MeiMel

MeiMel
Live.



Alex dan Vena tengah duduk berdua di Ruang tamu. Alex terlihat fokus dengan laptop, sedangkan Vena asik makan spageti. Tak lama Meira datang.


"Assalammualaikum," ucapnya sambil menutup pintu.


"Waalaikumsalam," sahut Vena dan Alex.


"Mau?" Vena menunjukkan spageti ke Meira.


"Emm, enggak dulu Tan," tolak Meira dan melihat ke arah Alex. "A-ayah lagi apa?" tanya ragu.


"Emm, i-itu." Alex bingung jawabnya.


"Lagi nonton Ibu-ibu joget," sahut Vena dan mengambil sesuap spageti.


"Hah, yang bener?" tanya Meira memastikan.


"Enggak lah, Ayah cuman mau cari orang yang bisa... Ahhh, nggak pentinglah buat kamu!" Alex kembali melihat ke arah laptop.


"Hmm." Meira mengerutkan kening. "Ayah mulai nggak jujur lagi? Pasti ada sesuatu yang kalian sembunyikan?"


Alex melihat ke arah Meira dan menghela napas berat. "Bukannya begitu, Meira. Sebenarnya, berita tentang kamu lagi heboh di medsos. Ayah mau membereskannya, kamu nggak perlu pikiran hal ini!"


"Ohhh," sahut Meira datar dan hendak pergi.


"Ohh aja? Kamu nggak kaget atau... prustasi?" tanya Alex bingung dan Vena pun mengangguk, sambil mengunyah spagetinya.


Meira membalikkan badan dan menggelengkan kepala. "Aku udah tau, kok. Ngapain juga kaget," sahutnya dan pergi ke arah tangga.


"Kalau pusing atau kepalanya berat, langsung minum obat! Pintu kamar jangan di kunci!" teriak Vena begitu kencang, hingga Alex pun menutup kedua telinganya.


"Gue sehat!" sahut Meira tak kalah kencang. Dia berjalan ke atas tangga dengan perasaan kesal.


Vena cekikikan dan meminum air putih. Alex melihat ke arah Vena dengan bingung. "Kalian udah akrab?"


Vena menggelengkan kepala, sambil menaruh gelas ke meja. "Entahlah," sahutnya sambil tertawa kecil dan Alex pun menggelengkan kepala.


Terlihat di lain sisi, Meira tengah mengambil laptop dan membawa ke atas kasur. Dia mencari berita soal tentang dirinya dan membaca satu per satu. Ada sebuah buku di samping Meira dan dia tulis sesuatu di sana.


Satu jam telah berlalu, Meira menutup lapto itu dan tersenyum. "Hufff, akhirnya selesai juga. Aku pasti bisa lakuin!"


Meira mengambil handphone dan pergi ke teras kamar. Dia taruh meja kecil di depannya dan menaruh handphone tersebut di sana. Meira ingin melakukan live instagram, untuk klarifikasi. Satu per satu Fans bergabung dan menyapa Meira. Tak perlu waktu lama, ribuan orang telah melihat livenya.


Meira melambaikan tangan. "Hallo guys! Apa kabar semuanya?" sapanya dengan ceria dan senyum lebar.


Semua orang menjawab baik dan juga kangen. Banyak sekali komentar mereka yang muncul di layar persegi panjang itu. Meira tersenyum bahagia.


"Aku ingin meminta maaf kepada kalian semua. Maaf, karena sudah menjadi contoh yang tidak baik. Apa yang telah aku lakukan, memang sangat fatal dan tidak pantas untuk dilihat. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya." Meira membungkukkan badan dan menangis.


Terlihat banyak sekali love dan juga komenan di layar tersebut. Ada yang memaafkan, menyemangati dan menghina. Meira memahami perasaan netizen itu. Dia tidak dapat lagi menahan air matanya dan tetap tersenyum.


"Aku paham dengan perasaan kalian. Memang yang telah aku lakukan sangatlah kurang ajar. Hiks hiks hiks," Meira menutup mulutnya dengan tangan kanan. "Aku tidak meminta belas kasihan kalian. Apa yang telah kulakukan, tidak dapat dikasihani. Aku sangat berterimakasih pada Meibest dan Fans yang lain. Kalian selalu mendukung dan juga membelaku, namun aku bukanlah idol yang baik. Kalian bo---"


"A-aku hanya i-ngin klarifikasi aja, Yah." Meira menangis sesengukan.


