
Pagi hari telah tiba, Meira keluar dari rumah dan pergi menghampiri mobil. Di saat dirinya hendak masuk ke dalam, Alex memanggil. Dia pun berdiri tegak dan melihat ke arah Alex dan Vena.
"Sehabis pulang, langsung ke rumah! Ada yang ingin, Ayah bicarakan," ucap Alex ke Meira.
Meira merasa heran dan bertanya, "Mau bicarain apa? Lama kagak nih?"
"Sebentar," sahut Alex singkat.
Vena memberikan uang jajan ke Meira. Terlihat lima lembar warna merah, yang ditekuk menjadi dua. "Bonus."
Meira mengerutkan kening. "Uang jajan ku masih utuh. Bank aja sampek enggak sanggup, nyimpen uangnya."
"Nggak papa, tinggal ganti Bank aja, kalau udah nggak muat. Hidup tuh harus dibuat gampang," sahut Vena santai.
"Hmm, oke lah, Makasih," ucap Meira, "Assalammualaikum." Dia masuk ke dalam mobil.
"Waalaikumsalam," sahut Alex dan Vena bersamaan. Mobil Meira pun pergi meninggalkan halaman luas itu. Vena mengambil handphone dari kantong rok dan menekan sesuatu.
"Uang jajan ku masih utuh. Bank aja sampek enggak sanggup, nyimpen uangnya," suara rekaman dari handphone Vena.
Alex melihat ke arah Vena dan mengerutkan kening. "Kenapa kamu rekam?"
"Hehehhe, buat daftar rekorku," sahut Vena, sambil tertawa kecil. "Jail adalah cara yang terbaik, untuk dekat dengan anak. Apalagi anak seumuran Meira!"
"Makin lama, kamu kayak anak kecil, Ven." Alex menggelengkan kepala. "Aku kerja dulu!"
Vena tersenyum lebar dan menyalami tangan kanan Alex. "Hehehe, ati-ati Mas."
"Iya, assalammualaikum," ucap Alex dan pergi masuk mobil.
"Waalaikumsalam," sahut Vena dan mobil Alex pun pergi meninggalkan halaman. Vena masuk ke dalam rumah, sambil mengusap-usap perutnya yang sudah cukup besar.
...🍁...
Meira tengah mengemudikan mobil ke arah Sekolah. Di tengah perjalanan, Verel menelpon Meira. Dia pun mengambil hansfree dan mengangkatnya.
"Hallo Bang, ada apa?" tanya Meira, yang masih fokus ke arah jalan.
"Abang sama anak-anak udah cari tau, soal Bima sama Tiara. Mereka berdua udah pacaran lama, sekitar satu tahunan lebih. Filing Abang, mereka berdua ada niatan buruk ke kamu sama Melvin," sahut Verel dari dalam handphone.
Niatan buruk? batin Meira dan berpikir. "Emmm, udahin aja deh Bang, kayaknya aku bisa selesain ini bareng temen yang lain. Thanks ya Bang, udah mau bantu aku."
"Lahhh, cuman segini doang?" ucap Verel dari balik telpon.
Meira tertawa kecil dan memutar setir mobil, untuk belok. "Hehehe, cuman itu aja yang aku perluin kok Bang. Emmm, Abang punya bukti foto atau rekaman gitu?"
"Ada dong, entar Abang kirim!" sahut Verel.
"Oke Bang, trimakasih kembali."
"Oke, sama-sama."
Astaga, pagi-pagi buta begini, udah dilihatin drama centil batin Meira kesal. Dia tetap berjalan di belakang Melvin dan Tiara, dengan jarak dua meter.
Tiara merangkul tangan Melvin dan menaruh kepala di bahunya. "Aku kangen banget sama kamu, Vin! Kok kamu jarang telpon juga sih?"
"Sorry, akhir-akhir ini banyak banget kerjaan. Gimana kabar keluargamu?" tanya Melvin melihat Tiara sebentar dan kembali ke depan.
