
Pagi hari telah tiba. Kemarin malam Keluarga Melvin pulang ke rumah. Meira kini tengah menuruni tangga dengan seragam sekolah yang lengkap, namun sedikit tidak rapi, make up tipis dan bando di rambutnya yang tergerai lurus. Kecantikannya tidak perlu diragukan lagi, ia benar-benar beatiful.
Bik Tika tersenyum lembut, sambil memegang nampan. "Cantik banget Non, ini teh mau sekolah apa dinner?" godanya.
"Ishh Bibik mah, kayak ngerti aja dinner," seru Meira sembari menuruni tangga. "Emang Bibik tau, apa itu dinner?
"Makan berduakan?" tanya Bik Tika, sembari memberikan bekal untuk Meita.
Meira menerima bekal itu dan tertawa kecil. "Hampir Bik, tapi, yang lebih tepat makan malam."
"Ohhh gitu, pantes kalau di tipi-tipi ngajak dinnernya itu malem, kirain Bibik biar romantis, ternyata artinya itu," ucap Bik Tika.
"Hahaha, Bibik nuh gemesin banget!" ujar Meira mencubit gemas, pipi Bik Tika.
"Aduh Non, sakit!" keluh Bik Tika memegangi pipi.
Meira melepas cubitannya dan memasukkan bekal ke dalam tas. "Ya udah ya Bik, Aku sekolah dulu, udah mau telat juga nih," ucapnya sambil melihat jam tangan dan Bibik pun menganggukkan kepala. "Assalammualaikum." Meira melambaikan tangan dan pergi keluar dari rumah.
"Waalaikumsalam." Bik Tika membalas lambaian tangan Meira sambil tersenyum lembut. "Bibik tau, Non Meira masihlah sama seperti yang dulu, semoga Allah selalu melindungimu," ucapnya pelan dan pergi ke dapur.
Meira telah tiba di halaman rumah. Terlihat di tempat itu, Via tengah berbincang dengan Alex di samping mobil hitam. Meira memalingkan wajah dan pergi ke arah mobil sport warna ungu. Meira tiba-tiba merasa aneh, karena mobilnya tidak dapat dibuka.
"Apa-apaan nih!" Meira merasa kesal dan menatap Alex dengan benci.
Via memalingkan wajah ke arah lain dan Alex menaikkan salah satu alis. "Hmm, ada apa?" tanya Alex, sambil menyenderkan tubuh di mobil.
Meira benar-benar kesal. "Ck, kagak usah pura-pura deh! Aku udah telat!"
Alex melipat ke dua tangan dan melihat ke arah mobil Meira. "Hmm, tunggu aja Melvin, mobilmu semalam ngambek dan nggak mau nganter kamu lagi! Untung aja ada Melvin yang siap ngobati, kalau enggak... haduh udah keluar asep tuh!" candanya.
"Hahaha," Meira tertawa kaku, sambil memutar bola matanya, jengah. "Hei, Pak Tua! Candaanmu tuh, kagak lucu sama sekali, alau mau bergurau, belajarlah dulu oke! Memalukan!" ketusnya dan pergi ke luar dari halaman rumah.
"Hais, anak ituuu!" gerutu Alex kesal.
Via tertawa kecil, sambil menutup mulut dengan salah satu tangan, "Hahaaahaaa, ya ampun, Meira benar-benar mirip Sinta waktu marah besar."
"Masih mendingan Sinta, tuh anak udah keterlaluan!" ujar Alex dengan perasaan sedikit kesal.
Via menghentikan tawanya dan melihat ke arah Alex. "Tapi ya, Mas. Aku rasa, jika Mas begini terus, kemungkinan hubungan kalian akan membaik loh."
Alex menaikkan salah satu alis dan berdiri tegak. "Hah, kok bisa?"
"Ya... pikirin aja nih! Baru kali ini, Mas bercanda dan dijawab Meira begitu. Bik Tika bilang, Mas sama Almarhum suka bercandakan, tapi Meira cuman ikutan ketawa dan ngobrol sedikit aja, kata-kata yang keluar dari mulutnya juga bisa dihitung!" sahut Via.
