MeiMel

MeiMel
Meira menggila 2.



Meira mengerutkan kening, melihat Vena yang terlihat ketakutan dan habis menangis. "Tante siapa?" tanyanya sepontan. Vena dan Alex mulai risau. Alex belum siap, jika Meira kembali mengamuk seperti dulu.


"Meira, Melvin, duduk dulu! Ada yang kami ingin bicarakan," pinta Via dengan lembut. Meira dan Melvin pun duduk di salah satu sofa. Via menghela napas pelan, Hufff, mau nggak mau gue terpaksa ikut campur.


Alex sebelumnya meminta tolong Via, untuk membantu jelasin hal ini ke Meira. Via terpaksa ngikut, karena mengingat kondisi Meira. Via tak bisa, melihat Meira jatuh pingsan atau mengamuk lagi.


Meira melihat ke arah perut Vena yang buncit. "Udah berapa bulan?" Entah mengapa ia merasa penasaran dan ingin sekali bertanya.


Vena, Via, Alex dan Jino tertegun. Vena berusaha menetralkan ketakutannya dan tersenyum. "Du-dua bulan lebih."


Meira mengerutkan kening, melihat Vena yang ketakutan. Melvin memiringkan tubuh ke Meira dan berbisik, "Wajah lo nakutin, mangkanya tuh Tante takut!" Melvin kembali ke posisi semula, sambil tertawa dalam hati.


Meira manyun dan memegangi wajahnya. Masa iya, wajahku nakutin? Emm, udah lama juga sih, aku nggak maskeran.


"Kenapa Mei?" tanya Via, melihat tingkah Meira yang aneh.


Meira mengangkat pandang dab melihat Via. "Nggak papa." sahut Meira. "Ohh iya, katanya ada yang mau diomongin, apa?"


Kondisi rumah kembali kikuk dan sunyi. Meira dan Melvin dibuat bingung. Alex menghela napas pelan dan meremas sofa. "Meira, Ayah mau ngasih tau kamu soal Tante ini! Namanya Vena, dia..." ia tidak bisa melanjutkan ucapanya.


Vie menghela napas pelan dan berucap, "Dia Mamah baru kamu Mei." Meira dan Melvin kaget. "Meira tenang dulu, oke! Tante akan jelasin dan kamu dengerin ya! Jangan dimasukin ke hat---"


"Dia selingkuhannya Ayah?!" potong Meira sambil menatap tajam Via. "Saya hanya ingin mendengarkan inti pokoknya saja! Jika Tante nggak bisa saya permisi, ingin pergi ke kamar!"


Mereka yang ada di ruangan itu tertegun. Aura yang keluar dari tubuh Meira, terasa begitu dingin dan menakutkan. Via menelan salivanya dengan berat. "Iii-iya, dan..."


"Dan apa?" tanya Meira dingin.


Melvin menghela napas pelan dan berusaha bicara dengan Meira, "Mei, tahan emosi lo dulu! Beri mereka kesempatan untuk jelasin!"


Meira tertawa, membuat mereka semua bingung dan panik. "Hahaha, kamu bilang apa? Kesempatan? Hahaha, jangan ngaco deh! Lu lihat deh Wanita itu!" Meira merangkul Melvin dengan kuat dan menunjuk Vena. "Lihat! Usianya udah dua bulan lebih, keren bukan? Mereka berhubungan secara diam-diam, di belakang Mamahku! Astagaaa, menyedihkan sekali hidup Mamahku itu."


Sial, nih anak kumat lagi! batin Melvin, dengan tubuh sedikit gemetar. Meira melepas rangkulannya dan menunduk. Terdengar suara tangisan yang begitu kecil di ruangan itu, membuat mereka semua ikut sedih. Meira menangis dan diam begitu lama.


Via hendak menghampiri Meira, namun gagal. Meira tiba-tiba berdiri dengan pandangan yang kosong. Tak lama, ia menendang meja tengah dengan begitu kuat. Alex langsung melindungi Vena dan Jino berlari ke arah Via. Meira tertawa berbahak-bahak dan pergi ke atas.


"Meira!" panggil Via. Ia hendak mengejar Meira, namun ditahan oleh Melvin.


