MeiMel

MeiMel
Meira menggila.



Malam hari tiba dan pengajian pun telah selesai. Semua ART tengah bersih di ruang tengah dan ruang tamu. Meira kini duduk di sofa sambil memeluk foto Sinta dengan erat dan sesengukan. Air matanya tak lagi keluar, karena terus manangis. Pandanganya kosong dan sendu. Tak lama, Via datang sambil membawa nasi dan air putih.


"Meira, makan yuk! Perut kamu pasti kosong, nanti mereka memberontak loh," ucap Via membujuk Meira dengan lembut dan penuh kasih sayang. Ia menekuk kedua kaki dan melihat ke arah Meira. "Kok diem aja, makan ya! Nanti Mamah kamj sedih."


Meira menggelengkan kepala dengan lemah dan menunduk. Via menjadi sedih dan pergi. Melvi yang berada di tampat itu pun, menghentikan Via. "Dia nggak mau, Mah?" tanya Melvin, setelah melihat ke arah piring dan gelas.


Via mengangguk. "Kamu ambil jus yang Mamah buat tadi ya, kasih ke Meira! Minimal bisa janggal perutnya."


Melvin mengangguk dan pergi ke arah meja makan. Ia menuangkan jus buatan Via ke gelas dan membawanya pergi. Ia menghampiri Meira dan memberikan jus itu. "Mei, lo minum dulu nih!"


Meira menundukkan kepala dan menggeleng. Ia masih memeluk foto Sinta dengan perasaan yang hampa. Melvin menghela napas dan berusaha sabar. "Kalau lo kagak mau minum atau makan, Mamah lo bakalan sedih di akhirat sana! Arwahnya kagak bakalan tenang!"


Meira mengangkat pandang dan melihat ke arah Melvin. Apa yang dikatakan Melvin memang benar. Meira pun mengambil jus itu dan meminumnya pelan-pelan. Melvin tersenyum melihat Meira. Ia mengambil tisu dan memberikan ke Meira. "Buat apa?" tanya Meira.


Melvin menunjuk ujung bibirnya. "Ada sisa jus!"


Meira mengambil tisu itu dari tangan Melvin dan membersihkan ujung bibir. "Udah?"


Melvin menunjuk atas bibir dan ujung hidung, sambil berucap, "Sini belum!"


Meira pun mengikuti arahan Melvin. "Udah belum?"


"Udah," sahut Melvin dan meminta kembai tisu itu. Meira pun memberikan tisunya dan dibuang oleh Melvin ke tong sampah.


Melvin kembali dan duduk di salah satu sofa. Melvin melihat ke arah Meira, yang tengah menaruh gelas ke atas meja. "Biar gue aja!" Melvin mengambil alih gelas itu dan menaruhnya ke meja.


"Makasih," ucap Meira sambil tersenyum dan memiringkan kepala.


Melvin tersenyum. Akhirnya, lo senyum juga Mei, batinnya. Ia pun bermain handphone sambil menemani Meira.


Meira membaringkan tubuh ke sofa sambil memeluk foto Sinta dan melihat para ART bersih-bersih. Sesekali, salah satu ART mengajak ngobrol Meira, sambil membersihkan ruangan. Entah mengapa hatinya terasa sedih sakit, melihat Meira seperti ini.


Terlihat di halaman belakang, Alex tengah duduk di ayunan gantung sambil menatap langit. Ia merasa kesepian dan hancur. Hatinya hampa, tanpa adanya Sinta. Ia benar-benar menyesal, dan kesal dengan dirinya sendiri. Handphone yang sedari tadi berbunyi, ia matikan dan meminta salah satu ART, untuk menjauhkannya.


"Maaf Tuan, ini mau ditaruh dimana ya?" tanya ART itu.


"Ruang kerja saya aja," ucap Alex lemah dan lirih. ART itu pun mengangguk dan pamit pergi. Alex mentap kelangit dan mengingat sesuatu.


...Flesback On....


Alex mendapat kabar, jika Sinta telah meninggal. Ia pun segera pulang dan membawa mobil dengan kencang. Sesampainya di rumah, wajahnya berubah dan jatuh terduduk. Ia tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Sinta telah memakai kain kafan dan tertutup jarik. Rapuh dan hancur sudah seluruh tubuhnya.


Sinta.... batin Alex lirih.


Seorang Dokter datang menghampiri Alex dan membantunya berdiri. "Saya tau, anda sedang berduka, tapi saya perlu bicara dan memberitaukan hal ini!"


"Ikut saya!" pinta Alex lemah. Mereka berdua masuk ke dalam ruang kerja dan bicara, "Ada apa?"


