
Meira dan Melvin telah tiba di Mall. Mereka berdua turun dari montor dan melepas helm. Tampat itu terlihat ramai dan bersih. Meira memainkan jarinya, sembari melihat ke arah keramaian pengunjung. Ia takut, jika para Fans akan mengerubungi dirinya.
Melvin melihat ke arah Meira dan bertanya, "Ngapa lo?"
Meira menghentikan aktivitas jarinya dan mengangkat pandang ke arah Melvin. "Banyak orang Vin, nggak ada yang njagain aku juga dari gerombolan Fans!"
Melvin paham dan mengambil jaket kulit dari bagasi montor. Ia berikan salah satu jaket itu ke Meira. "Nih! Lo tunggu di sini, jangan kemana-mana! Gue beliin kaca mata sama masker dulu buat lo!"
Meira menemarima jaket itu dengan senyum ceria. "Makasihh, kamu bukan cuman ganteng, tapi juga baik hati, hihihii." ucapnya di akhiri tawa kecil.
"Lebay!" ucap Melvin ketus dan pergi meninggalkan tempat. Meira tertawa kecil, sambil memakai jaket dan helm, untuk menutupi identitasnya.
Tak perlu waktu lama, Melvin datang sembari membawa paper bag di tangan kanan. Ia berikan paper bag yang berisi kaca mata dan masker ke Meira. Mereka berdua memakai kaca mata dan masker itu. Selesai memaikainya, mereka berdua pergi masuk ke dalam Mall.
Mall itu terlihat begitu mewah, tinggi dan juga sangat luas. Meira dan Melvin, berjalan masuk ke dalam. Meira melihat satu per satu tempat dengan kagum. Sudah sangat lama, dia tidak kesini.
Melvin menghentikan langkah kakinya dan bertanya, "Mei, lo mau apa?"
Meira berpikir dan melihat ke arah Melvin. "Time Zone gimana?"
Melvin mengangguk dan mereka berdua pun pergi ke Time Zone. Sesampainya di tempat tujuan, Melvin meminta Meira untuk menunggu. Melvin ingin pergi, membeli kartu bermain. Meira melihat ke anak-anak dan pasangan yang tengah, asik bermain. Tawa dan senyum bahagia, terlukis dengan sempurna di wajah mereka. Meira ikut tersenyum, melihat kebahagian mereka.
Tak lama, Melvin datang menghampiri Meira dan mengajaknya main, "Ayo!"
Meira mengangguk. Mereka berdua pergi ke arah game tembak. Terlihat, layar yang begitu besar dan pistol untuk bermain. "Main ini?" tanya Meira, sambil menunjuk game itu.
Melvin mengangguk, "Iya, lo bisakan?"
Meira mengangguk, mengiyakan pertanyaan Melvin. Mereka berdua mengambil pistol dan Melvin pun mengesek kartu gamenya. Mereka berdua mulai bermain. Terlihat, Meira sesekali teriak, karena kaget. Sedangkan Melvin, dengan santai dan cool menghabisi musuh-musuhnya. Tak lama game pun berakhir.
"Ya ampun, nih game tujuannya mau ambil nyawa orang apa ya?! Dari tadi ngagetin aja! Bikin jantung mau copot!" ucap Meira sambil memegangi dada yang terus bedebar.
Melvin tertawa, tanpa mengeluarkan suara. Sayang sekali, Meira tidak tau, karena ketutup masker. "Apa lagi?" tanya Melvin.
Meira melihat satu per satu permainan. "Itu!" Ia menunjuk ke arah mesin yang penuh boneka dan Melvin pun mengangguk, mengiyakan. Mereka berdua pergi ke arah game itu.
Melvin menggesek kartu itu ke mesin. "Udah!"
Meira melihat ke arah mesin itu dan beralih ke Melvin. "Kamu yang ambilin ya, plisss!" ucapnya memohon dengan menyatukan kedua tangan di depan dada.