"Baik kok, kalau keluarga kamu gimana?" tanya balik Tiara, sambil melihat Melvin.
"Baik," sahut Melvin singkat, dengan senyum.
"Syukur deh." Tiara tersenyum lega. Mereka berdua terus berjalan ke arah ruang ujian dengan mesra, tanpa menyadari keberadaan Meira.
Sabar Mei, kamu bukan siapa-siapa Melvin, inget itu! Kamu nggak menyimpan rasa cemburu, dia bukan punyamu, oke! batin Meira menyemangati diri sendiri dan berusaha untuk tidak melihat ke depan.
Tiara memeluk erat Melvin dan mengecup salah satu pipinya. Tiara pun pergi masuk ke ruangannya, sambil melambaikan tangan. Melvin tersenyum dan lanjut berjalan. Tiba-tiba, Melvin berhenti dan membalikkan badan.
"Awww." Meira melihat menundukkan kepala, tanpa melihat ke depan. Dia pun menubruk tubuh tegap Melvin.
"Lo dari tadi di belaknag gue?" tanya Melvin.
Meira kebingungan dan melihat ke arah lain. "Dari tadi? Nggak tuh, aku baru aja dateng kok."
Melvin mencondongkan tubuh ke Meira dan mendekatkan kepalanya. "Hmm mosok, hati gue mengatakan, kalau lo bohong?"
Wajah Meira memerah dan mundur kebelakang, untuk menjauh dari Melvin. "Jaga sikap lo! Kalau ada anak-anak yang lihat bisa salah paham nanti!"
"Heleh, begituan aja dipikirin," sahut Melvin melihat ke arah kiri, dengan tangan di kantong celana.
Meira terlihat kesal dan menarik lengan Melvin, supaya melihat ke arahnya. "Gimana kalau mereka foto dan auplod ke medsos? Masalah gue udah banyak, Vin! Gue nggak mau dikatain orang ketiga dalam hubungan elo! Jadi stop, jangan deket-deket gue!"
Melvin menampakkan wajah datar. "Lo bilang apa barusan? Jangan deket-deket?"
"Iya!" tegas Meira. "Elo sendirikan yang bilang, kalau aku nggak bisa naklukin hati kamu. Aku harus pergi menjauh dari hidup lo selamanya!"
Melvin teringat akan hari di mana, Meira dan dirinya membuat perjanjian. Melvin memalingkan wajah. "Kalau elu gagal naklukin hati gue, baru lakuin itu."
Meira mengerutkan kening. "Hah, maksud lo gimana?"
Melvin terlihat aneh di mata Meira. "Jangan pernah lo jauh-jauh dari gue! Perjanjian dulu, udah berhasil lo taklukin. Hadiah yang lo minta bakalan gue kasih secepatnya," ucap Melvin, tanpa melihat Meira. Dia pergi duluan ke ruang ujian.
Meira mematung dengan wajah merona. Hatinya berdegup kencang, dia tak dapat berkata-kata lagi. Gue enggak salah dengerkan? Kalau itu bener, Tiara nanti gimana? batin Meira dan menggelengkan kepala. Ya ampun, lupain aja Mei, lupain... anggep aja itu angin lalu, oke!
Bel pun berbunyi dengan keras. Meira langsung lari ke dalam ruang ujian. Melvin memaling wajah dan Meira pun melakukan hal yang sama. Terlihat pada ruangan itu, suasana di antara Melvin, Meira, Dila dan Aldo, terasa begitu cangung serta kikuk.
...Semoga kalian semua suka dengan ceritanya ya guys. Aku ucapkan trimakasih, kepada kalian yang udah mau dukung lewat vote, like, poin dan komennya. Maaf jika ada salah kata, menyingung atau penulisanku yang kurang memuaskan. ...
...Terus ikuti, perkembangan kisah cinta Meira dan Melvin ya, guys. Jangan naggung-naggung bacanya, pleseten dikit jempol ke like👍😂 sempetin waktu juga buat komen, hehehehe😂. See you all....