
Pemuda itu tersenyum dan bertanya, "Lo berdua ngapain di sini? Nih tokokan jauh dari rumah."
"Lah, lo juga ngapain ke mari? Ini kan tempat anak perempuan!" ujar Dila.
Pemuda itu adalah Aldo. Ia memasukkan salah satu tangan ke kantong celana. "Nemenin Mamah belanja."
"Ohhh," sahut Meira dan Dila kompak.
Meira melihat ke arah Wanita paruh baya, yang sedang memilih bros. "Itu Mamah kamu?"
Aldo menganggukkan kepala, mengiyakan. "Lo kayaknya kecewa gitu, lihat Bima? Hmm, jangan bilang lo suka Bima?" Aldo mulai curiga.
Yups, sepasang Kekasih tadi adalah Bima dan Tiara. Aldo sebetulnya sudah mengetahui hal ini, sedangkan Dila juga sama. Meira sedikit kecewa, karena merasa tertipu.
"Hah, yang bener lo Mei. Masa lo suka Bima, guekan udah berulang kali bilang, jangan pernah deket-deket dia!" Dila merasa kesal.
"Ehhh, siapa yang bilang, kalau aku suka Bima? Aku cuman nggak percaya aja, Bima begitu," sahut Meira menjelaskan.
"Hmm," Dila tak percaya dan memicingkan mata ke Meira, sambil melipat ke dua tangan di depan dada.
"Mosok, kok wajah lo mengisyaratkan hal lain?" tanya Aldo.
Meira manyun dan memutar bola matanya ke arah lain. "Kalau nggak percaya. ya udah!"
"Wihh, nesu cah," seru Aldo.
"Utututuuu, Dedek kecil ngambek ya," ucap Dila, sambil menoel-noel pipi Meira.
Meira hanya diam saja. Tak lama ia melihat ke arah Aldo. "Lo udah tau ini semua?"
Aldo melihat ke arah Meira dan menganggukkan kepala. "Yang gue tau, cuman Tiara doang. Gue nggak tau, kalau cowoknya Bima."
Meira dan Dilan mengangguk paham. Meira melihat ke arah Dila. "Kamu juga tau hal ini kan?"
"Tau, tapi cuman sifat Bima yang fuckboy." Dila berdecak sebal.
Aldo dan Meira mengerutkan kening. "Fuckboy?"
"Iya," sahut Dila. "Jadi begini, waktu aku keluar sama temen rumah. Aku nggak sengaja lihat, Bika keluar dari Bar, bareng cewek-cewek bohay."
"Astaughfirullah, kamu nggak bohon kan, Dil?" tanya Meira, tak percaya.
Aldo menggelengkan kepala dan bertolak pinggang. "Ck ck ck, gue kagak percaya tuh anak begitu."
"Ya... begitulah, kenyataanya," ucap Dila sambil melihat pernak-pernik.
Aldo mendekat ke arah Dila. "Gimana kabar Nyokap lo?"
"Baik," sahut Dila tanpa melijat ke arah Aldo. "Ohh iya, Ayah titip salam dan makasih buat lo. Ayah juga bilang, kalau ada waktu disuruh mampir ke rumah," tambahnya.
Aldo tersenyum dan mendekati wajah Dila. "Ehem, kayaknya gue udah dapet lampu hijau dari calon mertua nih."
Dila terkejut dan menoleh ke arah Aldo. Hidung mereka saling bersentuhan, membuat Dila sponta menjauh. "Kyaaa, ngapa lo deket-deket sih!"
Meira memutat bola matanya jengah dan melihat ke arah aksesoris lain. Hmm, ada untungnya juga gue, pernah jadi obat nyamuk di antara Melvin sama Tiara dulu.
"Pingin lihat wajah cantik lo dari deket," ujar Aldo sambil tersenyum. Dila hendak membalas, namun mulutnya dibekap oleh Aldo.
"Aldo!" panggil Alexa, Mamahnya Aldo.
"Ststtstt, lo belum waktunya ketemu Mamah, lain kali aja ya." Aldo mengedipkan salah satu mata dan pergi menyusul Alexa.
Dila menekuk wajah dan pergi. "Tuh pikiran, lo buang-buang jauh deh! Lo udah salah paham!"
"Hmm, masa sih?" Meira tersenyum kecil, sambil menyusul Dila dari belakang.