Melvin memegang tangan Via dan melihatnya. "Biar aku aja Mah! Kalian tunggu di sini dan panggil Psikiater!"


Via melihat ke arah Melvin, sambil menangis. "Hati-hati ya sayang, Meira..."


Melvin menghapus air mata Via dengan lembut dan tersenyum. "Jangan khawatir Mah," ucapnya, setelah itu pergi menyusul Meira ke atas.


Terlihat di dalam kamar, Meira kini tengah tertawa di depan meja rias, dan Melvin berada di depan kasur. Melvin ingin mendekat, namun terhenti. Meira menghempas semua benda yang ada di meja itu hingga pecah. Ia tiba-tiba jatuh terduduk dan manangis. Hati Melvin merasa begitu sakit, melihat kondisi Meira.


Melvin pergi mendekat dan mengusap lembut punggung Meira. "Mei, tenangin diri lo, kasih---"


Bugh.


Meira diam-diam mengambil sebuah benda dan memukulnya ke arah Melvin. Kening Melvin mengeluarkan darah, dan mulai terasa pusing. Meira merasa terganggu dengan kehadiran Melvin. Ia pergi menjauh dan terus melempari benda-benda ke Melvin.


Melvin tak bisa mengelak dan jatuh pingsang. Meira menghentikannya dan terdiam sebentar. Ia merangkak, mendekati Melvin. Ia hanya bisa menangis, sambil menatap wajah Melvin dengan sendu. Tak lama, Jino dan Alex datang bersama Psikiater. Mereka bertiga terkejut dan langsung menghampiri Meira dan Melvin.


"Melvin!" panggil Jino dengan panik. Ia membawa Melvin pergi jauh dari Meira. Alex langsung memeluk Meira dan Psikiater pun berusaha menyutiknya. Meira yang awalnya meronta-ronta, kini jatuh pingsan.


Alex memeluk dan mengecup lembut kening Meira. Air matanya jatuh ke wajah Meira. Genggaman tangan Alex, begitu erat. Hati Alex bener-benar terluka melihat kondisi Meira. Karena ulahnya, Meira menjadi seperti ini. Maafin Ayah, Meira...


"Kondisi Meira semakin buruk. Saya akan datang setiap hari, untuk mengecek kondisi Meira dan memberikan obat. Pastikan selalu, untuk menjaganya dua puluh empat jam! Kita tidak tau, kapan dia akan kembali mengamuk dan stres. Jika kita lengah, bisa saja... dia akan mengakhiri hidupnya!" ucap Pak Psikiater.


Alex dan Jino mengangguk paham. Alex membaringkan Meira ke kasur, sedangkan Jino membawa Melvin ke bawah, bersama Pak Psikiater. Tak lama, para Pembantu pun datang, membersihkan kamar Meira.


...🍁...


Langit mulai menjelang malam. Sila dan Bibik tengah marapikan makanan di meja makan. Setelah itu, Sila pergi ke arah tangga. Terlihat, Delon tengah menuruni tangga.


"Mau kemana?" tanya Delon sambil turun.


Sila menundukkan kepala dan memainkan jari. "A-aku mau ke kamar Dila, tapi..."


"Tapi?" Delon tak paham.


Sila menunduk sambil manyun. "Aku takut, kalau Dila nolak aku, dan nyuruh pergi."


Delon tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Astaga, aku kira apa, ternyata..." ia pergi mendekat dan memegang bahu Sila. "Kalau gitu, aku temenin, oke."


Sila mengangkat pandang, melihat ke arah Delon dan mengangguk. Delon menggegam tangan Sila dan pergi bersama menuju kamar Dila. Sesampainya di depan kamar Dila, Delon mengetuk dan membuka pintu itu secara pelan-pelan. Mereka berdua kaget, setelah melihat ke dalam.


"Dila!" panggil Sila tak percaya, sambil berlari masuk ke dalan kamar. Delon pun menyusul dari belakang.


..."v"...


...Hallo, semoga kalian semua suka dengan ceritaku ya. Dukung aku selalu, dengan memfaforitkan novel ini, beri aku setangkai bunga, like dan komen kalian....


...See you all....