MeiMel

MeiMel
Fanslah obat terbaik.



Bel pulang berbunyi dengan nyaring. Para Murid berhamburan keluar dari Kelas. Meira berusaha untuk memberikan senyum pada teman sebelahnya, namun ditinggal pergi dengan perasaan takut. Meira hanya tersenyum getir dan memalingkan wajah. Kelas itu mrnjadi sepi dan hanya berisi Meira, Melvin, Aldo dan Dila.


Sialan mereka, kalau ketemu gue habisin nanti! batin Dila kesal.


Melvin duduk di sebelah Meira dan merangkulnya. "Jangan nangis dong, entar kulit lo keribut gimana?"


Meira menghempas tangan Melvin dengan kasar dan menatap tajam. "Lo pasti udah tau kan?"


Melvin tidak tega melihat mata Meira yang berair. Dia pun menghela napas pelan dan memberikan handphone ke Meira. Dila dan Aldo menatap Melvin, tak percaya.


Dia gila apa ya? batin Dila, sambil menatap Melvin sebal.


Meira meraih handphone itu dan menunjukkan ke arah Melvin. "Tunjukkin!"


Melvin menurut dan menekan salah satu aplikasi di handphone. Terlihat pada layar tersebut, ada banyak foto Meira dan sebuah keterangan. Berita itu membahas soal keluarga dan beredarnya vidio Meira, yang berusaha membunuh Alex. Terdengar jelas ucapan yang Meira lontarkan untuk Alex.


Meira meremas handphone itu dan menundukkan kepala, menangis. Dia tidak dapat berkata-kata lagi. Apa yang telah terjadi, tak dapat Meira hindari. Dia hanya bisa menangis dan meratapi kebodohannya.


Melvin menggegam kedua tangan Meira. "Lo kagak perlu khawatir. Gue, Ayah sama Om Alex, udah berusaha untuk hapus itu berita dan mencari jalan keluarnya."


Dila yang berada di bangku depan Meira, tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya Meira, kamu nggak perlu sedih. Di sini kan masih ada kami dan fans setia kamu! Kami semua akan dukung kamu!"


Aldo mengagukan kepala dengan kedua tanga di lipat depan dada. "Bener Mei, gue juga udah cek igmu. Meibest masih dukung lo! Mereka semua pun ikut bales komenan negatif tentang lo."


Dila mengangguk dengan senang. "Iya Mei, yang dibilang Aldo itu bener! Meibest selalu dukung kamu terus! Aku aja sampek nangis, baca komenan mereka, yang berusaha untuk bela kamu." Dila mengotak-atik handphone dan memberikan ke Meira.


Meira menoleh ke arah Dila dan meraih handphone tersebut. Dia menghapus air matanya dan membawa komenan para Haters dan Meibest. Meira tersenyum dan menangis haru, di saat membaca komentar itu.


Kolom komentar;


Meibest Untuk kalian yang bilang Meira gila, stress, tai dll. Lo pada lebih gila, stress, tai dll. Kalian hanyalah sekumpulan orang yang tidak memiliki kerjaan dan hanya bisa mencibir! Coba aja, kalau kalian dijeblosin ke penjara! Lo pada pasti mewek, ngemis-mgemis minta ampun! Dasar orang kagak tau diri! Semangat Meira, Meibest selalu sukung kamu!


Sindi_245 Kalian sebelum menghujat tuh mikir! Nonton vidio tuh disimak dengan detail! Lo pada lihat dong, kondisi Meira bagaimana?! Meira tuh butuh dukungan dan suport kita! Bukannya hujatan atau hinaan! Kalian tuh punya hati kagak sih!!! Kesel banget gue.


Meiralove Ya ampun, aku tiap hari nangis lihat komenan dan cacian kalian. Kok bisa sih, kalian setega ini? Kalian yang ngehujat Meira teh, emangnya udah sempurna dan suci? Semua orang punya kesalahan dan masalah sendiri! Jadi Artis itu nggak mudah, butuh banyak tenaga dan siap mental! Ya ampun, aku udah nggak bisa lanjut ngetik lagi. Seriusan, aku nangis sambil ngetik ini!


Vivinnoel Meira yang kuat ya, kami semua mendukungmu! Cepetan sembuh sayangku, aku kangen kamu muncul di tv!!!


Didideok GWS Baby❤️❤️❤️. Tv ku terasa hampa, tanpa kehadiran mu!


Rionan_223 Cepetan sembuh ya cantik. Selalu semangat, jangan pikirin hal-hal yang berat dulu! Om kangen, ambil foto kamu.


Komenan itu masih ada banyak lagi. Senyum Meira, mengembang dengan sempurna. Dia hapus air matanya dan mengembalikan handphone Dila.


"Makasih Dil," ucap Meira lirih, dengan senyum lembut.


Dila tersenyum dan menganggukkan kepala. "Sama-sama, sayangku."


