
Vena kini tengah berada di sebuah Cafe yang bernuansa putih dan elegan. Tempat itu banyak dikunjungi oleh anak remaja dan Ibu-ibu muda seperti Vena. Saat ini, ia sedang menunggu seseorang. Tak lama orang yang ditunggu pun datang.
"Maaf, saya terlambat," ucap sang Gadis, yang memiliki umur sekitar tiga puluh lima. Namanya Kiara, ia adalah babysister Meira waktu kecil.
"Tidak apa-apa, silahkan duduk!" Vena tersenyum, sambil mempersilahkan Kiara untuk duduk di bangku depannya.
Kiara mengangguk dan duduk di bangku tersebut. Vena memintanya untuk pesan minum, namun ia tolak. "Saya tidak bisa lama di sini, mohon pengertiannya!" pinta Kiara. Ia sebenarnya tidak suka dengan Vena.
Vena semalam menghubungi Kiara, untuk mengajaknya bicara di Cafe. Terpaksa Kiara menerima permintaan itu, karena berhubungan dengan Meira. Ia kini masih tinggal di kediaman keluarga Sinta. Berita soal Vena sudah menyebar, sebelum Sinta meninggal. Kiara benar-benar tidak suka dan membenci Vena.
Vena berusaha tersenyum. Ia tau jika Kiara tidak menyukainya, sejak mereka berhubungan lewat internet. "Terimakasih, karena sudah meluangkan waktunya, saya hanya ingin bertanya soal Meira saja," ucapnya sopan.
Kiara mulai curiga dan berusaha mengatur mimik wajahnya yang terlihat kesal. "Bukankah anda sudah menanyakannya dulu? Kalau hanya itu saja, lebih baik chat atau telpon seperti biasa."
Ya ampun, sabar Ven, ini semua demi Meira, kamu pasti bisa! Vena tersenyum lembut dan berucap, "Emm, saya ingin bicara secara langsung saja, jika lewat tel---"
"Baiklah, apa yang anda ingin tanyakan?" potong Kiara dengan perasaan kesal.
Vena masih mempertahankan senyum, walaupun hatinya memanas. "Apa anda tau, keinginan Meira yang paling dalam dan cara Sinta menenangkannya?"
Kiara menghela napas kasar. "Maaf, saya tidak tau hal itu! Saya mengurus Non Meira dari bayi hingga umur sembilan tahun saja!"
"Iya, tapi anda pasti tau kan? Di umurnya yang masih kecil, ada banyak kebahagian dan kegembiraan yang sangat Meira sukai!" ucap Vena, "Apa anda tidak mau bantu? Saya hanya ingin, supaya Meira hidup bahagia dan kembali sehat!"
Kiara melihat ke arah Vena. Ia teringat akan ucapan Sinta, sebelum meninggal dunia. Kejadian itu terjadi, pada tiga bulan yang lalu.
...Flesback On....
Keluarga Sinta tengah berkumpul di ruang tengah. Rumah itu sangat besar dan luas. Terdapat lampu yang menggelantung dengan mutiara di sekelilingnya. Rumah itu terlihat sangat mewah dan cantik. Sinta datang ke rumah dan menyalami para keluarga.
Kiara datang membawa nampan yang berisi enam buah cangkir teh. Ia terkejut melihat kehadiran Sinta. "Mbk Sinta!"
Sinta menoleh ke arah Kiara dan tersenyum ceria. Kiara menaruh nampan itu ke meja dan berpelukan dengan Sinta. "Gimana soal pekerjaanmu sekarang?" tanya Sinta, setelah melepas pelukan.
Kiara mengangguk sambil tersenyum bahagia. "Alhamdulillah lancar Mbk, ini semua berkat anda dan keluarga! Entah bagaimana nasib saya, jika tidak bertemu dengan Mbk."
Sinta tertawa kecil. "Apaan sih, lebay deh kamu!" Sinta menoel hidung Kiara. "Kami seneg kok bisa bantu kamu, iya nggak Yah?"
Ayah Sinta mengangguk, setelah menyeruput teh. "Kamu sudah kami anggap seperti anak kami sendiri, jadi jangan katakan hal itu lagi!"
"Iya, kalau kamu begitu lagi, Mamah jewer kamu sampek putus tuh telinga!" ujar Mamah Sinta dan Kiara pun tersenyum malu.
Kakak Sinta yang bernama Diego tengah memainkan handphone dan bertanya, "Tumben kamu ke sini? Apa Alex nyakitin kamu?"
Sinta tersenyum dan menggelengkan kepala. "Mana ada Mas Alex nyakitin aku, Kakak kalau ngomong seenaknya deh!" sahutnya dan keluarga pun hanya bisa pura-pura percaya. "Aku ke sini mau ngomong sesuatu, tapi kalian harus janji dulu sama aku!"
Diego, Kiara, Ayah dan Mamahnya Sinta mulai fokus ke Sinta. "Janji apa?" tanya mereka kompak, kecuali Ayah.
