
Ruang ujian Melvin dan Meira tengah sibuk mengerjakan soal-soal. Sesekali ada transaksi jawaban lewat saluran dan juga benda kecil lain. Melvin dan Aldo terlihat santai dan merapikan mejanya. Tak lama anak-anak yang lain pun selesai dan merapikan soal serta jawaban.
Bu Jesika melihat ke arah Murid dan berdiri. "Udah pada selesai, ya? Kalau udah, silahkan dikumpulkan ke meja Ibu!"
Para Murid yang udah selesai menyerahkan soal dan jawaban ke Meja Guru dan kembali duduk. Bu Jesika merapikan kertas-kertas itu dan melihat ke arah jam dinding. "Waktunya masih banyak, yang belum selesai jangan terburu-buru."
"Iya Bu," sahut Murid yang belum selesai, secara bersamaan.
Melvin mengangkat tangan ke atas. "Bu, saya keluar dari kelas duluan boleh?"
"Emmm, mau ngapain?" tanya Bu Jesika.
"Biasa Bu," sahut Melvin sambil tersenyum. Anak-anak yang lain terlihat happy dan langsung mengobrol.
"Ohhh, silahkan! Pastikan udah dapet ijin dari Kepala Sekolah ya!" pesan Bu Jesika.
Melvin berdiri sambil mencangklong tas. "Siap Bu Jes! Yuk Do!"
Aldo mengangguk dan berdiri dari duduknya. Mereka berdua bersalaman dengan Bu Jesika dan pergi dari Kelas. Meira terlihat bingung dan hendak bertanya ke teman sebelah, namun ragu.
Kakak Kelas yang duduk di sebelah Meira, sadar dan tersenyum. "Maaf ya, sikapku kemarin udah keterlaluan ke kamu."
Meira melihat ke arah Wanita itu dan tersenyum lembut. "Iya Kak, aku paham kok."
Kakak itu tersenyum senang. "Kemarin aku ketakutan, bukan kerena kamu yang kelihatan jahat di vidio, tapi... Aku trauma. Aku keingetan sama Kakak yang berusaha untuk bunuh diri. Dia dulunya kayak kamu, sampek nyekik Orang Tua ku juga."
"Sebentar, Kakak pasti berat nyeritainnya. Lebih baik nggak usah dilanjutin," saran Meira.
"Nggak papa, aku sengaja cerita ini kok, supaya kamu enggak menyesal," ucap Kakak Kelas. "Kakakku dulu sangat emosional. Keluarga dan teman-temannya tidak mengerti. Dia pun emosi dan terus saja mengamuk, hingga berniat untuk bunuh diri. Waktu itu, Kakakku hampir saja lompat, kalau aku nggak langsung narik tangannya. Mungkin dia udah pergi untuk selamanya."
Meira terhanyut dalam cerita itu dan meneteskan air mata. Dia memalingkan wajah dan segera menghapusnya. "Maaf, aku jadi sedih."
Kakak Kelas itu tertawa kecil dan menggegam salah satu tangan Meira. "Ada sahabat, keluarga dan seseorang yang selalu mendukungmu. Terbukalah, supaya amarah dan sesutu yang terasa sesak di hati itu bisa lepas. Kakakku saat ini sangat bahagia. Dia sudah memiliki suami yang tampan dan anak-anak yang lucu. Dia selalu menangis dan merasa berdosa mengingat kejadian. Di waktu dia hendak terjun dari gedung."
"Kak, apa aku boleh tebak?" potong Meira dan Kakak Kelas menganggukkan kepala, mengiyakan. "Apa Kakak tersebut berpikir, jika dia mati di saat itu juga. Dia mungkin, tidak akan pernah bisa menikmati kebahagian ini?"
"Hmmm, iya," sahut Kakak Kelas tersenyum dan mengusap lembut puncak kepala Meira. "Kakak harap kamu bisa merenungkan hal ini. Kuncinya adalah terbuka, buka hati, banyak-banyak meminta ampun dan selalu ingat Tuhan saja. Percayalah, rasa sakit yang kita terima, tidak setiap hari datang. Ada banyak kebahgian yang datang, tanpa kamu sadari."
Meira menggangguk sambil tersenyum. "Iya Kak, trimakasih."
