MeiMel

MeiMel
Jadian.



Pagi hari tiba, cahaya matahari menelusup masuk ke celah jendela. Meira membuka gorden yang panjang dan tinggi itu, hingga menampakkan pemandangan langit yang cerah. Ia pergi merapikan seragam dam peralatan sekolah. Selesai bersiap-siap, Meira keluar dari kamar, bersamaan dengan Melvin.


Meira terkejut melihat Melvin tanpa baju. Terlihat tubuh Melvin yang sedikit berotot dan memiliki roti sobek di perut. Ya ampunnn, Melvin keren banget! Mimpi apaan gue semalem, bisa lihat pemandangan ini!


Melvin kaget dan spontan memakai bajunya. "Woi! Mata lo lihat kemana kampret?!"


Meira tersadar dan langsung memalingkan wajah. "Astaughfirullah, sorry-sorry."


Melvin berdecak sebal, sambil merapikan seragamnya. "Suka lo sama bentuk tubuh gue, hah!"


"Ihhhh, enggak tuh, jadi cowok jangan geeran ya! Mon maaf, lengan anda tidak sebesar anak MMA, jangan sombong dengan otot sebola kasti!" ujar Meira dan mengibaskan rambut. Ia pun pergi duluan ke bawah.


Melvin terlihat geram dan ingin sekali rasanya menyobek mulut Meira. Namun ia urungkan, mengingat kondisi Meira sekarang. Melihatnya seperti ini, sudah menjadi kemajuan yang bagus. Melvin pun menyusul Meira dari belakang dan menutup pintu kamar.


Melvin dan Meira pergi ke ruang makan. Mereka berdua duduk di salah satu bangku dan mengambil roti bakar. Terlihat di sana juga ada Jino, yang sedang asik dengan laptop sambil ngopi. Dan Alex yang berada di sebelah Jino, tengah sibuk dengan handphone. Tak lama Via datang, sembari memberikan susu ke Melvin dan Meira.


"Makannya yang cepet, bentar lagi masuk loh!" ucap Via lembut, setelah memberikan susu. Meira dan Melvin mengangguk. Mereka berdua pun menghambiskan sarapan dan berpamitan. Setelah itu, mereka pergi masuk ke mobil dan segera berangkat ke Sekolah.


...🍁...


Meira dan Melvin sampai di parkiran Sekolah. Mereka berdua pun keluar dari mobil. Tak lama, Tiara datang menghampiri mereka. Tiba-tiba saa, Tiara mengecup pipi kanan Melvin dengan mesra di depan banyak orang. Meira dan Para Murid yang melihatnya terkejut.


Melvin kaget dan menoleh ke arah Tiara. "Taira!"


"Kenapa? Kita kan udah jadian," ucap Tiara sambil melihat Melvin. "Masa' nggak boleh cium pacar sendiri."


Meira tak percaya, dengan apa yang ia dengar. Pacar? nggak mungkin! Melvin kan udah jan... batinnya terhenti, seketika ia teringat sesuatu. Kemarin adalah hari terakhir perjanjiannya dengan Melvin. Kini janji itu sudah tidak berlaku lagi. Air matanya pun jatuh ke pipi, dan ia langsung menyekanya. Gue nggak boleh nangis! Gue pasti bisa nerima ini semua!


"Nggak di sini juga! Banyak Murid yang lihat Tir!" seru Melvin, sedikit marah.


"Maaf Vin, aku terlalu seneng, karena udah jadi pacar kamu." Tiara menundukkan kepala dan berpura-pura menangis.


Melvin tidak tega dan memeluk sang Kekasih. "Lain kali, jangan diulangi!" Tiara mengangguk dan mengeratkan pelukannya. Para Murid terharu dan juga baper.


Meira tidak bisa lagi menahan, air mata itu pun jatuh tanpa diminta. Ia memilih untuk pergi ke Kelas, dari pada harus melihatnya. Tiara tersenyum jahat, mengetahui Meira pergi dengan perasaan sedih. Melvin melepas pelukannya dan masuk ke dalam Sekolah bersama Tiara.


...🍁...


Pelajaran di mulai, terlihat para Murid XI IPS 4 tenang dan aman. Para Murid sedang fokus mendengar Bu Harni menerangkan materi. Meira yang berada di deretan kedua, kelihatan melamun dan memikirkan sesuatu. Bu Harni geram, ia pun melempar penghapus di meja Meira.


Meira kaget dan spontan berteriak, "Kyaaaa!"


Bu Harni bertolak pinggang dan metap Meira tajam. "Sebutkan nama-nama Negara yang begabung dalam PBB!"


Meira terlohat bingung dan membolak-balikkan buku paket. "Emmm." ia mencari, namun tidak ketemu. Mampus, PBB itu apa? Yang gue tau, PBB tuh orang yang baris kayak robot.


