
Malam hari telah tiba. Meira baru saja selesai shalat isya dan melipat mukena. Bik Tika mengetuk pintu dan memberitau, jika Supir dari Oma sudah datang. Meira mengambil tas dan turun ke bawah. Terlihat di ruang tengah ada Alex dan juga Vena.
"Mau kemana?" tanya Alex, melihat Meira menuruni tangga.
Meira pergi menghampiri Alex. "Mau ke rumah Oma."
"Ohhh," sahut Alex, melepas rangkulannya "Hati-hati di jalan, Ayah titip salam buat mereka semua ya."
Meira menganggukkan kepala dan pergi. "Assalammualaikum."
"Waalaikumsalam," sahut Alex dan Vena.
Alex berdiri dari duduknya. "Aku ada urusan sedikit, nanti kita ngobrol lagi, oke." Alex mengusap puncak kepala Vena.
Vena hanya mengangguk sambil tersenyum dan Alex pun pergi menghampiri tempat. Tak lama, Bik Tika datang membawa susu untuk Vena. Vena menghela napas berat dan menyenderkan kepala ke tangan.
"Bik Tika, apa Meira selalu begitu?" tanya Vena, sambil melihat ke arah Bik Tika.
Bik Tika berdiri dan melihat ke arah Vena "Maksud Nyonya, salaman?" Vena menganggukkan kepala, mengiyakan. "Non Meira memang seperti itu. Dalam satu tahun saja, kita bisa hitung dengan jari, berapa kali Non Meira dan Tuan Alex salaman."
Vena tak percaya dengan apa yang didengar. "Apa? Udah separah itu ya ternyata," ucap Vena dan Bik Tika mengangguk. Vena terlihatberpikir dan mengambil handphone. "Hmm, aku akan coba perbaikin ini semua!"
Bik Tika tersenyum lembut. "Saya doakan, semoga usaha Nyonya berhasil!"
Vena memiringkan kepala dan tersenyum. "Aminnn, makasih Bik."
Bik Tika tersenyum dan menganggukkan kepala. "Sama-sama Nyonya, saya ijin ke dapur."
"Iya Bik, silahkan!" sahut Vena dan Bik Tika pun pergi meninggalkan tempat. Vena pun membaca sesuatu lewat handphone.
Terlihat di lain sisi, Meira sudah berada di dalam mobil. Meira teringat kejadian tadi, soal Bima dan Tiara. Dia merasa tertipu dan dikhianati. Memang hatinya belum mencintai Bima, namun dia telah mrnganggap Bima sebagai sahabat. Meira pun mengambil handphone dan menghubungi Verel.
"Hallo, ada apa Dek? Tumben nelpon, kangen yaaa," ucap Verel, sambil mengaduk es susu. Terlihat di tempat itu sangat ramai dengan anak remaja.
Teman Verel bertanya, "Siapa tuh Bro?"
Verel tersenyum dan menjawab, "Biasa, Adek gue tersayang minta dimanja."
"Jangan ngarang lu Bang!" Meira ngegas membuat Sopir dan teman-teman Verel kaget.
Verel hanya cekikikan di tempat. "Hehehe, santai dong... Gitu aja ngegas."
Meira berdecak sebal. "Aku mau langsung ke inti pokoknya! Aku nggak mau bercanda!"
"Hah, mau langsung nikah sama Abang, Dek? Jangan... Abang udah punya gebetan! Entaran aja ya, jadi Bini kedua," canda Verel membuat Meira diam menahan amarah. Verel tersenyum, membayangkan wajah kesal Meira. "Oke-oke, Abang serius, kamu butuh bantuan apa? Soal medsos mu itu atau hal lain?"
Meira mengerutkan kening. "Hah, medsos? Ada apa emangnya?"
Ternyata Meira belum tau, lebih baik gue diem deh, ketimbang buat masalah. Verel terlihat bingung dan menaikkan salah satu kaki ke atas pupu yang satunya. "Halah, biasalah Dek, para Fans kamu, kangen. Btw, butuh bantuan apa nih? Mumpung Abang nyantai."
"Ohhh gitu," sahut Meira, "Bang, aku punya temen namanya Bima sama Tiara. Bima pernah bilang suka sama aku dan Tiara itu pacar Melvin. Gelagat mereka itu agak aneh, aku curiga."
"Hmmm, Abang paham nih! Oke deh, Abang kabarin secepatnya ke kamu!" ucap Verel.
"Makasih Bang, assalammualaikum," sahut Meira.
"Ehhh, bentar! Foto dan data tuh anak kamu punya kagak?" tanya Verel lewat telpon.
"Ada kok, Kak, nanti aku kirim lewat chat!" ucap Meira.
"Oke, Waalaikumsalam!" Verel menutup telpon dan Meira pun mengirim pesan. Verel membalas pesan itu, dengan stiker yang menggemaskan. Meira tersenyum dan melihat pemandangan dari luar jendela.
...🍁...
Meira tiba di rumah Oma. Ia menyapa para Pembantu dan bersalaman dengan keluarga. Oma dan Oppa terus memeluknya dengan kuat. Kiara dan Derel hanya bisa tersenyum dari belakang. Mereka berlima duduk di Ruang Tamu.
Meira melihat ke arah Kiara dan Derel. "Setiap aku lihat Om sama Mbk Kiara. Aku ngerasa ada sesuatu di antara kalian?"
Kiara dan Derel saling melihat. Oma tersenyum dan melihat ke arah Meira. "Hmm, kamu udah gede, kayaknya Oma harus kasih tau ini. Bagaimana Kiara?"
