MeiMel

MeiMel
Ada apa?



Meira dan Dila kini tengah berada di kantin. Saat ini mereka sedang mengobrol, sembari menunggu pesanan. Kantin itu masih sepi dan hanya ada mereka berdua dan Ibu Kantin.


"Parah, malu-maluin bener gue!" gerutu Dila, menyenderkan kepala ke atas meja.


Meira tertawa cekikikan melihat Dila. "Nyarah nih?"


Dila mengangkat pandang, melihat ke arah Meira. "Kagak lah! Ya kalik, gue nyerah begitu aja!"


"Hahaha, kirain mau nyerah." Meira tertawa.


Dila memutar bola matanya, malas. "Ohh iya, lo pernah kagak ngomong sendiri dalam hati dan nyautin, kayak ngomong sama orang?"


Meira menganggukkan kepala, mengiyakan Dila. "Kenapa? Emang kamu juga begitu?"


Tangan kanan Dila menopang kepala. "Dua minggu terakhir, aku begitu."


"Ohhh," sahut Meira.


"Cara nanganinya gimana ya?" tanya Dila.


Meira melihatke arah Dila dan menjawab, "Sibukin aja diri sendiri, dan banyakin ngobrol sama orang, tapi... kayaknya itu nggak bakal bisa ngehilangin kebiasaan ini deh. Aku udah sibukin diri buat syuting dan balas komenan para fans, tapi tetep... aja gitu lagi, gitu lagi!"


"Dimana kamu, waktu di posisi itu?" tanya Dila.


Meira berpikir dan menjawab. "Kamar mandi dan... saat aku sendirian. Tempatnya nggak nentu, di kelas aku juga pernah gitu."


Dila tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "What?! Kelas, yang bener kamu Mir?" tanyanya, "Bentar, Jangan-jangan waktu kamu diem dan melamun di kelas itu..."


"Iya," sahut Meira langsung, membuat Dila tertegun. "Setiap kali begitu, aku pasti istighfar dan lihat-lihat sekitar, untuk memastikan. Apa aku mengeluarkan suara atau lewat batin."


Dila menggegam tangan Meira dan menangis, "Hiks hiks, kok lo nggak bilang sih Mei. Gimana kalau kondisi lo memperburuk, hiks gue nggak kuat." Ia menundukkan kepala dan mengusap lembut tangan Meira.


Meira menggegam balik tangan Dila. "Ini yang bikin aku nggak mau cerita sama kamu, Dil! Jangan nangis dong, entar make up lo luntur loh, katanya mau mikat hati cowok!" Meira menyeka air mata Dila.


Dila melihat ke arah Meira dengan sendu. "Aku saja malu dan prustasi, waktu tau keadaanku begitu, apa lagi kamu?"


Meira tersenyum lembut. "Aku sudah terbiasa, jika seandainya suatu saat nanti, aku ketahuan ngomong sendiri," ucapnya menggantung, "Aku siap untuk menanggungnya!"


Dila terharu dengan ucapan Meira. Ia pergi menghampiri Meira dan memeluknya. "Hiks hiks, lo nggak perlu khawatir Mei, aku pasti nemenin kamu dan selalu bersamamu! Itu janjiku sampek mati!" Dila mengeratkan pelukannya dan menangis.


IBu Kantin ingin memberikan pesanan, namun ia urungkan niatnya. Meira memeluk Dila dengan senyum yang lembut. Tak lama, Dila melepas pelukannya dan menghapus air mata. Melihat kondisi Meira dan Dila telah membaik, Ibu Kantin pun pergi mengirimkan pesanan.


...🍁...


Bel istirahat telah berbunyi dari tadi, anak-anak pergi bermain dan juga makan. Melvin dan Aldo duduk di bawah pohon yang sangat besar, karena lelah. Tiara Cs datang menghampiri mereka berdua.


"Hallo Melvin!" sapa Tiara dari kejauhan, sambil berlari ke arah Melvin.


Melvin tersenyum senang. "Tumben ke sini?"


Tiara cengengesan dan sedikit membungkukkan badan. "Apa nggak boleh, nyamperin cowok sendiri?" tanya dan Melvin hanya diam. "Ohh iya, aku mau kasih tau kamu, besok aku nggak masuk dulu, karena ikut Ayah ke luar negeri, tiga hari aja kok."


"Hmm, ngapa lo ikut? Biasanyakan di rumah, kayak biasa?" Melvin membersihkan tubuhnya dari debu, setelah berdiri tegak.