Kakak Kelas itu tersenyum lembut. Tak lama Bel berbunyi dengan nyaring. Para Murid terlihat begitu senang dan keluar dari Kelas. Para Murid meninggal tas di Kelas bawah dan berkumpul di lapangan. Dila menarik tangan Meira ke tengah lapangan Sekolah.
Terlihat di tengah lapangan ada beberapa sound system dan turntable. Di sana juga ada Melvin, seorang Pemuda dan Wanita, serta Aldo yang mengecek turntable. Para Murid berkumpul melingkari kami dan ada juga yang di lantai dua.
"Hallo guys, kalian nggak lupa sama aku kan?! Karena ada beberapa Murid baru di Kelas satu dan dua, aku akan berkenalan dulu. Namaku adalah Bela, Anak Kelas dua belas MIPA tiga. Yang ada di sebelahku Fio, cowok gue! Anak IPS satu," ucap Bela memperkenalkan diri dan pacarnya, dengan mikrofon. Fio tersenyum dan melambaikan tangan.
Bela dan Fio adalah bintang di Kelas dua belas, sama seperti Melvin, Meira, Bima dan Tiara. "Kali ini kita akan membawakan lagu Bebas, dari Iwa K. Orang yang akan nyanyiin lagi ini udah pasti aku, Fio dan juga... Meira serta Dila. Teriakkannya mana nih?!" ucap Bela dengan Mikrofon.
Para Murid teriak heboh, saking senengnya. Neira melongo tak percaya, sedangkan Dila terlihat bahagia. Fio memberikan mikrofon ke Dila untuk bicara, "Kita pasti sudah lelah belajar, untuk ujian ini kan? Untuk itu, kita bebasin diri kita saat ini juga! Lupakan semua tekanan, amukan dan ancaman yang kita terima selama ini!"
"Lepaskan semua yang terasa sesak di hati. Kita plongin dengan nyanyi dan nari bareng kawan-kawan, oke!" tambah Bela.
Para Murid mengiyakan dan segera mengeluarkan handphone, untuk merekam. "Ingatlah selalu kenangan ini, lupakan sejenak kepahitan yang kita terima," ucap Fio.
Meira, Dila dan Bela tengah mengobrol bertiga dan bersiap nyanyi. Musik pun mulai dihidupkan dan mereka bertiga telah bersiap di posisi. Melvin tengah berdiri di samping Guru dengan senyem lembut.
"Lest go, guys!" ucap Bela.
...Meira;...
...Sudah tinggalkan, tinggal kan saja...
...Semua persoalan...
...Waktu kita sejenak...
...Untuk membebaskan pikiran...
...Dan biarkan, biarkan terbang tinggi...
...Sampai melayang jauh menembus awan...
"Wahhhh, gilak! Suaranya bagus banget!" ujar salah satu Siswi dengan bahagia. Beberapa ikut menyanyi dan menari ke kanan ke kiri bersamaan. Mereka semua tersenyum bahagia dan sesekali mengobrol dengan kawan sebelah.
...Bela dan Dila;...
...Sementara tinggalkan aturan yang kadang...
...Terlalu mengikat dan tak beralasan Man...
...Memang, memang benar nih Man...
...Kita perlu cooling down dan melonggarkan pakaian...
...Meira, Bela dan Dila;...
...Bebas lepas ku tinggalkan saja semua beban di hatiku...
...Melayangku, melayang jauh, melayang dan melayang...
...Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban di hatiku...
...Melayang ku melayang jauh melayang dan melayang...
"Hmmm, kalau tau begini, Ibu buka ekskul musikal. Sekolah kita pasti, udah bawa banyak medali!" ucap Ibu Kepala Sekolah yang duduk di bangku.
Melvin yang berdiri di samping Ibu Kepala Sekolah tersenyum. "Jangan serakah Bu, kan udah ada saya, yang selalu membawakan nama baik sekolah ini! Tempat medali yang Ibu sediain aja, nggak cukup buat nampung piala saya."
Ibu Kepala Sekolah tertawa, "Hahahaha, bener juga. Walupun kamu biang masalah, tapi Ibu tetep suka sama kamu!"
"Maaf Bu, saya masih suka yang seumuran," tolak Melvin dengan wajah yang yang menyebalkan, bagi Ibu Kepala Sekolah.
Ibu Kepala Sekolah memukul lengan Melvin dengan kipas yang dia bawa. "Nih anak ya..."
