
Waktu ujian di mulai. Para Murid terlihat sibuk menjawab. Hari ini adalah ujian pelajaran PJOK dan Seni Budaya, mapel yang dirasa mudah, namun kenyataanya tidak. Beberapa Murid diam-diam melihat contekan dan menirun.
Sialan, nih apa ya jawabanya? batin Meira, merasa bingung dan prustasi. Dia melihat ke arah Dila secara diam-diam. "Stststtt, Dil-Dila!" panggilnya dengan suara pelan.
Dila menengok ke arah Meira dan bertanya lewat mata. Meira menunjukkan jari yang membentuk V, untuk mengkode soal uraian, setelah itu empat jari kiri. Dila mengangguk paham dan menyobek kertas yang ada di laci. Dia berikan jawaban itu ke Kakak Kelas yang menjadi teman sebangku, untuk menyalurkan ke Meira.
Meira menerima kertas itu dan membukanya secara diam-diam. Setelah Guru itu melihat ke arah Murid lain, Meira segera menyalinya. Hufff, akhirnya selesai juga.
Tak lama, sang Petugas yang kemarin bertugas, datang dan menghampiri Bu Harni. Bu Harni sekarang bertugas di ruang ini, untuk mengawasi anak-anak. Sang Petugas melihat ke arah Melvin, yang tertidur di atas meja.
"Vin! Udah selesai kamu?" tanya si Petugas dari depan.
Melvin mengangkat kepala dan melihat ke arah si Petugas. "Udah lah Pak, dari tadi malahan!"
"Bagus-bagus," sahut si Petugas, sambil mengangguk-nganggukkan kepala. "Btw, wajah mereka belum happy?" sindirnya.
Melvin menaikkan alis bingung. Aldo teringat sesuatu dan berkata, "Ahhh, itu loh Vin, yang lo bilang, bakal bikin anak-anak hanppy."
Melvin mengangguk paham dan mrlihat ke sekitarannya. "Maklum lah Pak, mereka pada pusing, ngadepin ujian ini. Bapak mau lihat wajah ceria mereka sekarang?"
Petugas itu tersenyum dan mengangguk cool, sedangkan Bu Harni terlihat bingung. Melvin berdiri dari duduknya dan mengambil lembar jawab. Para Murid melihat ke arah Melvin.
"Ehem," Melvin berdeham dan bersiap membaca jawaban, "Satu A, Dua A, Tiga D, Empat B, Lim---"
Para Murid terkejut dan langsung menengok lembar jawab mereka masing-masing. Si Petugas itu menepuk jidat. "Hedeh, bisa-bisanya aku nunggu dia dan dateng ke sini," gerutunya.
Bu Harni mengambil kertas lembar jawab itu dan menatap tajam Melvin. Sungguh menyedihkan, yang ditatap tajam malah memberikan senyum lebar. Bu Harni benar-benar merasa kesal dan menghela napas pelan. "Lebih baik kamu keluar duluan!"
"Untuk kali ini saya menolaknya." Melvin duduk di bangkunya, sambil melipat kedua tangan di meja. "Saya akan menunggu hingga selesai dan menjadi Murid yang baik."
Bu Harni tidak percaya dan pergi ke depan, menaruh lembar jawab Melvin ke meja. Petugas itu pamit pergi dan keluar dari ruangan. Bu Harni baru saja duduk dan terdengar suara, yang membuatnya marah.
"Gaya dada, servis, satu lima tiga dua empat, tendangan dalam, seratus tig---" ucap Melvin terhenti dan langsung menutup telinga.
"Melvin...!" teriak Bu Harni penuh amarah.
Para Murid terkejut dan murung. Bu Harni datang menghampiri Melvin. "Kamu mau keluar atau Ibu sobek semua lembar jawab teman-temanmu?!"
Melvin terpaksa berdiri dan mencangklong tas. "Baiklah, jika itu mau Ibu," ucapnya dan menyalami tangan kanan Bu Harni. Dia pergi dan berhenti di ambang pintu. "Semangat, guys! Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh!"
"Waalaikumsalam!" sahut para Murid kencang.
"Jawabnya yang bener dong guys!" ujar Melvin sambil menaruh salah satu tangan ke telinga.
"Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh!" sahut para Murid dengan kompak dan kencang. Melvin mengacungkan jempol dan pergi meninggalkan Kelas.
Bu Harni menghela napas berat dan pergi ke depan. Setibanya di meja, Aldo menaikkan salah satu tangan ke atas. Bu Harni melihat ke arah Aldo. "Apa? Kamu mau nyusul Melvin?" ucapnya menahan marah.
"Saya sdah selesai Bu." Aldo menunjukkan lembar jawab dan soal.