"Kondisi kamu masih belum sepenuhnya pulih! Gimana kalau kamu baca komenan buruk para Hetres, hah!" omel Alex. Vena yang ada di belakang Alex, mulai khawatir.


"Aku udah siap!" sahut Meira sedikit emosi.


"Kamu udah siap, tapi Ayah belum. Gimana kalau kamu kembali prustasi dan loncat dari sini? Apa kamu bisa jamin, kalau kamu nggak akan bunuh diri?" tanya Alex meneteskan air mata dan menatap Meira dengan intens. "Meira, jawab Ayah!" bentaknya dengan tegas. Vena dan Meira terkejut.


Vena memegangi tangan Alex dan menangis. "Hiks hiks hiks, Mas.. jangan bentak Meira begitu. Dia lakuin ini juga, pasti demi kebaikan."


"Kebaikan siapa? Orang di luar sana, nggak ada yang peduli penjelasannya, mereka hanya bisa mencaci dan menghina," sahut Alex kasar. "Baru segini aja dia nangis kayak gitu. Gimana kalau aku nggak muncul? Dia pasti udah pingsan, stress atau buruk buruk lain! Yang dia lakuin ini, hanya akan memperburuk semuanya!" tambahnya.


"Arghhhhhh!" teriak Meira begitu kencang dan jatuh terduduk. Dia menutupi kedua telinga dan menundukkan kepala.


Vena menghampiri Meira dan memeluknya dengan erat. "Ayah hanya tidak ingin, kamu semakin dihina oleh mereka."


"Hiks hiks, tidak semuanya membeciku, aku hanya ingin meminta maaf," ucap Meira lemah dan lirih.


Vena menganggukkan kepala dan mengudap punggung Meira. "Kami tau sayang, tapi belum waktunya. Hati kamu masih rapuh, bersabarlah sedikit."


"Hiks hiks hiks, aku sudah membaca semua komenan mereka, Tante. Aku nggak apa-apa," sahut Meira dan Vena melepas pelukannya.


Vena menangkup wajah Meira, dengan kedua tangan. "Ada beberapa komenan udah kehapus sayang, kamu enggak tau. Mereka yang menulis komenan pedas itu, sangat menunggu live mu ini. Mereka ingin menghancurkan kalir dan hidupmu."


Meira tak percaya, dengan apa yang dia dengar. Alex mendekat dan memegang lengan Meira. "Melvin sudah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menyelediki ini, jangan biarkan usahanya terbuang sia-sia. Ayah tau perasaanmu, tapi... Ayah mohon, bersabarlah sedikit."


"Melvin?" tanya Meira, dengan mata yang berkaca-kaca dan Alex pun menganggukkan kepala. Kenapa harus dia? Bagaimana jalan pikir dia? Apa dia kasihan denganku? batinya dan menundukkan kepala.


Vena menghapus air mata Meira dan tersenyum lembut. "Mau sampek kapan di sini? Perut Tante udah pegel nih, masuk yuk!" ajaknya sambil menarik tangan Meira.


Meira terpaksa berdiri dan ikut masuk ke dalam kamar. Alex pun menyusul mereka dari belakang. Vena mendorong Meira ke arah kamar mandi.


"Kenapa ke sini?" tanya Meira bingung.


"Waktunya mandi, setelah itu jangan lupa shalat! Masih waraskan?" ucap Vena di ambang pintu.


"Masihlah!" ngegas Meira.


Vena tertawa dan memberikan jempok. "Sekiranya udah enggak bisa berpikir jernih, hentiin aja shalatnya, Allah pasti paham kok!" Vena membalikkan badan dan pergi.


Meira mengambil air dan menyipratkan ke arah Vena. "Gue sehat!" ucapnya dengan kencang dan kesal.


"Hahahah, oke-oke, yang waras harus ngalah!" ujar Vena sambil melambaikan tangan ke atas.


"Vena, jangan gangu Meira!" pesan Alex dengan tegas. "Meira, cepetan mandi dan shlaat!"


Meira berdecak sebal dan menutup pintu dengan kencang. Vena tertawa, sambil berjalan ke luar. Alex hanya bisa menggelengkan kepala dan memijat pelipisnya. Mereka berdua keluar dari kamar Meira.