MeiMel

MeiMel
Geometri.



Bu Jesika membalikkan badan dan pergi ke arah papan tulis. Ia menuliskan dua buah soal matematika. Tak lama, soal pun telah siap dan Bu Jesika mengayun-ngayunkan spidol ke depan. Dila dan Meira pergi ke depan dan membaca soal.


Soal nomor satu;


[ Diketahui suatu deret geometri memiliki suku kedua sama dengan 12 dan suku kelima sama dengan 324. Tentukan Rasio deret geometri dan suku ketujuh! ]


Soal nomor dua;


[ Suatu deret geometri diketahui S3 \= 7 dan S6 \= 63. Tentukan jumlah sepuluh suku pertama deret geometri tersebut! ]


Dila dan Meira mengambil spidol dan mendekat ke arah papan tulis. "Aku pilih nomor dua, Dil!" ucap Meira memberitau.


Dila mengangguk, mengiyakan ucapan Meira, "Oke." Meira pun menjauh dari papan tulis. Dila pun mulai menulis jawaban dan menerangkan.


...U2 \= a.r...


...U5 \= a.r⁴...


"U atau suku ke lima sama dengan a kali r pangkat empat, kenapa empat? Karena Lima di kurangin satu!" ucap Dila, lanjut ke tahap selanjutnya.


...r³.a.r \= 12.r³ a.r⁴ \= 12.r³...


...a.r⁴ \= 324 a.r⁴ \= 324...


...0 \= 12 . r³ - 324...


...324 \= 12 . r³...


...324/12 \= r³...


...27 \= r³...


...4³ \= r³...


"Pangkat tiga dicoret, dan hasilnya adalah r sama dengan empat. Jadi, rasio pada deret geometri itu empat ya guys!" ujar Dila sambil menulis. "Oke, aku lanjut ke pencarian suku ketujuh, ini sangat mudah sekali!"


...a.r \= 12...


"Ohh iya aku lupa, pertama-tama kita cari a dulu! Rasionya kan tiga, kita tulis aja 3a sama dengan 12, setelah itu dibagi!"


...3a \= 12...


...a \= 12/3...


...a \= 4...


"Oke udah ketemu jawabannya, empat," ucap Dila, setelah itu melanjutkan rumus lain. "Suku ketujuh sama dengan a dikali r pangkat enam. Empat dikali, tiga pangkat enam sama dengan..."


...U7 \= 4. 729...


...\= 2.916...


Dila menutup spidol dan melihat ke arah teman-teman. "Suku ketujuh adalah 2.916. Benarkan Bu?"


Bu Jesika menganggap dengan senang. "Beri tepuk tangan untuk Dila! Jawaban dan cara menerangkan yang cukup bagus."


Prok prok prok.


Dila tersenyum lembut. "Trimakasih Bu," ucapnya sopan.


"Sekarang Meira!" pinta Bu Jesika dan Meira pun mulai mengerjakan di papan tulis.


"Suku kesepuluh sama dengan satu, dalam kurung dua pangkat sepuluh dikurangi satu. Dua pangkat sepuluh sama dengan 1024 dikurangi satu, jadi 1023," ucap Meira sembari menulis di papan tulis.


...[ Suku kesepuluh adalah 1.023. ]...


Bu Jesika mengerutkan kening. "Kenapa kamu langsung ke situ?! Harusnya kamu cari dulu a sama r!"


Meira memicingkan mata. "Lahhh, Ibu baca deh soalnya!" Ia menunjuk ke arah soal dengan spidol dan membaca, "Suatu deret geometri diketahui suku ke tiga sama dengan tujuh dan suku ke enam sama dengan enam puluh tiga! Tentukan jumlah sepuluh suku pertama deret geometri tersebut! Ibu nggak minta saya buat nyari rasio atau a nya!"


Bu Jesika merasa kesal. "Kalau saya nggak minta, kamu taunya dari mana?! Kamu aja nggak pegang kertas buat ngehitung!"


"Nalar lah!" ketus Meira.


Meira merasa kesal. "Saya di sini tugasnya belajar, bukan ngajar! Saya juga yang bayar, bukan dibayar!" para Murid dan Bu Jesika tercengang. "Kami bayar mahal-mahal untuk mendapatkan pengajaran dari Guru yang berkualitas, bukan seenak jidatnya! Nulis soal aja nggak bener, apa lagi koreksi jawaban!"


"Meira, kam--" teriak Bu Jesika terpotong.


"Meita nggak salah, yang dibilang memang benar. Sekolah di sini nggak murah, perlu biaya yang sangat besar! Menurut saya, lebih baik Ibu periksa mata, sayangkan kalau dipecat? Masa iya, keluar karena salah mata?" potong Dila membuat Bu Jesika bungkam.