Melvin yang melihat Meira begitu, terpaksa mengiyakan dan mengambil alih mesin. Ia mulai memainkan mesin itu. "Lo mau yang mana?"
Meira melihat ke dalam mesin dan menunjuk salh satu boneka. "Itu!"
Melvin melihat ke arah boneka yang diminta. Boneka itu paling besar, dari pada yang lain dan berbentuk penguin lucu. Ia mulai mengambil boneka itu, namun gagal. Meira terus menyemangati Melvin, hingga menang. Dua puluh menit berlalu, akhirnya Melvin mendapatkannya.
"Yeyyyy!" seru Meira senang. Melvin memberikan boneka itu dengan senyum yang lembut. Meira menerimanya dan memeluk boneka itu. "Pulang yuk Vin! Udah mulai sore juga nih."
Melvin melihat ke jam tangan. Terlihat jarum jam menunjukkan pukul 16.55. Ia mengangguk dan mereka berdua pun pergi meninggalkan tempat. Perjalan ditengah Mall, seseorang menabrak Meira dari belakang, hingga terjatuh. Masker dan kaca matanya lepas. Semua orang yang melihat, terkejut. Mereka langsung mengerubungi Meira dan minta foto. Melvin yang berada di sebelah, tergeser karena dorongan para Fans Meira.
"Sialan, sakit bener dorongan mereka," gerutu Melvin, sambil mengusap-usap lengan. Ia melihat ke arah Meira yang terlihat terdesak, karena desakan para Fans.
Melvin tidak tega. Ia pun masuk ke dalam kerumunan dan membawa pergi Meira. Mereka berdua berlari keluar dari Mall dan dikejar oleh para Fans. Sesampainya di luar Mall, Melvin menarik Meira ke gang sempit. Posisi mereka berdua saat ini, saling berhadapan. Deru napas Melvin dapat didengar dan dirasakan Meira, saking dekatnya. Jantung Meira berdebar dengan kencang, ia memalingkan wajah ke bawah, karena malu.
Melvin mengintip ke luar. Terlihat, para Fans kebingungan dan pergi menjauh dari tempat mereka berdua berada. "Akhirnya..." ia pun menarik tangan Meira dan membawa pergi ke parkiran.
"Nih!" Melvin memberikan helm ke Meira, sesampainya mereka di parkiran. Meira menerima dan memakai helm itu. Meira naik ke atas montor dan Melvin pun melajukan montornya, pergi menjauh.
Para Fans yang mengetahuinya pun mengejar dan berteriak, "Meiraaa!"
Meira menoleh ke belakang dan melambaikan ke dua tangan ke Fans. Tak lupa, ia berikan kiss bay. Entah mengapa, Meira dan Melvin tertawa puas, karena terlepas dari kejaran para Fans.
"Parah, seru banget njir!" ucap Melvin sambil mengendarai montor.
Meira tertawa kecil, "Hahahaa, baru kali ini ya, emangnya?"
Melvin menoleh sebentar dan beralih ke depan. "Dulu pernah, tapi kagak sebanyak ini."
"Ohhh." Meira melingkarkan tangan ke pinggang Melvin dan menyederkan kepala ke punggung. "Maksih Vin."
Melvin terkejut dengan perlakuan Meira. Ia kembali fokus ke jalan dan menerimanya. "Iya."
...🍁...
Meira dan Melvin akhirnya sampai di rumah Alex. Meira turun dari montor dan memberikan helm ke Melvin. Meira hendak melepas jaket yang diberi Melvin, namun terhenti.
"Itu buat lo aja! Gue duluan!" Melvin menghidupkan montor dan melihat ke arah Meira. "Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Meira dan Melvin pun pergi meninggalkan tempat. Meira pergi masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tamu, ia diminta untuk bergabung oleh Alex.
"Meira! Ke sini dulu Nak, Ayah mau ngomong!"