"Terserah lo!" ketus Dila, mengambek. Meira tertawa kecil dan berusaha merayu Dila, namun ditolak. Mereka berdua pergi ke Kasir dan mebayar belanjaannya. Meira meminta maaf dan Dila pun mulai memaafkan.
...🍁...
Meira kini berada di dalam mobil dan perjalanan pulang ke rumah. Meira mengingat kembali obrolan Tiara dan Bima. Ia merasa kesal dan marah Bima, karena dugaanya selama ini salah.
"Sialan, gue kira Bima beneran suka sama gue! Padahal gue udah berusaha jauhin Melvin, dan buka hati buat dia!" Meira memukul setir dengan kesal.
Meira menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia melipat kedua tangan di atas setir dan menangis. Meira mengingat kembali masa-masa dirinya dengan Bima. Meira merasa kecewa dan terluka.
Dasar, semua cowok di dunia ini emang brengsek! batin Meira kesal. "Arghhhh, sialan! Gue bijek-bijek juga tuh anak!" gerutu Meira, sambil memukul-mukuli setir.
Tak lama handphonenya berdering. Meira menghapus air mata dan melihat ke arah handphone. Terlihat pada layar tersebut, tertulis nama Oma.
"Assalammualaikum Oma, apa kabar?" tany Meira.
"Waalaikumsalam sayangku..., baik, kamu gimana?" tanya balik Oma, dari balik telpon.
Meira tersenyum dan menyenderkan tubuh ke bangku. "Baik dong, Oma."
"Alhamdulillah, Oma sama Oppa kangen... mampir ke rumah dong!" pinta dang Oma manja.
Meira tertawa kecil. "Oke deh Oma, nanti malam aku ke rumah. Emm, aku sendiri atau..." ucapnya menggantung.
"Sendiri aja, Ayahmu pasti paham, kalau dia ngelarang, telpon Oma aja langsung, oke!" ucal sang Oma.
Meira tertawa dan mengangguk. "Baiklah Omaku sayang, see you."
"See you, assalammualaikum," ucap Oma.
"Waalaikumsalam," sahut Meira menutup telpin. Meira pun segera pergi ke rumah.
...🍁...
Meira kini telah tiba di rumah. Ia pergi masuk ke dalam dan mengucap salam. Rumah itu kelihatan sepi dan sunyi. Meira pergi ke arah tangga, hendak ke kamar. Terlihat dari lantai kedua, Vena tengah menuruni tangga dengan perutnya yang buncit. Vena juga telah rapi dengan dres panjang dan tas kecil.
Meira melangkah kaki ke anak tangga satu per satu. Vena terlihat kelihangan keseimbangan dan hendak jatuh. "Aaaaa."
Meira berlari menghampiri Vena dan membatunya. "Hati-hati!" pesan Meira, menggegam kedua bahu Vena.
Vena menganggukkan kepala dan tersenyum lembut. "Makasih sayang."
Meira melepas genggamanya, setelag Vena kembali berdiri tegak. "Iya," ucap Meira malu, sambil memalingkan wajah.
Melihat Meira yang malu-malu, membuat Vena gemas dan tersenyum. "Emm, kapau gitu, Bunda cek kandungan dulu ya, kamu jaga rumah." Vena mengusap lembut lengan Meira dan turun.
Meira membalikkan badan, melihat ke arah Vena. "Bunda?" tanyanya.
Vena menengok ke belakang. "Iya, Tante harap kamu bisa panggil dengan sebutan itu, karena..." ucapnya menggantung. Vena tersenyum malu. "Tante suka."
Meira mengeerutkan kening dan membalikkan badan. Ia pergi ke atas, menuju kamar. "Baiklah, akan aku coba."
Vena menutu mulutnya dengan satu tangan. Ia tak percaya, dengan apa yang didengarnya. Vena benar-benar bahagia dan menuruni anak tangga seperti anak kecil. Ya ampun... aku nggak sabar, nunggu kalian berdua manggil, Bunda, batinnya sambil mengusap perut.
Meira yang telah tiba di lantai dua, mengitip Vena dari atas. "Astaga, tingkahnya kayak anak kecil, gimana kalau dia kepleset! Apa dia ngak mikirin kesahatan anaknya!" gerutu Meira dan pergi kembali ke kamar.