
Aldo membawa Dila pergi ke taman. Ia mengobati luka Dila dengan pelan dan lembut. Mereka berdua duduk di bangku panjang warna putih dan di bawah pohon. Terlihat pada taman itu, banyak orang-orang tengah berolahraga sore.
"Lo nggak seharusnya ngomong begitu. Mau bagaimana pun, dia Mamah lo sendiri!" ujar Aldo menasehati.
Dila terlihat sedikit kesal, sambil melihat pemandangan. "Lo nggak akan paham, gue lakuin ini semua demi Mamah. Ayah nggak bakalan tau, kalau gue nggak lakuin ini!"
Aldo menghela napas pelan. "Tapi, yang lo lakuin tadi salah."
Dila melihat ke arah Aldo. "Gue tau, Do!" sahutnya ketus. "Lebih baik lo diem, atau gue pergi!"
Aldo pun memilih untuk diam. Dila dan Aldo melihat orang-orang yang sedang olahraga dengan diam. Keheningan di antara mereka terjadi cukup lama, sebelum Aldo membuka suara.
"Emmm, kondisi Mei---" ucap Aldo terpotong.
"Iya," potong Dila, tanpa melihat Aldo.
Aldo mengerutkan kening. "Lo ngerti yang gue maksud?" Dila menoleh ke arah Aldo dan menganggukkan kepala. "Lo nggak takut, kalau gue bocorin ke anak-anak atau Melvin? Mereka bisa aja pergi menjauh."
Dila menyenderkan tubuh ke kursi dan melihat ke depan. "Bocorin aja, palingan lo kena hajar Melvin!"
Aldo tersenyum kaku. "Bener juga," sahutnya. "Ehhh, lo tau kalau Melvin suka Meira?"
"Cuman orang yang bodoh, kalau hal begituan kagak tau!" ujar Dila dengan ekspresi datar.
Aldo diam, yang dikatakan Dila memang benar. Aldo melihat ke arah Penjual es krim. "Dil, gue pergi bentar, lo jangan kemana-mana!" pesannya dan Dila pun mengangguk.
Aldo pergi ke arah Penjual es krim. Tak lama, Aldo kembali dengan dua buah es krim. Ia berikan salah satu es krim ke Dila dan duduk di sampingnya. Dila menerimanya dan berterimakasih. Mereka berdua pun makan bersama, sambil menikmati suasana taman.
"Yahhh," keluh Dila, karena es krimnya meleleh.
Aldo melihat ke arah Dila. "Gue beliin tisu, bentar!" Dila mengangguk dan Aldo pun pergi membeli tisu. Tak lama, Aldo dtang membawa tisu dan memberikannya ke Dila.
"Thanks," ucap Dila menerima tisu itu dan Aldo pun mengangguk. "Es krim lo mana?" tanyanya, sambil membersihkan tangan dan baju yang terkena lelehan es krim.
Aldo mengeluarkan handphone untuk membalas chat seseorang. "Habis."
"Ohhh," shaut Dila dengan aktivitas yang sama.
Aldo mematikan handphone dan memasukannya ke kantong celana. "Ayah lo bilang ke gue, suruh pulang, udah mau gelap juga."
Dila mengangguk paham dan berdiri. "Ayo!" Aldo berdiri dari duduknya dan pergi berdua ke parkiran.
...π...
"Haisss, apaan sih ini! Nggak paham, suer!" gerutu Meira, sambil mendorong jauh buku.
Tangan Melvin menopang kepala dan menulis. "Pertanyaannya apa?"
"Apa singkatan dari PBB? Gue jawab, Peraturan Baris Berbaris," sahut Meira membaca soal di layar handphone. "Ehhh, malah salah! Kayaknya nih Guru, waktu buat gogle form ngatuk deh."
Melvin menyondongkan tubuhnya ke depan dan memukul puncak kepala Meira dengan buku. "Goblok! PBB itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa!"
"Hah, terus yang di sekolah itu apa? Pada jalan kayak robot, bukannya PBB ya?" ucap Meira terlihat bodoh.
Melvin menepuk jidat. "Gue kira lu udah pinter, ternyata masih aja bloon!" ketusnya, membuat Meira kesal. "Gue jelasin dan lo harus dengerin! Kalau perlu lo catet!"
Meira mengambil buku dan bersiap nulis. "Cepet!"
Melvin berusaha mengatur emosi dan menjelaskan, "PBB itu organisasi Internasional yang didirikan pada tanggal 24 Oktober 1945, setelah Perang Dunia Dua. Tujuan Organisasi ini untuk menjaga perdamaian dan keamanan dunia, intinya, supaya Perang Dunia tidak berlanjut atau terjadi kembali!"
Meira mengangguk paham. "Oke gue paham!"
Melvin menganggukan kepala dan Via pun pergi. "Lo mau ikut kagak?" tawarnya.
"Hmm, mau deh," sahut Meira dan menutup buku.
Melvin mengambil kunci dan mereka berdua pun pergi. Sepanjang perjalanan, Meira dan Melvin saling diam. Tak perlu waktu lama, mereka sampai di tempat tujuan. Terlihat ada sebuat gerobak besar dan empat kursi plastik di pinggir jalan.
