
Meira dan Dila berjalan ke pakiran dengan perasaan bahagia. Mereka berdua tertawa, mengingat kejadian tadi. Namun, tawa itu seketika pudar. Melihat Melvin tengah menatap mereka berdua dengan wajah penuh amarah dan kesal. Melvin terlihat duduk di depan mobil sambil melipat kedua tangan dan menyilangkan kaki.
Dila berbisik ke Meira, "Mei, gue balik duluan ya, kayaknya lo udah dapet tumpangan."
Meira terkejut dan melihat ke arah Dila. "Tapi Dill, gue nggak minta dia barengan."
"Kalau lo berdua kagak jadi barengan, telpon aja, gue langsung balik ke Sekolah!" Dila menepuk pundak Meira dan pergi masuk ke mobil.
Meira melihat ke arah mobil Dila yang hendak pergi meninggalkan tempat. Ia menghela napas pelan dan menghampiri Melvin. "Kamu nung---"
"Lo ngapain aja, anjir! Gue udah nunggu lo dari tadi!" ucap Melvin dengan nada keras dan emosi.
Lahhh, yang nyuruh dia nunggu siapa? batin Meira. "Tapikan... gue nggak min---" ucapannya lagi-lagi terpotong.
"Apa...!" potong Melvin, membuat Meira menghela napas, bersabar. "Cepetan naik! Bisa-bisanya lo bikin gue nunngu lama, di tengah panas terik begini!" ujarnya, sambil masuk ke dalam mobil.
Meira menunduk dan ikut masuk ke dalam mobil, sebelah kiri. Setelah keduanya masuk ke mobil. Melvin pun mengidupkan mobil dan membawanya pergi. "Sorry Vin, gue nggak tau, kalau lo mau pulang bareng."
"Sorry-sorry! Lo lupa hah! Tadi siang gue udah di jemur sama Bu Mirna, sampek gosong begini! Sekarang, malah lo tambahin!" Melvin marah dan kesal ke Meira.
Marahnya sama Bu Mirna, gue yang dilampiasin, batin Meira. "Kan aku nggak tau Vin, kalau pun aku tau, pasti udah ku samperin dari tadi!"
Melvin merasa kesal dengan jawaban Meira. "Maksud lo apa, hah! Jamnya pulang itu, ya langsung pulang! lo ngapain masih di Sekolah?!"
Meira menunduk dan meminta maaf, "Iya, maaf."
"Maaf-maaf! Lo pasti habis berduan sama Bimakan! Dasar kagak ngerti aturan!" tuduh Melvin yang masih fokus mengendarai.
Sabar Mei, sabar.... batin Meira. "Yang bilang aku berduaan sama Bima siapa? Orang aku tadi sama Dila, piket!"
Melvin melihat ke arah Meira dan kembali ke depan. "Lo kira gue goblok! Inisial D sama M sejak kapan deketan! Jarak lu berdua jauh njir!"
Meira tersenyum kikuk, ia paham yang dimaksud Melvin. "Maksud gue... yang piket itu gue, dan Dila nemenin," ucapnya ragu. Melvin hanya diam saja, tak membalas. "Jangan marah dong, nanti keriputan loh."
"Bodo amat!" sahut Melvin ketus.
Meira manyun dan mendekat ke arah Melvin. "Makan es krim yuk! Gue yang traktir."
"Ogah." Meivin menoyor kening Meira, supaya menjauh. "Lo kagak usah ngerayu gue! Mending lo diem, dari pada gue tendang!"
"Ishhh, jah---" ucap Meira terhenti, matanya mendelik melihat tatapan Melvin yang sangat tajam dan dingin. Ia pun memalingkan wajah ke jendela. Melvin kembali melihat ke arah jalan dan fokus mengemudi. Di sepanjang perjalan, mereka berdua saling diam dan tidak ada yang mengajak bicara satu pun.
...🍁...
Nggak, ini nggak mungkin! Gue pasti salah lihat! batin Meira. Ia berlari masuk ke dalam rumah dengan perasaan kacau dan hancur. Melvin yang berada di sebelahnya pun, menyusul dari belakang.
Terlihat di dalam rumah, ada banyak sekali orang yang tengah melakukan kegiatan pamitan dan menangis. Meira melihat ke arah kotak peti berwana putih dan berlari ke arah benda itu. Air matanya jatuh membasahi wajah. Orang yang sangat ia cintai dan sayangi, kini telah pergi meninggalkannya.
"Huwaaaa, hiks hiks Mamah... hiks hiks," ucap Meira parau, isakan tangisnya menggema di ruangan. Orang-orang yang melihat dan mendengarnya pun ikut sedih. "Mamah... hiks hiks hiks."