Dokter itu menjawab, "Ibu Sinta meninggal, karena kanker darah, leukimia. Saya sudah berulang kali mengingatkannya untuk menjalannin pengobatan, namun ditolak." Alex terkejut mendengar ucapan Dokter. "Saya pikir, Ibu Sinta memilih untuk mati, dari pada bertahan hidup, karena... anda!"


Alex tertegun, Dokter itu menatapnya dengan tak suka dan tajam. Hati Alex terasa begitu sakit. Ia tidak sangka, Sinta melakukan ini. Bagaimana bisa, ia tidak tau apa-apa? Padahal ia tinggal seatap! Air mata Alex, akhirnya jatuh. Ia membuang semua barang di meja. "Arghhhhhhh!" teriaknya.


Dokter itu hanya diam dan menonton. Baginya, Alex adalah cowok yang tidak pantas ia bantu. Ia langsung pergi, tanpa berpamitan. Alex terlihat prustasi dan marah. Ia menangis sambil mengamuk. Ia merasa begitu kejam dan jahat. Ia yakin sekali, jika Sinta telah mengetahui rahasianya.


...Feedback Off....


Alex menyenderkan tubuh ke ayunan dan menutupi mata dengan lengan kanan. Air matanya keluar. Kalau kamu tau hal itu, aku minta maaf Sin... maafin aku.


...🍁...


Meira telah mengantuk. Via yang mengetahuinya pun, pergi menghampiri Meira. Via membawa Meira ke kamar dan membantunya tidur. Tak lama, Via turun ke bawah, menghampiri Jino dan Melvin di ruang tamu. Mereka kini akan tinggal dirumah Meira, untuk sementara.


Via duduk di samping Melvin dan menyenderkan kepala ke pundak anaknya. "Hufff, capek banget."


Melvin yang sedang ngegame pun, menghentikan kegiatanya dan memasukkan handphone ke kantong. "Kita tidurnya dimana?"


"Di kalen!" sahut Jino ketus sambil bermain handphone.


Melvin memicingkan mata. "Gue tanya beneran!"


Jino menghentikan jarinya dan melihat ke arah Melvin. "Ohhh, gue juga jawabnya serius."


Melvin mulai kesal dengan Ayahnya dan hendak melmpar bantal kursi ke wajah Jino. Namun terhenti, karena Via menahan tanganya. "Haisss, kalian berdua nih... sekali aja nggak berantem bisa enggak hah!" Via marah.


Jino dan Melvin mendelik, melihat Via. "Cari aja pintu yang ada namanya Meira, entar di depannya ada kamar kosonh. Itu kamar kamu!"


Melvin mengangguk. "Mah aku mau tidur dulu, good night," ucapnya dan segera pergi.


"Ayah juga ngantuk Mah, ma---" ucap Jino terpotong.


"Mau kemana?" tanya Via. "Alex yang Tuan rumahnya saja belum tidur, dan kamu malah," ucapnya terhenti.


"Iya-iya, ini aku mau bujuk dia!" Jino pergi menghampiri Alex dan Via membaca buku.


Tak lama Jino datang. "Dia udah ke kamar duluan, katanya."


Via mengangkat pandanganya dan melihat ke Jino. "Ohhh." Via menutup buku itu dan menaruhnya di bawah meja. Ia merangkul tangan Jino dan pergi ke kamar bersama.


...🍁...


Pagi hari tiba dan matahari pun telah terbit. Meira bangun dari tidurnya dan menatap foto Sinta. Seketika, hatinya bertanya-tanya. Apa penyebab Mamahnya meninggal? Ia pun turun dari kasurnya dan hendak mandi. Namun langkahnya terhenti, karena notifikasi. Ia pergi mengambil handphone dan membacanya.


0867****** : Mengirim beberapa foto.


Terlihat di foto itu, Sinta keluar masuk Rumah Sakit sendirian, di tanggal yang berbeda-beda. Ada juga foto dimana, Alex tengah memarahi dan menyeret Sinta. Meira terkejut dan manangis. Ia tak sanggup untu melihatnya dan hendak mematikan handphone, namun terhenti. Notifikasi kembali masuk.


0867****** : Ibu Sinta meninggal diakibatkan penyakit kanker darah, leukimia.


0867****** : Beliau menolak untuk dioprasi, karena ingin segera mati.


Meira menutup mulutnya dengan salah satu tangan dan menangis sesengukan. Jadi, selama ini Mamah sakit? Nggak, itu nggak mungkin! Ini pasti bohong! batinnya. Ia melempar handphonenya dengan keras.


Pyarrr.


Meira memegangi kepalanya dan matanya melijat ke arah. "Nggak, ini pasti bohong! Hiks hiks, Mamah..." ucapnya lirih. Ia melihat ke arah foto Sinta, yang tengah tersenyum bahagia. Ia mengambil foto itu dan mengusapnya lembut. "Mamah nggak mau oprasi pasti karena dia kan? Iyakan Mah?!"