Via tersenyum dan mendekat ke arah Alex. "Gimana kalau Mas nanti, pulang cepet dan ngobrol sama Meira, pasti seru."
Alex tersenyum dan mengangguk, mengiyakan peemintaan Via. Alex mengecup lembut kening Via dan mengusap perut yang telah membesar. "Ya udah, Mas berangkat dulu, supaya bisa pulang cepet, kalau ada apa-apa telpon langsung!"
Via tersenyum dan mengangguk. Via mengecup pungung tangan kanan Alex. "Baiklah."
"Assalammualaikum," ucap Alex dan masuk ke dalam mobil.
"Waalaikumsalam, hati-hati!" Via mengusap-usap perut buncitnya, sambil melambaikan tangan. Mobil Alex pun pergi meninggalkan tempat dan Via masuk ke dalam rumah.
Meira tengah berjalan mencari transportasi umum. Ia kini telah sampai di pinggir jalan dan keluar dari komplek. Tak lama, terlihat sebuah mobil sport yang tak asing, tengah memutar balik ke arahnya. Meira pura-pura tidak tau dan lanjut jalan.
"Tin tin tin," bunyi klakson mobil. Meira tidak memperdulikannya. Kaca mobil itu terbuka dan menampakkan wajah seorang pemuda tampan. "Woi! Lo kok jalan? Mobil lo mana?" tanya Melvin sambil mengemudikan mobil.
Meira berhenti dan melihat ke arah Melvin. "Sorry, apa anda lupa dengan ucapan saya semalam?"
Melvin pura-pura berpikir dan melirik Meira. "Hmm, sayangnya gue lupa."
Dih, sok-sokan lupa segala, batin Meira menatap datar Melvin dan memilih untuk melanjutkan langkah kakinya. "Ck, pas sini butuh aja, nggak ada satu pun ojek yang nongol! Mereka kerja kagak sih!" gerutu Meira dengan perasaan kesal, setelah melihat jam tangan.
Melvin menaruh tangan kanan ke jendela mobil dan menyenderkan kepala di atasnya. Sedangkan tangan yang lain, tengah menyetir. "Marahnya entaran aja! Tuh gengsi di buang dulu, ketimbang telat!"
Sampek kapan pun, gue nggak bakal naik tuh mobil lagi! batin Meira tanpa melihat ke arah Melvin sedikit pun.
Tak lama, sebuah montor sport berhenti di dekat Meira. Pemuda itu memakai jaket jens, kaos polos warna putih dan celana hitam. Ia membuka helm dan menampakan wajah tampan dengan hidung mancung serta kulit kuning langsat. Ia memberikan kedipan ke Meira, sambil tersenyum. "Hai cantik! Apa kabar?"
"Bang Verel?" Meira tersenyum ceria dan pergi menghampiri Verel. "Kapan pulang Bang? Aku kangen banget!" Meira memeluk Verel dari samping.
Verel membalas pelukan itu dan mengecup kening Meira. "Baru aja kemarin," sahutnya, ia melihat ke arah mobil depan. Terlihat wajah Melvin yang kesal dan Verel pun berbisik, "Cowok kamu Dek?"
Meira melirik ke arah Melvin dan balik melihat ke Verel. "Fans Bang, biasa."
"Oalah, mau Abang bantu kayak biasanya?" tawar Verel dan Meira mengangguk, mengiyakan. Verel memberikan helm ke Meira dan menyuruhnya naik dengan gerakan kepala. Meira paham dan memakai helm itu. "Bro, jauh-jauh deh lo dari cewek gue, kalau masih sayang sama tuh nyawa!" ucap Verel dengan senyum smrik. Ia pun memakai helm.
Asek, Bang Verel emang keren. Meira naik ke atas montor dan memegang jaket Verel. "Yuk Bang, udah mau masuk nih!"
"Oke," sahut Verel dan menutup kaca helmnya.
Melvin menatap kesal mereka berdua. Meira memalingkan wajah dan Verel pun mengendarai montornya, pergi meninggalkan tempat. Melvin memukul setirnya dengan kuat. "Sialan, ngapa gue kesel begini! Tuh cowok siapa lagi!" Melvin pun memutuskan untuk mengemudikan mobil dan pergi ke Sekolah.