"Meira! Keluar dari ruangan saya, sekarang juga!" pinta Bu Hari dengan nada tinggi. Meira pun mengangguk dan pergi dari Kelas.


Meira kenapa ya? Dari tadi nggak fokus, apa dia masih belum bisa ikhlasin kepergian Mamahnya? batin Dila, memikirkan Meira.


Bu Harni menggebrak meja Dela. "Kamu ikut Meira, hah!"


"Jangan melamun lagi!" pesan Bu Harni dan Dila pun mengangguk. Bu Harni kembali ke depan dan mulai menerangkan.


°°°°°


Meira kini telah berada di kantin. Tempat itu begitu sepi, karena masih jam pelajaran. Ia mengingat sikap Melvin yang bergitu berbeda. Ia pikir, Melvin telah mencintanya, namun salah. Meira melipat kedua tangan di meja dan membaringkan kepala di atasnya. Tak lama Bima pun datang.


Bima duduk di samping Meira dan mengusap lembut rambut panjang itu. "Ada apa?"


Meira kaget dan melihat ke arah Bima. "Bima, lo kok di sini?"


Bima memperlihatkan dokumen yang ada di tangan kanan. "Bentar lagi kelas meeting, jadi gue harus selesaiin ini dulu."


Meira mengangguk paham dan bertanya, "Kalau boleh tau, lombanya apa aja nih?"


Bima tersenyum dan mencari salah satu dokumen. Ia tunjukkan ke Meira. "Ada beberapa penampilan panggung, seperti dance, pagelaran, nyanyi dan masih banyak lagi. Untuk lombanya, ada tarik tambang, ambil koin dari semangka, sepeda lambat..." ucapnya tergantung, ia sedikit lupa. "Baca aja sendiri, aku lupa!"


Meira tertawa dan menepuk lengan Bima dengan kertas. "Ya ampun Bim, kamu mikirin apa sih, hahaha."


Bim mengerutkan kening. "Kagak lucu Mei!"


Meira menghentikan tawanya dan melihat ke arah Bima. "Ohh iya, kamu ngedance aja, biar heboh!"


"Ngapa heboh?" tanya Bima.


Meira berdiri dari duduknya. "Masalahnya, kalau kamu yang ngedance nanti, bakalan jadi begini!" ia menari jaipong dengan kaku dan wagu.


Bima merasa terhina dan menarik Meira dengan kuat, hingga terhatuh di atas tubuhnya. Mata mereka berdua saling bertemu. "Apa kau puas? Telah menghinaku seperti itu, untung saja Mbk Kantin nggak lihat!"


Meira tertawa dan memegang kedua bahu Bima. "Siapa suruh, jadi orang kaku dan dingin! Kamu ini tinggal di Negara tropis bukan kutub!"


Bima mencubit hidung mancung Meira dengan gemas. "Ohhh, aku kaku dan dingin ya? Baiklah." Ia pun menggelitikkan pinggang Meira, hingga tertawa. "Ini hukumannya, karena udah berani ngatain aku!"


"Hahahaha, maaf Bim," ucap Meira sambil tertawa. Ia berusaha melepas kedua tangan Bima dari pinggangnya, namun sangat sulit. "Lepas Bim! Hahahahaa, aduh-duh perutku sakit!"


Melvin yang berada tak jauh dari Kantin, terlihat kesal. Ia mengepalkan tangan dan memukul dinding. Melvin merasa dipermainkan oleh Meira. Ia pergi meninggalkan tempat dengan perasaan penuh amarah.


...🍁...


**Via yang berada di halaman depan rumah Alex, terlihat tengah menyirami tanaman, sambil bernyanyi. Ia juga memotong beberapa daun yang menguning dan berlubang. Tak lama, Pak Satpam datang menghampiri Via dan memberikan paket. Via pun menaruh selang ke bawah dan meminta salah satu Bibik, untuk mematikan keran air.


Via pergi ke teras dan duduk di sana. Setelah duduk, Ia pun membuka paket. Di dalam kotak itu ada gantungan boneka kecil, mainan anak balita dan foto. Pada foto itu, terlihat begitu banyak kenangan, Alex, Sinta dan Meira, waktu kecil. Terlukis kebahagian dan kerukunan pada foto itu. Siapa pun yang melihatnya, pasti iri.


Via tersenyum dan mengusap lembut foto itu. "Andai... saja, keluargamu seindah foto ini Sin. Mungkin kamu masih di sini dan bermain bersama mereka berdua."


Via hendak mengambil beberapa foto lagi yang masih ada di dalam kotak. Di saat ia ambil foto, sebuah surat jatuh. Ia pun membungkukkan tubuh dan mengambil surat itu. Via pun membacanya. Ia tak percaya dan terkejut. Via terlihat mencari sesuatu, dari tumpukan beberapa lembaran foto.


"Sialan, Alex emang kurang ajar!" kesal Via. Ia berdiri dan masuk ke dalam rumah**.