Melvin yang melihatnya dari kejauhan, ikut menangis. Terlihat jelas di wajah Meira, ia sangat terluka dan hancur. Senyum yang menyebalkan bagi Melvin, kini telah redup. Wajah ceria dan suara yang berisik, tak lagi ia dengar. Kini hanya ada suara tangis dan wajah sendu.
Via yang berada tak jauh dari Meira, pun pergi menghampiri dan merangkulnya dari samping. "Jangan nangis ya sayang, Ikhlasin dan kuatin hati kamu! Kasihan Mamah nanti, dia bisa sedih di atas sana, kalau lihat kamu begini," ucapnya lembut.
Meira masih saja menangis sesenggukan dan mengusap lembut pipi Almarhum Sinta. "Hiks, Mamah kenapa pergi Tante? Hiks hiks, baru semalem kita main bareng, tapi... hiks hiks." ia tak sanggup melanjutkan omongannya dan menaruh kening ke pinggiran kotak. Ia melihat ke bawah sambil menangis.
Via ikut menangis dan sedih. Ia memeluk Meira dan mengusap lembut rambutnya. Isakan tangis Meira, terdengar jelas di telinga Via. Hati Via ikut terluka dan merasakannya. Sin... secepat inikah lo pergi ninggalin kita, lihatlah anakmu ini, ia sangat terluka dan terpukul, karena kepergianmu, batinnya.
...🍁...
Hari mulai senja dan rerintikan hujan mulai terasa. Saat ini, Meira memakai dres panjang berwana hitam, sedangkan Melvin menggunakan baju koko dan jens, dengan warna yang sama. Mereka semua tengah berkumpul di Pemakaman dan menguburkan jenazah. Payung satu per satu terbuka, karena hujan mulai deras. Langit pun ikut bersedih, menemani keluarga Almarhum.
Via dan Meira saling berpelukan, sambil melihat proses penguburan. Terlihat di sebelah Meira, ada Alex yang tengah menatap dengan pandangan kosong dan sendu. Tubuh Alex seakan-akan tidak bernyawa dan tidak memiliki tulang. Jino yang berada di samping Alex, berusaha menguatkan dan berjaga-jaga, jika pingsan. Melvin hanya diam dan melihat, ia berada di sebelah Via.
Penguburan pun selesai. Terlihat, beberapa orang menyiram bunga ke tanah yang membentuk seperti gunung kecil. Meira menabur bunga dengan lemah dan pelan. Ia tak kuat menerima kenyataan ini. Selesai memberi bunga, Semua orang pun mendoakan Almarhum dan kembali pulang, kecuali Via, Meira, Alex, Jino serta Melvin.
Meira memeluk papan nisan sambil menangis tanpa mengeluarkan air mata. Aku akan berusaha ikhlas dan kuat, walupun sulit. Mamah yang tenang dan bahagia ya, di surga sana. I love you Mom.
Alex mengusap tanah yang penuh dengan bunga dengan pandangan yang sendu. Sin... maaf, aku udah bikin kamu menderita selama ini. Makasih, karena kamu sudah mau pertahanin hubungan ini hingga akhir hidupmu. Aku sangat mencintaimu Sin. Aku sungguh menyangimu!
Sin, semoga kamu tenang di surga sana. Perjuangan dan kebaikkanmu selama hidup di dunia ini, tidak akan ada yang bisa menandinginya. Kamulah, contoh Ibu dan Istri yang baik. Aku takjub dan kagum denganmu Sin. batin Via. Ia mengusap lembut punggung Meira. "Pulang yuk!" ajaknya dengan lembut.
Meira menggelengkan kepala dan terus memeluk papan nisan itu. Jino juga mengajak pulang Alex, namun di tolak. Melvin yang melihat wajah Meira, seketika merasa sedih.
Langit pun semakin gelap dan adzan maghrib telah berkumandang. Via dan Jino saling melihat. Mereka berdua berusaha membujuk Meira dan Alex, untuk pulang ke rumah. Meira dan Alex pun menerimanya. Melvin dan Jino, membuka payung dan mereka pergi dari area pemakaman.
...°°°°°...
~Bagaimana perasaan kita, jika ada diposisi Meira? Pastilah hancur dan terpukul. Baru saja kemarin mereka tertawa, tersenyum dan bermain bersama, Tiba-tiba, ke esokan harinya ia pergi untuk selamanya. Tidak ada yang tau kapan dan dimana kita akan pergi atau di tinggal pergi. Kita hanya bisa menerima, berdoa, bersabar, kuat dan mengikhlaskannya. ~
...See you all....