebleng!" Ia pergi mengambil tas dan handphone di dalam mobil, dengan perasaan kesal. "Mimpi!" Ia mengibaskan rambutnya dan meninggalkan Aldo sendirian.
Aldo tertawa kecil melihat Dila. Aldo pun mendirikan montor dan menelpon seseorang. Setelah itu, Ia pergi ke dalam Sekokah dan masuk ke Kelas. Tak lama, bel masuk berbunyi dan para Murid berhamburan masuk ke dalam Kelas.
...🍁...
Bel istirahat berbunyi dan pelajaran pun berakhir. Dila dan Meira kini, tengah merapikan buku-bukunya, ke dalam tas. Selesai merapikan, Dila mengambil handphone dan berdiri di samping meja, sambil menunggu Meira.
"Dil, kamu duluan aja deh, aku mau ke kamar mandi!" ucap Meira memberitau.
Dila mematikan handphone dan memasukkan ke kantong. "Oke, jangan lama-lama!" Meira mengangguk dan Dila pun pergi ke kantin.
Meira pun pergi ke kamar mandi. Sesampainya di tempat tujuan, ia masuk ke dalam dan melakukan aktivitasnya. Tak lama, ia keluar dari kamar mandi dan bertemu dengan Tiara, yang sedang membawa tumpukan buku.
"Meira!" panggil Tiara.
"Hmm?" Meira melihat ke arah Tiara.
"Bisa nggak, bantu aku bawain nih buku ke Perpustakan? Aku harus ke ruang Osis sekarang! Plissss!" pinta Tiara dengan ekspresi wajah memohon.
Meira merasa sedikit curiga dengan Tiara. "Tapi..."
"Aku mohonnn, Bu Harni udah nungguin nih!" ucap Tiara. Meira menghela napas dan menerimanya. "Yeayyy, makasih Mei, kamu baik banget sih!" Ia berikan tumpukan buku itu ke Meira dan pergi meninggalkan tempat, sambil melambaikan tangan.
Meira menatap kepergian Tiara dengan perasaan curiga. Entah mengapa, ia rasa Tiara menyembunyikan sesuatu. Ia pun pergi ke arah Perpustakaan, sembari membawa tumpukan buku yang berdebu itu. Tak lama, ia pun sampai di tempat tujuan. Tempat itu terlihat berantakan sekali, buku-buku berserakan di lantai dan tidak tertata rapi di rak.
"Astaga! Kalau begini sih, gue terpaksa bersihin, njir!" Meira pun manuruh buku yang ada di tanganya ke rak dan membersihkan ruangan itu. Satu per satu, ia ambil buku di lantai dan mentanya di rak dengan rapi.
Tak lama, seorang Guru datang. "Ya ampun...! Apa-apaan nih! Baru saja saya bersihin, malah kamu berantakin!" omel Guru itu dengan suara yang keras.
Meira terkejut dan bingung. "Sa-saya tad--" Guru itu menghampiri Meira dan menarik salah satu tanyanya. Meira tersentak dan spontan ngikut. Guru itu membawa Meira pergi ke arah lapangan. Para Murid yang melihatnya, terlihat bingung dan mengikuti. Sesampainya di tengah lapangan, Guru itu mengambil karung dan memberikan ke Meira.
"Ambilin semua daun-daun dan sampah yang berserakan di bawah sampai bersih! Sebelum, lapangan ini bersih, jangan harap kamu kembali ke Kelas!" ancam Guru itu dan pergi meninggalkan tempat.
Meira menghela napas dan menguatkan diri. Sabar... sabar... Ia pun mulai memunguti sampah satu per satu dan memasukkan ke dalam karung.
Para Murid yang meliha, terlihat sedih, marah, kasihan dan, ada juga yang mengejek. Melvin, Tiara CS dan Aldo baru saja sampai. Mereka melihat ke arah Meira yang tengah memunguti sampah.
"Bwahahahaha, Mbk! Lo ganti provesi jadi tukang sampah? Ngenes amat hidup lo Mbk! Bawawahahha," ejek Melvin sambil tertawa puas. Meira membalikkan badan dan mencari keberadaan Melvin. "Bersihin yang bener! Belakang Sekolah sekalian! Ati-ati panas, entar gosong, kagak laku, mewek lo!" ucap Melvin berteriak dan pergi meninggalkan tempat.
Tiara tersenyum kecil melihat Meira. Mereka berdua saling melihat dengan tatapan yang sulit diartikan. Ini akibatnya, karena udah ganggu gue!
Tiara pun pergi menyusul Melvin dan Aldo. Meira yang melihat senyum Tiara tadi, merasa sangat kesal dan marah. Sedari awal, harusnya ia tolak dan pergi. Sayang sekali, penyesalan selalu datang di akhir. Ia pun melanjutkan hukumannya, hingga selesai dan bel berbunyi.
...^,^...
...Aduh... nulis ini jadi keingetan sama hukumanku di Sekokah dulu🙈Di suruh bersihin halaman Sekolah, karena telat😭 Satu Sekolah lihat semua hueee😭 Adek Kelas pada gangguin gue lagi. Huh, kenangan yang memalukan tapi menyenangkan😂😂 Setiap kali inget ini bawaannya ketawa melulu, awoakowkk. ...
...Nakal itu boleh, tapi jangan keterlaluan ya guys! Kasihan Orang Tua, kalau sampek di panggil ke Sekolah😭 Udah kena omel di Sekolah, di rumah juga😵. Untungnya sih aku enggak kena marah, malah diketawain, mungkin mereka udah capek kalik ya😁...
...See you all😘❤️...