"Sebelum nih Kelas dikunci, lebih baik kita keluar dulu," kata Melvin dan berdiri tegak.


"Bener tuh, badan gue juga udah pegel semua, pingin rebahan di kasur," ujar Aldo, sambil berolahraga kecil.


Meira menganggukan kepala dan berdiri tegak. Mereka berempat pun keluar dari Kelas bersama. Sesampainya di parkiran, mereka masuk ke mobil masing-masing dan pergi meninggalkan lokasi.


...🍁...


Melvin dan Aldo turun dari montor sport. Terlihat di tempat itu penuh dengan anak-anak, yang ada di ruang ujian tadi. Lokasi itu terletak di belakang sekolah. Ada sebuah tongkrongan kecil, dengan halaman yang sangat luas. Melvin dan Aldo pergi menghampiri mereka semua dengan aura dingin.


"Ehem." salah satu Siswa mengacungkan tangan ke atas dan maju ke depan. "So-sory Vin, kita janji nggak bakalan lakuin hal itu lagi!"


Melvin menggebrak meja dengan kuat hingga vas bunga yang ada di sana jatuh. "Janji lo bilang? Lo pada udah bikin dia nangis kayak gitu, woi! Sory lo juga kagak ada gunanya bagi gue!" ujarnya dingin dan tenang. "Gue kasih lo pada kesempatan. Besok bikin Meira senyum dan minta maaf atas kesalahan yang udah kalian perbuat!"


Para Murid menganggukan kepala dan menjawab, "Makasih Vin! Makasih."


Aldo melipat kedua tangan di depan dada. "Udah-udah, mending lo pada balik sekarang!" pintanya dan para Murid mengiyakan. Mereka semua pun pergi, kecuali Melvin dan Aldo.


Melvin dan Aldo duduk di salah satu meja dan memesan minuman. Melvin mengambil handphone dan menelpon seseorang. Aldo tengah bermain game online, sambil nunggu minumannya jadi.


"Lo nelpon siapa?" tanya Aldo kepo, sambil mata ke arah layar handphone.


"Orang," sahut Melvin singkat.


Aldo berdecak sebal dan seorang Wanita paruh baya, datang membawakan dua buah minuman dingin. "Silahkan diminum, Nak!"


"Maksih Bu," sahut Melvin dan Aldo.


Ibu itu mangangguk dengan senyum ramah dan pergi. Aldo menyeruput minuman itu dan mengaduknya dengan sedotan. "Mau lo aduin tuh akun yang ngehujat Meira?"


"Rencananya begitu, tapi gue baru aja dapet kabar, kalau Om Alex batalin itu semua," sahut Melvin dan meminum esnya.


Aldo mengangguk paham dan mengecek handphone. Sebuah notifikasi masuk. Dia membuka dan membacanya.


Dila : Ketemuan yuk! Entar malem gimana?


Aldo tersenyum dan membalas chat itu.


Aldo : Woke, dimana?


Dila : Cafe AFA.


Aldo : Oke.


Aldo tersenyum senang dan memasukan handphone tersebut ke kantong celana. Dia melihat ke arah Melvin, yang terlihat stres. "Berat bener tuh otak kayaknya?"


Melvin tengah mengaduk-ngaduk minuman dan menoleh ke arah Aldo. "Kayaknya yang lo bilang bener, gue suka sama Meira."


Aldo tersenyum puas dan menyender di kursi. "Akhirnya lo sadar juga, ambil nih kesempatan buat deketin Meira!"


Melvin menatap datar Aldo dan memalingkan wajah. "Lo lupa, gue masih jadian sama Tiara?"


Aldo menghela napas berat. "Gue kasih tau ya! Tiara itu udah punya cowok, Bima!" ucapnya, sedikit menekan nama Bima. Melvin terkejut dan menatap Aldo, tak percaya. "Kalau lo kagak percaya, tanya aja Dila sama Meira!"


"Kalau yang lo bilang itu bener. Kenapa mereka...?" tanya Melvin menggantung.


"Gue rasa mereka ada tujuan lain," sahut Aldo dan minum esnya.


Melvin mengacak rambutnya. "Arghhh, sialan!" Aldo hanya diam saja, karena sudah terbiasa. Melvin memukul meja dengan wajah kesal. "Masalah gue banyak banget! Dosa besar apa, yang udah gue perbuat?!"


Aldo berdiri tegak dan menghampiri Melvin. Dia menepuk bahu Melvin. "Udah sore, Bro, kita harus balik!"


"Haisss." Melvin mendesah dan meraih handphone yang ada di atas meja. Dia langsung pergi ke arah montor dan menaikinya. Aldo membayar minuma itu dan melihat kepergian Melvin.


"Semoga ujian yang lo berdua terima, mendapatkan hikmah dan kebahagian." Aldo pergi ke arah montor dan pulang ke rumah.