Meira menghentikan langkah kakiknya dan melihat ke arah Alex serta Sinta. Ia pergi menghampiri mereka berdua dan duduk di salah satu sofa. Alex mengeluarkan kertas dan diberikan ke Meira. Meira menerima dan membaca kertas itu. Tertulis jelas di kertas, Meira akan bekerja di dunia hiburan selama dua bulan. Setelah itu, Meira akan kembali fokus ke sekolahnya.
"Gimana?" tanya Alex ke Meira.
Meira mengangguk. "Iya, aku setuju."
Sinta menghela napas lega dan tersenyum lembut. "Ya udah, balik ke kamar sana, ganti baju terus shalat!" pinta Sinta. Meira mengangguk dan hendak berdiri dari duduknya, namun terhenti.
"Shalatnya enggak usah buru-buru! Yang ikhlas dan lakuin semua ini dengan mengharapkan ridhonya Allah, jangan mengharapkan sesuatu yang nggak penting!" pesan Alex, yang sering kali Meira dengar.
Meira hanya diam dan mengangguk. Ia pergi ke arah tangga dan naik ke atas. Setelah itu, Alex kembali ngobrol dengan Sinta di ruang tamu. Meira bukannya tidak mau menerima omongan Alex. Ia sudah paham, namun jengah. Tiap hari Alex bicara seperti itu, membuatnya bosan dan muak. Setiap kali selesai shalat, ia selalu bertanya-tanya. Apakah shalatku salah? Apa shalatku, kelihatan cepet? Kenapa aku selalu diingatkan hal itu? Ia pun, hanya bisa menghela napas dan minta ampun ke Tuhan.
...🍁...
Malam hari tiba, seorang gadis cantik dengan pakian tidurnya, tengah duduk manis di teras kamar dengan secangkir minuman. Gadis itu adalah Meira. Ia sedang menikmati suasana dinginnya angin malam dan rintikan hujan. Pepohonan menari ke kanan dan ke kiri bersama hembusan angin hujan. Percikan air hujan yang terbawa oleh angin, sesekali mengenai tubuh Meira. Dan tak lama, notifikasi di handphone Meira masuk. Ia pun membuka dan membacanya.
...Room Chat On....
Bima :
Gue besok ke Kelas lo ya? [20.27]
Meira:
Ada apa sih, emangnya? [20.28]
Bima :
Rahasia. [20.29]
Meira :
Kebiasaan😤 [20.29]
Bima :
😂 [20.29]
...Room Chat Off....
"Hmm, Bima mau ngapain ya?" tanya Meira pada diri sendiri. "Ohh iya, chat Melvin aja ahhh, dari pada kepo, mikirin Bima."
...Room Chat On....
Meira :
Melvin.
Apa kabar?
Udah bobok ya?
Melvin.
p.
p.
p.
p.
Melvin :
Apa?
Meira :
Makasih udah ajak aku ke Mall tadi sama jaketnya😘
Melvin :
Hamm.
Meira :
Hmm, kayaknya aku bakalan menang nih.
Melvin :
?
Meira :
Perjanjian kita kemarin, kamu lupa?
Melvin :
Kagak.
Menang dari mana?
Meira :
Kan kamu udah mulai suka sama aku. Buktinya, kamu tadi ngajak aku ke Mall.
Melvin :
Geer!
Gue ngajak lu, buat balas budi njir!
Meira :
Ohhh, nggak papa.
Walaupun balas budi, itu udah awalan bagus, buat numbuhin cinta kamu ke aku, awoakwokkk😁😁😁
Melvin :
Serah lu.
Meira :
Good nigh Melvin😘❤
...Room Chat Off....
"Dihhh, chatku diread aja," ucap Meira, sembari melihat ke arah layar handphone. Ia mematikan handphone dan pergi masuk. Langit malam semakin gelap, Meira pun bersiap tidur, supaya bisa bangun pagi dan berangkat Sekolah.
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
...Hallo guys, maaf ya, kalau ada salah kata dalam tulisanku. Semoga, kalian suka dan mengambil sisi positifnya. Dukung aku selalu ya guys, lewat like, vote, fav❤ dan komen. ...
...See you all😘❤...