Bu Jesika memiliki umur yang mulai menginjak lima puluh tahun. Matanya kini mulai buram dan sudah beberapa kali salah koreksi, untung saja ada anak yang selalu membantu. Para Murid terlihat kagum dengan keberanian Meira dan Dila.


"Udah kelarkan, kalau gitu saya pergi! Assalammualaikum." Meira pergi meninggalkan kelas di susul Dila dari belakang.


...🍁...


Meira dan Dila benjalan-jalan di lorong. Terlihat anak XI IPS 1 tengah olahraga. Pak Guru melihat ke arah Meira dan Dila. Guru itu pun memanggil dan menyuruh Mereka berdua mendekat. Meira dan Dila pun pergi menghampiri Pak Guru.


"Anjir, gue kagak salah lihatkan?" Melvin memejamkan mata dan membukanya kembali. Ia melihat dengan serius penampilan Meira. "Kayaknya mata gue salah!"


Aldo yang berada di sebelah Melvin pun menoleh. "Ngapa?"


Melvin menunjuk ke arah Dila dan Meira. "Lihat noh! Penampilan Meira acak-acakan, Dila juga dandan, njir!"


Aldo melihat ke arah Dila dan Meira. Ia tak percaya dengan apa yang dilihat. "Gue kagak salah lihat, hah?!"


"Masyaallah..., ngapa kalian jadi begini?" tanya Pak Guru.


Dila melempar senyum lembut dan Meira hanya diam, dengan wajah datar. "Tadi Bapak manggil? Ada apa?"


"Iya, kenapa kalian berkeliaran di Sekolahan, ini masih jam pelajaran!" omel Pak Guru.


"Ohhh," sahut Meira.


Dila melambaikan tangan kecil, sambil tersenyum lembut ke para Murid XI IPS 1. "Kami diminta keluar oleh Bu Jesika, karena sudah menjawab pertanya dan dapat menerangkan ke teman-teman, Pak," ucapnya memberitau.


Pak Guru mengangguk paham. "Baiklah, jangan berkeliaran di Sekolah, nanti anak-anak yang lain akan bolos!"


"Hmm," sahut Meira dan Dila mengangguk, mengiyakan perintah Pak Guru.


"Belajar yang giat ya guys, bay-bay!" ucap Dila dengan senyumnya yang cantik, sambil melambaikan tangan. Meira dan Dila pergi ke kantin, meninggalkan tempat. Para Murid salting dengan sikap Dila yang sekarang, hati mereka terpanah oleh senyumnya.


Aldo melongo melihat kelakuan Dila. "Heh, mata gue masih baguskan? Kayaknya arwah Dila ketuker sama Meira!"


Melvin menganggukkan kepala. "Cara nukerin balik gimana? Gue ngeri sendiri lihat Meira tadi."


"Sama njir, gue geli sendiri lihat tingkah Dila. Lihat nih, bulu kuduk gue naik semua!" Aldo menunjukkan tangannya ke Melvin.


Melvin tersenyum dan mengeplak tangan Aldo dengan sangat kuat. Aldo spontan berteriak dan menatap tajam Melvin. "Bwahahaha, enak Bro?!" tawa Melvin.


Aldo membalas Melvin dengan menginjak kaki dengan kuat. Melvin terkejut dan berteriak. Melvin hendak membalasnya, namun Pak Guru memanggil, "Aldo! Melvin!"


Aldo dan Melvin langsung membalikkan badan, melihat ke arah Pak Guru. "Mampus, panas-panas dihukum!" ucap Aldo merutuki nasibnya.


"Siap-siap, menikmati neraka level rendah!" ujat Melvin, pasrah.


"Kalian berdua lari mengelilingi lapangan dua puluh kali!" pinta Pak Guru dengan tegas.


Habislah sudah! batin Aldo.


Kelar hidup gue! batin Melvin. Mereka berdua pun segera pergi dan menjalani hukuman.


Meira menyenggol Dila, sesampainya merek berdua di tengah lorong. "Cieee, sahabatku mulai genit nih!"


Dila tertawa sambil menggelengkan kepala. "Jijik sendiri gue astaga...!"


Meira tertawa dan meniru gaya Dila, "Belajar yang giat ya guys, bay-bay!"


Dila merasa kesal dan mencubit pipi Meira dengan gemas. "Terusin aja ketawanya, gue cubitin nih pipi sampai gepeng!"


"Awww, sakit Dil," keluh Meira sambil memgangi pipinya yang dicubit. Dila pun melepaskan cubitan. "Sakit tau Dil, jahat banget sih!"


"Bodo amat!" ucap Dila, jalan duluan ke kantin.


"Ishhh, gitu aja ngambek!" Meira mengejar Dila.