Meira menangis dan menaruh foto itu ke meja. "Aku akan balas! Aku akan membalasnya! Aku harus bikin dia menderita! Aku harus bikin dia, merasakan derita Mamah yang selama ini dirasakan!" gerutunya menggila, sambil pergi ke arah kamar Alex.


Alex kini berada di dalam kamar. Ia tengah membaca sepucuk kertas dan tiba-tiba, seseorang membuka pintu dengan kasar. Alex kaget dan langsung memasukkan kertas itu ke laci. Terlihat, Meira datang dengan tatapan yang penuh kebencian dan amarah.


"Meira, ada apa Nak?" tanya Alex sedikit takut.


Meira mengambil vas bunga dan memecahkannya. Ia todongkan vas yang pecah itu ke Alex. "Elo harus menderita! Elo nggak boleh bahagia! Elo harus terluka parah!" ucapnya sambil melangkah maju ke depan.


Alex berjalan mundur dan menjauh. "Mei-meira."


Bik Tika yang tak sengaja melihatnya dari luar, panik dan pergi ke bawah meminta tolong. "Tuan, Nyonya, Aden! Tolongin Tuan Alex, Non Meira ngamuk! Kayaknya, Non Meira mau bunuh Tuan Alex!"


Via, Jino dan Melvin kaget. Mereka pun langsung pergi ke atas dan berlari ke arah kamar Alex. Sesampainya di sana, mereka kaget. Terlihat, Alex telah terpojok dan Meira hendak meluncurkan vas itu. Melvin yang mengetahuinya pun, langsung memeluk dari belakang dan menahan tangan Meira. Jino menarik Alex untuk menjauh.


"Meira sayang... yang tenang ya, hiks, Meira lihat Tante Nak," ucap Via lirih dan meneteskan air mata. Ia memegang ke dua pipi Meira dan mengusapnya dengan lembut. Meira terus memberontak dan berteriak, Via yang melihatnya menjadi tak tega. "Stststtt, sayang, hei Meira! Lihat Tante! Meira... lihat Tante sayang!" Via menangis dan terus menenangkannya.


"Bik Tika! Panggil Psikiater sekarang juga!" pinta Jino dan Bik Tika pun langsung pergi, menjalankan perintah. Alex terlihat masih syok. Ia tidak sangka, anaknya akan mengalami hal ini.


"Lepasin... gue harus siksa dia! Dia orang bajing*n! Dia nggak pantas bahagia! Dia udah bunuh Mamah! Dia Iblis! Dia nggak boleh sehat atau bahagia! Dia harus menderita dan terluka!" gerutu Meira sambil memberontak. Ia kini telah kehilangan akal sehatnya, menggila.


Melvin sedikit kewalahan, karena tenaga Meira begitu kuat. Hatinya benar-benar terluka, melihat kondisi Meira. Orang yang selalu ceria kini tengah menggila dan terpuruk. Ia memeluk erat Meira dan meneteskan air mata. Sadar Mei, gue mohon... janga kayak gini!


Meira terus memberontak dan Via masih berusaha menenangkannya, sambil menangis. Meira kesal dan menggigit tangan Melvin dengan kuat. Via yang melihatnya pun terkejut. "Meira! Hentikan sayang, kasihan Melvin! Meira... lepas ya sayang! Jangan digigit tangan Melvin, hiks hiks, Meira, Tante mohon lepasin ya sayang hiks hiks." Ia mengusap lembut rambut Meira.


Melvin menggigit bawah bibirnya dan menahan rasa sakit itu. Inggin sekali dirinya berteriak, karena sangat perih. Meira menggigit tangan Melvin semakin kuat. Arghhhhh, sialan! Sakit bener, anj*ir.


Meira pun melepas gigitanya dan kembali memberontak. "Lepassss! Gue mau siksa tuh bajin*an! Lepasin gue!" teriaknya.


Tak lama, Psikiater pun datang dan langsung menyuntikan obat bius ke lengan Meira. Lama-lama, teriakan Meira tak lagi terdengar dan ia pun pingsan. Melvin yang memeluknya pun, langsung menggendong Meira dan membawanya pergi masuk ke kamar. Mereka semua mengikuti Melvin dari belakang.


Melvin membaringkan tubuh Meira secara pelan-pelan dan Psikiater itu pun memeriksanya. Via, Alex dan Jino, diminta untuk keluar, karena ada yang ingin dibicarakan oleh Psikiater. Mereka berempat pergi dari kamar, dan meninggalkan Melvin berdua dengan Meira.


Melvin mengecup lembut jari-jari Meira. "Cepetan sembuh, gue kangen lo yang berisik dan ceria."


Semoga kalian semua bisa mengambil pesan-pesan yang aku sampaikan lewat novelku ini.


...Semoga kalian suka dan terus lanjut baca....


...See you all....