Bu Harni menengok ke arah jam dinding. "Masih ada waktu lima belas menit lagi, kamu mau serahin?"
"Iya Bu, ada perlu soalnya," sahut Aldo dan Bu Harni pun mengangguk. Bu Harni menyuruh Aldo ke depan dan memintanya pulang.
"Waalaikumsalam!" sahut para Murid yang lain secara bersamaan. Aldo pun pergi dari Kelas.
Para Murid kembali mengerjakan ujian masing-masing dan bersiap pulang. Tak lama Bel berbunyi dan ujian pun berakhir. Para Murid menyalurkan lembar jawab ke depan dan berdoa. Meira dan Dila keluar dari Kelas bersamaan.
Apa Aldo marah ya? Kemarin malem aku keterlaluan juga sih. Adel merasa tidak enak dengan Aldo, atas kejadian semalam.
Meira melihat ke kanan dan ke kiri. Tidak ada tanda-tanda Melvin sama sekali. Hmmm, apa Melvin langsung pulang ya? Aldo juga nggak ada. Kayaknya Melvin nggak bercanda soal yang tadi.
Meira dan Dila terus berjalan di lorong dengan pikiran mereka masing-masing. Tak lama seorang Siswi dengan rambut dikucir datang. Meira dan Dila pun menengok ke belakang, melihat ke arah wanita itu.
"Meira!" panggi Siswi itu terengah-engah.
Meira memiringkan kepala, bingung. "Iya, kenapa?"
"Kamu, hos hos hos, kemarin live instagram kan?" tanya Siswi itu sambil memegangi kedua lututnya.
"Emmm, iya," sahut Meira ragu. "Pasti jadi heboh ya?" tanyanya, merasa bersalah.
Siswi itu menggelengkan kepala, sambil melambaikan kedua tangan ke depan. "Enggak, bukan begitu. Hujatan tentang kamu udah mulai menurun. Wajah dan ekspresi waktu live kelihatan natural. Mereka berpikir, kalau kamu memang sakit, ditambah Ayahmu yang kelihatan khawatir."
"Apa?" ucap Meira dan Dila tak percaya.
Aku nggak tau, apa ini berita baik, batin Meira gelisah.
"Bentar, kalau nggak buruk. Kenapa kamu tanya soal ini ke Meira?" tanya Dila kepo.
"Jujur aja, aku Fans berat Meira. Aku juga udah gabung Meibest. Mereka semua sangat nungguin kamu, untuk klarifikasi soal ini! Apa kamu nggak berniat buat klarifikasi?" ucap Siswi itu.
Meira melihat ke arah Siswi itu. "Aku mau klarifikasi secepatnya, tapi ada masalah sedikit. Kalau boleh... bisa nggak, kamu bujuk Meibest untuk tidak pergi meninggalkanku dan bersabar soal klarifikasi ini. Aku enggak bisa bayangin, kalau kalian pergi," pintanya ragu.
Siswi itu tersenyum bahagia dan menganggukkan kepala dengan semangat. "Gampang itu, tanpa kamu minta pun, kami udah saling jaga keutuhan Meibest! Meira, kamu yang terbaik!"
Meira tersenyum lebar dan memalingkan wajah, karena malu. Siswi itu terus menggoda Meira dan berusaha memfotonya. Dila yang berada di samping Meira tersenyum bahagia dan tertawa kecil.
"Makasih," ucap Meira malu-malu.
"Omoooo, kamu cantik ples gemesin! Aku foto ya plis!" pinta Siswi itu, sambil mengarahkan handphone ke Meira.
"Jangan bilang, selama ini yang udah ambil fotoku secara diam-diam itu kamu?" Meira manyun dan melipat kedua tangan di depan dada.
"Apa kamu mau menuntutku? Kalau kamu menuntutku, aku akan sebarkan fotomu dengan Bima dan Melvin!" ancam Siswi itu, bercanda.
"Ehhhh, Jangan-jangan! Kamu boleh ambil fotoku, mau dimana?" tawar Meira
Siswi itu tersenyum bahagia dan menarik Meira, untuk mendekat ke jendela. "Kamu bergaya, seakan-akan orang di depanmu ngajak bicara, oke! Terus kamu tersenyum malu, kayak tadi."
Meira mengangguk, mengiyakan dan mulai bergaya sesuai permintaan. Siswi itu terlihat senang dan terus memfoto Meira. Dila tersenyum lembut dan menontonnya. Seorang wanita cantik berambut panjang, menatap Meira dengan kesal dan penuh benci. Dila sekilas melihat kepergian Wanita itu.
Hmmm, kayaknya aku nggak salah lihat, batin Dila.