"Hahaha, maaf Bu," ucap Melvin sambil memegangi lengan.
...Fio;...
...Bagaikan anak kecil yang berlari bertelanjang bebas...
...Keluarkan suara suara canda tawa dan senyum puas...
...Berteman siraman hujan di lapang yang luas...
...Bela, Meira dan Dila;...
...Yang penting yang penting semua senang...
...Bela, Meira, Dila dam Fio;...
...Sejak kehadiranmu uh uh bumi terkekeh riang...
...Dadaku berdentam...
...di di di di dam di di dum da ga da ga da ga di gi dum digi...
...Dum...
"Semuanya!" pinta Bela dengan kuat sambil membuka ke dua tangan.
...Semua Murid;...
...Bebas lepas ku tinggalkan saja semua beban di hatimu...
...Melayang kumelayang jauh melayang dan melayang...
...Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban dihatiku...
...Melayang kumelayang jauh melayang dan melayang...
...Meira;...
...Kita saling berpandang berpegangan tangan erat...
...Dan biarkan tubuh tersiram hujan lebat...
...Dan pekat dibawah naungan awan nan gelap...
...Bela, Meira dan Dila;...
...Terkadang menyilaukan...
...Dikala kilat lewat...
...Apakah kitakan selalu bersama sama kawan...
...Apakah kita kan selalu berjalan beriringan...
...Masih di dalam lebatnya hujan kita berjalan...
...Bersamamu kita kan tebarkan senyuman...
...Semua Murid;...
...Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban dihatiku...
...Melayang kumelayang jauh...
...Melayang dan melayang...
...Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban dihatiku...
...Melayang ku melayang jauh...
...Melayang dan melayang...
...Bebas lepas kutinggalkan saja semua beban dihatiku...
...Melayang kumelayang jauh...
...Melayang dan melayang...
...Bela, Meira dan Dila;...
...Bebas lepas, kutinggalkan saja semua beban dihatiku...
...Melayang ku melayang jauh...
...Melayang dan melayang...
"Yeayyyy!"
"Wahhhh!"
"Wawwww, keren!"
Teriakan para Murid bersorak heboh. Bela, Dila dan Meira tertawa bahagia. Fio, Aldo dan Melvin tersenyum lembut.
"Bu, saya ijin ke depan!" pinta Melvin sopan, ke Ibu Kepala Sekolah.
"Iya," sahut Ibu Kepala Sekolah, mengijinkan.
Melvin pergi ke tengah lepangan dan mengambil mikrofon. "Widihhh, udah bahagia aja nih. Kita ucapkan trimakasih kepada Ibu Kepala Sekolah yang saya sayangi dan Bapak- Ibu Guru yang kita hormati!"
"Trimakasih!"
"Trimakasih Bu!"
"Trimakasih Pak!" ucap mereka semua secara bersamaan ke pada Ibu dan Bapak Guru, serta Kepala Sekolah. Para Guru dan Kepala Sekolah tersenyum, sambil menganggukkan kepala.
"Kita juga harus berterimakasih kepada Melvin, yang sudah membuat rencana ini semua. Bukan persoalan yang gampang, membujuk para Guru dan Kepala Sekolah untuk melakukan ini," ucap Fio dengan mikrofon. "Ayo guys, mana makasihnya!" para Murid pun berucap makasih pada Melvin dengan kuat dan happy.
"Sama-sama! Semoga kalian semua bisa hidup bahagia dan bebas dari tekanan atau kekangan!" harapan Melvin dan Para Murid pun mengaminkan.
"Oke guys, kita sudahi dulu dan selamat berlibur!" ucap Fio dan para Murid bubar. Mereka semua berberes-beres dan bersiap pulang.
...°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°...
Ya ampun, keingetan SMP😭. Aku cuman bisa lihat dari kejauhan dengan pakaian Jasmine, karena habis main pagelaran. Nggak ada yang ngaish tau gue, kalau ada begituan, hueeee😭 terpaksa pulang, soalnya Bokap udah nunggu.
...Maaf ya, aku up lama, karena ada keperluan mendesak. ...
Iwa K, Sheryl Sheinafia, Maizura & Agatha Pricilla, BEBAS.
Aku saranin downlod nih lagu. Mungkin kalian akan bisa mendapatkan gambaran yang aku buat. See you guys😘