"Nih, lo pake!" Melvin memberikan masker dan topi.
Meira mengerutkan kening. "Sepi Vin, nggak usah lah."
"Kalau tuh fans lo ngeroyok, gue nggak ikutan!" ucap Melvin serius dan hendak menaruh benda itu ke bangku belakang.
Meira merampas topi dan masker dari tangan Melvin. Ia memakainya dan keluar dari mobil bersamaan. Melvin menghampiri si Pedagang dan memesan, sedangkan Meira duduk di salah satu kursi. Melvin menyusul Meira, duduk di samping.
"Kedinginan kagak lo?" tanya Melvin, karena cuaca malam ini cukup dingin.
"Enggak, ini masih kalah dingin sama kamar gue," sahut Meira memberitau, sambil bermain handphone.
Melvin mengerutkan kening. "Gile, pake AC jangan berlebihan, kalau lo sakit gimana?!"
"Dihhh, masa bodo! Lo siapa gue?" ketus Meira, membuat Melvin kesal dan memilih diam.
Dua orang lelaki datang membeli martabak. Mereka berdua duduk di sebelah Melvin. Pakaian keduanya cukup tertutup dan lumayan ganteng. Terlihat, salah seorang Pemuda tengah menjawab seseorang di handphonenya melalui voice note.
"Anak yang durhaka kepada orang tua, adalah orang yang tidak akan dipandang oleh Allah Swt di hari kiamat dan diharamkan masuk surga!" ucap Pemuda itu dan mengirimkan voice notenya. Meira dan Melvin tertegun.
Melvin melihat kedua pemuda itu. "Maaf, boleh kalian kasih tau ke kami, soal... ehem," Melvin berusaha mengatur suranya. "Hukum islam tentang anak yang durhaka kepada Orang Tua? Setau kalian saja, tidak apa-apa."
Pemuda itu saling melipat dan mengangguk. "Dalam surah Al-Isra' ayat 23, yang mengartikan, Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia."
"Ayat tersebut menjelaskan bahwa, berbakti kepada kedua orang tua adalah kewajiban kita sebagai anak. Merawat kedua orang tua yang masih hidup, dan mendoakan keduanya ketika telah meninggal dunia. Kepada orang tua hendaklah bersikap sopan santun dan berlaku baik. Sebagai anak, dilarang untuk memukul atau berkata kasar!" jelas si Pemuda satunya.
Melvin mengangguk paham dan berterimakasih. Sedangkan Meira hanya menunduk, sembari mamainkan jari. Tak lama pesananya jadi dan Meira serta Melvin pun masuk ke dalam mobil. Melvin mulai menghidupkan mobil dan pergi meninggalkan tempat.
"Lo bisa perbaiki ini semua, dengan meminta maaf ke Om Alex sama Tan--" ucap Melvin terpotong.
"Nggak mungkin!" seru Meira cukup keras. Air matanya jatuh membasahi wajah. "Ini nggak adil! Hiks hiksss, pasti ada hukum islam yang lain, soal Orang Tua ke anak! Pasti yang aku lakuin ini, All--"
Melvin menghentikan mobil secara mendadak dan menggegam erat bahu Meira. Sudah habis rasa sabarnya, kini Melvin tak bisa menahan lagi. "Sadar Mei! Sadar! Semua yang lo lakuin ini salah! Kita bisa ketemu mereka, pasti karena Allah," ucapnya sedikit serak dan Meira pun menangis. "Allah sayang sama lo! Allah nggak mau, lo jadi anak yang durhaka! Allah beri petunjuk lewat mereka, tentang dosa yang udah lo lakuin selama ini! Apa lo seneng?"
Meira menundukkan kepala, sambil menangis sesengukan. "Hiks hiks hiks, tapi..."
"Nggak ada kata, tapi!" tegas Melvin secara langsung dan melepas genggamannya. "Jawab pertanyaan gue sejujur-jujurnya! Lo masih sayang Om Alex sama Almarhum?"
"Hiks hiks hiks, gue sayang Mamah, tapi... Hiks hiks, gue nggak tau kalau sama dia," ucap Meira parau, tanpa melihat ke arah Melvin.
"Lo mau perbaiki ini semua? Kalau lo mau, gue bantu!" ujar Melvin serius, sambil melihat ke arah Meira.
Meira melihat ke arah Melvin cukup lama dan memutar bola matanya, lemah. "Iya, tapi gue nggak mau minta maaf sekarang. Gue juga nggak mau deket-deket dia!"
Melvin berusaha mengerti Meira, dan menganggukkan kepala. "Oke, hapus dulu air mata lo! Entar gue kena amuk lagi."
Meira menghapus air matanya dan berusaha mengatur mimik wajah. "Tapi, suara gue masih kelihatan."
Melvin mulai mengemudikan mobil ke rumah. "Kagak usah ngomong dulu, sampek tuh suara balik normal!" ujarnya, membuat Meira manyun.
...Hallo guys, apa kabarππ»βΊοΈπ€ Maaf ya, jika ada salah kata atau pun pesan yang aku sampaikan. Semoga Kalian suka dengan jalan ceritanya. See youππππβ¨...