Meira menunggu jawaban dan Oma pun menjawab, "Oma langsung ke intinya ya. Mobil yang dinaiki Mamah kamu dulu, remnya blong. Mobil itu masuk ke area kampung dan menghabisi dua orang paruh baya, yang ternyata Orang Tua Kiara. Sinta memutuskan untuk mengadopsi Kiara dan mengsekolahkannya lewat kami. Setelah itu... seperti yang kamu lihat sekarang. Kiara jatuh hati pada Om kamu yang tampan ini, dan mereka berdua pun menikah."
Meira mengangguk paham. "Aku harap, Mbk Kiara bisa memaafkan Mamah!"
Kiara duduk di samping Meira dan merangkulnya. "Sudah sejak lama, Mbk maafin kok. Kamu nggak perlu khawatir."
Meira dan Kiara saling melempar senyum. "Tapi kenapa pernikahan kalian, aku nggak dikasih tau!" Meira manyun.
Kiara, Oma dan Derel tertawa kecil. "Oppa udah bilang berung kali ke mereka, tapi tidak ada yang mau dengar! Mereka berpikir, kamu akan marah dan membatalkan pernikahan itu, karena masih terlalu kecil!" ngadu Oppa, membuat mereka kesal.
Oma mencubit pinggang Oppa dengan gemas. Oppa meringis kesakitan, sembari memegang pinggang. Meira mengerutkan kening dan menghampiri Oppa. "Oma, jangan...! Kasihan Oppa, kalau yang dibilang bener, kenapa harus marah?"
Oma melihat ke arah Meira, yang sedang memeluk Oppa dengan sayang. "Kalimatmu tuh salah, kalau yang dibilang salah, kenspa harus marah?! Yang bener itu!"
"Itu buat orang yang salah bicara!" ketus Meira membuat Oma cemberut.
"Oppa pilih Oma atau Meira!" tanya Oma.
Oppa memeluk Meira dengan erat. "Cucu Oppa yang tersayang lahhh."
Oma kesal dan melipat kedua tangan di depan dada. Meira melihat ke arah oma dengan senyum. Ia pun duduk di tengah-tengah Oma dan Oppa. "Oma jangan ngambek dong," ucap Meira sembari memeluknya.
Oma tersenyum dan mencubit pipi Meira dengan gemas. "Nggak akan," sahutnya dan Meira pun tersenyum. "Bagaimana dengan hubungan mu dan Vena?"
Meira mengangkat pandang dan melepas pelukannya. "Meira putusin untuk maafin Tante Vena, Oma. Apa yang udah aku lakuin selama ini, ternyata salah besar."
Oma tersenyum senang dan menggegam kedua tangan Meira. "Bagus sayang, semoga kamu diberikan kelancaran dalam menghadapi ini semua. Oma percaya, Tuhan pasti akan selalu melindungi dan mendapingimu!"
"Aminnn." Meira memeluk Oma dengan erat.
Derel mengeluarkan sebuah kotak handphone. "Meira, lihat! Apa yang ada ditangan Om!"
Meira melepas pelukannya dan melihat ke arah Derel. "Omo, itukan handphone keluaran terbaru!"
"Cuman dilihat doang?" Derel menggoyangkan kotak itu dan Meira pun langsung mengambilnya. Semua orang tertawa kecil melihat tingkah Meira.
Meira terlihat begitu senang dan mencium salah satu pipi Derel. "Maksih Om! Om Derel yang terbaik!"
Derel mencubit hidung mancung Meira. "Dasar keponakan manja!"
Meira melepaskan tangan Derel dari hidungnya. "Mangkanya, buat anak dong! Kan Om sekarang udah punya Istri, keburu tuh rambut ubanan!"
Derel terlihat kesal, Oma dan Oppa tertawa geli. "Tuh mulut lemes bener! Gini-gini Om masih bisa gendong kamu, Oma, sama Kiara!"
"Haisss, jangan cepetan marah Om! Nanti tuh ubah beneran muncul loh," tegur Meira membuat Derel kesal.
Derel pun mengunci leher Meira tepat di ketiaknya. Meira memberontak dan berusaha melapas tangan Derel. "Siapa tadi yang bilang Om ubanan!"
"Huwaaa, maaf Om!" ucap Meira, sambil mendorong jauh tubuh Derel. "Om nggak pake deodoran ya? Keleknya bau bangetttt!"
Derel dan yang lainnya tertawa. "Hahaha, maklum habis olahraga tadi, belum sempat mandi juga," sahut Derel menjelaskan. Meira terkejut dan jatuh pingsan. Mereka semua pun panik dan khawatir. Derel menggendong Meira ke sofa.
Kiara mengusap-usap telapak tangan Meira. Oma meminta Bibik, untuk membuatkan minuman hangat. Derel menghubungi Dokter dan Oppa tengah berdiri dengan perasaan yang gelisah.
Ya Allah maafin aku. Meira tiba-tiba sadar dan langsung kabur. "Aaaa, aku minta maaf semuanya, assalammualaikum! Makasih juga atas handphonenya!" teriak Meira dengan begitu kencang.
Oma, Oppa dan Derel mematung, sedangkan Kiara melongo. "Pinter banget tuh anak akting," ujar Oma, menatap pintu yang terbuka.
Oppa menganggukan kepala. "Seharusnya kita larang dia untuk jadi Artis!"
Derel menutup handphone dan memasukkan ke kantong celana. "Sekalinya tuh anak main film, pasti booming!"
Kiara membalikkan badan dan tersenyum. "Pastesan aja jobnya banyak, aktingnya aja begitu."
Oma memijat pelipis dan duduk di sofa. "Parah, senyum atau nahan tawa aja enggak. Bener-bener natural pingsanya, padahal di keluarga ini nggak ada yang bisa akting!"
Derel tertawa kecil. "Bakat yang meresahkan." Mereka pun setuju dengan ucapan Derel dan tertawa bersama, mengingat kelakuan Meira.