Melvin memicingkan mata, ia merasa curiga dengan Tiara. "Oke."


"Lo ke sini doang, cuman mau ngasih tau hal itu?" tanya Aldo, setelah berdiri dari duduknya.


"Iya, kenapa?" tanya balik Tiara.


"Kagak apa-apa!" Aldo memalingkan wajah dan melihat ke arah lain.


"Kerjaan Osis masih banyak, aku pergi dulu ya!" pamit Tiara dan mengecup salah satu pipi Melvin.


"Melvin, Aldo, Bay-bay!" ucap Adel sambil melambaikan tangan dan Nisa hanya diam menundukkan kepala, untuk pamitnya. Mereka bertiga pun pergi meninggalkan tempat.


Aldo mendekat ke arah Melvin. "Gue rasa, Tiara nggak beda jauh sama lo!" ucapnya dan pergi meninggalkan Melvin duluan.


Melvin mengerutkan kening dan mencerna ucapan Aldo. Hah, Tiara nggak beda jauh sama gue? Maksud tuh anak apaan? Melvin menyusul pun pergi menyusul Aldo.


Meira dan Dila bertemu dengan Aldo di tengah lorong Kelas. Tak lama Melvin bergabung. Mereka bertiga pun mengobrol di sana.


"Roh lo berdua ketuker?" tanya Aldo serius.


Setan! batin Dila kesal. Ia berusaha tersenyum cantik dan mrngatur emosi. "Hahaha, kamu tuh ngomong apa sih Do, masa iya roh ketuker, ngarang aja," ucapnya lembut, sambil menutupi mulut dengan salah satu tangan.


Aldo terperangah dengan kecantikan Dila. Ia memalingkan wajah, untuk menyembunyikan wajahnya yang merona. Meira terlihat kesal dengan ucapan Aldo. "Lo goblok apa idiot! Kalau ngomong tuh dipikir!" ketus Meira dan pergi meninggalkan tempat.


Dila melambaikan tangan ke Aldo dan Melvin. "Duluan ya...!" Dila pergi menyusul Meira.


"Wahhh parah, roh mereka beneran ketuker!" ujar Melvin, memasukkan salah satu tangan ke kantong celana.


Aldo melihat ke arah punggung Dila dan Meira yang semakin kecil. "Selama dua minggu ini, lo ke rumah Meira?"


"Kagak," sahut Melvin tanpa melihat ke arah Aldo.


Aldo terlihat tengaj berpikir. Ia sempat melihat perubahan sedikit wajah Dila, sedangkan Meira tidak sama sekali. Gue yakin Dila lakuin dengan sengaja, tapi Meira... ngapa tuh anak berubah? Apa tujuan dan alasan yang membuat mereka berdua begini?


Melvin membalikkan badan dan hendak pergi ke Kelas, namun terhenti. "Lo mau sampek kapan matung? Kalau mau jadi patung, noh di tengah-tengah lapangan sekalian!"


Aldo membalikkan badang terlihat kesal ke Melvin. Tatapan kesal yang terselip amarah dan aura dingin. "Seenggak peduli ini, lo ke Meira?!"


Melvin diam dengan wajah datar. "Bukan urusan gue!" tegas Melvin dan pergi meninggalkan Aldo sendiri. Gue harus ajak Mamah ke rumah Meira! Kekonyolon ini kagak bakalan bisa gue biarin!


Aldo menyusul Melvin dengan perasaan kesal. Aldo merasa, tingkah Melvin benar-benar keterlaluan. Melvin tau yang dimaksud Aldo, namun ia mrmilih diam. Kondisi Meira yang seperti ini, pasti karena jiwanya. Melvin tidak bisa memberitau Aldo, soal kondisi Meira.


...°°°°°°...


Adakah yang pernah mengalami seperti Meira? Hmm, pasti ada☺. Jika kalian islam, usahakan untuk rajin shalat dan beristighfar tiap mau tidur. Seandainya kalian tidak bisa tidur dan tiba-tiba hal itu muncul, setelah sadar paksakan diri kamu untuk beristighfar! Sibukin kamu dengan hal-hal yang menenangkan, oke😘


Ingatlah, Tuhan selalu ada untuk kita. Jangan pesimis dan berpikir jika kamu sendiri! Suatu ujian yang kita keterima, pasti ada hikmahnya. Kalian tidak tahan? Pergi menyenangkan hati, tapi tetap ke hal positif!


...See you guys...