Sinta memeberikan beberapa lembar kertas yang berisi dengan tulisan yang panjang. Mereka pun menerima dan membacanya. Wajah mereka berubah, ada yang terkejut, marah, muram dan sedih.
"Apak Mbk Sinta serius?" tanya Kiara khawatir.
Diego menaruh berkas itu ke meja, dengan kuat. "Brengsek! Udah berapa kali Kakak bilang, ceraikanAlex dan cari cowok lain! Apa susahnya, kamu itu cantik Dek, Banyak yang suka kamu, walaupun janda!"
"Mamah harusnya bisa nahan Ayah, daan nasib kamu sama Meira pasti nggak akan begini!" ucap Mamah.
Sinta duduk di bawah dan menyenderkan kepala di lutut Mamah. "Hikss, aku mohon... kalian mau berjanji dan tepati janji ini!" Sinta mengangkat pandang dan melihat ke arah Mamah. "Demi anak dan cucumu Mah, bantu aku ya, plisss! Hiks hiks hiks, Mas Diego Ayah... tolong ya!"
Diego merasa kesal dan pergi ke atas. Ayah menghampiri Sinta dan membantunya berdiri. "Jika memang kondisinya sudah begini, Ayah akan bantu dan tepati janji!"
Sinta memeluk sang Ayah. "Makasih Yah."
Kiara meremas kertas itu dan menaruhnya ke meja. "Mbk Sinta, bagaimana jika wanita itu melakukan hal yang buruk ke Meira, seperti ibu tiri pada umunya?" tanyanya.
Mamah mengerutkan kening. "Sinta nyuruh apa emang, ada di lembaran mana?"
"Lembaran ketiga Mah," sahut Kiara dan menunjukkan kertas itu.
Sinta telah melepas pelukannya dan menghapus air mata. "Mbk mau, kamu bantu dia! Apapun bantuan dan pertanyaan yang berkaitan dengan kehidupan Meira! Dia orang yang sangat baik, mungkin hanya dialah yang akan membuat Alex berubah."
Mamah, Ayah dan Kiara merasa sedih. "Baiklah Mbk, tapi aku nggak janji," sahut Kiara.
"Mbk maunya kamu janji! Jika kamu masih nggak mau, balas budilah ke Mbk dengan janji ini!" ucap Sinta serius, membuat Kiara bungkam dan terpaksa menerimanya.
...🍁...
Aku benci cewek ini, tapi Mbak Sinta sudah sangat berjasa bagi hidupku! Meiralah salah satu penerus Mbk Sinta, aku nggak bisa biarin dia menderita seperti ini! batin Kiara. Ia merasa bimbang dan bingung.
"Bantu aku, plisss!" pinta Vena.
Kiara menghela napas. "Baiklah, saya bantu! Sebelum itu, anda harus mengetahui hal ini!"
Vena tersenyum dengan senang. "Wahhh, makasih! Hal apa ya?"
Kiara mengeluarkan handphone dan pen stylus. "Baca dan tanda tangan! Saya tidak bawa berkasnya, sementara di aini dulu, nanti saya fotokopikan!"
Vena mengambil handphone itu dan membaca dokumen dari layar kecil itu. "Apa? Kenapa begini?"
"Anda sudah masuk ke zona saya! Anda tidak bisa lari, ini semua permintaan Mbak Sinta sendiri," ucap Kiara.
Vena tidak percaya, "Sinta? Nggak mungkin!"
Kiara melipat kedua tangan di depan dada. "Jika anda tidak percaya, ya udah, saya juga nggak maksa. Semua ini dilakukan oleh Mbk Sinta, demi Meira dan kalian berdua! Kami bisa saja menjebloskan Pak Alex ke penjara, atas kasus KDRT! Namun tidak kami lakukan, karena permintaan Mbak Sinta!" jelas Kiara dengan tegas.
"Apa?" Vena terkejut. Ia tau, jika Alex berlaku keras dengan Sinta. Ia terkejut, karena Sinta dan keluarganya tau dari lama.
"Apa anda tidak sadar? Di hari kematian Mbak Sinta, kami hanya datang sebentar dan melanjutkan acara di rumah sendiri! Keluarga Mbak Sinta sangat-sangat kecewa dengan Pak Alex sejak Non Meira SD, Kami tau semua tentang tingkah kalian semlama ini! Lebih baik anda terima, demi kebaikan kita semua!" ucap Kiara. "Anda ingin Meira bahagiakan?"
Vena terpaksa menandatangi dengan pen stylis dinlayar handphone. Ia memberikannya ke Kaira, dengan perasaan sedikit kesal. "Apa saya bisa percaya dengan anda? Bagaimana jika anda tidak membantu dan malah menipu saya?"
Kiara menaruh handphone ke dalam tas dan tersenyum. "Saya pasti bantu! Ini janji saya pada Mbak Sinta."
"Baiklah," sahut Vena dan Kiara pun pangsung pergi, tanpa pamit. "Hufff, semoga saja tidak terjadi, aku harus bicara sama Alex!" Sinta membayar minumannya dan peegi dari Cafe.